넌 FALLING YOU [Chap. 5]

picsart_01-28-09-19-35

Falling You

Author : Annisa lathifah

In Home

~~~

“Lukanya sudah membaik, hari ini jiyong-ssi bisa pulang. Silahkan urus administrasinya,

makanlah yang teratur jiyong-ssi”

Ne arraseo kamsahamnida” jawab eunju. Dokter tersebut meninggalkan eunju dan jiyong dalam ruang inap

“Sebentar aku akan mengurus administrasinya” langkah eunju tertahan dengan genggaman jiyong pada tangannya

“Aku berjanji membayarnya eommonim” eunju mengangguk, betapa mulia hati pria ini

“Sekarang kau adalah anakku jiyong-ah sudah kewajiban seorang ibu merawat anaknya”

Ani bukan aku yang harusnya mendapatkan ini” genggaman itu mengendur. Eunju mendekat pada jiyong memperhatikan ketulusan yang terpancar

“Jiyong-ah, lalu pantaskan aku menjadi orang yang selalu dirindukan sanghyun ketika aku pun tak pernah bisa menemukannya. Ia datang untuk pergi, namun ia memanggilku eomma ketika ia masih mengingat aku ini ibunya. Jiyong-ah mengertilah aku banyak berhutang budi, uang dan segalanya padamu untuk menjaga sanghyun selama ini, jadi kumohon berikan aku kesempatan membalas kebaikanmu pada anakku” jiyong menatap ibu yang selama ini sanghyun dambakan, impikan, dan rindukan. Sosok dihadapannya inilah alasan sanghyun untuk tetap hidup

Ne eommonim” jiyong mengangguk, ia berjanji untuk melakukan apapun yang sanghyun impikan. Ia akan menjaga dirinya, ibu dan dara.

****

“Eunju!” ia berbalik karena namanya terpanggil dari arah belakangnya

“Ara, kenapa kau disini?” tanya eunju yang telah menyelesaikan administrasi jiyong menuju temannya semasa SMA, yang juga mengijinkannya menginap selama ini di Itaewon

“Tentu saja menjenguk anakmu, Sanghyun kan?” eunju mengela nafas beratnya

“Ah.. aniya, namanya Jiyong” Ara mengerutkan keningnya, seingatnya anak sulungnya yang telah hilang karena gempa sekitar 10 tahun yang lalu bernapa Park Sanghyun, apakah ia sudah lupa nama sahabatnya sendiri

“Aku jelaskan nanti, sekarang kau akan menjenguknyakan? Kemarilah akan kuantar ke kamarnya” eunju menyeret tubuh ara menuju kamar jiyong

“Kau berhutang penjelasan padaku huh!”

“Ya! Kau cerewet sekali, tak pernah berubah”

“Karena aku ini sahabatmu yang tak pernah berubah”

Sesampainya di kamar jiyong Ara meletakkan sekeranjang buah, beberapa roti dan susu untuk jiyong dan eunju pastinya

“Aku tak menyangka ini semua untukku?” tanya eunju takjub dengan bawaan ara padanya

“Ini bukan untukmu huh! Ini untuk anakmu yang tampan ini” ucap ara, yang sekarang mendekatkan kursinya ke arah keranjang jiyong. Eunju sedang memberesi kamar inap jiyong untuk bersiap kembali kembali ke Seoul

“Hai! Anaknya eunju, kenapa tak enak diucapkan ya? Bisa kau beritahu namamu?” jiyong menatap eunju meminta izin dan eunju mengangguk

“Apakah harus meminta izin untuk memperkenalkan dirimu? Kau itu tampan, dan penurut sekali pada ibumu” ara sedikit melirik pada eunju

“Ara kau sedang menjenguk orang sakit, jangan buat dia tak nyaman” ucap eunju pada ara

Arraseo hmmm.. namamu?”

“Jiyong imnida” ara menganggukkan kepalanya, ia jujur memang nama dan wajahnya sangat pas sama-sama tampannya.

“Perkenalkan namaku Go Ara sahabat ibumu sejak SMA” ara mengulurkan tangannya pada jiyong dan diterima jiyong dengan senang hati

“Ternyata setelah dewasa kau sangat tampan, bagaimana keadaanmu? Ku dengar dari ibumu kau terluka parah” telisik ara

Aniya hanya luka ringan, sedikit robek dibagian hati dan itu sudah membaik” ara membelalakkan matanya, eunju tak menceritakan perihal luka yang didapat jiyong

“Kau bilang itu ringan? Hatimu robek nak! Dan kau selamat masih bisa melihat sahabat ibumu yang cantik ini” eunju memukul punggung eunju menggunakan syalnya dari belakang. Eunju mulai gemas dengan tingkah centil sahabatnya satu ini. Jiyong tersenyum menatap yang ada dihadapannya, seketika itu ia terbersit sosok sanghyun

“Ji—kau melamun?”

“Ahh.. mianhae ahjumma tadi bertanya apa?”

“Apakah selama 10 tahun terpisah dengan keluargamu kau menjadi pria yang kuat, hati sobek kau bilang ringan?” jiyong terkekeh

Ahjumma aku ini sudah dewasa, dan daya tahan tubuhku kuat, mana mungkin aku mati jika belum bertemu denganmu” ara bersemu, memang anak eunju membuatnya tersipu,, eunju tertawa melihat tingkah sahabatnya yang satu ini

Arraseo lama-lama aku bisa diabetes mendengar ucapanmu yang manis itu. Oh ya kalau begitu aku akan membantumu ibumu berberes karena kau akan pulang ke Seoul”

Ne ahjumma”

 

****

Ting! “Dara, hari ini aku tak bisa pulang bersama denganmu, aku sedang membantu kim sonsaengnim menata buku di beberapa rak perpustakaan. Jika jam pelajaran Seungri oppa sudah usai ajaklah dia pulang bersamamu agar kau tak sendiri. Bye, Hati-hati dijalan darong” pesan singkat dari Bom, dara menghela nafasnya sejenak. Ia mulai berjalan pulang hampir saja dara menghampiri seungri, namun ternyata ia masih sibuk bermain basket bersama teman-teman sekelasnya. Alamat pulang sendiri.

Setelah beberapa meter menjauh dari lapangan basket, ketika melewati parkiran sebuah mobil menghentikan langkah dara. Keluarlah seorang pemuda bersetelan rapi menuju kearah dara sambil membawa seikat bunga mawar putih favorit dara.

“Ahh.. sunbae annyeonghaseo” ucap dara dengan membungkuk pada pemuda tersebut yang diyakini salah satu senior di sekolah dara. Hari ini entah angin apa yang membawanya ke hadapan dara

“Kau berlebihan Dara-ya, ini untukmu” sembari memberikan seikat bunga pada dara, dara menerimanya dengan ragu apa maksud ini? Jika difikir dara bukanlah anak populer yang dengan murid murid lain mengenalinya, tapi mengapa dengan salah satu seniornya yang termasuk orang populer di sekolahnya

Geundae mwoya?” pemuda yang bernama Donghae tersebut tersenyum simpul pada dara, yang mungkin saja dapat membuat banyak siswi yang meleleh melihatnya. Tapi dara berbeda, ia sama sekali tak tertarik dengan hal-hal yang tak penting seperti ini

“Untukmu ya ucapan perkenalan, aku hanya mengetahui namamu dari siswa lain tapi tidak denganmu secara langsung” ucap donghae yang dijawab anggukan oleh dara. Derik berikutnya donghae mengulurkan tangannya kepada dara

“Lee Donghae, dan kamu?” dara menggapai uluran itu. Namun tanpa ia memperkenalkan diri, dara sudah tahu namanya dari banyak siswi yang sering membicarakannya

“Sandara Park imnida”

****

Kedua wanita dewasa yang telah selesai berberes untuk kepulangan sahabatnya ke seoul sedang berbicang disalah satu bangku rumah sakit.

“Sekarang ceritakan bagaimana anakmu bernama jiyong bukankah ia bernama sanghyun, aku masih mengingatnya eunju mana mungkin aku bisa dengan mudah melupakannya” eunju menarik nfasnya dalam

Eunju menceritakan pertemuannya dengan jiyong dan sanghyun dalam tragedi tersebut. Eunju mulai menangis lagi. Ara masih setia menjadi pendengar yang baik untuk  semua curhatan sahabatnya yang satu ini. Semua perjalanan hidup eunju ialah yang mengerti memahami, segala keluh kesahnya.

“Ku mohon jadikan ini rahasia antara kita berdua Ara, aku tak ingin kehilangan anakku untuk yang kedua kalinya. Jiyong adalah sanghyun, jadi jiyong adalah anakku juga. Ia adalah sanghyun bagiku dan dara, kumohon jangan sampai dara mengetahui ini” ara mengangguk mengerti dengan penuturan panjang lebar dari eunju.

Kini keduanya kembali kekamar jiyong. Jiyong sudah berganti baju, baju yang dibelikan eunju beberapa hari yang lalu, karena baju jiyong memang sudah tak pantas dikenakan. Penuh robekan dan darah yang pasti.

Mereka bertiga, eunju, jiyong dan ara telah berangkat menuju Seoul kediaman keluarga park. Sepanjang perjalanan jiyong menatap keluar jendela, ia duduk di bangku belakang seorang diri, karena eunju duduk berdampingan dengan Ara sebagai pengemudi.

Jiyong menggenggam gelang sanghyun yang diberikan eunju untuknya. Kini gelang tersebut telah tersemat pas dilengan kirinya. Jiyong berangan lagi mengamati jalanan yang ia lewati

Flashback~

 

Eunju menggenggam tangan kiri jiyong. Jiyong terhenyak dengan itu, ia menatap eunju memastikan apa yang sebenarnya eunju lakukan.

“Jiyong, kuharap kau menerima ini” eunju mengeluarkan gelang park bersaudara padanya. Jiyong menggeleng, ia merasa tak pantas mendapatkannya, jika memang sanghyun tak dapat bertemu dengan dara secara langsung sebelum ia tiada setidaknya kenangan ini dibawa bersamanya.

“Jiyong, aku pastikan sanghyun juga menginginkan ini. Ia pasti juga bahagia jika kau memberikan kebahagiaan padaku dan dara” jiyong menatap mata eunju secara langsung, ada pancaran ketulusan disana, jiyong sama sekali tak menginginkan eunju memohon padanya, tapi ia juga berada di keadaan yang membingungkan.

“Jiyong, anakku” jiyong melihat air mata itu lolos dari mata sayu eunju. Jiyong mengangguk, eunju tersenyum. Eunju mulai menyematkan gelang tersebut pada tangan kiri jiyong tak kala jiyong kini mulai mengusap air mata eunju

“Aku akan melindungi eommonim aku berjanji”

Flashback end~

 

Mereka bertiga telah sampai tujuan, rumah eunju. Ara langsung berpamitan tanpa berniat untuk mampir karena suaminya sudah perjalanan pulang dari kantor. Jiyong dan eunju memasuki rumah tersebut. Sederhana berlantai dua dan dekorasinya yang berdominan kayu mempercantik rumah tersebut.

Eunju meyuruh jiyong duduk di ruang makan sembari eunju membereskan apa yang dibawanya sepulang dari Itaewon. Jiyong duduk disalah satu kursi makan yang berada disana. Ruang makan tersebut tergabung dengan dapur yang langsung biasa menatap eunju yang mengeluarkan beberapa sayuran dari kulkas setelah berberes kamar untuk jiyong.

Eommonim—“ eunju menghentikan kalimat jiyong dengan berdeham tanda tak setuju, jiyong sempat mengerutkan dahinya. Apakah ia membuat kesalahan?

“Sudah kuingatkan ji untuk memanggilku eomma” jiyong menangangguk ingat dengan perkataan eunju padanya yang mulai sekarang membiasakan memanggilnya eomma.

“Ahhh.. ne eomma, dimana kedai ayam yang kau miliki? Apakah benar di Itaewon?”

“Apakah hari itu kau dan sanghyun mencari keberadaan kami di Itaewon?” jiyong mengangguk. Disana adalah alamat lama eunju dan dara

“Kami pindah dari sana sejak 2 tahun yang lalu, karena sewa tempat disana lumayan tinggi, dan Itaewon semakin banyak bar dan cafe sehingga usaha ayam yang aku miliki kalah dengan daya tarik usaha lain disana” jiyong mengangguk mengerti. Berarti ahjumma penyewa tersebut memberinya alamat lama

“Ada orang yang memberitahumu?”

“Ne kami sempat menyewa salah satu kamar di daerah sana sehingga ahjumma yang memiliki tempat memberi tahu kami alamatmu. Ahjumma yang eomma ceritakan saat aku masih tak sadarkan diri menjenguk dengan gadis muda” eunju mengerti sekarang, jadi saat jiyong dirawat dirumah sakit ialah orang asing yang menjenguk keadaan jiyong ternyata sudah kenal jiyong lebih awal dari pada eunju

“Kau ingin aku buatkan apa?”

“Bukankah aku harus menjaga makanku? Jika aku memilih aku ingin ramen sekarang” eunju menggeleng, itu tidak baik untuk jiyong, selama ia dalam masa pemulihan

“Okay aku akan memasak makanan yang sangat disukai dara dan sanghyun” jiyong antusias, ia sama sekali tak berniat membantu eunju memasak karena biasa saja malah merusak masakan eunju, karena memang jiyong sama sekali tak bisa masak.

Eunju sempat melirik jama yang terpasang di dinding

“Mungkin sebentar lagi dara akan pulang”

“Benarkah?” tanya jiyong sambil mengamati dekorasi disekitarnya

Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka, menandakan ada seseorang yang baru saja masuk kerumah “Aku pulang” ucap sang pendatang

“Di dapur sayang” eunju berucap, orang tadi langsung menuju ke arah dapur dan terhenti ketika hampir mencapai meja makan, ia menatap ibunya dan seorang laki-laki asing di pengelihatannya duduk di salah satu kursi tempat makan mereka.

“Oppamu pulang dara” kalimat tersebut lembut namun menusuk hati dara seketika

“Oppa?” ulang dara, eunju mengangguk denga masih sibuk dengan masakannya

“Sapalah oppamu dara” dara menatap jiyong yang juga kini menatapnya

Annyeonghaseo naneum dara imnida” eunju sempat tertawa mendengar sapaan dara, ia tak menyangka dara akan melakukan itu mendengar jiyong adalah oppanya

“Sayang itu oppamu, ada apa dengan sikapmu?”

“Ahh.. mianhae eomma aku kekamar” dara berlalu begitu saja. jiyong menatap eunju

“Mungkin ia masih kaget saja, semua akan baik-baik saja” eunju meyakinkan

****

Ini saatnya makan malam semua berkumpul dalam satu meja dengan hidangan masakan eunju yang menggugah selera. Jiyong tak pernah menatap secara langsung masakan rumahan yang segar baru dari proses pematangan. Tapi kesunyian menyelimuti mereka bertiga, eunju, dara, dan jiyong.

“Dara-ya, eomma memutuskan mengganti nama oppamu” dara tetap terdiam, ia makan sambil menunduk

“Setelah lama berpisah oppamu masih bisa mengenyam bangku sekolah sebagai Jiyong, jadi eomma memutuskan nama Park Jiyong sebagai nama oppamu sebagai tanda terima kasih karena tuhan telah menjaganya dengan baik” dara sama sekali tak merespon perkataan eunju, jiyong juga terdiam sesekali melihat kearah dara yang sih dalam posisinya yang menunduk. Eunju paham jika ini sedikit sulit dara terima namun apa daya, semua ijazah jiyong atas namanya.

“Aku sudah selesai, aku ke kamar eomma” dara bangkit dan berjalan menuju kamarnya

“Ia masih berat menerima ini mungkin” jiyong mengangguk. Dalam keadaan yang seperti ini pasti dara mudah menerimanya. Tidak hanya dara, mungkin semua orang juga merasakan hal yang sama.

****

Jiyong memasuki kamar yang seharusnya sanghyunlah yang menepati. Disana sangat persis dengan dekor yang disukai sanghyun, sederhana namun klasik. Disana ada satu ranjang, meja dan kursi belajar, lemari, rak buku, dan beberapa figura yang terpajang di meja tersebut. Jiyong meraih benda itu, benda yang sama dengan di kamar dara. Foto sanghyun dan dara berpelukan di pantai. Jiyong mengusap perlahan gambar sanghyun kecil yang bahagia.

Jiyong terkejut dengan dengan tangan yang melingkar pada tubuhnya tiba-tiba. Siapa yang memeluknya dari belakang. Kala jiyong akan menengok di hentikan oleh sang empunya pelukan tersebut.

“Jangan berbalik!” jiyong terdiam tak tahu apa yang harus ia lakukan. Jiyong dapat merasakan genggaman rindu yang membuncah disana, seperti tak ada hari lagi untuk melakukan ini. Detik berikutnya jiyong mendengarkan orang tersebut menangis, semakin kencang, dan menjadi.

Bogo sipeo” ditengah tangis tersebut, perlahan jiyong meneteskan air matanya. Ia sadar buka ialah yang dirindukan orang ini. Jiyong membaikkan badannya menangkap tubuh gadis yang sejak pulang sekolah tersebut terkejut dengan kehadiran jiyong dalam pelukan hangatnya. Tangis itu bukan mereda tapi semakin menjadi. Jiyong mengelus punggung dara membuat dara semakin nyaman di dalam rengkuhan jiyong

Nado bogo sipeo” sanghyun dara ada dalam pelukanku, ia merindukanmu jerit hati jiyong

-TBC-

Next chap? Ada yang nunggu daragon moment? Author juga nunggu-nunggu 😝Comment juseyo 😊 maaf typo yang bertebaran dimana-mana 🙏 jadilah pembaca yang baik 😉 see u

Advertisements

9 thoughts on “넌 FALLING YOU [Chap. 5]

  1. Makin ngebuat penasaran hihihihihi. Gk sabar nunggu momen mereka yang sweet meskipun cuma sebagai ‘adek-kakak’ karena Dara unnie ngira Jiyong itu Sanghyun yg sebenernya. Ditunggu kelanjutannya unnie.. Fighting!!!😘😍

  2. aigooooo di posisi jiyong bakalan berat bgt,, dia psti ngerasa bersalah tpii mau gmana lagi udh janji sma eomma dara.. tpi aku brharap crita ini happy ending wkwkwkwk dan dara sma jiyong sling punya perasaan lebih dan akhirny dara tau kalo jiyong bukanlah sanghyun..

  3. Kirain dara nggak percaya klu itu sanghyun tp dia tetep percaya meski sedih sanghyunnya meninggal…… nggak sabar sama DG momentnya ….. next chap ya kak fighting….

  4. wah…apa gk apa2 nih kaya gini.
    aku nunggu moment mereka kak.

    dara syok kale ya oppanya tiba2 muncul…hihihi
    dara percaya jiyong itu sanghyun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s