Behind The Scene #20-End

hhhh

Author : Oktyas

 

Jiyong dengan hati-hati duduk di tepi tempat tidurnya, agar tidak membangunkan Sandara yang sudah terlelap. Baru pukul tujuh malam, tapi gadisnya sudah tertidur. Tidak biasanya Dara tidur seawal ini. Ia pasti lelah, frustasi, memikirkan berita-berita omong kosong itu. Dengan lembut Jiyong membenahi letak selimut yang melorot, lalu mengecup kening kekasihnya. Kemudian ia beranjak untuk mandi, lalu melepas kemejanya yang sudah terasa lengket bercampur keringat dan stress. YA STRESS!

“Jiyong.” Dara memanggilnya dengan suara lemah dan serak khas bangun tidur.

Jiyong yang sudah di depan pintu kamar mandi, segera berbalik menghampiri Dara yang sekarang duduk di tengah tempat tidur lebar mereka. “Babe? Ada apa? Maaf membuatmu bangun.” Ia duduk di sebelah Dara.

“Aniyo, ini jam berapa?” Dara menyisir rambutnya dengan tangan.

“Jam tujuh malam.”

“Ah aku pasti tertidur. Badanku lelah sekali, dan kepalaku seperti ditindih sesuatu.” Dara memijat pelipisnya.

“Apa kau sakit?” Jiyong dengan panik memeriksa suhu badan kekasihnya. “Badanmu tidak panas, tapi keringatmu banyak, padahal pendingin ruangannya menyala.”

“Aku juga tidak tahu kenapa.” Dara menggelengkan kepalanya kemudian bersandar di bahu Jiyong.

“Apa kau sudah makan?” Dara menggelengkan kepalanya. “Aigoo, kau harus menjaga baik-baik tubuh kecilmu ini. Pesanlah makanan, selagi aku mandi lalu kita makan bersama.” Jiyong mencium puncak kepala perempuan yang di pelukannya itu.

Jiyong keluar dari kamar mandi lima belas menit kemudian, dengan memakai kaus oblong lengan pendek dan celana training adidas warna hitam. Berjalan ke dapur dan menemukan Dara sedang duduk di sofa dengan bungkusan makanan di atas meja. Seperti biasa Jiyong membuat jus apel kesukaan Dara untuk membuat Dara lebih baik. Jika sedang lemas atau pun tidak mood jus apel merupakan senjata jitu Jiyong.

Lelaki itu membawa dua gelas jus apel ke ruang santai dan meletakkannya ke atas meja.

“Apa itu?” Tanya Dara dengan tidak tertarik. Perempuan itu malah menenggelamkan dirinya ke dalam sofa dan memeluk bantal yang ia bawa dari kamar.

Jiyong mengambil jus apel tersebut, “Jus apel, minumlah.” Dara menggeleng menolak jus tersebut. Jiyong menatap Dara terkejut. Tidak pernah sekali pun kekasihnya menolak jus apel.

“Ada apa? Tidak biasanya kau menolak jus apel Dee.”

“Milkshake cokelat. Aku mau milkshake cokelat.” Gumam Dara.

“Kita tidak punya cokelat Dara. Kau minum ini dulu bagaimana?” Jiyong menyodorkan jus itu ke Dara.

“Tidak suka baunya. Kenapa jusnya aneh seperti ini.” Dara mengerutkan hidungnya.

“Aigoo ada apa dengan dirimu? Baunya apel seperti biasa.” Jiyong menyingkirkan jus itu dari jangkauan Dara, dan menarik gadis itu agar duduk. “Mungkin kau benar-benar sedang tidak enak badan.”

“Ya. Kepalaku seperti mau pecah.” Dara kembali memijit kepalanya. Dengan masalah yang mereka berdua hadapi, Jiyong tidak akan heran jika kekasihnya itu tertekan. Dan itu semua gara-gara Jiyong. Dia berjanji akan menyelesaikan masalah ini.

Jiyong membuka pizza mozarella dan ayam goreng yang Dara pesan lalu menyuapi Dara. “Kau harus makan, lalu minum obat. Jika besok belum membaik, kita akan pergi ke dokter.”

Dara mengunyah pizza itu dengan perlahan. “Jiyong, bagaimana hasilnya?”

“Hasil apa?” Jiyong balik bertanya disela-sela mengunyah ayam gorengnya.

“Berita itu, aku, Krystal dan dirimu.”

Mendengar perkataan Dara, membuat Jiyong sedikit terkejut lalu terdiam. Ia meletakkan potongan pizzanya kembali. “Aku sudah membuat konfirmasi.”

“Konfirmasi?”

“Ya. Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan Dara, tapi aku tidak bisa membiarkan berita ini tanpa adanya tindakan. Aku mengkonfirmasi kita memang memiliki hubungan. Masa bodoh apa yang orang-orang pikirkan.” Jiyong menatap Dara lekat-lekat. “Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi seperti empat tahun lalu Dara.”

“Kenapa kau tidak membicarakan padaku dulu Jiyong?”

“Apa itu penting? Yang terpenting, aku akan membuatmu aman, kau tidak perlu khawatir.”

“Tentu saja itu penting Jiyong. Ini adalah masalah kita, pertarungan kita, tapi kenapa hanya kau saja yang berkorban? Aku juga bagian dalam pertarungan ini.” Suara Dara mulai serak. Ia terus menatap Jiyong dengan mata cokelatnya itu, dengan tajam.

“Dara-,”

“Aku bukanlah perempuan empat tahun lalu Jiyong yang akan kabur dan meninggalkanmu berjuang sendiri. Aku sangat mencintaimu, aku akui tindakanku meninggalkanmu empat tahun lalu adalah tindakan bodoh yang aku sesali. Kini aku berusaha menjadi Sandara yang lebih baik. Aku berjanji pada diriku sendiri aku akan berhenti untuk menjadi wanita lemah, dan aku akan di sampingmu, menghadapi semuanya bersama. Bukankah seharusnya begitu?”

Jiyong memeluk erat Sandara, mencium puncak kepala gadisnya itu. Merasa tersentuh dengan ungkapan jujurnya. “Oh baby. Maafkan aku. Kau adalah perempuan terkuat yang pernah aku kenal. “

“Katakan Jiyong, katakan padaku apa yang harus kulakukan sekarang hm?” Dara mendongakkan kepalanya di dekapan hangat Jiyong.

“Tidak ada yang perlu kau lakukan Dara. Semuanya akan baik-baik saja.” Jiyong mengecup keningnya, lalu turun ke kelopak matanya.

“Jiyong, setidaknya aku harus melakukan sesuatu untuk orang-orang yang mendukungku. Mereka merupakan salah satu bagian dalam hidupku Jiyong.”

“Jadi menurutmu apa yang akan kau lakukan?” Jiyong menarik Dara ke pangkuannya.

“Aku ingin menyapa mereka lewat media sosial, menyampaikan rasa terima kasihku dan permintaan maaf, serta mengkonfirmasi hubungan kita. Benar katamu, aku tidak peduli mereka mengatakan apa, karena kebenaran akan terungkap sendirinya.” Ungkap Dara

Jiyong menatap Dara sejenak lalu menghela nafas. “Oke kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”

“Gomawo.” Dara menunduk lalu mencium bibir Jiyong membuat laki-laki itu menahan nafasnya. “I love you Kwon Jiyong.”

Jiyong terkekeh setelah gadis itu menjauhkan bibirnya. Sudah bertahun-tahun mereka bersama, tetapi kecupan kecil seperti ini tetap membuat jantungnya berdebar-debar seperti remaja. “Aiyo, sepertinya gadisku ini semakin berani saja eh.” Goda Jiyong membuat keberanian Dara tadi luntur seketika, dan merona.

Jiyong mengambil potongan pizza yang terlupakan karena terlalu serius. “Pembicaraan kita sudah selesai, ayo kita lanjutkan makan.” Lelaki itu melahap pizzanya dengan dua gigitan sedangkan Dara menggigitnya dengan ragu-ragu.

Jiyong melihat Dara dengan khawatir. “Ada apa baby?”

“Aku tidak nafsu makan. Tiba-tiba saja rasanya aneh. Perutku terasa penuh.” Keluh Dara. Jiyong lupa jika kekasihnya ini sedang tidak enak badan karena pembicaraan serius tadi. Sebenarnya Dara bukan tipe orang yang akan menolak makanan, apalagi pizza mozarella yang dipesannya sendiri sekarang karena ini adalah makanan kesukaannya. Jiyong menjadi cemas.

“Sekali lagi eh? Kau hanya makan separuh potong pizza, bahkan kau tidak menyentuh ayamnya. Padahal ini adalah makanan kesukaanmu.” Jiyong mencoba membujuk Dara, dengan sungkan gadis itu menggigit pizza yang disodorkan Jiyong.

Dara menelan pizza mozarella favoritnya dengan susah payah. Perutnya terus menolak apa saja yang masuk. “Aku tidak mau makan lagi. Sudah tidak bisa.” Dara menggeleng pelan sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

Jiyong mendesah mengalah. Dilihatnya perempuan di hadapannya itu terlihat pucat, Dara pasti merasa tertekan dengan masalah yang datang berturut-turut. Lagi-lagi ini adalah kesalahan dirinya sendiri. “Baiklah. Kau tunggu di sini, aku akan mengambilkan minum dan obat.” Sebelum Jiyong kembali membawa segelas air, Sandara sudah berlari terlebih dahulu ke kamar mandi.

“Babe?” Jiyong menyusul Dara ke kamar mandi, dan menemukan gadis itu sedang memuntahkan isi perutnya di wastafel. Jiyong memijit tengkuk Dara, dan memegangi bahunya. “Sudah baikan?” Dara hanya mengangguk, lalu berkumur.

“Sepertinya besok kau harus menemui dokter.”

“Neh. Aneh sekali rasanya. Akhir-akhir ini badanku memang cepat lelah, tapi sepertinya hari ini puncaknya.”

“Aku minta maaf. Ini pasti karena skandal-skandalku. Kau pasti tertekan.”

Dara menangkup wajah Jiyong lalu tersenyum, “Aniyo. Itu tidak masalah Jiyong-ah.”

“Dara?” Tanya Jiyong. Kini mereka sedang di tempat tidur, Dara bersandar pada dada bidang Jiyong, menonton televisi.

“Hm?” Dara tidak mengalihkan pandangannya dari televisi yang sedang menayangkan berita. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari Jiyong, Dara mendongak dan menatapnya. “Ada apa?” Dilihatnya Jiyong yang tampak sedang berpikir. Keningnya berkerut.

“Babe, kapan terakhir kau menstruasi?” Tanya Jiyong serius.

“Apa?” Dara menatap ke arah Jiyong dengan tidak percaya.

Jiyong mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali kekasihnya itu mendapat tamu bulanan. Ia tidak ingat jika bulan ini Dara sudah kedatangan tamu spesialnya itu. “Sepertinya bulan ini kau belum menstruasi.”

“Aku memang belum menstruasi.” Jawab Dara. “Ya Tuhan.” Dara membelalakkan matanya saat menyadari apa yang Jiyong maksud. “Ini sudah akhir bulan.”

“Apa kau pikir kau mungkin saja hamil?”

Reflek tangan Dara bergerak ke perut datarnya saat mendengar kata hamil. “H-hamil? A-aku tidak tahu Jiyong.” Ujar Dara gugup. Ia lalu teringat perubahan tubuhnya tanpa sebab yang pasti. Tiba-tiba membenci jus apel dan pizza mozarella. Punggungnya pegal, dan sering mual.

Jiyong memeluk tubuh Dara saat wanita itu tiba-tiba diam membeku. “Hei babe. Tenang oke? Besok kita akan mengunjungi dokter.”

“Jika aku hamil, akan ada bayi diperutku. Oh, aku akan jadi ibu Jiyong.” Pekik Dara dengan suara tertahan. Membayangkannya saja membuat dirinya bahagia.

“Yes. Dan kau akan menjadi ibu yang luar biasa.” Jiyong mengecup keningnya. “Dan sekarang aku rasa kau butuh tidur.”

“Yes Daddy.” Gumam Dara dengan tersenyum.

Meskipun belum yakin tentang kondisinya, entah mengapa Dara mempunyai firasat jika dirinya memang hamil. Ini hal yang mengejutkan memang, tapi ini adalah kejutan paling luar biasa dari Tuhan untuknya dan Jiyong.

Jiyong mematikan lampu sebelum bergabung bersamanya di balik selimut. Samar-samar Dara mendengar lelaki itu berbisik. “Aku tidak sabar untuk besok, sayang. I love you.”

@Sandee_Sandara : Halo, ini aku Sandara Park! Sudah lama aku tidak menyapa kalian. Di sini aku ingin menyampaikan permintaan maafku kepada semua yang masih mendukungku. Aku tahu kalian sangat terganggu dan kecewa dengan berita yang menyebar tersebut. Aku tidak akan mengelak tentang hubunganku dengan Kwon Jiyong karena memang itu apa adanya. Aku juga tidak akan meminta kalian untuk mendukung hubungan kami, tapi setidaknya tolong jangan menilai dan menghakimi kami atas berita yang tersebar. Karena berita tersebut tidak memuat cerita yang sebeutuhnya. Ibarat kau membaca buku, kalian baru membaca sinopsis di belakang buku tanpa tahu akar permasalahannya. Tunggu aku tahun depan, aku akan menerbitkan sebuah buku yang menceritakan kebenarannya. Terima kasih.

***

Hari ini Dara akan pergi mengunjungi dokter dengan Park Bom karena Jiyong sibuk dengan urusan kantornya. Ditambah dengan kehebohan yang ditimbukan dikarenakan pernyataan Dara di twiiternya. Banyak yang malah mencemoohnya tapi ada juga yang setia mendukungnya. Toh Dara tidak akan ambil pusing, karena perempuan itu tidak ingin menghancurkan moodnya yang terlanjur senang. Jantungnya berdebar-debar, perutnya seperti dibolak-balik, dirinya sudah tidak sabar untuk mengetahui hasilnya. Di dalam hati ia berdoa agar Tuhan melengkapi kebahagiaannya bersama Jiyong dengan kehadiran seorang malaikat kecil.

“Miss Park, silahkan masuk. Dokter Goo sudah menunggumu.”

Dara dan Bom segera bangkit dan masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh perawat tersebut.

“Selamat pagi Miss Park, saya merasa terhormat bisa bertemu dengan anda.” Dokter Goo Hyesun menyapa Dara dengan ramah. “Jiyong tadi sudah menghubungiku sebelumnya.”

“Ah neh, tolong panggil Dara saja.” Kata Dara sungkan, lalu berjabat tangan dengan dokter cantik tersebut. “Dan ini Park Bom temanku.” Kemudian Park Bom dan Dokter Goo bersalaman.

Dokter Goo memberikan pertanyaan-pertanyaan dasar pada Dara. Seperti kapan terakhir Dara menstruasi, apa Dara merasa mual, pegal, dan pusing, dan juga aktivitas seks Dara dan Jiyong. Setelah itu Dara diminta untuk mengganti baju khusus, dan membawanya ke ruang periksa sedangkan Park Bom menunggu di luar. Setelah menjalani serangkain proses pemeriksaan, Dara menunggu bersama Bom.

“Ini saatnya menunggu.” Bisik Bom.

Dara mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai. “Kenapa waktu terasa berjalan lama sekali?”

“Tenang Dara. Aku punya firasat aku akan jadi bibi.” Hibur Park Bom.

Dan setelah penantian yang membuat Dara mati rasa karena tidak sabar, Dokter Goo keluar dan memberikan amplop yang berisi surat keterangan pemeriksaan. Dengan senyum mengembang lebar, perempuan cantik berambut hitam sebahu itu menyampaikan kabar gembiranya. “Selamat Miss Park, anda akan menjadi ibu dalam waktu delapan bulan. Usia kandungan anda menginjak minggu ke empat.”

Dara menutup mulutnya dengan telapak tangannya sebelum ia menjerit kegirangan. Matanya berkaca-kaca terharu. Park Bom langsung memeluk sahabatnya itu, ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Dara.

“Oh God!” Bisik Dara menahan tangisnya. Dara mengambil amplop tersebut kemudian membaca surat keterangannya. Di dalamnya juga terdapat foto dari USG janin yang sedang tumbuh di rahimnya. “Terima kasih Dokter Goo.”

Untuk merayakan kehamilan Dara, Park Bom mengajak Dara ke salah satu café favoritnya yang menyediakan berbagai macam olahan dari cokelat, karena Dara yang sedang ngidam makanan lezat itu. Mereka memesan milkshake cokelat, brownis, cupcake, es krim dan yang lain. Hingga meja mereka dipenuhi oleh makanan paling digemari perempuan itu. Memilih meja di sebelah jendela membuat mereka bisa menikmati indahnya pemandangan Sungai Han yang elok itu karena mereka berada di lantai dua.

“Kau tidak memberitahu Jiyong?” Tanya Park Bom.

“Nanti setelah aku sampai rumah. Aku ingin menyampaikannya secara langsung. Oh Bommie aku sangat bahagia.” Sandara menyuapkan es krim cokelat ke mulutnya.

Mereka menghabiskan hidangan yang mereka pesan tanpa sisa. Dara sendiri tidak menyangka bisa menghabiskannya. Dan karena ini adalah perayaan kehamilan Dara, Park Bom yang akan membayar semuanya. Setelah sekitar dua jam di sana, mereka memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum sampai tangga, Bom izin akan ke toilet dan meminta Dara ke bawah terlebih dahulu. Namun tanpa diduga, Dara bertemu dengan seseorang yang bahkan tidak ingin Dara lihat sekarang.

“Dara.” Desis Krystal dengan suara tertahan.

“Jika kau tidak keberatan Krystal-ssi, aku ingin turun.” Dara mencoba sesopan mungkin. Karena dia tidak ingin menarik perhatian para pengunjung di sini.

“Ada yang harus kita bicarakan. Sangat tidak sopan berbicara di depan tangga seperti ini.”

Dara menghela nafas mencoba mengontrol emosinya. “Maaf Krystal-ssi, tapi aku tidak ingin berbicara denganmu sekarang. Mungkin lain kali.”

“Kau!” Krystal melangkahkan kaki ke anak tangga selanjutnya sehingga bersebelahan dengan Dara. “Dasar perempuan tidak punya malu! Kau ingin menuliskan cerita ini ke novelmu huh? Apa kau anggap akan ada yang mempercayai omong kosongmu?” Suara Krystal yang meninggi membuat semua mata pengunjung tertuju pada mereka.

“Itu bukan urusanmu Krystal-ssi. Seberapa keras kau memendam kebenaran, ia akan muncul sendiri ke permukaan. Jadi jika kau mengizinkan, aku ingin pulang.” Dara melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Krystal menarik lengan Dara dengan keras menyebabkan wanita itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Tubuh mungilnya terguling hingga ke lantai dasar.

“Oh My God!” Pekik Krystal terkejut. Rasa takut menyelimutinya. Ia langsung turun ke bawah untuk melihat keadaan Dara. “Dara, Dara, bangun!” Krystal berlutut di sebelah tubuh Dara yang terbaring di lantai tidak sadarkan diri. Pelipisnya berdarah, tapi yang paling mengejutkan Krystal adalah celana putih Dara berubah merah.

“Tolong panggil ambulan!” Teriak Krystal ketakutan. “Ya! Dara! Bangun!” Krystal menangis di samping Dara.

Dari atas datang Park Bom yang menjerit karena terkejut melihat sahabatnya sudah terkapar di lantai. “Dara-ya! Sayang! Bangunlah!” Gadis itu langsung menangis ketika melihat darah di celana Dara. “Oh tidak kumohon.”

Dengan tatapan penuh benci ia menarik rambut Krystal. “Apa yang kau lakukan bitch?!”

“Tolong lepaskan aku.” Pinta Krystal sambil memegangi rambutnya. “A-aku tidak sengaja.” Katanya terisak-isak. Ingin rasanya Park Bom menguliti gadis itu sekarang juga. Sayangnya, ambulan datang sebelum Bom menyentuh Krystal.

Park Bom mengikuti ambulan yang membawa Dara ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya. Pikirannya sangat kacau. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Dara dan bayinya. “Tolong jaga mereka berdua.” Doanya di dalam hati.

Sebelum sampai rumah sakit, Bom menelepon Jiyong. “Halo.” Suaranya serak, membuat Jiyong khawatir.

“Ada apa noona?”

“Jiyong-ah, aku butuh kau datang ke Seoul Hospital.”

“Ada apa noona?” Panik menyelimuti suara laki-laki itu.

“Dara dia terjatuh dari tangga Jiyong. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku bersumpah Krystal akan membunuhnya setelah sampai di sana.”

“WHAT?! Dara terjatuh? Dan bagaimana bisa Krystal terlibat?”

“Dia ada di samping Dara saat aku melihat Dara terbaring di lantai. Oh God Jiyong! Aku takut terjadi sesuatu pada Dara dan bayinya.”

“SHITT! D-dara hamil? Aku ke sana noona. Aku ke sana.”

***

Setelah mendapat telepon dari Bom pikiran Jiyong menjadi kacau. Ia langsung bergegas menuju rumah sakit membatalkan semua kegiatannya. Perjalanan menuju rumah sakit yang berjarak kurang lebih dua puluh menit terasa menyiksa bagi Jiyong. Dara-nya sedang hamil dan ia terjatuh dari tangga, hanya Tuhan yang tahu bagaimana takutnya Jiyong jika sesuatu yang buruk terjadi. Terlalu banyak kata seandainya melayang di otak Jiyong. Menurut apa yang dikatakan Bom, Krystal ada di sana, bagaimana bisa? Apa yang gadis itu lakukan? Apakah Krystal penyebab jatuhnya Dara? Jika itu yang terjadi, demi apapun Jiyong tidak bisa memaafkannya.

Jiyong segera berlari masuk ke rumah sakit begitu dia sampai. Tidak memerdulikan pandangan aneh yang dilemparkan padanya. Ia bertanya pada resepsionis, dan setelah tahu di ruang mana Dara berada, ia kembali berlari. Sesampainya di depan ruangan di mana Dara dirawat, terlihat Park Bom dan Krystal duduk di ruang tunggu.

“Noona? Bagaimana keadaan Dara?” Tanyanya dengan terengah-engah.

“A-aku tidak tahu. Terlalu banyak darah Jiyong.” Bisik Bom menahan isakan lolos dari tenggorokannya. “Aku takut sesuatu terjadi pada bayinya Jiyong. Dia terlihat sangat bahagia saat mendengar kabar itu Jiyong.”

Jiyong memejamkan matanya merasakan rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya saat mendengar penjelasan Bom. Menjambak rambutnya dengan frustasi, bahkan dia baru tahu kekasihnya hamil karena kecelakaan ini. “Bagaimana ini terjadi noona? Apa yang terjadi?” Suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya mulai menusuk keluar di sudut matanya.

“K-kami menunggu bayi itu noona, aku tidak bisa kehilangan mereka berdua.” Jiyong duduk di sebelah Bom, menundukkan kepalanya.

“Ini tidak akan terjadi jika Krystal bertindak dewasa!” Amarah Park Bom kembali tersulut setelah melihat betapa hancurnya Jiyong. “Dia yang menyebabkan Dara terjatuh.”

Krystal yang duduk di ujung menggelengkan kepalanya sambil terus menangis. “Aku tidak sengaja, aku bersumpah tidak berniat untuk mendorong Dara Eonni!”

“Tidak perlu banyak alasan! Jika terjadi sesuatu pada Dara atau bayinya aku tidak akan memaafkanmu! Kau pembunuh!” Ujar Bom.

Jiyong berdiri menghampiri Krystal membuat gadis itu mendongak, menatap laki-laki itu dengan mata sembabnya. “Aku selalu memaafkanmu Krystal, tapi kali ini aku bersumpah tidak akan memaafkanmu. Tolong sebelum aku kehilangan pikiran pergilah dari sini! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!” Suara Jiyong menggema di lorong rumah sakit yang sepi itu, Krystal terlonjak saat suara penuh amarah dan kebencian itu ditujukan padanya.

“Aku tidak sengaja Oppa, aku-,”

“PERGI!!!!”

Tepat saat itu seorang dokter keluar dari ruangan Dara. “Keluarga dari Miss Park?”

“Ya, saya dokter. Saya kekasihnya.” Jiyong berjalan ke arah dokter tersebut.

“Perkenalkan saya Dokter Kim Tae Hee, Miss Park harus melakukan operasi karena tulung rusuknya patah. Ia mengalami pendarahan tadi akibat benturan, syukurlah bayinya selamat. Selain itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.” Jelas Dokter Kim.

“Syukurlah.” Jiyong mendesah lega. “Kapan operasinya dilaksanakan?”

“Jika anda memberi izin, pasien akan dioperasi satu jam lagi menunggu persiapannya selesai.”

“Ya Dokter, lakukan secepatnya.”

“Baiklah Mr…”

“Kwon Jiyong.”

Setelah menunggu selama dua jam, operasi yang dilakukan tim dokter pada Dara sudah selesai dengan sukses. Sekarang wanita itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Jiyong dan Bom menemani Dara, menunggunya sadar. Tidak perlu menunggu lama, teman-temannya datang untuk menjenguk Dara. Seunghyun, Youngbae, Seungri dan Daesung bahkan datang bersama. Sedangkan Chaerin dan Minzy datang setelah jam kantor selesai. Jiyong mendapat laporan dari Seungri jika foto-foto kecelakaan Dara di café sudah tersebar luas di internet. Berita itu menjadi berita terpanas sampai sekarang karena terlibatnya Krystal dalam kecelakaan itu.

“Hyung mandilah, aku membawakanmu pakain ganti yang tersedia di kantor.” Kata Seungri merasa kasihan kepada Jiyong. “Dan makanlah, kami membelikanmu dan Bom Noona makanan.”

“Terima kasih Seungri, aku akan makan saat dia bangun.” Jiyong tidak mengalihkan pandangannya dari Dara yang terbaring pucat dengan mata terpejam di tempat tidur luas itu.

“Kau harus menjaga kesehatanmu Jiyong, karena kau akan menjaga Dara. Tubuhmu harus sehat.” Kali ini Youngbae yang menasehati sahabatnya itu.

“Nanti Youngbae, aku tidak lapar.”

“Hentikan omong kosongmu.” Seunghyun menghampiri Jiyong menarik tubuh Jiyong dari kursi yang ia duduki. “Dara butuh kau untuk merawatnya nanti. Dara butuh dirimu dalam keadaan sehat. Sekarang mandilah setelah itu makan!” Gertak Seunghyun membuat Jiyong terpaku.

“I swear Jiyong, if you don’t move within five second I’ll drag you to the bathroom.” Lanjut Seunghyun dengan suara tegasnya itu.

“O-oke.” Dan dengan itu Jiyong mengambil pakaian bersih yang dibawa Seungri dan masuk ke kamar mandi.

Jiyong keluar dari kamar mandi mengenakan kaos oblong merah muda dan celana training adidas. Meskipun tidak nafsu makan, ia memaksa dirinya untuk menelan makanan yang sudah dibeli temannya. Ia menyadari bertindak bodoh tidaklah berguna. Setelah menyelesaikan makannya, Jiyong kembali duduk di sebelah Dara, menunggu wanita itu membuka matanya.

Dara merasakan rasa pening dan pegal di tubuhnya. Setelah berusaha keras, akhirnya ia berhasil membuka matanya, mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya terang dari lampu. Ia merasakan ada sesuatu yang menindih tangannya, dan melihat Jiyong tertidur dengan kepala bersandar pada tempat tidurnya tidak sengaja menggunakan tangannya sebagai bantal.

“Jiyong.” Panggilnya pelan, mencoba menarik tangannya. Jiyong yang merasakan gerakan di bawah kepalanya langsung terjaga.

“Babe. Ada apa? Apa kau merasakan sakit? Kau butuh dokter?” Ia langsung terduduk panik.

Dara menggeleng lemah. “Aku baik-baik saja.”

“Oh Dara syukurlah. Kau tahu aku sangat takut tadi.” Jiyong mencium kening Dara. Seketika kecelakaan di café itu terputar kembali di ingatan Dara, reflek Dara menempatkan tangannya di atas perutnya. Badannya bergetar hebat. “Its okay baby. You’re safe now.”

“The baby?”

“The baby is okay babe.”

“JIyong aku sangat takut .” Dara mulai terisak, Jiyong menenangkan kekasihnya merengkuhnya ke dalam dekapan hangat tubuhnya. Setelah setengah jam Dara baru bisa tenang. Dilihat jam di dinding menunjukkan waktu pukul tiga pagi.

***

“Apa kau gila?!” Tanya Ayahnya. “Sudah cukup masalahmu dengan Sandara di café itu. Kau tidak perlu menggelar konferensi pers!”

“Kau tidak tahu bagaimana rasa bersalah ini menggerogoti tiap detak jantungku! Aku hampir membunuh Dara dan bayinya! Aku pembunuh ayah!” Teriak Krystal. Sejak foto jatuhnya Dara di café menyebar, semua media membicarakan mereka. Banyak netizen yang menghujat Krystal, karena mereka berspekulasi jika Krystal pelakunya. Tentu saja, siapa yang tidak akan berpikir seperti itu? Di dalam fotonya terlihat Krystal berlutut di sebelah Dara. Ditambah lagi pengakuan saksi yang semakin menguatkan jika kejadian itu adalah kesalahannya. Tapi ia tidak peduli, ia merasa sangat kotor karena ia hampir menjadi seorang pembunuh! Saat Krystal teringat bagaimana sorot mata kebencian dan sakit hati yang diterimanya dari Jiyong, gadis itu tahu jika hal ini tidak akan pernah mendapat maaf dari laki-laki yang dicintainya itu. Ia sudah melewati batas, dan ia harus mengakhirinya sekarang.

Keluarganya dan manajernya Victoria menantang keinginan Krystal menggelar konferensi pers permintaannya. Mereka berpikir itu hanya akan membuat Krystal semakin dibenci. Sehingga membuat Krystal membuat video di kamarnya, untuk mengganti konferensi pers tersebut.

“Annyeonghaseyo, Krystal imnida.” Kata Krystal memulai videonya. “Di sini aku ingin menyampaikan permintaan maafku atas kejadian yang menimpa Sandara-ssi di Café X beberapa hari lalu. Aku tidak pernah mempunyai niat untuk menyelekainya, tapi aku mengaku kita sempat cek cok. Dan ini semua salahku, aku yang mengatakan kata-kata kasar padanya karena aku sakit hati. Sandara hanya ingin pergi pada saat itu, jadi aku menariknya sehingga membuat keseimbangannya hilang kemudian ia terjatuh. Aku sungguh menyesal.” Suaranya mulai serak karena menahan tangisnya yang sebentar lagi akan pecah.

“Aku marah padanya karena dia menulis di twitternya jika ia akan membuat sebuah buku yang menceritakan kisah cintanya dengan Jiyong. Aku tidak ingin semua orang tahu bahwa mereka berdualah korban sebenarnya bukan aku. Dara sudah menjadi kekasih Jiyong sejak enam tahun lalu. Dan aku adalah seorang gadis tidak tahu malu yang terus menempel, dan merusak pasangan tersebut.” Krystal mengatakannya disela isak tangisnya. “Maaf aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut bagaimana kisah mereka berjalan, tapi yang aku tahu mereka tidak pernah berhenti mencintai satu sama lain.”

Krystal menyudahi videonya tersebut. Air matanya tidak bisa berhenti. Jika ditanya apakah ia sudah rela melepas Jiyong jawabannya belum. Tapi kadang ada sesuatu yang memang harus dilepaskan daripada ia pertahankan tapi semakin membuatnya terluka. Seperti menggenggam tangkai bunga mawar yang berduri. Terlihat indah dari luar, tapi tidak ada yang tahu sebenarnya semakin erat digenggam, akan semakin menimbulkan luka.

***

END?

HALO INI ADALAH PART TERAKHIR DARI BEHIND THE SCENE 😀 AKHIRNYA SETELAH KURANG LEBIH DUA TAHUN FF INI SELESAI. TAPI MASIH ADA EPILOG, YANG KEMUNGKINAN BESAR TIDAK AKAN BISA DI POST PADA WAKTU DEKAT KARENA ADANYA DGI FESTIVAL. JADI EPILOG BAKAL DI POST SETELAH DGI FESTIVAL RAMPUNG, YAITU PERTENGAHAN NOVEMBER. OH YA MAAF KALO PART INI FEELNYA KACAU, SOALNYA AKU BIKINNYA BURU-BURU DITENGAH SAKIT JUGA.
NANTI EPILOG BAKAL DI PASSWORD, INI CARA DAPETIN PASSWORDNYA :
  1. KOMENTAR DI LIMA PART TERAKHIR (16-20)
  2. SETELAH ITU HUBUNGI OKTYASHASTUTI@GMAIL.COM UNTUK MEMINTA PW. CANTUMKAN USER NAME KALIAN DI WORDPRESS. NANTI AKU BAKAL CEK SATU PERSATU-SATU.
AYO MAIN-MAIN KE WATTPAD AKU OKTYAS27😊

 

 

Advertisements

64 thoughts on “Behind The Scene #20-End

  1. dan yg rusak adalah krystal sendiri
    untung dara nggak knp2
    sampe ending pun aku harus bilang aku sukaa penjabaran persahabatan mereka thor demi apa aku jatuh cinta sm ff ini krn itu 😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s