MY GLOOMY WORLD [Chap. 8]

mgw

Author : Aitsil96

Main Cast : Kwon Ji Yong and Park Sandara

.

“Teruslah sehat… demi cucuku”

.

.

.

 

Mereka saling berpandangan lagi. Tatapan itu masih kosong namun dengan menatapnya saja telah membuat hatinya lebih tenang sekarang. Sandara memberanikan diri menjenguk Ji Yong. Jika biasanya ia hanya akan berdiri di luar ruangan dengan lapisan kaca yang menghalangi, maka kini ia tengah duduk di samping ranjang Ji Yong. Gadis itu tak henti menghiasi bibir pucatnya dengan senyuman. Senyum bagaikan orang tolol saat melihat Ji Yong berada dalam jarak pandangnya.

Dengan tangan yang lemah ia mengambil pisau di nakas untuk mengupas apel yang baru saja dibelinya untuk kemudian mengulurkannya pada Ji Yong. Sandara mencoba menyuapi Ji Yong. Pria itu masih dengan tampang datar hanya mengamati apel di tangan Sandara. Bergantian dengan mengamati wajah Sandara yang masih menyimpulkan senyum. Beberapa detik berlalu dengan seperti itu hingga Ji Yong perlahan memajukan mulutnya dan menggigit apel di tangan Sandara. Walaupun sedikit, namun ini merupakan kemajuan yang pesat bagi pemulihan kondisi Ji Yong setelah sebelumnya ia sama sekali tak bisa merespon apapun.

Senyuman tambah lebar menghiasi wajah yang masih terlihat pucat itu. Bagaimanapun juga, dengan kondisi Ji Yong yang membaik membuat sedikit kelegaan di hatinya dan itu membuatnya menemukan setitik kebahagiaan yang seakan menghilang di hidupnya akhir-akhir ini. Sandara menyuapi Ji Yong lagi, dan pria itu sedikit demi sedikit menghabiskan potongan apel yang diberikan. Oh Tuhan, mungkinkah ini yang dinamakan kekuatan cinta hingga pria itu dapat bereaksi hanya jika Sandara yang berada di dekatnya?

Bukan tanpa alasan gadis itu mengunjungi Ji Yong. Setelah menjenguk terlebih dahulu Jun Hyung di rumah sakit yang sama, ia langsung mengunjungi kamar Ji Yong yang jaraknya tak terlalu jauh dari kamar ayahnya. Selain untuk mengetahui bagaimana kondisinya kini, ia juga ingin mendekatkan janinnya dengan sang ayah. Ya, kini Sandara telah bisa menerima kehadiran bayi yang sedang dikandungnya dengan hati yang lebih lapang. Terlebih lagi setelah melihat Ji Yong. Ia bertekad untuk terus bertahan dan kuat hingga bayi ini bisa dilahirkan dengan selamat dan akan tetap tinggal di Seoul.

Entah mengapa, setelah melihat Ji Yong ia mendapatkan kekuatan lebih untuk bertahan hidup dan juga berjanji akan menjaga kesehatannya dengan lebih baik hingga tak akan membahayakan keselamatan janinnya seperti terakhir kali. Ia berusaha terlihat bahagia sebisa mungkin di hadapan Ji Yong. Ia membuat dirinya tegar agar Ji Yong dan calon bayinya juga dapat mempunyai semangat untuk hidup. Sandara mengeratkan tekad bahwa ia, Ji Yong, dan calon bayinya harus kuat dan mampu bertahan sebisa mungkin di tengah permasalahan yang terjadi.

Ia dengan hati-hati meraih tangan Ji Yong, menautkan tangannya di sela-sela jemari pria itu. Sandara menggenggamnya erat, “Kau harus segera pulih, Ji Yong-ah.”

“Demi aku, juga anak kita,” ucap Sandara dengan hampir tersendat.

Mata mereka bertemu lagi dengan pandangan Sandara yang mulai kabur. Lagi-lagi ia menangis. Kesedihan menyeruak seketika saat ia mendapati Ji Yong dengan tatapan lugu sedang memperhatikannya. Kenyataan bahwa cintanya tak dapat bersatu dengan Ji Yong membuat buncahan kesedihan merayapi hingga ke ubun-ubun. Oh Tuhan, apakah mereka telah salah untuk saling mencintai? Apakah memang berdosa jika mereka saling mengasihi hingga harus mendapati kenyataan memilukan seperti ini karena kasih sayangnya?

Saat ini Ji Yong tengah depresi dan dirinya dinyatakan mengandung benih dari pria itu. Kenyataan yang lebih mengerikan adalah Ji Yong sampai saat ini masih menjadi kakak tirinya. Sebegitu rumitnyakah rintangan yang menghadang mereka untuk membuat cinta mereka terpisah dan tak akan pernah bisa untuk bersatu? Haruskah mereka melewati takdir ini di tengah usia mereka yang masih tergolong muda?

Go… mawo.”

Bagai dihunus pedang, jantung Sandara serasa terkoyak ketika mendengar kata yang terucap dari bibir kering itu. Hanya satu kata. Bahkan dengan suara yang bagai desauan angin. Pria itu mengucapkannya. Ji Yong. Ia bisa… berbicara? Oh Tuhan, keajaiban apa ini? Setelah sekian lama mulutnya terkunci rapat, sekarang ia bisa mengucapkan kata padanya? Ia bahkan berterima kasih pada Sandara?

Hati gadis itu bergejolak. Perasaan lega sekaligus bahagia yang tiada terkira tak dapat tertampung lagi kini. Perasaan itu membuncah hingga bahkan ia tak bisa menahannya dan berakhir dengan melelehkan cairan bening lagi di pipi mulusnya. Bukan sedih, ini pertama kalinya ia meneteskan air mata haru akibat pria itu setelah sekian lama hanya air mata kesedihan yang bisa ia teteskan. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak.

Tok! Tok!

Ketukan di pintu membuat Sandara tersadar dan menghapus air matanya dengan asal. Mendapati Hye Mi yang berdiri di sana membuat ia keluar dengan segera. Setelahnya, mereka memilih untuk duduk berdampingan di salah satu bangku lorong rumah sakit.

“Aku telah mengurus perceraianku dengan Jun Hyung.”

Deg! Satu kalimat pernyataan yang lagi-lagi membuat hatinya berjengit.

“Kau hanya perlu memperhatikan kesehatanmu dan calon bayimu. Jangan khawatir, aku akan tetap merawat Jun Hyung dan Ji Yong di sini.”

Eommonim…”

Hye Mi menyeringai, “Rasanya sudah lama aku tak mendengar kau melantunkan kata itu padaku.”

Sandara terdiam. Merasa bersalah dengan panggilannya terhadap Hye Mi yang masih menjadi ibu tirinya. Namun kata itu terlontar begitu saja dari bibirnya tanpa berpikir panjang.

“Akhir-akhir ini sudah terlalu banyak kejadian mengejutkan yang terjadi hingga kita menjadi sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku yang disibukkan dengan Jun Hyung serta Ji Yong, dan kau yang harus menata lagi hatimu yang telah banyak terbebani. Mianhae… jika aku tahu sedari awal kalian saling mencintai maka lebih baik aku tak akan pernah melangkah sejauh itu dengan Jun Hyung,” Hye Mi menjeda, “Maafkan atas keegoisanku dan Jun Hyung yang telah membuat kalian menderita.”

Aniyo, akulah yang bersalah karena tak mempunyai keberanian untuk memberitahu kalian lebih awal hingga ini semua terjadi.”

“Kita semua mempunyai ego masing-masing yang kadang tak tertahankan,” Hye Mi mengulas senyum miris, “Baik kau, aku, Ji Yong, maupun Jun Hyung pasti mempunyai andil kesalahan hingga menyebabkan kejadian-kejadian di luar nalar yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya kini terjadi.”

Hye Mi menengok ke arah Sandara yang sedang menunduk. Ia mengelus rambut Sandara lembut hingga gadis itu bereaksi dengan menatap balik ke arahnya. Senyuman manis tersungging di bibirnya hingga menular pada Sandara. Entah mengapa ia merasa nyaman berada di dekat Hye Mi kini. Walau masih terasa canggung, namun rasa hangat menjadi atmosfer yang menyelimuti di antara mereka berdua saat ini.

Kini keputusannya telah bulat untuk mengalah demi kebahagiaan Ji Yong dan Sandara. Jika sebelumnya ia terlalu egois untuk memisahkan mereka, maka kini hatinya telah tergerak untuk berbuat sebaliknya. Terlebih lagi kini di dalam rahim Sandara telah tumbuh benih dari putra kandungnya. Darah dagingnya sendiri.

“Kau harus terus kuat demi janinmu. Cukup pikirkan untuk menjaga kesehatanmu dengan baik. Ji Yong pun akan cepat pulih jika orang yang disayanginya mampu menjaga dirinya sendiri.”

Sandara mengangguk patuh, “Gomawoyo, eommonim.”

“Teruslah sehat demi cucuku.”

Tak ada reaksi lain yang dapat Sandara lakukan saat ini selain tersenyum canggung. Rasanya aneh ketika mendengar kata cucu yang dilontarkan oleh wanita yang kini masih menjadi ibu tirinya. Apapun kenyataan yang ia hadapi, setidaknya ia harus bersyukur karena masih memiliki orang berhati besar seperti Hye Mi di sisinya. Wanita yang dulu sempat membuatnya muak kini menjadi sandaran di kala ia mengalami penderitaan. Sandara memiliki sejuta kata terima kasih yang harus ia sampaikan pada Hye Mi nantinya.

Di tengah suasana dramatis dan perdamaian yang secara tersirat telah dilakukan oleh Sandara dan Hye Mi, mereka dikejutkan dengan salah seorang perawat wanita yang menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh setelah berlarian di sepanjang lorong.

“Han Hye Mi-ssi?”

Perawat wanita itu seperti kehilangan oksigen hingga membuat napasnya menjadi tersendat. Ia perlu menstabilkan sistem pernapasannya terlebih dahulu sebelum berbicara lebih lanjut. Perawat itu Hye Mi kenal baik karena ia adalah perawat tetap yang selalu mengecek kondisi Jun Hyung setiap harinya. Lalu mengapa perawat wanita itu berlarian hingga kemari dengan terburu-buru seperti itu? Mungkinkah Jun Hyung…

“Pasien Yong Jun Hyung… dalam keadaan kritis.”

*****

Pria jangkung itu tiba lebih awal dengan rasa antusias yang luar biasa tinggi. Ya, sebentar lagi wanita yang ditunggunya akan segera tiba setelah sekian lama ia rindukan setengah mati. Rasa rindu itu terlalu membuncah dengan hebat di dadanya hingga membuatnya tiba di bandara setengah jam lebih awal demi melihat wanita itu lagi berada dalam jarak pandangnya.

Ia bahkan rela menerobos salju yang sedang turun dengan lebatnya di jalanan kota Seoul. Dengan mantel cokelat tua kini ia menunggu seraya membawa papan nama wanita yang dinanti kedatangannya. Tulisan itu bahkan ia buat dengan penuh tanda cinta, memperlihatkan sisi kekanakan pria yang kini tengah tersenyum layaknya orang dungu dengan mata bersinar penuh harap layaknya bocah kecil menanti hadiah ulang tahunnya.

Saat yang ditunggu pun tiba, penumpang pesawat telah turun dan mulai keluar dari pintu kedatangan. Dengan gerakan kepala dan leher yang memanjang, manik kelam itu berputar mencari siluet tubuh yang ia nantikan. Aish, dengan begitu banyaknya penumpang ia jadi kesulitan untuk menemukan wanita itu. Terlebih telah bertahun-tahun lamanya ia tak pernah bertemu langsung, membuat hatinya dilanda rasa gugup. Apakah penampilannya berubah? Atau mungkinkah masih sama seperti dulu? Yang jelas ia kini mulai mengangkat papannya serta meneriakan nama yang ada di papannya dengan urat leher yang ditarik. Ia sudah tak sabar rupanya.

“Tak usah berteriak-teriak seperti itu, aku di sini.”

Merasa mengenal suara yang familiar itu dari arah belakang tubuhnya, Ji Yong membalikkan badan untuk memastikan apakah memang benar suara itu sedang mengarah kepadanya. Dan betapa terkejutnya ia mendapati wanita dengan kacamata besar yang hampir memenuhi wajah mungilnya berdiri tak lebih dari satu meter di hadapannya. Wanita yang ia nantikan!

Eomma?”

–TBC–

Satu part lagi ending. Keep waiting for me ^^

 

Advertisements

12 thoughts on “MY GLOOMY WORLD [Chap. 8]

  1. Akhirnya si author sadar dan membenahi cerita menjadi lebih bahagia wkwkwkwk. Keren deh unnie. Aku suka sama cara penataan ceritanya unnie. Emang rumit sih tapi nggak serumit hidupku ini *apaan dah ini?* iyalah derita anak smp yang sekarang lagi banyaknya tugas sampe menggunung gitu. Gk sabar buat nunggu chapter selanjutnya. Ditunggu yaa unnie. Fighting!!!!!

  2. Aigooo akhirny ngga nyesek lgi bcanya. Nyesek pas awal aja udh pertengahan lega.. wkwk tpii appa dara mninggal kah? Aigooo. Nih crita cinta pling rumit dahh

  3. Hyemi I love you to the moon and back deh kalo kata anak gaul, dari dulu kek sadarnya wkwkwk
    Udahan ya thor nyeseknya, ngos-ngosan bacanya:( Seneng Jiyong udah sembuh, tapi Jun Hyung meninggal ya?

  4. Akhirnya authornya sadar jg setelah sekian lama bikin DG menderita dan sekarang buat mereka bahagia dan itu tadi yg manggil umma pasti anak daragon ya dan semoga endingnya happy semua deh dah cukup berlinangan air mata di awal dan berharap endingnya bikin ketawa makasih ya kak dan bikin ceritanya nggak nyesek seneng klu baca daragon moment yg bahagia kaya gini jd adem nih hati hehehe…. next chap deh kak♡♡♡

  5. akhrnya jiyong sama dara bsa barengan lagii kkkkk itu yg bagian akhir jiyong ud smbuh brti yaa ? wahhhh gsbar baca next chapnyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s