Back To Me [Chap. 3]

PicsArt_07-23-04.01.01 FF

Author : Reni Bintang

Hai hai hai chapter 3 beres alhamdulillah
Silahkan dibaca dan dirasakan hehe
Happy reading readers-nim 😚😚😚😚

Jiyong Pov

18 Juli 2016

Aku sekarang sedang berada disebuah bar bersama dengan Yongbae sahabatku, aku butuh sesuatu yang memabukan setelah hari ini aku bertemu dengan Dara dan menyadari bahwa aku tidak mengetahui apapun tentangnya. Aku meminta kepada Yongbae untuk menuangkan lagi whisky pada gelasku. Setelah gelasku terisi penuh aku langsung meminumnya dengan sekali tenggak.

“ada apa Ji?” tanya Yongbae sambil kembali mengisi gelasku. “kau seperti ini pasti karena ada sesuatu hal yang mengganggu pikiranmu.”

“tidak ada apa-apa.” Jawabku. “aku hanya sedikit stress karena terlalu banyak membedah tubuh orang.” Sambungku lagi.

“aku pikir bukan itu masalahnya.” Ujar Yongbae, dia memang orang yang tidak bisa aku bohongi. “kau seperti ini pasti karena masalah wanita.” Katanya lagi, aku memandangnya lalu tersenyum karena dia berhasil menebak. “apakah kali ini karena Dara lagi?” tanya Yongbae saat aku sedang menatap kosong kedepan. Aku sedikit tersentak saat Yongbae menyebut nama Dara.

“kau tahu hubunganku dengan Dara?” tanyaku kepada Yongbae.

“aku tidak terlalu tahu, yang aku tahu ada yang aneh dengan kalian sejak Dara menghilang dan pergi ke New York tanpa memberitahu siapapun kecuali Bom dan Chaerin.” kata Yongbae. “aku ingat kau sangat kacau saat Dara pergi tapi kau sama sekali tidak pernah mengatakan apapun tentangnya.”

“apakah yang lain tahu?” tanyaku.

“entahlah.” Jawab Yongbae. “tapi sepertinya Bom tahu, dia hampir mengatakan bahwa kau dan Dara sempat pacaran saat acara pertunangannya kemarin.”

“Yongbae-ah apakah kau pernah membaca buku yang Dara tulis?” tanyaku tiba-tiba kepada Yongbae.

“kenapa kau bertanya hal itu?” tanyanya dengan bingung.

“jawab saja pertanyaanku.” Kataku lagi yang dia balas dengan anggukan.

“dia suka menulis dan dia sudah menerbitkan dua novel sejak dia pindah ke New York, kau tidak tahu?” aku menggeleng tanda aku tidak tahu, sejak Dara pergi aku memang tidak berusaha untuk mencari tahu keadaanya karena aku sedikit marah, dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku sama sekali.

“Yongbae apa kau pernah pergi ke bioskop dengan Dara?” tanyaku lagi. Yongbae menautkan alisnya.

“aku pernah beberapa kali pergi ke bioskop dengan Dara dan yang lain.” Katanya.

“kau tahu jenis film yang dia suka?” tanyaku lagi, Yongbae mengangguk lalu menyebutkan jenis film yang dia suka. “kau tidak tahu Ji?” tanya Yongbae lagi, aku kembali menggeleng.

“aku tidak tahu apapun tentang Dara karena selama kami bersama Dara lah yang selalu mengikuti apa yang aku mau, aku sekalipun tidak pernah menuruti ajakannya ke tempat-tempat yang dia inginkan. Dara selalu memesan dua tiket untuk mengajakku pergi namun aku tidak pernah membawanya kesana.”

“sebenarnya apa hubungan kalian dulu?” tanya Yongbae. “kau tidak pernah mengatakan apapun tentang hubunganmu dengan Dara.” Kata Yongbae lagi. “jadi aku sedikit bingung, kapan tepatnya kalian berpacaran?”

Aku menatap Yongbae setelah dia bertanya tentang hubunganku dengan Dara dulu, aku ingat bahwa aku dan Dara tidak pernah memastikan hubungan kami, aku ingat bahwa hubungan kami hanya mengalir begitu saja. Aku tidak pernah memintanya untuk menjadi kekasihku dan Dara juga tidak pernah sekalipun memintaku untuk berada disampingnya. Aku memiliki kekasih saat itu tapi setelah lama bersamanya aku memutuskan semua kekasihku tanpa dia tahu.

“aku dan Dara bersama selama lebih dari satu tahun tapi kami tidak pernah memberikan label apapun pada hubungan kami.” kataku sambil melihat Yongbae.

“jadi kau menjadikan Dara sebagai simpananmu ?” tanya Yongbae dengan mata yang dibuka lebar karena sedikit terkejut. Aku kembali menatap Yongbae setelah dia mengatakan kata itu, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan sekarang.  “Ya Tuhan Ji, kau tega sekali melakukan hal itu kepada Dara.” sambung Yongbae setelah dia tidak mendapatkan jawaban dariku.

“tapi Dara tidak pernah mengatakan apapun tentang itu jadi aku pikir dia baik-baik saja dengan hubungan kami.” kataku kepada Yongbae. “Dara tidak pernah meminta penjelasan apapun dariku jadi aku pikir dia baik-baik saja dengan semuanya.”

“kau tahu Dara itu bukan wanita yang terang-terangan. Dia diam bukan berarti dia menginginkan hal itu Ji.” kata Yongbae. “aku yakin Dara sangat mencintaimu dulu hingga dia mau diperlakukan dengan tidak adil olehmu.” Sambung Yongbae sambil melihatku.

“tapi aku juga mencintainya. aku selalu menemui Dara setelah aku melakukan operasi karena hanya dengan melihat wajahnya maka semua rasa lelahku bisa hilang, aku mencintainya dan selalu menginginkan dia. Aku bahkan tidak bisa membayangkan Dara bersama dengan pria lain.” kataku kepada Yongbae untuk membela diri. “aku berniat untuk menjadikan dia milikku tapi dia malah pergi meninggalkan aku.”

“lalu apakah Dara mengetahui bahwa kau mencintainya?” tanya Yongbae lagi. Aku kembali menatapnya karena sekarang aku ingat bahwa aku tidak pernah mengatakan hal itu secara langsung kepada Dara.

aku memang pernah mengatakannya saat Dara mabuk, aku bilang aku mencintainya dan mengatakan bahwa aku ingin dia selalu ada disampingku namun saat itu Dara tertawa dan bilang bahwa aku tidak seharusnya merayu sahabatku sendiri. Dara tidak percaya dengan kata-kataku karena Dara menganggap bahwa semua kata cinta yang keluar dari mulutku hanyalah sebuah omong kosong untuk merayu, jadi aku mengira Dara tidak mencintaiku karena kata-katanya itu. Padahal sebenarnya yang aku katakan itu adalah kenyataan, aku mencintai Dara namun aku tidak berani mengatakan apapun kepada Dara karena tidak ingin merusak persahabatanku dengannya dan aku semakin tidak berani mengatakan perasaanku setelah Dara mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan semua yang aku katakan. Dara adalah satu-satu alasan kenapa aku selalu berganti pacar. Aku tersiksa karena tidak bisa memilikinya jadi aku melampiaskannya dengan cara mempermainkan wanita lain.

“aku tidak pernah mengatakan hal itu secara langsung kepadanya.” kataku pelan. “Yongbae-ah Dara mungkin tidak tahu bahwa aku mencintainya.” ujarku sambil melihat Yongbae.

“kau gila Ji, bagaimana bisa kau membiarkan Dara berada disampingku tanpa sekalipun kau mengatakan kau mencintainya. Dara pasti sangat terluka dan mengira bahwa dia hanya pelampiasanmu saja.”

“aku akan mengatakan itu kepadanya dulu namun dia pergi begitu saja.” kataku. “dia yang mengakhiri semuanya dulu, dia mengakhiri hubungan kami tanpa memberiku alasan, dia hanya mengakhirinya dan pergi begitu saja.”

“apa kau pernah bertanya kepada Dara tentang alasan kenapa dia pergi?”

“pernah. Tapi dia tidak menjawab. Dia bersikap seolah aku dan dia tidak pernah memiliki hubungan spesial. Dia tidak mencintaiku makanya dia pergi dan sekarang dia datang lagi dengan membawa lelaki lain.”

“itu yang kau pikirkan.” Kata Yongbae. “kau menyalahkan Dara tanpa sekalipun mendengar alasan yang sebenarnya. Bagaimana jika Dara pergi karena kau menyakitinya?”

“aku tahu aku sangat menyakiti Dara. aku terlalu egois hingga terus menahan Dara tanpa sekalipun memintanya untuk menjadi kekasihku. Aku tahu aku salah karena hal itu tapi menurutku Dara juga salah karena dia tidak pernah mengatakan apapun kepadaku, dia tidak pernah mengatakan apa yang ada dipikirannya dan jelas itu juga membuatku bingung dengan perasaannya kepadaku.” kataku kepada Yongbae lagi. “lagipula sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semuanya.”

“belum terlambat Ji, temuilah Dara dan bilang semuanya kepada Dara sebelum dia kembali lagi ke New York.”

“tapi Dara bilang dia tidak ingin lagi menemuiku.” Kataku sambil mengingat kejadian tadi siang. “dia membenciku, aku bisa melihat dari caranya menatapku.”

“lalu kau akan menyerah begitu saja karena dia mengatakan hal itu?” tanya Yongbae, aku diam sambil kembali meminum whisky “setidaknya biarkan dia tahu tentang perasaanmu, kau akan menyesal seumur hidupmu jika membiarkan Dara pergi lagi tanpa tahu yang sebenarnya.” Kata Yongbae lagi. “Dara juga berhak tahu, aku yakin Dara sangat ingin mengetahui tentang perasaanmu yang sebenarnya.” Sambungnya.

“dia sudah memiliki orang lain dihatinya dan aku tidak ingin merusak hubungannya sekarang. Aku pernah menahannya lama bersamaku dan selama itu yang aku lakukan hanyalah melukainya, kini aku lihat Dara bahagia dan aku tidak ingin merusak itu.” Kataku kepada Yongbae.

“mengatakan bahwa kau mencintainya sekarang bukan berarti kau merusak hubungannya dengan kekasihnya. Lakukan itu untuk menghapuskan semua kesalahpahaman kalian Ji. lagipula aku yakin kau pasti sangat penasaran alasan kenapa Dara pergi.” Kata Yongbae lagi.aku diam sambil mendengarkan semua yang Yongbae katakan. “aneh rasanya melihat kalian seperti sekarang, kalian bertingkah seperti tidak saling mengenal padahal kau dan Dara sangat dekat dulu.” Kata Yongbae lagi. “jika kau tidak bisa memilikinya sebagai kekasih maka buatlah dia kembali sebagai sahabatmu lagi.”

Dara Pov

12 November 2013

Aku menceritakan semua yang telah terjadi antara aku dan Jiyong kepada Bom minggu lalu, aku menceritakan semuanya dari awal tanpa ada satupun yang aku sembunyikan. Aku menceritakan semuanya kepada Bom setelah aku benar-benar siap untuk membuka rahasiaku dengan Jiyong karena sebenarnya Bom ternyata sudah mengetahui hubungan kami sejak beberapa bulan yang lalu. Bom memintaku untuk menjelaskan semuanya sejak dari bulan lalu namun baru kemarin aku berani untuk mengungkapkan semuanya.

Setelah mengatakan bahwa aku sangat mencintai Jiyong dan menceritakan bagaimana sikap Jiyong kepadaku Bom memberikan satu saran kepadaku yaitu supaya aku meminta kepastian hubungan kami berdua. Menurut Bom ada kemungkinan bahwa Jiyong juga mungkin saja mencintaiku karena perlakuan lembut Jiyong kepadaku, Bom juga bilang jika ternyata Jiyong tidak memiliki perasaan apapun terhadapku maka percuma saja aku bertahan disampingnya. Bom mengatakan semua itu hanya akan menyakitiku lebih dan lebih apalagi karena aku tidak pernah mengatakan apapun kepada Jiyong. oleh karena itu Bom pikir aku harus mengatakan semua yang aku pikirkan, demi kebaikan kami berdua.

Dan setelah berpikir lama aku akhirnya memutuskan akan membicarakan hal ini kepada Jiyong nanti malam. Aku berencana akan menemui Jiyong dirumah sakit setelah aku selesai bekerja.

Setelah pekerjaanku selesai aku langsung pergi dengan membawa beberapa rangkaian bunga dan beberapa hadiah yang diberikan oleh rekan-rekan kerjaku karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku sudah menghubungi Jiyong dan dia bilang dia akan menungguku dirumah sakit.

Setelah sampai dirumah sakit aku langsung berjalan keruangan Jiyong. Aku begitu gugup dan sedikit takut tapi aku terus memberanikan diriku sendiri karena ini adalah penentuannya. Aku akan menerima apapun yang akan Jiyong katakan nanti meskipun mungkin itu untuk mengakhiri hubungan kami.

Aku berhenti sebentar saat sudah berada tepat diruangan Jiyong. aku menghembuskan napas dan akan mendorong pintu ruangannya saat aku mendengar suara Jiyong, aku berjalan pelan kearah sumber suara itu yaitu ruangan yang tepat bersebrangan dengan ruangan Jiyong. aku membuka sedikit pintu itu dan sekarang aku melihat Jiyong sedang berlutut, ditangannya ada sebuah kotak cincin kecil. Dihadapannya duduk seorang wanita yang juga mengenakan jas dokter seperti Jiyong, aku mengingat wanita itu, wanita yang sama yang aku lihat saat aku menunggu Jiyong diapartemennya. Dia sedang tersenyum sambil mengangguk pelan saat mendengar Jiyong mengatakan sesuatu kepadanya, namun kata-kata itu seperti anak panah yang menusuk tepat pada jantungku membuat air mataku meluncur begitu saja.

“jadi bersediakah kau memakai cincin ini dan selalu berada disisiku sampai kapanpun itu?” Kata Jiyong kepada wanita itu. Aku mendengarnya mengucapkan kata-kata itu dengan sangat tulus. Aku membalikkan badanku lagi lalu segera beranjak dari tempatku berdiri. Aku rasa aku tidak perlu bertanya apapun kepada Jiyong, karena semua yang aku lihat sudah menjelaskan semuanya.

Aku menghapus air mataku saat aku berjalan, aku tidak ingin orang lain melihat aku menangis jadi aku mencoba menguatkan diriku sendiri dan menggumamkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku langsung naik taksi setelah keluar dari rumah sakit dan langsung pulang ke apartemenku sendiri, aku membutuhkan waktu sendirian karena aku benar-benar ingin menangis sekarang.

Aku berjalan lambat  kearah pintu apartemenku sambil memikirkan semua hal tentang aku dan Jiyong. Aku segera menekan password apartemenku setelah sampai didepan pintu apartemen. Aku langsung masuk lalu terlonjak kaget saat melihat sahabat-sahabatku sudah berada didalam apartemenku dengan membawa kue ulang tahun.Seluruh sudut ruang tengah apartemenku ternyata sudah dihias dengan dekorasi ulang tahun. Aku melihat mereka semua satu persatu yang kini sedang menyanyikan lagu ulang tahun untukku dan ketika melihat mereka tertawa sambil bertepuk tangan aku teringat Jiyong yang tidak berada disini. Aku mengingat semua hal yang aku dan Jiyong pernah lakukan, aku mengingat Jiyong dengan semua gadisnya, aku mengingat Jiyong yang tidak pernah sekalipun mencintaiku membuat air mataku kembali turun. Tubuhku bergetar karena tangis yang pada awalnya bisa aku tahan tapi akhirnya aku tidak bisa lagi menahan air mataku membuat tangisku berubah menjadi isakan.Akumenjatuhkan tubuhkudengan isakan yang terus keluar dari bibirku membuat semua sahabatku berhenti bernyanyi lalu menatapku dengan bingung.

Aku menangis sambil terus memukul dadaku dengan keras untuk meredam rasa sakit yang teramat sangat dihatiku saat ini. aku tidak sanggup lagi menahan semua perasaaan terluka yang telah Jiyong berikan kepadaku jadi sekarang aku disini terus menangis semakin pilu dihadapan semua sahabatku.

“Dara kau kenapa?” tanya Bom sambil berjongkok diikuti oleh Charin yang juga ikut berjongkok. Tidak ada yang sanggup aku katakan, aku hanya terus menangis membuat semua orang menjadi panik.

“unnie ada apa denganmu?” tanya Chaerin kini sambil mengusap lembut punggungku. Namun sekali lagi aku masih tidak bisa mengatakan apapun.

“Dara tidak apa-apa.” Ujar Bom lagi sambil memelukku. “semuanya pasti akan baik-baik saja Dara, tenanglah.” Sambungnya untuk menenangkan aku.

Semua sahabatku pulang hampir tengah malam setelah aku meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Setelah mereka pulang aku langsung pergi kekamar mandi untuk membersihkan diriku. Aku berendam didalam bak selama hampir satu jam. Aku perlu ketenangan sekarang jadi aku diam disini dan memikirkan apa yang harus aku lakukan dengan hatiku sekarang. Aku terus berpikir dan masih belum menemukan jawaban apapun. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan Jiyong tapi aku tidak tahu bagaimana caranya, sama seperti aku tidak tahu kapan aku mulai begitu mencintai Jiyong seperti ini.

Aku mematikan lampu kamarku lalu segera membaringkan tubuhku pada tempat tidur hampir jam dua pagi. Aku membaringkan tubuhku lalu menutup mata dan berusaha tidur namun setelah memejamkan mata selama beberapa menit aku masih belum terlelap. Aku tidak bisa tidur karena saat aku menutup mata bayangan Jiyong dengan wanita tadi terus melintas dikepalaku dan kata-kata yang Jiyong katakan kepada wanita itu terus terngiang dengan jelas dikepalaku.

Aku mengambil ponsel yang aku simpan diatas meja lalu segera menghidupkan ponselku yang mati sejak aku pulang bekerja. Setelah ponselku menyala lagi aku mendapatkan banyak sekali pesan dari orang-orang yang aku kenal untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. mataku langsung terpaku pada satu pesan yang dikirm Jiyong beberapa jam yang lalu. aku membukanya lalu membacanya.

Dee, kau dimana? aku menunggumu daritadi. Sebentar lagi aku akan melakukan operasi jadi sebaiknya kau pulang saja ke apartemen. Kita bertemu disana nanti.

Aku menghembuskan napas setelah membaca pesan Jiyong karena itu berarti dia akan datang kesini sebentar lagi. Aku rasa aku belum siap menghadapi Jiyong, aku masih belum tahu apa yang harus aku katakan kepada Jiyong untuk mengakhiri hubungan kami tanpa dia tahu bahwa aku terluka karena begitu mencintainya dan karena aku tahu bahwa dia tidak pernah mencintaiku.

Saat aku sedang berpikir dan merenung tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang dibuka, aku tahu itu Jiyong karena hanya dia yang tahu password apartemenku selain diriku sendiri. Aku mendengar derap langkah Jiyong yang perlahan semakin mendekat lalu beberapa detik kemudian aku melihat pintu kamarku dibuka, aku sekarang bisa melihat bayangannya yang sedang membuka kancing kemeja yang dia kenakan lalu beberapa saat kemudian aku merasakan dia merangkak diatas tempat tidurku.Aku merasakan dia memeluk tubuhku seperti yang biasa dia lakukan kemudian mencium pipiku.

“Dee kau sudah tidur?” tanyanya dengan lembut, namun aku tidak menjawab Jiyong dan pura-pura bahwa aku sudah tidur. “maafkan aku karena terlambat. Selamat ulang tahun” Bisiknya kemudian kembali mencium pipiku dan memeluk tubuhku dengan sangat erat lalu berbaring dibelakangku yang kini tidur membelakanginya.

Air mataku kembali jatuh saat aku merasakan nyamannya pelukan Jiyong ditubuhku. Aku terus menangis dalam diam karena tiba-tiba semua rasa sakitku kembali muncul setelah Jiyong datang dan aku mulai terisak saat aku mendengar Jiyong mendengkur dan yakin bahwa dia tidak akan mendengar tangisku.

Jiyong Pov

12 November 2013

Hari ini adalah ulang tahun Dara dan karena itu aku akan memberikan sesuatu yang sangat spesial untuknya. Dara mungkin tidak tahu bahwa sebenarnya aku sudah memutuskan hubunganku dengan semua pacar yang aku miliki sehingga dia kini menjadi satu-satunya wanita untukku walaupun sebenarnya memang Dara yang selalu menjadi satu-satunya untukku tapi aku akan membuatnya lebih jelas sekarang.Aku akan mengumumkan kepada semua sahabatku bahwa aku dan Dara sudah menjalin hubungan yang spesial selama ini dan aku harap ini akan menjadi kado terindah yang Dara dapatkan tahun ini. aku memutuskan untuk mengatakan bahwa aku mencintainya dan ingin memulai sesuatu yang baru dengan Dara.

Aku melihat lagi kotak cincin yang berada diatas meja kerjaku, cincin berinisial nama kami berdua, cincin yang aku pesan khusus untuknya sebagai tanda resminya hubungan kami. aku terus tersenyum karena tidak sabar untuk menunggu kedatangan Dara. Dara bilang dia akan menemuiku di rumah sakit jadi aku senang dan berniat akan mengatakan semua perasaanku kepadanya disini.

“Oppa apakah kau sedang sibuk?” aku mengalihkan pandanganku saat melihat pintu ruanganku dibuka oleh Sulli, rekanku di rumah sakit ini.

“aku tidak sibuk, kenapa?”

“aku ingin mendiskusikan tentang operasi nyonya Kang yang akan kita lakukan dua hari lagi.” katanya yang masih berdiri didekat pintu.

“baiklah kita diskusikan sekarang.” Kataku sambil tersenyum.

“kita diskusikan di ruanganku saja bagaimana?” ajaknya. “aku menyimpan catatan medisnya diruanganku.” Aku mengangguk kemudian dia pergi keruangannya. Aku berdiri sambil mengambil kotak cincin lalu menyimpannya disaku jas.

Setelah sampai diruangan Sulli kami langsung mendiskusikan tentang metode operasi yang akan kami lakukan untuk salah satu pasien dan tidak menunggu waktu lama kami akhirnya mendapatkan kesepakatan metode yang paling cocok.

“Oppa kau terlihat sedang bahagia sekali hari ini.” ujar Sulli sambil memperhatikan wajahku. “apakah sesuatu yang baik telah terjadi?”

“anni.” Kataku. “belum, tapi sebentar lagi akan terjadi.”

“memangnya apa yang akan terjadi?”

“aku akan meminta Dara menjadi kekasihku.” kataku sambil tersenyum senang.

“wanita yang waktu itu menunggu diapartemenmu saat kita akan berdiskusi?” tanya Sulli yang aku balas dengan anggukan. “kalau begitu aku harap kau berhasil supaya sikapmu bisa seperti ini setiap hari, sepertinya Dara merupakan tombol on/off dari kebahagianmu.” Kata Sulli lagi sambil tertawa. “kau selalu sebahagia ini saat membicarakan Dara.” aku tersenyum setelah mendengar apa yang Sulli katakan. Dia benar, Dara adalah satu-satunya yang bisa membuatku sebahagia ini.

“Sulli bisakah kau membantuku?” tanyaku tiba-tiba sambil melihat Sulli.

“apa yang bisa aku bantu?”

“cukup duduk disitu dan berpura-pura menjadi Dara.” kataku sambil menunjuk kursi yang sedang dia duduki.

“huh?” tanyanya bingung. “untuk apa?”

“aku ingin melatih apa yang ingin aku katakan, supaya aku bisa mengatakannya dengan lancar saat Dara datang nanti.” Kataku kepada Sulli sambil tersenyum. “aku ingin Dara tahu bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya jadi aku mau latihan dulu.”

“ya tuhan kau ini berlebihan sekali.”

“ayolah.” Bujukku.

“baiklah tapi hanya sekali saja jadi jangan terbata-bata.” Kata Sulli sambil tersenyum. aku mengangguk kemudian mulai berlutut di depan Sulli.

“aku akan memulai dan nanti tolong beri aku masukan jika kata-kataku terlalu berlebihan.” Kataku kepada Sulli yang dia balas dengan anggukan. “Dara,” kataku dengan lembut sambil memegang tangan Sulli. “kita sudah bersama sejak lama, kita menghabiskan banyak waktu berdua tanpa ada orang lain yang tahu. kita seperti itu karena kita ada dalam kondisi dimana kita tidak bisa menunjukkan kebersamaan kita.” Kataku sambil menatap Sulli dan membayangkannya sebagai Dara. “namun sekarang aku tidak ingin lagi seperti itu, aku ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kau adalah wanita yang aku pilih, aku ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kau adalah wanitaku.” Kataku lagi lalu mengambil kotak cincin yang aku simpan disaku jas. “aku mencintaimu dan sangat ingin memilikimu jadi aku ingin memberikan ini kepadamu sebagai tanda resminya hubungan kita tanpa ada yang harus ditutupi lagi dari siapapun.” sambungku. “jadi bersediakah kau memakai cincin ini dan selalu berada disisiku sampai kapanpun itu?” kataku lagi, aku memberikan semua kesungguhanku saat aku mengatakan itu. Aku melihat Sulli tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

“wah,” katanya setelah beberapa saat.

“bagaimana menurutmu?” tanyaku.

“aku hampir saja menerimamu tadi karena merasa semua yang kau katakan itu seolah ditujukan kepadaku. Aku berharap yang berlutut dibawah tadi adalah kekasihku.” Katanya.

“kau suka dengan kata-kataku?” tanyaku lagi dengan was-was. Sulli memberikan dua jempol kepadaku.

“Dara pasti tidak akan sanggup untuk menolak.” katanya lagi.

“benarkah?” tanyaku lagi yang Sulli balas dengan anggukan. Aku tersenyum sangat senang dan semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Dara. aku ingin segera memeluknya dan mengatakan semua kata-kata yang selalu ingin aku ucapkan kepadanya.

Aku kembali lagi keruanganku untuk menunggu Dara. aku terus bersiul dan menyenandungkan lagu cinta karena aku begitu bahagia, aku membayangkan Dara tersenyum saat melihat cincin ini, aku membayangkan betapa cantiknya Dara saat dia tersenyum dan menganggukan kepalanya sambil mengatakan iya. Aku membayangkan aku memakaikan cincin ini dijari manisnya. Hanya membayangkannya saja berhasil membuatku sangat bahagia.

Aku melihat jam tanganku dan mulai mengerutkan keningku karena baru sadar bahwa Dara terlambat, aku mengambil ponsel lalu segera menghubungi nomornya namun tidak terhubung. Aku menelpon ke nomor Chaerin karena bisa saja Dara lupa dengan janjinya dan malah pulang ke apartemennya, sahabat-sahabatku sedang berada di apartemen Dara untuk memberinya kejutan sedangkan aku masih disini karena aku ada operasi sebentar lagi.

“Chae apakah Dara sudah pulang?” tanyaku kepada Chaerin saat dia sudah mengangkat panggilanku.

belum, sepertinya sebentar lagi.

“jika dia sudah berada disana tolong kabari aku.” kataku lagi kepada Chaerin. aku kembali menutup panggilanku lalu kembali menghubungi nomor Dara namun nomornya masih tidak terhubung.

“Dokter operasinya akan segera dimulai.” Kata seorang suster kepadaku. aku mengangguk tanda mengerti kemudian suster itu pergi lagi.

Aku segera mengirim pesan untuk Dara takut jika dia datang sedangkan aku tidak ada.

Dee, kau dimana? aku menunggumu daritadi. Sebentar lagi aku akan melakukan operasi jadi sebaiknya kau pulang saja ke apartemen. Kita bertemu disana nanti.

Setelah menekan tanda send aku langsung berdiri kemudian pergi keruang operasi.

Sandara Pov

20 Juli 2016

“ada sesuatu yang ingin kau makan?” tanya Bom kepadaku yang baru saja keluar dari dalam kamar mandinya untuk membersihkan diri. Malam ini aku akan menginap di apartemen Bom karena aku benar-benar merindukannya, sahabat terbaikku.

“ini sudah lewat dari jam makan malamku jadi tidak ada yang ingin aku makan.” Kataku sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

“kau berubah sekali. Dulu kau sama sekali tidak akan memperdulikan waktu jika sudah sangat kelaparan.” Aku tertawa karena mengingat semua hal-hal gila yang selalu aku dan Bom lakukan saat kami sedang kelaparan dulu.

“itu kan dulu bukan sekarang.” Kataku setelah tawaku reda.

“kau banyak berubah Dara, dan aku senang karena perubahanmu menuju kearah yang lebih baik.” Kata Bom lagi sambil tertawa. Aku duduk dipinggiran ranjangnya lalu mengangguk.

“tiga tahun berpisah denganmu membuatku mempelajari banyak hal.” Kataku sambil tersenyum.

“berpisah denganku atau berpisah dengan Jiyong?” tanya Bom sambil menggodaku.

“aishh.” Aku mendesis mendengar perkataan Bom. “why did you have to mention that guy.” Kataku sambil berdecak kepada Bom.

“tidak usah kesal seperti itu Dara.” kata Bom. “aku kan Cuma ingin tahu saja perasaanmu untuk Jiyong sekarang seperti apa.” Kata Bom lagi sambil nyengir. “jadi?”

“apa?”

what feelings do you have for that guy?” tanyanya lagi.

I don’t have any feeling for him.”

“jangan bohong.”

“aku tidak berbohong.” Kataku dengan yakin. “aku sudah memiliki Jong Ki yang sangat mencintaiku sekarang jadi untuk apa aku masih menyimpan perasaan untuk Jiyong yang sama sekali tidak pernah mencintaiku.”

“ya aku bisa melihat Jong Ki sangat mencintaimu. Dia menjagamu dengan sangat baik.” Kata Bom setuju dengan apa yang aku katakan. “tapi Dara apakah kau mencintainya?” tanya Bom lagi. aku yang masih mengeringkan rambutku langsung menatapnya sambil mengerutkan kening.

“tentu saja aku mencintainya.” kataku kepada Bom. “kenapa kau bertanya?”

“tidak apa-apa.” Kata Bom sambil menggeleng. “aku hanya ingin memastikan, aku tidak ingin kau salah mengira tentang perasaanmu. Tapi syukurlah kalau kau juga mencintainya.” kata Bom lagi.

“aku tidak salah mengira Bomie, aku mencintai Jong Ki.”

“lalu apakah kau sudah benar-benar melupakan Jiyong?” tanyanya lagi. aku kembali mengerutkan keningku lalu mengangguk. “kalau begitu kapan kau akan kembali ke Korea?”

“huh apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

“aku tahu kau pergi ke New York untuk menghindari Jiyong dan melupakannya, dan karena sekarang kau sudah berhasil melupakannya itu berarti sudah saatnyakau kembali tinggal disini.” Kata Bom.

“aku tidak punya rencana untuk meninggalkan New York dan tinggal disini.” Kataku kepada Bom.

“kenapa?” tanya Bom lagi. “bukankah kau sudah melupakan Jiyong? apalagi yang kau takutkan sekarang?” aku diam tidak membalas perkataan Bom. “apakah ini karena Byul?” kata Bom tiba-tiba karena aku tidak kunjung menjawab. Tebakan Bom langsung membuatku menatapnya. “apakah kau tidak ingin pulang ke Korea karena kau tidak ingin Byul bertemu dengan ayahnya?” tanya Bom lagi. aku berdiri kemudian menyimpan handuk lalu duduk dikursi rias lalu mengambil hairdryer. “sampai kapan kau mau seperti ini Dara?” tanya Bom lagi. aku menggenggam hairdryer itu dengan kuat. Aku lupa bahwa Bom adalah orang yang sangat mengenalku dengan sangat baik, jadi aku tidak ingin mengatakan apapun kepadanya karena aku tahu pasti dia tidak akan bisa dibohongi. Dia benar alasan kenapa aku pergi dan tidak ingin kembali lagi ke Korea adalah karena satu orang yang sama.

“tolong jangan mulai Bomie.” Kataku dengan lirih. “aku tidak ingin membicarakan Jiyong lagi. aku sudah jelas mengatakan kepadamu dulu bahwa aku tidak akan membiarkan Jiyong tahu bahwa aku memiliki putri darinya. Aku tidak ingin membiarkan putriku tahu bahwa dia memiliki ayah sebrengsek Jiyong.”

It’s been a long time, Dara.” Kata Bom. “Jiyong dulu memang brengsek, playboy gila yang selalu menyakiti hati perempuan yang mencintainya tapi dia sekarang sudah berubah dan aku rasa Jiyong juga mencintaimu. Harusnya kau tahu betapa kacaunya Jiyong saat kau pergi, dia kehilangan arah Dara.”

“kenapa kau mengatakan hal itu?” tanyaku kepada Bom. “bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak pantas untukku.”

“aku mengatakan itu karena aku tidak tahu bahwa dia mencintaimu. Kau tahu Dara, Jiyong menatapmu dengan penuh puja sepanjang pesta pertunanganku tempo hari. dia terus menatapmu bahkan saat Jong Ki berada di sampingmu.”

stop saying nonsense, Bomie-ah.” Kataku lagi kepada Bom. Aku tidak ingin mendengar apapun omong kosong tentang Jiyong. “dia tidak mungkin melakukan itu, dia sama sekali tidak pernah mencintaiku, bahkan saat aku pergi dia sama sekali tidak mencariku. Dia seperti itu karena aku sama sekali tidak berarti untuk Jiyong.I’m just one of his women same as his others women.”

“dia tidak mencarimu karena dia marah Dara. kau pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya, dan jelas dia terluka karena hal itu.” Kata Bom lagi.

“Bomie?” tanyaku kepada Bom dengan tatapan heran. “kenapa sekarang kau jadi membela Jiyong? bukannya dulu kau menyuruhku untuk tidak berhubungan dengan Jiyong?”

“aku tidak pernah mengatakan itu, aku menyuruhmu untuk berbicara dengan Jiyong tentang hubungan kalian dan memintanya untuk menjadikanmu lebih resmi.You should tell that instead of going away.”

“bagaimana bisa aku tetap tinggal dengan Jiyong saat aku tahu dia melamar wanita lain?”

“jika benar Jiyong melamar wanita lain harusnya dia sekarang sudah menikah Dara. Jiyong tidak pernah membawa wanita lain lagi sejak kau pergi meninggalkannya. Satu-satunya wanita yang pernah dia bawa adalah Kiko namun sekarang mereka sudah tidak bersama.” kata Bom penuh penekanan. “aku yakin saat itu kau pasti salah paham.”

you said i misunderstood?” tanyaku dengan tidak percaya kepada Bom. “bahkan sampai sekarang aku masih mengingat dengan jelas apa yang Jiyong katakan kepada wanita itu Bomie. Dia meminta wanita itu untuk menemaninya sampai kapanpun itu.” Kataku kepada Bom dengan airmata yang mulai turun. Bom membuatku terpaksa harus mengingat kejadian tiga tahun yang lalu saat akhirnya aku sadar bahwa Jiyong tidak pernah mencintaiku. “aku melihatnya didepan mataku sendiri Bomie-ah, how can i be mistaken? Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku salah paham?” tanyaku lagi kepada Bom. Dia diam dan wajahnya menunjukkan perasaan bersalah, aku tahu Bom pasti merasa bersalah karena membuatku kembali menangis.

“Dara maafkan aku.” kata Bom sambil turun dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju kearahku. “maafkan aku karena membuatmu menangis lagi.” katanya yang kini sudah memeluk tubuhku. “aku tidak bermaksud seperti ini Dara, aku hanya ingin kau dan Jiyong sama-sama bahagia.I’m sure you still love him and i’m also sure that him always love you.”

Jiyong Pov

15 November 2013

Aku sedang menunggu Dara didepan apartemennya. Setelah selesai dari pekerjaanku aku langsung datang kesini karena aku ingin bertemu dengan Dara. aku belum sempat memberikan cincin yang aku beli dan mengatakan bahwa aku mencintainya karena Dara tidak datang kerumah sakit malam itu, dan saat aku datang ke apartemennya dia sudah tertidur. Esok harinya aku bangun sendirian karena Dara sudah pergi bekerja. Dan selama dua hari ini Dara tidak bisa dihubungi, nomornya selalu tidak aktif makanya sekarang aku datang karena merindukannya namun ketika aku akan masuk ternyata password apartemennya sudah diganti.

Aku sudah menunggu hampir setengah jam, aku terus melihat jam tangan dan mulai sedikit heran karena seharusnya Dara sudah pulang. Ini sudah larut namun dia masih berada diluar membuatku khawatir jika sesuatu terjadi kepadanya. aku mengambil ponselku kemudian mencoba menghubungi Dara namun nomornya masih tidak bisa aku hubungi. Saat aku akan menghubungi nomor Bom aku mendengar suara denting menandakan lift yang terbuka, aku langsung mengalihkan pandanganku kearah lift itu dan berharap bahwa Dara yang keluar dari dalam sana. Saat pintunya terbuka aku sedikit mengerutkan keningku saat melihat Dara datang namun disampingnya ada seorang pria yang sedang merangkulkan tangan Dara pada bahunya. Pria itu sedang memapah Dara, aku tidak tahu siapa pria itu dan aku juga tidak tahu kenapa dia bisa memapah Dara. melihat lelaki lain menyentuhnya membuatku sedikit geram.

“Jiyong?” tanya Dara dengan santai. “sedang apa kau disini?” tanyanya lagi. Aku menatap tangannya yang sekarang sedang dirangkulkan pada bahu pria itu. Dara sepertinya sadar jadi dia melepaskan tangannya. “Donghae, kenalkan ini Jiyong. Ji kenalkan ini Donghae.” Katanya sambil menunjuk kami bergiliran.

“kau darimana saja?” tanyaku kepada Dara dengan sedikit keras tanpa memperdulikan apa yang dia katakan sebelumnya. “aku menunggumu dari tadi. dan kenapa kau mengganti password apartemenmu?” dia melihat kepadaku dengan tatapan kesal, kemudian mengalihkan pandangannya kepada pria yang bernama Donghae itu.

“hae terimakasih karena telah mengantarku pulang. Aku merepotkanmu, maafkan aku.” katanya kepada pria itu sambil tersenyum.

“tidak usah sungkan Dara. katakan saja kepadaku jika kau membutuhkan bantuanku lagi.” jawab pria itu juga sambil tersenyum. “aku pulang dulu kalau begitu.” Sambungnya kepada Dara kemudian pria itu pergi.

“bisakah kau tidak memarahiku didepan rekan kerjaku?” tanyanya kepadaku sambil menekan password apartemennya. “you make me look pathetic.” Sambungnya kemudian masuk kedalam apartemennya tanpa sekalipun menatapku.

“bagaimana bisa aku tidak marah saat melihatmu dengan pria lain huh?” kataku masih dengan nada yang keras. “aku menunggumu lama Dara dan saat kau datang aku harus melihatmu sedang dirangkul oleh pria lain, bagaimana bisa aku tidak marah.”

“kau seharusnya menanyakan kepadaku alasannya, kau harusnya menanyakan kepadaku kenapa aku bisa dipapah oleh Donghae, seharusnya kau menanyakan keadaanku bukannya berteriak seperti ini.” katanya dengan sedikit keras kemudian duduk di sofa. Dia kemudian menatapku dengan berbagai macam emosi dari sorot matanya. Aku mungkin sedikit menyinggung perasaannya membuatku merasa bersalah tapi perasaan marahku lebih besar. Dia tahu bahwa aku tidak suka melihatnya dengan pria lain. aku menghembuskan napas mencoba menenangkan amarahku sendiri kemudian berjalan kearahnya lalu berlutut didepannya.

“apa yang terjadi dengan kakimu?” kataku sambil melihat pergelangan kakinya yang sedikit bengkak. Dia diam saja tanpa melihatku sama sekali. “Dara aku bertanya apa yang terjadi dengan kakimu.” Kataku lagi kini dengan sedikit keras membuatnya tersentak. Dia memejamkan kedua matanya lalu melihatku.

“kau berteriak lagi. sampai kapan kau akan terus berteriak kepadaku?”

“kau mengacuhkan aku, aku hilang kendali. Maafkan aku.” kataku dengan nada suara yang lebih rendah. “aku akan mengobati kakimu, tunggulah.” Kataku lagi sambil berdiri kemudian berjalan untuk mengambil kotak obat.

“Jiyong aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” kata Dara pelan dari tempatnya duduk.

“apa yang ingin kau katakan.” kataku sambil mengambil plester dan perban dari dalam kotak obat. Aku menunggu apa yang akan Dara katakan namun dia tidak melanjutkan. Aku berjalan lagi kearahnya lalu duduk dibawahnya untuk mengobati kakinya. “apa yang ingin kau katakan huh?” tanyaku sambil mengambil kakinya kemudian membersihkannya dengan alkohol.

“aku ingin mengakhiri semuanya.” Aku menghentikan aktivitas tanganku saat Dara mengucapkannya. Aku mendongkak lalu menatap matanya yang kini sedang menatapku.

“kau bilang apa?” tanyaku untuk memastikan.

“aku ingin kau tidak datang lagi kesini. Itulah kenapa aku mengganti password apartemenku.” Katanya lagi dengan tenang.

what’s wrong?” tanyaku sambil terus menatapnya. “why the sudden?”

“aku sudah lama memikirkan ini. aku hanya tidak bisa terus seperti ini Ji.” katanya lagi. “this isn’t fun anymore.”

“tidak menyenangkan?” tanyaku dengan bingung karena tidak mengerti apa yang Dara maksud. Kenapa dia mengatakan bahwa ini sudah tidak menyenangkan, apa dia selama ini berpikir bahwa aku dan dia hanya sedang bermain-main ketika aku berpikir serius tentang hubungan kami. “apa kau pikir yang kita lakukan selama ini hanya sebuah permainan?”

“lalu apa Ji?” tanya Dara dengan tenang. “bukannya ini memang hanya sebuah permainan? Bukannya aku hanya teman tidurmu?” tanya Dara. “kau masih bisa memiliki teman tidur lain saat aku tidak ada jadi aku rasa kau tidak perlu khawatir.”

what?” tanyaku sedikit tidak percaya dengan apa yang Dara katakan. “aku tidak percaya kau bisa mengatakan itu.” Kataku kepada Dara, dia mengalihkan pandangannya saat aku menatapnya, seolah dia tidak ingin aku mengetahui perasaan yang dipancarkan oleh kedua matanya. “aku tidak tahu apa salahku Dara, aku juga tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa kau bisa berpikir bahwa semua yang kita lakukan ini hanya sebuah permainan. Aku minta maaf karena membuatmu berpikir bahwa kau hanyalah teman tidurku tapi Dara aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah tidur dengan wanita lain selain denganmu” Kataku kepada Dara yang kini sudah mengalihkan pandangannya dariku. “Dara pikirkan lagi semua yang telah kita lalui, rasakan lagi dan datanglah kepadaku dengan alasan yang jelas dan bisa aku mengerti. Aku tidak bisa menerima alasan ini karena ini sangat tidak masuk akal.” Kataku lagi kemudian kembali mengobati kaki Dara dengan diam.

Aku ingin memeluknya saat ini, ingin mengatakan bahwa aku mencintainya, merindukannya, dan mengatakan bahwa aku sangat ingin memilikinya dengan utuh, tapi aku tidak bisa mengatakan apapun kepadanya saat dia berpikiran lain tentang hubungan kami. Aku ingin memulai hubungan yang baru dengan Dara dimana kami berdua sama-sama menginginkannya, namun sekarang Dara menginginkan hal lain, dia ingin pergi dan aku tidak punya cukup kekuatan untuk menahannya lagi saat dia sendiri yang menginginkan hal ini.

“Dara aku akan pulang, aku akan menunggu kau menghubungiku dan kita akan membicarakan ini lagi saat kau benar-benar sudah siap dengan semua alasanmu.” kataku setelah selesai mengobati kaki Dara. Aku berdiri kemudian mencium keningnya sebentar lalu meninggalkan Dara sendirian, aku akan mengatakan semua yang aku rasakan kepadanya saat kami bertemu lagi.

Namun ternyata malam itu adalah malam terakhir aku bertemu dengannya, karena setelah malam itu Dara tidak pernah lagi menghubungiku dan yang aku dengar kemudian adalah dia pergi ke New York untuk bekerja disana.

TBC

Aku mau izin dulu ya minggu depan gak bisa update dulu soalnya insyaallah minggu depan aku sidang skripsi jadi untuk kelanjutan chapter 4 aku usahakan dibuat setelah selesai semuanya. Minta do’anya dan terimakasih untuk komentar di chapter sebelumnya.

Thankyou for Reading my story and please make a comment!!! ^.^

Hengshoo!!

 

Advertisements

76 thoughts on “Back To Me [Chap. 3]

  1. Misunderstood which never settled.wow…..so sad.when can they tgt again.my dear writer pls give us happy ending.thx😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s