LITTLE CHIM-CHIM [Chap. 2]

chim2

Author : Hanny G^dragon (Author Hoon), twitter : @Hannytaukand, IG: @Hannyquack

Cast: Sandara Park (29 thn), Kwon Jiyong (29 thn), Jimin/Chim-chim bts (5 thn), and other.

Genre : Comedy Romantic.

Warning!! : Jika tidak menyukai atau tidak ingin memberi komentar di akhir chap, silahkan klik back pada handphone anda. Karena di final chap selalu diprotect.

            Annyeong, bodo amatan yang komen baru seiprit tapi lagi mood Hoon jadi update aja, hahaha. Mian untuk typo yang bertebaran di chap 1 kekeke. Hoon usahkan di kurangi tapi ketahuilah ff tanpa typo tidak indah wkwkwk *ngelesbanget *akumahgitu. Makasih kerena suka ff Hoon yang lagi-lagi masukin Jimin Bts, ya walaupun sebagian belum kenal dia, tapi di cover ff nya(yang abal) itu beneran Jimin waktu kecil. So cintai Jiyong, Dara dan enchim kuh. Hihihi. Tebar flying Kiss.

Author Pov

“Yeoboseo? Dara kau sudah berangkat bekerja eoh? Aku di depan rumahmu. Jimin..” ucap Jiyong menggantung.

“Jimin sedang bersamaku. Dia ku bawa ke rumah sakit. Karena orang yang menjanjikan akan mengambilnya tidak juga mengambilnya sampai pagi tadi. Sungguh Ji, jika bukan karena aku kasihan melihat Jimin aku tidak akan peduli bagaimana kau dan kehidupan sialanmu itu” ucap Dara dengan emosi menggebu, ia marah bukan karena ia harus membawa Jimin ke Rumah sakit tapi karena Jiyong yang tidak menepati janjinya untuk mengambil Jimin dan itu berarti dia tidak pulang semalam alasan apalagi jika bukan bercinta malam itu.

“Eiiii Dokter Dara, tidak baik berbicara kasar seperti itu. Baiklah aku akan menjemputnya di rumah sakit. Tapi mungkin sedikit siang karena emm..” lagi-lagi Jiyong menggantung kalimatnya. (dia juga gantungin cinta Hoon, sedih).

“Aku tau, kau dan segala yang beraroma s*x nya. Brengsek” ucap Dara lagi lalu memutuskan sambungan telfonnya.

“Nuna, Chim bocan di cini telus. Boleh Chim belkeliling?” tanya bocah yang sedang mengemut imut lolipopnya.

“Andwe, karena disini kau bisa saja jatuh. Banyak orang dewasa yang berlalu lalang sayang, jadi kau bisa terluka, emm sebentar lagi jam istirahat kita bisa makan di luar. Chim mau makan apa?” tanya Dara sambil mencubit gemas pipi mochi sang bocah 5 tahun.

“Chim mau lamyun nuna. Imo sering membuatkanku lamyun” ucap Jimin mengingat-ingat yang pernah di laluinya.

“Kau ingat Imo-mu?” tanya Dara.

“Emm (chim mengangguk cepat *kyooot), tapi Chim cidak tahu lumah nya. Chim tinggal di cana tapi Chim cidak boleh keluar lumah” cerita Jimin sambil menggoyang goyangkan kakinya yang menggantung karena dia duduk di sofa. (kaki nya pendek cuk, kekeke).

“Jadi selama ini kau tinggal dengan imo-mu? Eomma dan appa mu di mana?” tanya Dara lagi.

“Meleka cudah di culga nuna. Kata imo, Chim pembawa cial. Apa altinya nuna? Chim cidak mengelti” kini Jimin yang bertanya, pertanyaan yang menohok hati Dara. Dara tak habis fikir bagaimana mungkin bibi Jimin mengatakan hal itu pada anak seperti Jimin.

“Sayang, jangan fikirkan lagi ne. Kajja kita makan saja. ayo kau sudah lapar kan? Aku tidak mau pipimu menirus, kekeke” ucap Dara mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin menyakiti hati bocah lugu itu.

“kajjaaaaaa” ucap Jimin semangat dan meraih tangan Dara, membuat Dara tersenyum lembut padanya. Emosi yang sebelumnya menguasai akal fikirannya karena Jiyong kini menguap karena balasan senyuman eyesmile dari sang bocah.

“Kau malaikat kecil Chim” bisik Dara kini juga menggenggam jari mungil nan gemuk milik Jimin.

~Kedai ramyun~

“Kau bisa makan sendiri?” tanya Dara.

“Chim bica nuna, jika Chim melepotkan Chim akan dihukum” ucap Jimin sambil memakan ramyunnya dengan lahap.

“Kau dihukum? Siapa yang menghukummu?” tanya Dara menatap Jimin dengan serius.

“Emm, Chim cidak boleh bilang” ucapnya lesu dan langsung menundukkan kepalanya. Dara yang melihat itu jadi merasa bersalah.

“Ahh, mianhae nuna tidak akan bertanya lagi, cha kita makan lagi Chim. Habiskan makananmu emm” ucap Dara sambil menyuapi Jimin. Dan bocah itu kembali tersenyum dan melahap suapan dari Dara dengan senang. Tapi fikiran Dara tidak diam memikirkan apa yang di alami Jimin. Terlebih saat dia membeli baju untuk Jimin dan membantunya untuk melepas pakaiannya ada beberapa luka lebam di punggungnya membuat Dara berfikir keras.

“Dara” sapa seseorang yang mendekati meja mereka. Dara pun melihat ke sumber suara.

“Lama tak bertemu, Dee” ucap namja bertubuh tinggi dan bermata bulat.

“Waaah, Yeol-aah. Benar kau Chanyeol?” kini Dara berdiri dan menatap namja di hadapannya.

“Ne, ini aku your Chanyeol, kekeke” ucap namja yang bernama Chanyeol.

“Eiiii, lama tak bertemu Yeol-aah. Kapan kau kembali, bukankah kau berkarir di LA sana?” tanya Dara sambil menepuk kursi di sebelahnya, mengartikan untuk Chanyeol duduk bersama mereka.

“Aku pindah ke sini Dara. Ada rumah sakit yang memintaku untuk bekerja di sana” jawab Chanyeol sambil menempatkan dirinya di kursi disebelah Dara. ketahuilah bahwa mereka seumuran dan mereka adalah teman saat di fakultas kedokteran.

“Kau sudah menikah,eoh? Kau tidak mengundangku. Jahatnya~” ucap Chanyeol lagi saat menatap bocah gembil sedang memakan rakus ramyun di hadapannya, jangan lupakan pula pipinya yang menggelembung karena ramyunnya terkumpul di sana semakin menambah keimutan bagi orang yang melihatnya. Dan Chanyeol kira itu adalah anak Dara, karena dia sudah meninggalkan Korea setelah lulus di Universitas.

“Anniyo, dia emm anak yang di titipkan Jiyong padaku. Jiyong menemukan nya di depan rumah” jawab Dara sambil menghapus noda kuah ramyun di wajah Jimin.

“Jinnja? Tapi dia lucu sekali. Boleh ku bawa pulang saja. aku sendirian di apartemen, membosankan Dee~” rengek Chanyeol. Yah seperti itulah Chanyeol saat bersama Dara merengek manja berbeda jauh saat dia berperan sebagai dokter, dia akan sangat berkarisma dan mennujukan kepintarannya. (lelaki idaman fansgirl kekeke).

“Aiiisshhh, kau ini tidak berubah eoh. Jimin beri salam pada teman nuna” ucap Dara mengambil atensi Jimin dari ramyunnya. Dengan sedikit berat hati Jimin pun menjauhkan mangkuk ramyunnya dan berdiri dari duduknya lalu menghadap  Chanyeol.

“Annyeonghaceo, Jimin imnida. Tapi ceman-ceman memanggilku Chim. Calam kenal” ucap Jimin memperkenalkan diri sambil membungkuk 90 derajat. Membuat Chanyeol menatap takjub tidak berkedip.

“Huuaah, kau sopan sekali. Aaah kyopta. Annyeong Chim aku Chanyeol panggil saja Yeol hyung. Kita berteman?” ucap Chanyeol sambil mengangkat tangannya meminta toss.

Plak

“Chim ceman Yeol hyung” ucap Jimin sambil tersenyum dengan manisnya.

“Huaaah Deee~~~ aku bawa dia ya. dia lucu sekali” ucap Chanyeol lagi sambil mencubit (gusel-gusel) pipi tembam Jimin.

“Adooh hyoong oppppooo (Aduh hyung appo* itu suara berubah karena pipinya masih di unyel-unyel Yeol)” keluh Jimin membuat sang pelaku terkekeh.

“Mianhae, tapi hyung sangat menyukai Chim. Chim nanti main ke apartemen hyung ya hyung akan belikan mainan, ice cream, coklat, perme.. adu-duh sakit Dee” ucap Chanyeol karena telinga nya yang cukup lebar itu di tarik oleh yeoja di sampingnya.

“Kau mau merusak gigi Jimin hah!! Dasar babbo” ucap Dara lalu melepas telinga Chanyeol yang malang itu.

“Aiish kau ini masih saja jahat padaku dasar yeoja kejam. Chimieee lihatlah hyung disakiti oleh yeoja kejam ini” ucap Chanyeol yang lagi-lagi mengganggu Jimin yang sedag melanjutkan memakan ramyunnya. (Tempong aja pake mangkok Chim biar ga kebiasaan tu si Yeol ,kekeke).

“Hyung, Dala nuna cidak jahat. Nuna baik dengan Chim, hyung yang nakal” ucap Jimin membela Dara.

“Aiishh, kau kan temanku Chim kenapa membelanya. Tck” protes Chanyeol membuat Dara dan Jimin tertawa.

Triiiing, triiiing

“Aku angkat telfon sebentar” ucap Dara saat telfon genggamnya berbunyi.

“Yeoboseo?” ucap Dara malas, karena tahu siapa yang menelefonnya.

“Dara kau di mana aku sudah di Rumah sakit. Tapi mereka bilang kau sedang makan diluar” ucap Jiyong sang penelfon.

“Aku ada di kedai ramyun yang tak jauh dari sana. Kau saja yang ke sini” ucap Dara ketus.

“Arraso. Tunggu aku ne” ucap Jiyong lalu memutus sambungannya dan melajukan mobil sportnya menuju kedai ramyun terdekat.

Jiyong Pov.

            Setelah aku sampai di kedai ramyun, aku meradarkan mataku mencari Dara dan Jimin.

“Dara!!!” panggilku sedikit berteriak dan berhasil membuat Dara mengetahui keberadaanku. Akupun menghampiri meja mereka. tunggu ada seorang namja? Sepertinya tidak asing bagiku.

“Dara, aku mau menjemput Jimin. Mian merepotkan” ucap ku saat sampai di meja mereka.

“Ne, beri makan yang benar, jaga dia dengan baik. Jika terjadi apa-apa padanya, kau akan mati di tanganku” ucap Dara galak.

“Annyeong Jiyong. lama tak bertemu. Kau artis terkenal sekarang” ucap namja yang di samping Dara. siapa dia sok kenal sekali.

“Emm kau siapa?apa aku mengenalmu?” ucapku sarkas. (njir sombong banget si Jiyong minta di tempong).

“Kau lupa. Aku Chanyeol. Teman satu universitas Dara, dulu aku sering berkunjung ke rumah Dara dan kalian tetangga jadi aku mengenalmu walau kita tak begitu dekat” ucap Chanyeol sungkan.

“Aahh begitu (mengacuhkannya). Baiklah Chim kajja kita pulang” ucapku pada Jimin yang sedang melihat dengan lugu percakapan kami.

“Nuna cidak pulang belcama Chim dan ahjucci hijau?” ucap Jimin, lagi-lagi dia menyebutku ahjussi hijau. Tsk mana di hadapan Dara dan si tiang itu pula.

“Nuna masih bekerja sayang. Pulang nanti nuna belikan sesuatu ne. Kau istirahat di rumah ahjussi hijaumu dulu okay” ucap Dara ikut-ikutan memanggilku ahjussi hijau. Sial. Dan Chanyeol terkekeh karena perkataan Dara. Double sial.

“Ayo, hyung tidak bisa berlama-lama disini. Nanti fans hyung menggila jika melihat hyung di sini” ucapku sambil menggendong tubuh bulat Jimin. (et bulet dikira cimol, tapi mirip sih wkwkwk *ditabokJimin).

“Kau mau ku antar ke rumah sakit Dee?” tanyaku.

“Ah tidak aku akan kembali sendiri. lagipula dekat” jawab Dara.

“Aku yang antar saja Dee. Lagi pula aku harus membereskan barang-barangku di sana” ucap Chanyeol, aku menatap sinis.

“Kenapa barang-barangmu disana?” tanya Dara heran. Aku pun belum beranjak pergi.

“Aku akan menjadi partnermu di sana. Kekeke. Mian baru memberi tahu” ucap Chanyeol membuatku mendelik kesal. pamer sekali.

“Waah jinjja? Aaah menyenangkan kau ada di sana sekarang. Kajja kita kembali” ucap Dara semangat. Apa-apaan itu tangannya merangkul lengan namja berkuping lebar.

“Ahjucci hijau kenapa diam, ayo pulang” ucap Jimin menyadarkan lamunanku.

“Ayo, aku juga muak disini” ucapku lalu berlalu pergi keluar tanpa berpaling lagi pada Dara yang menatapku. Merasa tersindir mungkin. Masa bodo aku malas memikirkannya.

            Aku pun melajukan mobilku menuju apartemen, namun saat melewati taman. Jimin sangat antusias sekali sampai-sampai dia menempelkan seluruh wajahnya pada kaca mobil. Mungkin jika ada orang yang melihatnya dari luar akan terkejut dengan wajahnya yang menempel dengan kaca itu. dasar bocah.

“Kau ingin main eoh?” tanyaku, membuat wajahnya lepas dari kaca jendela dan menatapku lalu mengangguk cepat.

“Baiklah, tapi hyung akan memperhatikan dari sini oke. Hyung tidak membawa masker” ucapku dan lalu ku tepikan mobilku dan membuka pintu Jimin. Jiminpun langsung berlarian menghampiri ayunan. Banyak juga anak-anak seumuran dengannya yang sedang bermain. Aku sesekali melihat keadaan Jimin dari dalam mobil. Lalu sambil menunggu Jimin main aku bermain game di telfon genggamku.

Tok tok tok. Kaca jendela ku di ketuk seseorang dari luar. Aku pun menurunkan kaca jendela mobilku.

“Maaf tuan. Apakah anda orang tua dari anak yang di sana. Dia sedang berkelahi dengan anak yang lain. Tolong perhatikan anak anda” ucapnya dan dengan refleks aku melihat ke arah taman. Terlihat Jimin sedang melempar gundukan pasir yang sudah di bangun oleh anak yang lain. Tck anak itu.

“Maaf” ucapku pada orang itu lalu keluar dari mobil dengan menggunakan hoodie ku.

“JIMIN!!! Apa yang kau lakukan hah!!!” teriakku sambil meremas bahu kecilnya. Pelipisnya terluka dan terdapat darah. Namun dia tidak menangis sama sekali berbeda dengan anak lawan berkelahinya. Menangis seperti bayi di pelukan ibunya.

“Kau orang tuanya? Jaga anakmu dia sangat nakal” ucap ahjumma yang anaknya dibuat menangis oleh Jimin.

“Maaf kan saya dan anak ini nyonya. Jimin minta maaf” ucapku menyuruhnya, namun ia menggelengkan kepalanya.

“Cidak mau. Chim cidak salah. Dia yang memukul Chim duluan” ucap Jimin.

“Yak!!! Kau ini menyusahkan saja kau tau” ucapku sambil meremas kembali bahunya. Oh ini yang aku tidak suka dari anak kecil, ME.RE.POT.KAN. di luar dari dugaan Jimin melepaskan tanganku dari bahunya lalu berlari menjauh dariku. Aku terdiam mencerna kejadian yang baru saja terjadi.

Jimin lari ke arah sana, mobilku kan di arah sana. Lalu???? HAH!!!!

            Aku pun segera mengejar bocah itu, aaaaarrrgggghhh merepotkan sekali. Jika seperti ini harusnya aku biarkan saja dia di panti asuhan. Sial.

“Jimiiiin” teriakku, namun aku kehilangannya. Aku tidak bisa menemukannya.

~ 2 jam kemudian ~

            Sial, aku masih belum menemukannya. Bagaimana ini, aku mulai khawatir. bagaimana jika di culik, di bunuh lalu organnya dijual. Aiishh, aku berfikiran terlalu jauh. Ahh Dara!!

“Annyeong, Daraaaa!!!” teriakku panik di sambungan telfon yang sudah diangkat Dara.

“JANGAN BERTERIAK BODOH” jawabnya dengan teriakan yang lebih keras.

“Oke mian. Dara aku butuh bantuanmu. Jimin emm Jimin “

“Kenapa dengan Jimin, cepat katakan!!!” tanyanya. Oke aku mulai takut yeoja ini murka.

“Jimin hi..lang” ucapku putus-putus.

“HAH!!! Jangan bercanda. Tidak lucu Ji” ucapnya.

“Aku tidak bercanda, tadi dia sedang bermain di taman lalu berkelahi dan emm aku memarahinya dan dia lari dariku saat aku menyusulnya dia sudah tidak ada. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu” jelasku.

“KAU INI BODOH ATAU APA!!!! TAMAN MANA AKU AKAN KESANA SEKARANG” ucap Dara berteriak kesal. dan akupun memberi tahukan dimana aku kehilangan Jimin dan sambungan telfon ku matikan lalu melanjutkan pencarian Jimin.

“Chim-chim kau di mana? Ahjussi hijau minta maaf” ucapku sedikit berteriak, berharap dia mendengarnya lalu keluar dari salah satu semak-semak. Namun tidak ada tanda-tanda dia akan muncul dari sana. (ya ia lah loe kira jimin uler keluar dari semak-semak hehe).

            Aku dan Dara berpencar mencari Jimin, namun masih sama saja. kami belum menemukan bocah bulat  itu. bahkan aku sudah menyuruh Top hyung, Seungri, Daaesung, dan Yongbae untuk ikut mencari Jimin namun aku juga belum mendapatkan kabar dari mereka.

“Kau akan mati di tanganku jika terjadi apa-apa pada Jimin. Dan aku tidak akan mau lagi bertemu denganmu!!!” ucap Dara membuatku tambah frustasi. Dan lagi turun hujan. Aah sial.

Author Pov

            Seorang bocah sedang terduduk sendiri sambil memeluk lututnya. Dahinya yang terluka kini darahnya telah mengering. Dia mulai pening dan tubuhnya kedinginan, bajunya basah kuyup. Air hujan menyamarkan air matanya. Ia sendirian dan kenyataan dia yang selalu di salahkan. Bahkan kehadirannya di dunia ini dianggap kesalahan besar.

“Chim? Benarkah kau Chim?” ucap tak percaya seorang namja dengan beberapa belanjaan di tangannya.

“h-hyuu~ng” ucap Jimin dengan suara bergetar dan parau.

“Yak!! Kau kenapa?” ucap namja itu khawatir saat melihat kondisi bocah yang baru dikenalnya.

“Yeol hyung, Chim pucing” ucap Jimin lalu ambruk di pelukan namja itu yang ternyata Chanyeol.

“Astaga, hipotermia!!!!” ucap Chanyeol panik lalu dengan cekatan dia menggendong Jimin mengabaikan belanjaannya yang tergeletak begitu saja di jalan. Membawa Jimin ke apartemennya.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Chanyeol saat Dara dan Jiyong sudah di apartemennya. Saat Jimin sudah di katakan aman dari hipotermia dia menghubungi Dara dan Jiyong bahwa Jimin ada di apartemennya. Dan di sini lah mereka, di ruang tamu apartemen Chanyeol sedangkan Jimin ada di kamar Chanyeol yang hangat.

“Kau tidak usah tahu. Mana Jimin aku akan membawanya” ucap Jiyong tak bersahabat.

“Dia sedang istirahat, dia hampir saja mengalami hipotermia” ucap Chanyeol membuat Jiyong bungkam. Ok terjadi penyesalan di hati Jiyong sekarang.

“Yeol-aah, bagaimana dia hemm? Sudah baik-baik saja kan? Aku ingin melihatnya?” ucap Dara sambil menarik-narik sweteer Chanyeol. Membuat Jiyong jengkel melihatnya.

“Dia sedang tidur Dee~ tenanglah dia sudah baik-baik saja. tapi ada luka di keningnya sepertinya karena benda tumpul” jelas Chanyeol lagi.

“Itu karena dia berkelahi dengan salah satu anak di taman. Dia bilang bahwa anak itu yang menyerangnya dulu saat aku menyuruhnya untuk meminta maaf dia tidak mau. aku kan jadi kesal jadi aku berteriak padanya. Dan dia lari dariku” ucap Jiyong polos, karena dengan tidak langsung dia sudah menceritakan yang terjadi sampai Jimin seperti ini. (labil dia mah, tadi gak mau cerita sekarang cerita sendiri).

“K-kauuuuu itu memang bodoh!!!” ucap Dara sambil melempar bantal kursi pada Jiyong.

“Dee~ tenang. Ku buatkan coklat hangat ya. sudah-sudah sebaiknya kau melihat Jimin di kamarku. Nanti aku bawakan coklat hangatnya kesana. Okay.” Ucap Chanyeol lembut, Darapun mengangguk dan saat hendak pergi melangkah pergelangannya di tahan oleh Jiyong.

“Kami akan pulang dan membawa Jimin. Dia tanggung jawabku” ucap Jiyong final. Chanyeol yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Dia harus mengalah sepertinya.

“Baiklah, terserah kalian” ucap Chanyeol menyerah. Dan setelah itu Jiyong pergi mengambil Jimin dan kini sudah di gendongannya. Lalu menarik Dara ikut keluar dari apartemen Chanyeol tanpa kata-kata berterima kasih.

~Apartemen Jiyong~

“Bagaimana keadaannya?” tanya Jiyong khawatir.

“Dia sudah membaik Ji. kau tidak dengar Chanyeol bilang apa tadi” jawab Dara sambil mengelus rambut Jimin yang masih terlelap tidur.

Hening~

Ke dua manusia dewasa yang masih menatap khawatir bocah yang kini sedang terbaring di kasur king size Jiyong dengan wajah pucat dan plaster di keningnya.

“Kau tahu Ji, setiap anak mempunyai alasan saat melakukan sesuatu. Saat bayi dia merasa lapar dia akan menangis, namun di usia Jimin dia sudah bisa mengungkapkan nya. Dan harus kau tahu, dia anak yang sangat baik. Dia tidak mungkin melakukan hal buruk pada orang lain. Saat di rumah sakit, dia sedang menunggu ku di lorong dia melihat kakek tua sedang kesulitan mengambil tongkatnya yang jatuh. Dan kau tau apa yang ia lakukan, dia mengambil tongkat itu lalu memberikannya pada kakek tersebut. Sangat jarang anak usia 5 tahun mengerti tentang tolong menolong kecuali dari jiwa mereka sendiri. jadi ku mohon diluar dari ketidak sukaanmu pada anak kecil, perlakukan dia dengan baik. Aku tak bisa menjaganya karena profesiku yang akan tiba-tiba membutuhkanku dan harus meninggalkannya. Jadi ku mohon jaga dia dengan baik. Hemm, baiklah aku pulang” ucap Dara sambil mengecup pipi gembil sang bocah yang masih tertidur.

“Dee~ emm bisakah kau menginap?emm aku..aku takut terjadi sesuatu padanya. Ku mohon~” pinta Jiyong sambil menatap Jimin.

“Rumahku disamping Ji, jika ada sesuatu kau hanya pergi keluar dan menuju rumahku” ucap Dara, namun di respon gelengan oleh Jiyong.

“Ku mohon, menginaplah. Kau tidur di sini dan aku di sofa. Aku sangat khawatir padanya dan kau yang tahu akan kesehatannya. Aku tidak mengerti apapun Dee~”ucap Jiyong, jika sudah memanggil panggian kecil Dara, itu menandakan Jiyong sudah tak bisa terbantahkan lagi.

“Baiklah. Tapi aku harus mandi dan mengambil pakaianku” ucap Dara.

“andwe kau mandi di sini saja, dan kau pakai pakaianku. Dan aku tak bisa terbatahkan. Bye jaljayo~” ucap Jiyong lalu keluar dari kamarnya.

“Cih dasar semena-menanya sendiri” ucap Dara lalu beranjak menuju kamar mandi Jiyong.

~30 menit kemudian~

“Dee kau sudah tidur?” tanya Jiyong yang menyembulkan kepalanya di antara pintu. Dan dia mendapatkan Dara sudah tertidur disamping Jimin dan memeluk Jimin dari samping.

“Kau memakai hoodieku. Lihatlah betapa kau sangat kecil Dee. Tck kau bisa kedinginan” ucap Jiyong saat melihat bahu Dara terlihat karena hoodie Jiyong yang kebesaran di tubuh Dara. ia pun membenarkan posisi hoodie itu dan saat dia hendak menyelimuti Dara, entah ada apa. dia melihat wajah Dara yang tertidur seperti menghipnotisnya. Jiyong merebahkan tubuhnya di samping Dara. memeluk posisif tubuh mungil dan menyimpan hidungnya dia ceruk leher Dara. aroma sabun yang ia pakai, membuat nyaman dan buatnya mengantuk dan lambat laun dia pun menutupkan matanya dengan lelap. (jadi posisinya, Jimin dipeluk Dara, Dara dipeluk Jiyong. author peluk guling *jomsbgt wkwkwkwkw ini kaya keluarga harmonis yak hihi).

-TBC-

            Nah loh, udah tidur bareng aja, kekeke. Comentnya ya chingudeul. Love ya~~~*flying Kiss.

Advertisements

35 thoughts on “LITTLE CHIM-CHIM [Chap. 2]

  1. Wah.. salut sama chim-chim msih kecil udh ngerti tolong menolong
    Jarang ada anak sekecil dia memiliki sifat itu,,
    Anak sekecil itu dijahatin sama imonya sendiri,dimana hati nuraninya, masa anak imut kaya gitu digalakin
    Nah lho.. itu ngapa ya jiyong jadi ikutan tidur sama dara pake alesan demi chim chim lagi
    Hahahaha
    Modus banget

  2. Chim” kecil tp pikiran nya udh sedewasa itu. Baca chap ini sdkit nangkep knp jiypng jd badboy, kyanya dia cemburu sma yeo krn dia lu yeol sering k. Rumah dara, dan jiyonh yg kesrl ga bisa nugungkapin perasaan nya jd lari k. Cwe lain buat bikin dara juga cemburu

  3. yakkkkk!!!! tuh kan kalo uda ad namja lain baru perhatian sama dara dasar jiiii
    awas dara bangun2 marah di peluk kamu ji kkkk

  4. Jidi oppa gmna sih.. Klau suka sma dara unnie hrusnya jgn kencan sma bnyak wanita dong..
    Smpe ortu dara unnie meninggal pun oppa ga ada d smping dara unnie..
    Sungguh teganya…teganya…teganya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s