SOMETHING CALLED LOVE – Awal Konflik [Chap. 10]

1478513266448

Author: astarinur/ @daragonintheair

 

 ~~~

 

 

“ji..?” dara memecah keheningan mereka dalam derasnya hujan, malam masih panjang dan mereka tidak tahu sampai kapan akan terjebak disini. Selang beberapa menit jiyong dan dara hanya terdiam menunggu dan sibuk dengan pikirannya sendiri. jiyong sedari tadi terdiam dan menatap lurus-lurus ke depan tanpa melirik kepada dara sekalipun. Rasanya ini begitu menyakitkan bagi jiyong sehingga dia tak mampu mengatakan apa-apa.

Jujur, dia merasa ini adalah pertama dan juga terakhir dia akan mencintai seseorang. Mereka bahkan belum juga resmi tapi jiyong sudah mengalami rasa sakit seperti ini. rasanya ingin berteriak dan menjerit tapi apa daya, dia tak mempunyai hak untuk itu.

“ji..” dara memanggilnya lagi, tangannya meraih bahu jiyong.

Jiyong menoleh kepadanya sebentar lalu memalingkan wajahnya lagi, “uhm..” katanya singkat.

Dara mendesah lalu menjatuhkan tangannya.

“bicaralah! Apapun itu jiyong. Aku tahu kamu saat ini sangat ingin bertanya?”

“mian.. dara aku membuatmu menangis!” balas jiyong seolah mengalihkan pembicaraan atau sebenarnya jiyong hanya ingin menguatkan hatinya saja.

Dara menahan napasnya sejenak melihat wajah jiyong yang begitu terlihat sangat tersakiti  itu,

“ji tatap aku!” kata dara meraih wajahnya. Jiyong menatap matanya namun dengan tatapan yang hampa. Jiyong memberinya senyuman paksa, “mianhae dara.. karenaku kamu harus terjebak disini! Pasti anak-anakmu menunggu dan mencarimu nanti.” Mendengar itu membuat dara lebih merasa bersalah, dara menggeleng-geleng lalu meneteskan air mata lagi. “jiyong~ah jebal.. jangan seperti ini! mian! Ini kesalahanku seharusnya aku mengatakan kepadamu dari awal.”

Jiyong meraih wajah dara dan menghapus air matanya, “aniyoo.. dara! Aku sendiri yang mengatakan padamu jika aku tahu aku harus berjuang untuk membuatmu mempercayaiku. Aku sendiri tahu jika kamu masih belum bisa melupakannya tapi ini hanya.. hatiku saja.. hanya.. aku saja yang bodoh harus bertindak seperti ini!”

“mian jiyong.. mianhae!” balas dara dalam sela tangisannya.

Lalu jiyong tertawa kecil, “aniyoo.. jika kamu ingin aku maafkan syaratnya adalah kamu harus tetap memberikanku kesempatan araseo! Aku ini pantang menyerah. Mian neh, ini semua salahku jika aku tidak terlalu cepat melakukan hal ini mungkin kamu tidak akan tertekan seperti ini!”

Dara menatap matanya, jiyong mendesah lalu mengecup kening dara.

“sudah nangisnya yah!” seru jiyong dengan lembut, dara perlahan mengangguk.

“uhm.. lalu bagaimana ini dara? Apa yang akan kita lakukan?” jiyong melirik keluar menydari hujan sepertinya tidak akan mengecil atau bahkan berhenti dalam kondisi deras seperti ini.

Dara menggeleng.”molla. apa kita tunggu saja dulu mungkin hujannya akan berhenti.”

“lalu bagaimana dengan mobilmu?”

Dara mendadak bingung, “aigoo.. aku lupa. Atau kita tinggalkan saja disini nanti pagi aku hubungi bengkel mobil!”

“ah.. ndeh begitu lebih baik!”

“ji..” tiba-tiba dara meraih tangan jiyong.

“ndeh?”

“kamu gak kedinginan? baju kamu basah pula!” jiyong melirik tubuhnya lalu tersenyum.

“ah kwenchana. Atau kalau kamu tidak keberatan mau enggak peluk aku, gak maksa kok!” katanya bernada menggoda namun dara memberinya anggukan lalu tanpa aba-aba memeluknya. Jiyong tersenyum lebar dibuatnya, dia juga tak percaya dara begitu saja memeluknya tanpa berpikir panjang.

Mereka pun terhanyut dalam kehangatan pelukan itu. Hanya ada hembusan napas yang menemani mereka. Jemari tangan dara lalu dengan polosnya meraih dada jiyong dan menyentuh tato yang ada disana membuat jiyong sangat terkejut.

“dara?”

“sejak kapan kamu punya tato seperti ini?” katanya, menghiraukan jiyong yang terkejut dengan tingkahnya. “ah.. apa tato-tato ini mengandung makna tertentu ji?” lanjut dara, tangannya tak henti menyentuh dan menelusuri tato yang ada ditubuh jiyong. Sungguh perbuatannya yang begitu tak terduga membuat napas jiyong tercekat.

“apa tato ini gak sakit ji?” dara terus bertanya kepadanya namun jiyong tak mampu mebalas pertanyaanya yang bertubi-tubi apalagi  ditambah tangannya yang menyentuh dan seperti mengelus tubuhnya itu.

“ji.. apa makanan kesukaanmu? Apa warna dan hobby kesukaanmu? Apa kamu suka berolahraga? Jawab ji kenapa diam aja?” kali ini dara bergerutu lucu sambil memukul dadanya karena tak mendapatkan jawaban apa-apa dari tadi. Jiyong menelan ludahnya, “oh uhm.. “balasnya terbata.

Lalu dara tertawa dan melepaskan pelukannya. Dara lalu mengecup bibir jiyong dengan lembut, lagi-lagi membuat jantung jiyong tak karuan. “aku ingin mengenalmu ji? Aku ingin tahu semuanya, aku ingin tahu dari hal baik dan buruknya kamu. Step by step! Jadi semuanya akan terbiasa dengan apa adanya. Aku yakin jika kamu orang baik makanya aku mau memberimu kesempatan, aku hanya memintamu untuk bersabar dan memahami hatiku ini. mian.. mianhae karena aku seperti ini!”

“Aniyooo seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu dara, karena sudah mau memberiku kesempatan. Aku sudah bahagia seperti ini. Dan aku tidak mau memaksakan kehendakku dan membuatmu malah terluka, benar apa katamu kita harus saling mengenal satu sama lain.” Balas jiyong tersenyum, tangannya meraih rambit dara dan membelainya.

“Uhm ji..?”

“Weh?”

“Mulai dari sekarang kamu harus beli ponsel neh. Aku ingin mendengar suaramu saat kita berjauhan.” Jiyong menatap matanya lekat lalu tersenyum.

“araseo.. Aku juga berpikiran yang sama. Aku juga ingin menelponmu, menanyakan keadaanmu setiap saat, dan aku juga ingin mendengar suaramu saat aku akan tidur.” Balas jiyong sambil membayangkan. “Tapi dara…”

“Uhm..?”

“Aku kaget kamu yang pertama mengatakan itu. Aku seperti kalah langkah darimu.”

Dara tersenyum lalu menyentuh kembali tato-tato di tubuh jiyong sambil menulusurinya dengan asyik.

“Apa kamu lupa? Aku ini sudah berpengalaman dibanding kamu.” Katanya geli.

“Kalau begitu bisakah kamu berhenti melakukan ini?” Kata jiyong meraih tangan dara yang menyentuh tatonya.

“Weoh?” Balas dara berpura-pura polos.

“Aish dara.. Kamu seharusnya tahu apa yang kamu lakukan ini bisa membangunkan insting seorang pria. Walaupun aku tidak berpengalaman tapi tubuhku masih normal.”

Namun Dara malah tertawa, “weoh ji? Aku hanya menyentuh tatomu saja, aku tidak melakukan apa-apa.”

Jiyong cemberut, “aishh sudah jangan menggodaku.”

“Araseo.”

Mereka pun asyik menceritakan kehidupan mereka masing-masing hanya saja mereka berdua sama-sama menutupi permasalahan asmara mereka.

Setelah menghabiskan waktu cukup lama terjebak ditengah-tengah jalan akhirnya hujan pun mereda. Dara melepaskan pelukannya lalu membuka pintu mobil dan keluar diikuti jiyong.

“Ji, hujannya udah reda. Kaja kita pulang!” Kata dara sambil menoleh kepadanya.

“Uhm. Kaja sebelum kamu kedinginan dan masuk angin.” Balasnya lalu meraih tangan dara dan menggenggam tangannya.

“Aigoo.. Ji, seharusnya kamu tuh melihat kondisi tubuhmu sendiri. Lihat nih kamu lagi tidak pakai baju tahu..” Gerutu dara sambil memukul dada jiyong perlahan.

“Araseo. Jika kau paham sini makanya jangan jauh-jauh, peluk aku!” Suara jiyong yang bernada menggoda sedikitnya membuat dara malu sendiri namun tetap memeluknya.

Setelah dara memeluknya, mereka berjalan seakan pasangan yang sedang dimabuk asmara saling menempel satu sama lain.

Perjalanan ternyata tidak begitu jauh, mereka sudah tiba di depan rumah dara. Dara melepaskan pelukannya lalu menoleh kepada jiyong, “camkaman..” Katanya lalu berlari masuk ke dalam rumahnya.

Jiyong mengangguk dan melihatnya berlari. Jiyong mendesah, kini rasa dingin mulai menusuk tubuhnya. Udara dingin dan keadaan yang sudah tengah malam tidak mampu membohonginya saat ini.

Dara pun kembali muncul lalu tersenyum melihat ekspresinya yang sedang menggigil.

“Aigoo.. Sini.!” Kata dara lalu memasangkan satu buah sweater tebal di tubuhnya. “Kamu pasti kedinginan sekali yah?”

“Ani.. Ini hanya karena kau melepaskan pelukannya jadi aku merasa kedinginan.” Balas jiyong masih mengelak.

Dara tersenyum dan mengangguk, “ara ara.. Ya sudah kamu hati-hati neh. Nanti kamu sampai di rumah langsung mandi air hangat dan minum teh hangat araseo jangan lupa!!”

Jiyong tersenyum mendengar suara perintahnya lalu mengecup kening dara. “Nde ndeh.. Dara Omma. Kalau begitu aku pulang neh jangan lupa mengurus mobilmu dan jangan lupa hangatkan tubuhmu.” Sahut jiyong sambil mengelus pipinya.

Tak lama jiyong pun pamitan dan berjalam pulang. Dara bergegas masuk ke dalam rumah lagi. Namun dia terkejut ketika melihat hanbin tengah berdiri menatapnya.

“Omma..” Panggil hanbin. Dara menatapnya dengan bingung.

“hanbin~ah kamu masih belum tidur? Ada apa? Apa kamu sakit? Atau kamu mimpi buruk?” Dara menghampirinya lalu menyentuh kening hanbin namun dalam sekejap hanbin menghempaskannya membuat mata dara membesar terkejut.

“Omma.. Boyah? Apa yang omma lakukan dengan ahjusii itu sehingga pulang tengah malam seperti ini?” Teriak hanbin. Dara termenung mendengarnya. “Hanbin~ah..”

“Dengar omma.. Aku ini enggak bodoh dan aku paham semua ini. Tapi walau pun begini omma tidak bisa bertindak seenaknya. Apa omma tidak merasa malu? Apa omma tidak malu kepada appa?” Teriak hanbin, namun kali ini tiba-tiba tangan dara melayang kepada pipinya dan menamparnya cukup keras.

“Apa yang kau katakan hanbin?”

Hanbin memegangi pipinya dan menatapnya dengan tajam.”Seharusnya aku yang bertanya itu omma.” Sahutnya lalu berlari kedalam kamarnya.

Pertengkaran itu tak ayal membuat sarang terbangun. Dengan wajah polos baru bangun sarang berjalan menghampiri dara yang masih diam membeku di posisi ketika hanbin pergi.

“Omma..” Panggilnya sambil menggoyangkan baju dara.

Dara menoleh kepadanya, “oh sarang baby? Apa omma membuatmu terbangun baby?” Kata dara lalu menggendong sarang dan meletakannya di kamar.

“Omma?”

“Uhm?”

“Apa omma dan hanbin oppa bertengkar?” Tanyanya polos namun cukup membuatnya kalang kabut.

“Ah aniyoo.. Baby sudah neh sekarang kamu harus tidur lagi.” Dara menyelimutinya lalu mengecup keningnya.

Sarang lalu menutup matanya yang memang masih ngantuk itu. Dara mengamatinya sebentar lalu mendesah dan pergi ke kamarnya. Air matanya mengalir dengan sendirinya. Dia lalu meraih foto suaminya yang masih ia simpan di kamarnya.

“Donghyukie.. Hari ini adalah pertama kalinya uri hanbinie berteriak seperti tadi kepadaku. Sungguh hatiku terasa remuk saat ini. Apa benar apa yang kulakukan ini salah? Apa yang terjadi dalam hidupku ini adalah sebuah kesalahan? Jebal.. Katakan padaku, jelaskan apa yang harus aku lakukan?”

Malam itu dara tidak bisa tidur. Dia menangis dan meratapi semua yang terjadi. Dia merasa bersalah dihadapan hanbin dan juga jiyong.

***

Pagi pun tiba begitu cepat. Jiyong tak sabar ingin menemui dara tapi ketika dia tiba tak jauh dari toko langkahnya tertahan sebentar saat melihat seorang pria yang ia kenali baru saja keluar dari toko.

“Bukannya itu donghae?” Gumamnya merenung, lalu dia tersadar ketika dia melihat dara sedang berjalan menuju toko. Dia menggeleng lalu bergegas menghampiri dara.

“Dara?” Panggil jiyong ceria.

“Oh jiyong~ah.” Dara menatapnya canggung. “Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu perlu sesuatu?” Tambah dara.

Jiyong menggeleng dan tersenyum sambil menghampirinya, “aniyoo.. Sejujurnya aku datang kesini karena ingin melihatmu saja. Rasa-rasanya aku sangat merindukanmu” sahut jiyong lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir dara namun dara menghindarinya membuat dahi jiyong berkerut.

“Aigoo.. Jiyong mian euh.. Tapi aku sedang sibuk jadi tidak bisa menemanimu mengobrol.” Dalam sekejap dara mengalihkan pembicaraan.

Jiyong tersenyum kaku, “ah ndeh ndeh mian.. Aku juga tidak akan berlama-lama kok. Oh iya bagaimana mobilmu?”

“Aku sudah mengurusnya kok, kamu tidak perlu khawatir.” Balas dara.

“Araseo. Ya udah aku pergi yah.” Katanya sambil meraih rambutnya untuk dielus dan dara hanya tersenyum kepadanya.

Lalu suara histeris minzy terdengar saat dara masuk ke dalam toko.

“Oniie.. Onnie..” Teriak minzy.

“weoh? Kenapa denganmu? Makan apa tadi sampai pagi-pagi begini teriak-teriak?”

“Onnie.. Cubit aku pali.!”

Dara mengerutkan keningnya namun segera menurutinya.

“Aww.. Sakit onni.!!”gerutu minzy.

Dara terkekeh melihatnya, “kamu ini aneh tadi kan kamu yang suruh aku buat cubit kamu.”

“Aishh nde ndeh. Tapi ini ada artinya onnie.. Artinya aku bukan sedang bermimpi. Oniie onnie… Dengarkan aku dulu!”

“Weh weh?” Balas dara seraya membereskan barang-barang di toko. Minzy lalu menarik dara, “onnie beres-beresnya nanti dulu dengerin aku dulu.”

“aigoo kamu ini, apa sih yang ingin kamu katakan?”

“Onnie.. Jebal jangan pingsan yah saat aku mengatakannya!” Kata minzy bernada serius, dara tertawa melihatnya.

“Araseo.. Apa apa?”

“Tadi aku melihat orang yang mirip sekali dengan donghyuk oppa. Aku bahkan salah memanggilnya karena dia sangat mirip dengan donghyuk oppa. Aku juga bahkan berpikir dia suami onnie.”

Dara mendadak serius mendengarnya. Lalu dia segera menggeleng-geleng, “aigoo.. Kamu ini suka mengada-ada minzy~ah. Mungkin kamu salah lihat tadi. Sudah kembali kerja lagi.”

“Aisssh.. Onnie!!” Gerutu minzy namun dara mengabaikannya dan kembali bekerja.

Sedangkan jiyong.

Diperjalanan pulangnya dia tak henti bergerutu dan bertanya-tanya apakah ada yang terjadi dengan dara, karena dia merasa ada yang salah dengan tingkahnya tadi.

“Aigoo.. Wanita benar-benar membuatku kalang kabut. Perasaan baru, kali ini aku sampai begini karena seorang wanita. Hmm.. Mungkin ini yang dinamakan cinta yaitu, “RUMIT”. Jiyong, dari sekarang kau harus bersabar menghadapi ini.” Gumam jiyong sambil senyum-senyum.

Lali tiba-tiba dia melihat donghae menunggu di depan rumahnya.

“Oh donghae.. Kenapa kau diam disana? Biasanya juga langsung masuk.” Kata jiyong sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Donghae mengikutinya.

Namun setelah mereka masuk di dalam donghae langsung membalikan tubuh jiyong dan menyematkan sebuah pukulan keras diwajah jiyong.

“Fuck!! Apa yang kau lakukan donghae!” Teriak jiyong menatapnya dengan perasaan bingung dan kesal.

Donghae lalu melemparkan selebaran kertas kepada wajahnya.

“Kau sebenarnya siapa  hah? Mengapa wajahmu ada disana hah? PEMBUNUH? Apa kau gila? Jadi selama ini kau adalah seorang buronan? Ah… Sekarang aku tahu kenapa kau tak mau menceritakan kehidupanmu? Kau tak mau menceritakan apa pekerjaanmu karena ini semua hah? BRENGSEK!! Aku tidak percaya ini semua… Aku bahkan sudah mempercayaimu.” Teriaknya dengan sekencang-kencangnya.

Jiyong termenung mendengar semua perkataan donghae lalu membaca selebaran kertas itu, matanya membesar. Dia menoleh kepada donghae dengan penuh rasa bingung dan ketakutan.

“Bagaimana ..kau.. tahu?” Jiyong mengatakannya dengan terbata-bata.

Donghae mendercikan ludahnya, “oh sungguh aku pun tak tahu. Mungkin karena aku tidak sengaja mengunjungi kantor kepolisian makanya aku tahu semua ini.”

“Donghae kau salah paham.. Aku bisa jelaskan!”

“Oh ya? Apa yang bisa kau katakan? Apa karena kau tertangkap basah makanya kau mau angkat bicara? Hah lucu sekali.. Mungkin jika aku tidak pernah menemukan itu terlebih dulu sampai mati pun kau tak akan pernah mengatakan yang sebenarnya iya kan PARK JINYEONG~SHI?”

Jiyong sungguh tak mampu berkata-kata saat ini. Donghae tertawa melihatnya lalu dengan masih emosi dia menyematkan satu pukulan lagi kepada jiyong.

lalu donghae meremas baju jiyong.

“Aku tidak akan diam saja kali ini. Aku tidak akan membiarkan pria sepertimu mendekati dara, kau hanya akan menghancurkannya!”

Mata jiyong membesar mendengar nama dara disebut dengan sekejap dia meraih bahu donghae.

“Dara? Apa maksudmu? Sollma?”

“Iya aku akan mengatakan semuanya kepada dara bahwa kau adalah seorang pembunuh. Aku tidak akan diam dan mengamatinya dari kejauhan lagi. Aku yang akan melindunginya mulai dari sekarang.” Donghae lalu pergi meninggalkan jiyong.

Jiyong tidak tinggal diam dia berlari mengejarnya lalu menahan tubuhnya.

“Yak! Apa yang kau maksud?”

Donghae menghempaskannya, “TAKCHOE!”

“YAK DONGHAE!JEBAL! Jangan kau campurin urusanku dengan dara.. Jeball jangan dara…”

“SHIKERO BRENGSEK!” Donghae lalu pergi meninggalkannya.

TBC

^_^

Mian baru update guys..

Enjoy yah jangan komenannya 😘😘😘

 

Advertisements

11 thoughts on “SOMETHING CALLED LOVE – Awal Konflik [Chap. 10]

  1. jadi nama suami dara donghyuk? kok yg kebayang donghyuk ikon yaa😂 kkkkkk ut donghae sama donghyuk kembar? sampe minzy bilang mereka mirip gtuuu
    omooo gmna nasib jiyong ?:((((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s