넌 FALLING YOU [Chap. 4]

picsart_01-28-09-19-35

Falling You

Author : Annisa lathifah

An Answer

~~~

Tut…tut…tut… suara monitor pendeteksi detak jantung salah satu pasien yang masih betah di kamar inapnya selama 4 hari tak sadarkan diri. Ia mengalami kerobekan di bagian hatinya akibat tusukan senjata tajam. Wajah pucatnya masih menghiasi ruang dingin yang telah ditunggu oleh seorang ahjumma bolak-balik dari rumah saudaranya ke rumah sakit. Sesekali ketika ia tak bisa menjaga pasien tersebut seharian ia akan menitipkannya pada salah satu suster yang bertugas.

Hari ini telah genap hari ke empatnya pasien tersebut masih terpejam tak ada perkembangan yang signifikan. Mungkin adalah efek pasca operasi yang ia jalani. Ahjumma tersebut kini menarik sebuah kursi supaya mendekat pada ranjang. Ia masih tetap memandang badan lemah yang ada di hadapannya. Mata ahjumma  yang sempat membengkak selama dua hari tersebut, kini telah berangsur membaik.

Ia tak pulang kerumahnya selama ini karena kondisinya yang sekarang tak memungkinkan untuk bertemu dengan putrinya di rumah. Untung saja sang putri telah beranjak mandiri dapat mengurus dirinya sendiri. Kedai terpaksa ditutup karena sang putri tak mungkin membolos sekolah untuk menjaga kedai mereka.

Ahjumma tersebut mendapat panggilan suara dari putrinya

Eomma aku berangkat sekolah dulu, mungkin nanti atau besok aku akan menginap di rumah bom, karena orang tuanya pergi ke Busan. Eomma kapan pulang?”

Eommaakan pulang besok atau lusa, ada sesuatu yang tak bisa ditinggalkan sayang. Kau baik-baik dirumah ya! Eomma akan segera pulang, eomma merindukanmu”

Ne nado! Dah eomma

Ahjumma tersebut menutup percakapan singkat dengan putrinya lewat ponselnya.

****

“Ji!” merasa dipanggil jiyong mengedarkan pandangannya, mencari asal suara tersebut. Jiyong berada di sebuah ruangan tanpa sekat dan putih. Semua polos, hanya warna putih yang mendominasi ruangan tersebut. Ia masih mencari orang yang memanggilnya

“Jiyoh-ah” jiyong berjalan ke depan, masih tak menemukannya. Ini sangat menyulitkan, ruang tersebut sama sekali tak ada sesuatu yang dapat dimengerti jiyong, yang ia pahami hanya pakaian serba putih yang ia kenakan dan ruang tanpa atap, sekat maupun petunjuk.

“Kwon Jiyong” jiyong berbalik dan menemukan seorang laki-laki yang mengenakan setelah sama dengan yang dipakai jiyong. Laki-laki tersebut tersenyum pada jiyong, mereka terpisah oleh jarak sekitar 4 meter. Jiyong tersenyum mendapati seseorang yang sangat ia kenal berada di situasi yang sama, ia merasa aman karena tak sendiri bersama kawannya.

“Berhentilah disitu” ucap laki-laki tersebut ketika jiyong akan menghampirinya

“Tetaplah disitu jangan menghampiriku”

“Sanghyun-ah”

“Jiyong-ah kawanku, aku ingin mengatakan hal yang sangat membahagiakan bagiku” jiyong menangguk, tak ada hal yang bisa ia tolak dari kawannya tersebut

“Aku bahagia dapat melihat wajah eommaku, ia bertambah cantik dan teduh” sanghyun terdiam sejenak

“Dan berjanjilah padaku satu hal, kau harus melakukannya”

“Apa itu?”

“Berbaliklah, bangunlah dari tidurmu ji demi aku” jiyong tak mengerti apa yang dikatakan sanghyun padanya

“Aku ingin bersamamu Sanghyun”

“Tidak ji, kau selalu berjanji akan mengabulkan segala keinginanku iya kan?” jiyong mengangguk mengiyakan, kini ia melihat sanghyun yang mulai meneteskan air mata dari mata kiriya perlahan. Jiyong sama sekali tak paham dengan situasi ini

“Lakukan apa yang aku inginkan, aku ingin kau bangun dari tidurmu”

“Bagaimana denganmu?”

“Aku baik-baik saja” seketika itu sisi keberadaan jiyong redup dan sisi Sanghyun semakin terang hingga menghilangkan sosok yang berada disana

****

Jiyong mengerjapkan matanya perlahan menetralkan cahaya yang masuk ke pengelihatannya. Ia mengedarkan pandangannya menatap semua disekelilingnya yang lebih mirip di kamar inap rumah sakit.

“Kau sudah bangun?” matanya menangkap sosok ahjumma dihadapannya

“Jangan terlalu banyak bergerak, aku akan memanggilkan dokter untukmu” dan ahjumma tadi menghilang. Jiyong masih sulit untuk merasakan semua syaraf di tubuhnya, rasanya seperti kaku dalam waktu yang lama.

Seorang dokter muda memasuki ruang bersama ahjumma tersebut dari belakang.

“Sudah sadar ternyata, lihat dirimu tak seperti hari sebelumnya, dan lukannya juga semakin membaik eunju-ssi” dokter tersebut mengecek semua tubuh jiyong, mulai dari lukanya, psikis dan kesehatan pasiennya. Jiyong masih terdiam, ia masih tak mengerti. Yang ia ingat ketika Sanghyun mengucapkan kata “Eomma”. Tapi dimana sanghyun? Apakah ia sekamar dengan sanghyun?

“Besok ia sudah bisa pulang, hari ini jika ia kuat bisa langsung pulang” tutur dokter tersebt yang dijawab anggukan oleh eunju. Dokter tadi meninggalkan jiyong bersama eunju

Eunju duduk di sampaing jiyong, ia memandang pemuda itu.

“Akhirnya kau sadar juga pemuda, namamu siapa?”

“Jiyong imnida eommonim” eunju mengangguk tersirat sesuatu yang menyakitkan ketika ia mendengar suara jiyong.

Eommonim, dimana kamar sanghyun?” eunju terdiam dengan pertanyaan jiyong, ia tak tahu harus mengatakan apa pada pemuda dihadapannya. Mungkin disini yang paling tersakiti adalah jiyong jika mengetahui kondisi sanghyun yang sebenarnya

“Sanghyun—sang—hyun, ia sudah ti–ada—“ jiyong membelalakkan matanya mendengar itu, jiyong berasa dihantam batu besar pas di tenggorokannya. Eunju perlahan mulai menitikkan air matannya lagi, ia tak kuasa menahannya, menatap paras jiyong sosok pemuda yang telah menjaga anaknya sampai akhir.

****

Dara mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam tasnya, ia kan menginap di rumah bom menemani sahabatnya yang sedang kesepian di rumah. Walaupun ada seungri yang bersama bom dirumah, ia tetap memaksa dara untuk menginap dirumahnya.

Tak sengaja dara menyenggol figura yang sebelumnya di meja belajarnya hingga terjatuh. Dara terkejut, figura yang terpampang fotonya bersama sanghyun. Dengan segera dara membereskan kaca figura tersebut dengan hati-hati. Sehati-hatinya dara membereskan pecahan kaca yang berserakan tersebut, jari telunjuk tangan kanannya terkena goresan kaca hingga mengeluarkan cairan merah anyir dari permukaan kulitnya. Sampai darah tersebut mengenai wajah sanghyun dalam foto, dara mengambil tisu dari kantongnya berupaya membersihkan foto tersebut dari darah dara, alhasil wajah sanghyun dalam foto terhapus bersama dengan darah yang kini menempel sempurna ke tisu.

Dara menggenggam foto tersebut dibawanya kedalam dekapannya mengontrol deguban jantung yang ia rasakan. Dara panik hingga tak kuasa menahan tangis, suatu pertanda yang tak baik. Tangisan dara semakin menjadi, entah ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, ia teringat akan sosok sanghyun yang kini memenuhi pikirannya yang kalut.

Suara ketukan pintu terdengar dari kamar dara, karena tak tahan sang pengetuk tadi telah membuka pintu kamar dara yang tak terkunci, bom terkejut dengan apa yang ada di hadapannya. Dara terduduk dengan memeluk bingkai foto sanghyun yang telah aca-acakan dengan kacanya yang berserakan. Dara menangis sambil mendekap bingkai foto yang sudah tak terpajang kaca disana.

Bom menghampiri dara langsung memeluknya, karena bom sangat pahan keadaan seperti ini sandaranlah yang dara butuhkan.

Gwechana uljima dara-ya” bom meneuk punggung dara pelan, ia masih menangis tersedu-sedu

Wae geure?”

“Bomie—Sang—hyung –oppa hiks.. oppa.. hiks—sanghyun” bom mengeratkan pelukannya pada dara, dara masih menangis ia merasa sesuatu terjadi

“Semua akan baik-baik saja Dara-ya tenanglah sudah, kita kerumahku sekarang au sudah menyiapkan makan untuk kita berdua” dara sudah sedikit tenang dari yang sebelumnya, bom melepaskan pelukannya, ia membantu dara memasukan apa saja yang akan ia bawa ke rumah bom. Dara bangkit, setelah bom membersihan semua yang berserakan. Mereka berdua keluar dari rumah bersama menuju kediaman bom.

“Dara-ya! Dara? Kenapa dengannya?” tanya keheranan seungri saat menyambut dua orang wanita yang ia nantikan

“Ini urusan perempuan oppa” bom dihentikan oleh tangan oppanya yang mengenggam lengan bom. Bom melepas tangannya yang semula pada bahu dara memberikan dara pada seungri.

“Aku akan membawa makanan ke kamar, bawalah dara kesana” seungri membawa dara masuk ke dalam kamar bm mendudukannya di ranjang. Seungri mengambil kursi dan mendekat pada ranjang yang di tempati dara.

“Kenapa denganmu dara?” tak ada jawaban dari dara, ia malah mulai meneteskan air matanya lagi, melihat itu seungri membawa dara ke dalam dekapannya, mengelus punggung dara, karena mungkin inilah yang dibutuhkan dara

“Oppa—“ disela tangisannya

“Tenanglah aku disini”

“Sanghyun oppa—“

****

Eunju mengajak jiyong bersama ke sebuah krematorium. Jiyong keheranan dengan tujuan mereka berdua ke tempat ini. Jiyong masih mengedarkan pandangannya mengamati tempat tersebut, sambil mengikuti enju dari belakang. Ia hanya mengenakan baju rumah sakit dengan jaket rajut selutut yang diberikan eunju padanya sebelum pergi.

Eunju terhenti di salah satu laci kaca yang telah terisi guci kecil disana. Jiyong ikut terhenti dibelakangnya, eunju membalikan badannya menghadap jiyong.

“Ini dia yang kau cari” jiyong menatap laci kaca di hadapannya sekarang. disana telah terpasang sebuah foto bocah laki-laki yang mengenakan seragam sekolah dasarnya, ia tersenyum menghadap kamera. Bocah tersebut tak asing di pengelihatan jiyong. Jiyong ragu ia menengok pada eunju yang ada di belakangnya, eunju mengangguk

“Sanghyun kan yang kau cari, ia ada di hadapanmu” jiyong terdiam, semua syaraf di tubuhnya berhenti bekerja, lidahnya kelu mengeluarkan sepatah kata, otaknya berhenti berfikir, ia sekarang kosong pandangannya kembali pada guci jenazah yang ada dihadapannya. Tangannya menggapai laci kaca tersebut, mengelur foto bocah didalamnya. Jiyong mulai terisak, ia runtuh seketika ditangkap eunju, jiyong menangis tak terkendali semakin menjadi, eunju tak tega melihat kondisi jiyong yang lebih hancur dari dirinya.

Eunju membawa tubuh lemah jiyong yang bergetar hebat kedalam pelukannya. Inilah yang tak ingin eunju tunjukan pada jiyong. Ia tahu betul betapa pentingnya sanghyun bagi jiyong. Ketika tragedi 4 hari yang lalu terulang kembali, sanghyunlah yang laing di khawatirka jiyong. Ia bahkan tak memperhatikan luka yang merobek organ dalamnya, tapi ia masih saja mementingkan orang lain, bukan orang lain lebih tepatnya saudara separuh hidup jiyong adalah sanghyun. Sanghyunlah satu-satunya yang ia punya. Hidup bersama, berbagi suka dan duka bersama, namun bukan ini yang jiyong ingin, kali ini mereka tak bersama. Sanghyun meninggalkannya sendiri. Jiyong semakin hancur, memanggil-manggil nama sanghyun. Tak mempercayai apa yang terjadi.

Eunju memeluk erat tubuh jiyong. Semakin lama kini jiyong mereda, tangis kehancurannya berangsur hilang, tatapan kosong yang diarahkan ke hadapan kaca di depannya.

“Sanghyun-ah.. sanghyun.. sanghyun-ah.. aku disini sendiri, kau memaksaku tak ikut denganmu. Kali ini kita berpisah, harusnya aku tetap bersamamu.. sanghyun-ah.. kembalilah kau telah menemukan apa yang kau cari selama ini. Ibumu ada disini, kembalilah kumohon, ita menemukan kebahagiaanmu.. jebal”

Eunju menatap apa yang ada di depannya, sebuah persahabatan yang langka dalam suatu cerita. Persahabatan yang murni lahir dari mereka berdua, persahabatan yang merupakan takdir yang Maha Kuasa.

****

“Bolehkan aku bertanya padamu?” jiyong mendongakkan kepalanya

Ne eommonim” eunju terdesir hatinya mendengar kata eommonim yang berasal dari mulut jiyong

“Sebesar apa hubungan kau bersama anakku” jiyong menceritakan pertama ia bertemu dengan sanghyun, tinggal di panti asuhan, diadopsi, bekerja, merantau, hingga berakhir seperti ini. Eunju memahami semua penuturan jiyong. Ialah pria yang lebih dewasa dari usianya, merawat, menjaga, dan bersama dengan anaknya dulu hingga kini. Entah eunju tak dapat berbicara lagi, ia merasa sangat hina mendapati jiyonglah yang selama ini bersama jiyong, tetapi yang ia cari adalah dirinya. Eunju sempat meneteskan air matanya lagi mengingat satu kata terakhir yang terlontar dari bibir sanghyun sebelum ia tiada. Ia memanggil eunju eomma, rasa sakit yang mendalam dirasakannya lagi. Dulu suaminya yang menjadi korban gempa, dan kini anaknya yang meninggalkannya dan dara sendiri.

Dara belum mengetahui hal ini, ia tak memiliki mental untuk menyampaikan berita ini pada dara. Ia sudah sangat hancur sepeninggalan ayahnya dulu, dan selalu merindukan sosok sanghyun.

“Jiyong-ssi, bolehkan aku meminta satu permintaan padamu”

“Apa eommonim?

“Tinggalah bersamaku”

“Dan menjadi Oppa untuk Dara”

-TBC-

Ini diluar spekulasi 😊 tinggalkan jejak kalian ya 😍

Advertisements

9 thoughts on “넌 FALLING YOU [Chap. 4]

  1. Sanghyun kok meninggal?? *takdir yg diberikan author* ohh ok. Aku bakalan nebak *cuman nebak jadi gk usah dianggeo seriusan😝* kalo nanti Jiyong pura-pura jadi Sanghyun ato tetep jadi Jiyong sendiri tapi hanya sekedar ‘kakak’ gitu tapi nanti mereka berdua ya saling jatuh cinta gitu *ngayal tingkat dewa* pokoknya intinya gitu. Ditunggu kelanjutannya. Kalo bisa update setiap hari wkwkwkwk. Fighting!!!!

  2. Nahh ini yg aku khawatirkan. Ji gntikan posisi sanghyun. Aigooo gimana kisah cinta mreka berlanjut kalo hubunganny kaya gini. Hmm ditambah kalo eunju tau jiyong anak mntan dia. Hiksss nangis aku sanghyun tiada. Persahabatn kya gini aku rasa ngga ad didunia nyatam adapun cuma segelintir org. Hiksss lanjutt

  3. jangan bilang jiyong bakalan pura2 jdi sanghyun.
    ANDWAE…..
    nanti malah tambah rumit…..aarrgghhh
    nanti gimana hubungan DG.
    jiyong pasti terpukul bgt tuh. gk kebayang sedihnya….huhu
    next kak…ditunggu….hwaiting.

  4. Knp sanghyun meninggal sedih bgt ya…. kasihan jiyong…. itu ommanya dara nyuruh jiyong jd oppanya dara maksudnya nanti jiyong disuruh jd sanghyun…… andwae nanti jd ribet urusannya klu jiyong jd sanghyun….. next chap deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s