Back To Me [Chap. 2]

PicsArt_07-23-04.01.01 FF

Author : Reni Bintang

Selamat malam!!!!!!!!
Yes chapter 2 well done!!
Terimakasih untuk respon dan komentar di chapter sebelumnya. Aku seneng karna pada baik mau ninggalin komentar. Kecup basah dulu 😚😚😚.
Happy Reading readers-nim !!!

Jiyong Pov

16 Juli 2016

“aku tidak menyangka bahwa Bom Nuna akan menikah dengan seorang pria yang bukan Seunghyun Hyung.” Ujar Daesung kepadaku sambil melihat Bom yang sedang berdiri bersama calon tunangannya dan kemudian melihat sahabatku Seunghyun yang berdiri bersama sahabatku yang lain. “padahal mereka selalu bersama saat pacaran dulu.” Sambungnya kemudian menenggak minuman yang sedang dia pegang.

“takdir memang selalu mengejutkan.” Kataku dengan acuh sambil mengedarkan pandanganku untuk mencari sosok yang sangat aku cintai. Dara belum datang padahal acara pertukaran cincin akan segera dilakukan.

“kau sedang mencari seseorang Hyung?” tanya Daesung.

“anni.” Kataku sambil mengalihkan pandanganku kepadanya.

“aku pikir kau sedang mencari gadis cantik karena kau tidak datang bersama Kiko.” Katanya sambil sedikit tertawa menggodaku. “kenapa kau tidak mengajaknya kesini?”

“siapa?” tanyaku. “Kiko?” sambungku yang dia balas dengan anggukan. “aku sudah putus dengannya beberapa bulan yang lalu.” Kataku sambil mengambil segelas champagne dari pelayan yang lewat dihadapanku.

“kau putus dengannya setelah satu tahun bersama?” tanyanya yang aku balas dengan anggukan.“kenapa? Aku pikir Kiko adalah gadis yang akan kau nikahi karena dia satu-satunya wanita yang berhasil membuatmu bertahan dalam satu hubungan.”

“aku tidak mencintainya.” Aku pacaran dengan Kiko dengan harapan aku bisa melupakan Dara, namun bahkan setelah bersamanya selama hampir satu tahun perasaanku masih tidak berubah, Dara tetap menjadi yang aku cintai bahkan ketika aku tidak melihatnya selama beberapa tahun.

“kau tidak mencintainya? lalu siapa orang yang kau cintai?”

“ada, seorang wanita cantik milik orang lain.” kataku dengan sedih.

“Hyung lihat itu Dara Nuna.” Kata Daesung sambil menunjuk pintu masuk tempat ini. Aku langsung mengalihkan pandangaku kearah tunjuknya saat dia mengucapkan nama Dara. aku melihatnya yang kini memakai gaun hitam panjang tanpa lengan. Dia cantik dan anggun dengan rambut yang ditata indah dan kalung berlian yang dia kenakan. Aku terus menatapnya yang kini sedang berjalan sambil melambaikan tangannya, mungkin untuk melambai kepada tuan rumah acara ini.

Aku tersenyum, karena dia sama sekali tidak berubah. Aku selalu melihat cahaya yang menyilaukan saat aku memandangnya, dia selalu bersinar yang membuatku sangat mengagumi dan mencintainya. Namun cahaya itu padam seketika aku melihat seorang namja yang tiba-tiba datang dari balik punggungnya lalu mengapit tangannya dan menggenggamnya erat. Dara mengalihkan pandangannya kearah lelaki itu lalu tersenyum sumringah setelahnya. Aku iri, karena aku sangat berharap bahwa Dara bisa tersenyum seperti itu saat dia bersamaku.

“wah kekasihmu benar-benar Dr. Song yang sekarang menjadi pria ideal semua wanita di Korea.” ujar Chaerin sambil menyikut Dara sama sekali tidak menyembunyikan kenyataan bahwa dia sangat senang karena sahabatnya memiliki kekasih yang sangat mengagumkan.Aku akui sebagai seorang dokter bahwa Jong Ki memang sangat mengagumkan.

“berhentilah memanggilku dokter.” Kata Jong Ki sambil menatap kami semua yang sedang duduk dimeja bundar. “panggil aku dengan namaku saja karena kalian adalah teman Dara.” sambungnya kemudian melihat Dara dan tersenyum kearahnya.

“wah kau sangat tampan.” Ujar Bom yang juga duduk bersama kami. “sayang sekali aku sudah bertunangan.” Sambungnya sambil menunjukkan cincin baru yang melingkar dijarinya.

“kalau pun kau belum bertunangan kau tetap tidak bisa memilikinya. Karena dia adalah milik Dara.” kata Seunghyun kepada Bom. Bom memandang Seunghyun dengan kesal selama beberapa detik lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada Dara dan Jong Ki yang duduk bersebelahan lalu tersenyum lagi.

“beritahu aku kenapa kau mencintai Dara?” tanyanya kepada Jong Ki. Semua orang menatap kepadanya kecuali aku. aku tidak ingin mendengarkan apapun tentang mereka berdua karena aku sangat terluka.

“jangan dengarkan dia Oppa.” Kata Dara kepada Jong Ki.

“kenapa?” tanyanya dengan lembut. “aku sangat senang karena teman-temanmu memperlakukanku dengan sangat baik.” Jawab Jong Ki kemudian kembali memandang Bom dan Chaerin yang duduk bersebelahan. Mereka berdua bertingkah seperti seorang fangirls gila. “kau menanyakan apa tadi?” tanyanya kepada Bom.

“kenapa kau mencintai Dara?” ujar Bom sambil tersenyum.

“karena dia berbeda.” Kata Jong Ki sambil tersenyum kemudian melihat kearah Dara lalu mengusap kepala Dara dengan sangat lembut. “Dara memiliki semua hal yang aku inginkan dari seorang wanita.” Sambungnya. “Dara membuatku lupa bahwa ada gadis lain di planet ini.” sambungnya lagiyang langsung membuat Chaerin dan Bom berteriak girang.

“ya ampun Dara kau beruntung sekali mendapatkan pria tampan yang sangat romantis seperti Jong Ki.” aku  menatap Dara yang kini sedikit merona karena Bom menggodanya.

“ahh aku sangat iri.” Kata Chaerin dengan suara penuh harap. “aku harap ada seseorang yang akan mengatakan hal itu kepadaku.”

“berhentilah bermimpi karena sampai kapanpun tidak akan ada pria yang akan mengatakan hal itu kepadamu.” Kata Seungri kepada Chaerin. Jong Ki tertawa kemudian dia memandang Bom.

“tolong beritahu aku sedikit rahasia tentang Dara yang mungkin tidak aku ketahui.” katanya sambil tersenyum.

“haruskah aku memberitahumu?” tanya Bom kepada Jong Ki. “kau mungkin akan memutuskannya jika kau tahu rahasia-rahasia Dara.”  sambungnya.

“aku semakin ingin mendengarnya.” Kata Jong Ki lagi sambil melihat Dara dengan pandangan menggoda yang berhasil menciptakan pukulan pelan pada bahunya.

“Dara suka kentut sembarangan, dia selalu saja menghabiskan persediaan makanan diapartemenku dulu, dia tidak suka membersihkan tempat tidurnya dan dia tidak pernah mencuci kakinya sebelum tidur.” Kata Bom asal membuat Jong Ki tertawa lepas sedangkan Dara hanya cemberut. “Dara sangat jorok, tidak cocok dengan dokter sepertimu.”

“Ya Bomie-ah bukankah semua yang kau katakan itu adalah tentang dirimu sendiri huh?” ujar Dara kemudian menyuruh Jong Ki untuk berhenti tertawa.

“wah aku suka sekali wanita seperti itu.” Kata Jong Ki yang masih belum bisa menghentikan tawanya membuat Dara sedikit kesal. “sekarang beritahu aku tentang pria ideal Dara.” ujar Jong Ki lagi setelah beberapa saat kepada Bom.

“Oppa.” Ujar Dara kepada Jong Ki sambil merenggut,  Jong Ki hanya tersenyum membuat Dara bersandar dengan pasrah pada sandaran kursi.

“tipe idealnya?” tanya Bom sambil berpikir. “aku tidak begitu paham tentang pria ideal Dara karena dia sangat jarang berkencan jadi aku tidak tahu lelaki macam apa yang Dara suka.” Katanya kepada Jong Ki, semua orang fokus pada apa yang dikatakan Bom. “tapi jika melihat dari pria yang dia kencani sebelum dirimu maka aku bisa menyimpulkan bahwa tipe ideal Dara adalah seorang dokter yang memiliki wajah flower boy, persis seperti dirimu.” Sambungnya lagi berhasil membuat Dara menegakkan tubuhnya, aku memandang Dara yang kini langsung memberikan tatapan galak kepada Bom.

“Nuna kau pernah pacaran dengan dokter lain sebelumnya?” tanya Seungri tiba-tiba. “aku tidak tahu bahwa kau pernah berkencan.” sambungnya yang langsung diamini oleh semua orang disana kecuali aku, Bom, Jong Ki, dan Dara sendiri.

“Bomie asal bicara.” Katanya sambil menatap semua orang dengan gugup. “aku tidak pernah pacaran dengan dokter lain selain Jong Ki oppa.” Sambungnya dan aku yakin dia sedikit melirik kearahku saat dia mengatakan itu. “iyakan Bomie?”

“bukannya kau pacaran dengan Ji-” ujar Bom lagi namun sebelum dia berhasil menyelesaikan perkataannya Dara langsung menyumpal mulut Bom dengan sesendok kue membuatnya berhenti bicara. Semua orang saling pandang dengan tidak mengerti dan saat itu tiba-tiba terdengar suara bunyi ponsel yang ternyata berasal dari ponsel milik Jong Ki. Dia berdiri setelah sebelumnya meminta izin untuk mengangkat telpon.

Aku menatap Dara yang kini sedang bergumam kepada Bom dan menyuruhnya untuk tutup mulut, sedangkan sahabatku yang lain menatap Bom dan Dara dengan pandangan curiga. Setelah beberapa saat Jong Ki kembali kemeja kami. Setelah duduk dia langsung membisikkan sesuatu pada telinga Dara. Dara menganggukan kepalanya sambil terus mendengarkan kekasihnya itu lalu beberapa saat kemudian Jong Ki pamit pulang duluan karena harus kembali ke rumah sakit.

Aku mengambil segelas champagne lagi yang berada diatas meja lalu meminumnya sambil menatap Dara yang kini sedang berjalan untuk mengantarkan Jong Ki pergi sampai pintu keluar. Aku tahu orang yang Bom maksud tadi adalah aku, tapi kenapa Dara tidak mengakuinya dan menyangkal bahwa kami pernah bersama.

Saat acaranya sudah selesai aku langsung bergegas untuk pulang karena besok pagi aku ada jadwal operasi. Dan saat aku keluar dari ballroom aku melihat Dara berdiri didekat salah satu pilar, dia sedang menelpon. Aku mengira bahwa mungkin Dara sedang berbicara dengan Jong Ki namun saat aku mendekat kearahnya aku bisa sedikit mendengar Dara berbicara dengan sangat lembut, dia seperti sedang menenangkan orang yang sedang menangis.

“sekarang kembalilah kepada Nanny dan berhenti menangis, eoh?” aku berdiri tepat dibelakangnya jadi aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. “kau akan mendapatkan sebuah boneka baru jika kau menjadi gadis penurut.” Sambungnya dengan sangat lembut. Cara bicara Dara saat ini mengingatkan aku pada ibuku saat dia menenangkan aku jika aku merengek meminta sesuatu saat aku masih kecil.

“Dara,” aku memegang bahunya dan seketika itu Dara langsung terlonjak karena kaget. Dia berbalik kearahku dan langsung terkejut saat melihatku yang sekarang berdiri dihadapannya, dia langsung mematikan sambungan telpon dengan cepat setelah melihatku.

“kau sudah lama berdiri disitu?” tanyanya dengan terbata.

“aku baru beberapa detik disini.” Kataku. “bukannya kau sedang menelpon? Kenapa kau mematikannya?” tanyaku.

“aku sudah selesai.” Jawabnya sambil tersenyum kemudian menyimpan ponselnya pada tas kecil yang dia bawa. Aku melihat tangannya sedikit bergetar saat dia menyimpan ponselnya. Dara bersikap sangat aneh sekarang, seolah dia sedang tertangkap basah olehku.

“Dara kau kenapa?” tanyaku. “apakah kau baik-baik saja?” tanyaku dengan sedikit khawatir.

“oh, aku baik-baik saja.”

“tanganmu bergetar.” kataku lagi sambil menunjuk tangannya yang masih bergetar. “kau yakin baik-baik saja?”

“oh.” Katanya sambil mengangguk dengan cepat. “aku hanya kedinginan.” Sambungnya membuatku sadar dengan bahunya yang tidak tertutupi apapun. Aku membuka jas yang aku pakai lalu memakaikannya kepada Dara. “eh?” dia menatapku dengan bingung.

“kau bilang kau kedinginan.” Kataku untuk menjelaskan.

“tidak usah,-” Dara akan melepaskan jas milikku jika aku tidak menahan tangannya.

“pakai dulu saja sampai taksi datang, kau sedang menunggu taksi bukan?” tanyaku, Dara mengangguk lemah kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Aku berdiri disampingnya sambil menunggu taksinya datang, aku tidak bisa meninggalkan Dara sendirian jadi aku menemaninya. Kami berdiri dengan diam, aku yang berdiri disampingnya hanya bisa memandang Dara dengan penuh harap. Aku ingin mengajaknya pulang denganku namun aku tahu pasti dia akan menolak jadi yang aku bisa lakukan sekarang hanyalah ini.

Setelah beberapa saat taksi yang Dara panggil akhirnya datang. Dia melepaskan jas milikku dari bahunya.

“terimakasih.” Katanya sambil menyerahkan jas itu.

“Dara,” kataku saat Dara sedang menuruni tangga. Dia berbalik lalu menunggu aku melanjutkan apa yang ingin aku katakan. aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukannya, namun kata itu sangat berat untuk aku ucapkan ketika aku mengingat bahwa Dara kini sudah menjadi milik lelaki lain. “hati-hati.” Akhirnya hanya kata itu yang sanggup aku ucapkan. Dara mengangguk sambil menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan kemudian dia kembali melanjutkan langkah kakinya dan pergi setelah memasuki taksi.

Dara Pov

9 Juli 2013

Aku sedang tertidur saat aku merasakan tangan seseorang yang memelukku dari belakang dan mencium pipiku dengan lembut, aku membuka mataku kemudian mengambil ponsel yang aku simpan diatas meja dekat tempat tidur untuk melihat jam yang ternyata kini sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Aku mengucek mataku lalu membalikkan badanku kemudian bergeser kearah Jiyong, satu-satunya orang yang akan datang pada jam ini dan memelukku langsung seperti sekarang. Hanya Jiyong yang selalu melakukan hal ini jadi aku segera bereaksi dan mendekatkan tubuhku padanya.

“kau baru pulang dari rumah sakit?” tanyaku dengan mata yang masih berat. “atau kau baru pulang dari tempat lain?”

“aku baru saja selesai melakukan operasi dan langsung datang kesini.” Katanya sambil membelai pelan wajahku. “maafkan aku karena membuatmu terbangun.” Katanya pelan, aku mengangguk kemudian melihat wajah lelahnya.

“kau lelah?” tanyaku sambil mengusap wajahnya dengan lembut.

“aku lelah.” Katanya sambil menggapai tanganku lalu menggenggamnya erat.

“kau sudah makan?” tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya. “aku akan membuatkan makanan untukmu.” Kataku sambil mencoba bangun namun Jiyong menahanku dengan tangannya.

“tidak usah.” Katanya dengan lembut. “kita istirahat saja.” Sambungnya sambil tersenyum.

“ya sudah kau tidur saja kalau begitu.” Kataku sambil menguap, dia mengangguk kemudian merengkuhku dalam pelukannya, membelai punggungku dengan sangat lembut, menghirup aroma rambutku kemudian mencium puncak kepalaku.

Semua yang dia lakukan benar-benar membuatku sangat nyaman membuatku kembali terbang kedalam mimpi, mimpi dimana dia menjadi orang berbeda, orang yang mencintaiku dengan sepenuh hatinya, orang yang selalu membuatku melayang karena kata cinta yang dia ucapkan dengan tulus. Mimpi yang mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Sekarang aku sedang berada di dapur apartemenku, aku sedang memasak sesuatu untuk sarapan Jiyong yang masih tertidur dikamarku. Dia datang ke apartemenku hampir jam tiga pagi jadi sekarang aku tidak membangunkannya karena aku yakin dia pasti masih sangat lelah. Saat aku sedang memotong wortel tiba-tiba saja aku merasakan sebuah tangan yang melingkar pada tubuhku. aku memutar kepalaku kesamping saat merasakan kepala Jiyong yang sudah menempel di bahuku.

good morning.” Katanya sambil tersenyum kemudian mencium pipiku.

“kau sudah bangun?” tanyaku juga sambil tersenyum. dia mengangguk kemudian mengeratkan pelukannya.

“kenapa kau tidak membangunkan aku huh?” tanyanya dengan suara serak.

“kau tidur sangat lelap Ji, jadi aku tidak tega membangunkanmu lagipula tadi malam kau bilang kau sangat lelah jadi aku ingin membiarkanmu beristirahat.” Kataku yang masih memotong wortel. “kau mau kopi?” tanyaku, dia mengangguk kemudian melepaskan pelukannya.

“aku akan membuat kopi sendiri.” Katanya kemudian dia mengambil kopi lalu menuangkannya pada coffee maker. “kau sedang memasak apa?” tanyanya sambil menuangkan air putih pada coffee maker.

“aku membuat omelet.” Kataku sambil mengambil dua telur lalu memecahkannya dan memasukannya kedalam mangkuk besar kemudian aku memasukan bahan-bahan yang lain.

Just omelette?” tanyanya kini yang sedang menunggu kopinya tercampur.

“aku juga akan memasak sosis karena itu adalah makanan kesukaanmu.” Kataku lagi kini sambil mengocok telur.

“kalau begitu apa yang bisa aku bantu?” katanya.“Aku tidak enak karena membiarkanmu memasak sendirian.” Katanya lagi yang kini sedang berdiri disampingku dengan tangannya yang merangkul bahuku. Sedekat ini dengan Jiyong selalu menimbulkan efek pada jantungku yang tiba-tiba selalu berdetak dengan lebih cepat.

“eumm.” Kataku untuk menyembunyikan detak jantungku yang semakin cepat. “kau bisa membantuku untuk mengambil sosis didalam kulkas lalu memotongnya jika kau tidak keberatan.” Kataku tanpa berhenti mengocok.

“baiklah aku akan mengambilnya setelah meminum kopi.” Ujarnya sambil melepaskan lagi tangannya dari bahuku lalu mengambil dua buah cangkir kemudian menuangkan kopi yang telah selesai dibuat kedalam masing-masing cangkir. “kopi.” Dia menyodorkan satu cangkir kearahku. Aku menaruh kocokan telur lalu mengambil cangkir yang Jiyong sodorkan. Aku menghirup aroma kopi itu sedikit lama.

“harum.” Kataku sambil tersenyum kepada Jiyong. Kemudian aku meminum kopi panas itu setelah meniupnya sebentar.

“bagaimana rasanya?” tanya Jiyong sambil menatap lurus kepadaku.

“sangat enak.” Jawabku kemudian kembali meminum kopi itu.

“kau suka?” tanyanya lagi, aku mengangguk kemudian akan berbalik saat tiba-tiba Jiyong menekankan bibirnya pada bibirku. aku mematung karena terkejut dan peganganku pada cangkir kopi itu semakin menguat saat Jiyong bukan hanya menekan bibirku namun juga sedikit melumatnya lama dan semakin lama.

Setelah beberapa saat ciumannya semakin panas membuatku tidak sanggup lagi untuk hanya diam saja jadi yang aku lakukan selanjutnya adalah membalas ciumannya. Ditengah ciuman kami aku merasakan Jiyong mengambil cangkir kopi yang sedang aku pegang dan setelah tanganku kosong aku langsung melingkarkan tanganku pada lehernya lalu terus ke belakang kepalanya membuat ciuman kami semakin panas. Kini aku merasakan tangannya yang melingkar pada pinggangku lalu sedetik kemudian Jiyong mengangkat tubuhku lalu mendudukan aku diatas meja dapur tanpa sekalipun melepaskan pagutan bibirnya.

Aku melingkarkan kakiku pada pinggangnya membuat dia semakin dekat denganku, aku bisa mencium aroma tubuhnya dengan posisi seperti ini. setelah beberapa saat Jiyong menurunkan ciumannya pada leherku, aku tahu endingnya jika sudah seperti ini jadi aku langsung mendorong tubuh Jiyong membuatnya mengerutkan kening lalu menatapku dengan raut wajah meminta penjelasan.

“aku ada rapat mingguan sebentar lagi, aku takut terlambat lagipula kau harus pergi kerumah sakit. Ini sudah siang Ji.” kataku menjelaskan.

“hari ini aku libur.” Katanya sambil mendekat lagi kepadaku yang masih duduk di meja dapur, dia menatapku selama beberapa saat sambil membelai wajahku. “kau cuti saja hari ini, aku ingin bersamamu seharian.” Sambungnya lalu dia kembali menciumku tanpa mendengar jawabanku dulu.

Aku ingin menolak tapi aku juga ingin terus bersamanya. Aku bimbang dan kepalaku terus berdebat tentang apa yang seharusnya aku lakukan sekarang. Kepalaku terus meneriakan bahwa aku bodoh saat akhirnya aku kembali melingkarkan tanganku pada kepala Jiyong dan membalas lagi ciumannya dan aku sama sekali tidak bisa menolak saat akhirnya Jiyong membawaku kedalam kamar lalu kami mulai bercumbu dan akhirnya bercinta. Aku tahu aku bodoh karena selalu lemah terhadap Jiyong, tapi aku bisa apa? Aku terlalu mencintainya hingga tidak bisa menolak apa yang dia inginkan meskipun aku yakin bahwa pada akhirnya Jiyong akan meninggalkan aku seperti biasa.

Jiyong Pov

18 Juli 2016

Aku sedang berjalan menuju kearah kafetaria di rumah sakit tempatku bekerja saat aku melihat Dara sedang berdiri dengan Jong Ki yang juga berdiri dihadapannya, mereka berdua sedang berbicara sambil terus tersenyum membuatku sekali lagi merasa iri karena aku sangat merindukan masa-masa dimana Dara tersenyum dan tertawa bahagia saat dia sedang bersamaku.

Jong Ki memandangku saat jarakku semakin dekat dengan tempat mereka membuat Dara langsung mengarahkan pandangannya kepadaku.

“hai Dara.” Sapaku setelah berhenti berjalan. “Hai.” Sapaku kini kepada kekasihnya.

“Hai Ji.” balasnya sambil tersenyum. “kau mau kemana?”

“aku sedang menuju kantin untuk makan siang.” Kataku sambil menunjuk arah kantin.

“kebetulan sekali.” Kata Jong Ki sambil tersenyum. “aku dan Dara juga akan menuju kesana, kita bisa makan bersama. bagaimana menurutmu?” tanya Jong Ki meminta pendapat Dara. Dara sedikit melotot kepada Jong Ki, sangat jelas terlihat bahwa dia tidak setuju dengan ide kekasihnya itu.

“tidak usah.” Kataku. “aku tidak ingin menggangu kalian.”

“kau tidak akan mengganggu kami sama sekali.” Ujar Jong Ki sambil merangkulkan tangannya pada bahu Dara. “lagipula aku ingin mendengar seperti apa kekasihku dulu dari sahabatnya.”

“Oppa.” Ujar Dara sambil menatap Jong Ki, tidak menyembunyikan fakta bahwa dia sedikit keberatan dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.

“kenapa?” tanya Jong Ki sambil tersenyum lembut. “aku ingin lebih mengenal sahabatmu, kenapa aku tidak boleh?”

“bukannya begitu, dia pasti sibuk jadi lain kali saja kalian bicara saat banyak waktu luang.” Katanya kemudian dia mengalihkan pandangannya kepadaku. “benarkan Ji kau sedang sibuk?” katanya sambil memberikan sedikit kode supaya aku menolak tawaran Jong Ki.

“aku tidak sibuk sama sekali.” Kataku kepada Dara tanpa menghiraukannya yang jelas tidak suka dengan apa yang aku katakan. aku mengalihkan pandanganku kepada Jong Ki. “ayo kita makan siang bersama.” sambungku membuat Dara menatapku dengan tatapan kesal. Aku tidak memperdulikannya dan langsung berjalan kearah kantin diikuti oleh Jong Ki dan Dara dibelakangku.

“jadi ceritakan tentang kalian berdua.” Ujar Jong Ki sesaat setelah kami duduk dengan nampan makanan masing-masing. Dara dan Jong Ki duduk dihadapanku.

“Oppa.” Kata Dara lagi dengan nada sedikit memohon. Jong Ki hanya tersenyum sambil memandang Dara kemudian kembali mengalihkan pandangan kepadaku.

“aku dengar kalian sangat dekat.” Katanya melanjutkan tanpa menghiraukan Dara, aku menyendok sedikit nasi lalu memasukannya kedalam mulut.

“kata siapa kami sangat dekat?” tanyaku setelah menelan makanan.

“Dara.” katanya. “dia yang bilang, bukankah begitu Jagi?” kini dia bertanya sambil melihat Dara yang duduk dengan tidak nyaman.

“kami sangat dekat kalau begitu.” Kataku sambil melihat Dara.

“kalau begitu bisa beritahu aku apa saja hal yang sangat Dara suka dan hal yang sangat tidak dia suka?” tanya Jong Ki lagi. aku masih melihat Dara yang kini sedang menatap makanannya sambil cemberut.

“Dara tidak suka jika ada daun bawang pada makanannya.” Kataku sambil memisahkan daun bawang dari makanannya lalu menyimpannya dimakanan milikku. Dara langsung menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka, mungkin dia tidak menyangka bahwa aku akan melakukan hal itu.

“aku tidak tahu bahwa kau tidak menyukai daun bawang.” Kata Jong Ki sambil melihat Dara lalu tersenyum. “apa lagi yang mungkin tidak aku ketahui tentang Dara?” tanyanya lagi kepadaku. “tolong beritahu aku apa saja yang kalian sering lakukan dulu!” katanya lagi kini berhasil membuat Dara yang sedang memakan makanannya langsung tersedak. “kau baik-baik saja?” tanya Jong Ki sambil memberi Dara air putih dan menepuk pelan punggungnya. Dara menganggukan kepalanya dengan cepat kemudian meminum air yang Jong Ki berikan. “jadi apa yang sering kalian berdua lakukan?” tanyanya lagi sambil melihatku.

“banyak.” kataku dengan acuh.

“salah satunya?” tanyanya lagi, aku diam karena tiba-tiba aku lupa apa saja hal yang pernah kami berdua lakukan tanpa sahabat kami yang lain. “Dara sangat suka menonton film dan pergi ke bioskop.” Ujar Jong Ki lagi. “apakah kalian juga sering pergi ke bioskop bersama?” tanya Jong Ki, aku akan mengangguk saat tiba-tiba saja aku ingat bahwa aku dan Dara tidak pernah pergi ke bioskop berdua, aku ingat dia sering mengajakku tapi aku selalu membatalkan janjiku dengannya dulu karena kebetulan aku pasti mendadak ada operasi saat aku harusnya pergi dengan Dara. “Dara juga suka sekali menulis. apakah kau pernah membaca beberapa novel yang pernah Dara tulis, tulisannya sangat bagus bukan?” tanyanya lagi kepadaku, aku mengerutkan keningku karna lagi-lagi aku ingat Dara pernah memberikan sebuah draft novel kepadaku dan menyuruhku untuk membacanya. Dia bilang bahwa dia ingin aku menjadi orang pertama yang membaca novel pertama yang dia buat namun sampai saat ini aku belum pernah membaca draft yang Dara berikan dan bahkan aku lupa menaruhnya dimana. Aku menatap Dara yang kini juga sedang menatap kearahku seperti menunggu apa yang akan aku katakan tapi aku hanya diam karena tidak yakin aku harus menjawab apa. Dara mendesah kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jong Ki.

“Oppa sudahlah.” Ujar Dara pelan dengan raut wajah memohon. “dia pasti lupa, itu sudah lama sekali.” Sambungnya.

“begitu?” tanya Jong Ki kepada Dara sambil tersenyum, Dara mengangguk pelan. “baiklah kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi.” sambungnya kemudian dia mulai memakan kembali makanan miliknya. Selama beberapa saat tidak ada lagi yang bicara, kami bertiga sibuk dengan makanan masing-masing sampai akhirnya keheningan kami dipecahkan oleh suara dering yang berasal dari ponsel Jong Ki.

“Dara sepertinya aku harus kembali sekarang.” Kata Jong Ki setelah membaca pesan yang masuk. Dara mengangguk dan akan berdiri ketika Jong Ki menahannya. “habiskan dulu makananmu.” Kata Jong Ki sambil melihat nampan makanan Dara yang masih penuh. “Jiyong tolong temani Dara sampai dia selesai makan.” Ujar Jong Ki kini sambil melihat kepadaku.

“tapi Oppa.” Dara akan membantah namun dia langsung mengurungkan niatnya lalu kembali duduk. “baiklah.” Katanya akhirnya sambil sedikit menatapku.

“nanti malam aku akan datang ke hotel tempatmu menginap, kita bisa makan malam bersama.” kata Jong Ki lagi yang Dara balas dengan anggukan. “aku pergi kalau begitu.” Sambungnya kemudian mencium kening Dara sebentar. “sampai berjumpa lagi Jiyong.” katanya kepadaku yang aku balas dengan anggukan kemudian dia pergi meninggalkan aku dan Dara sendirian.

Aku menaruh sendok dan sumpit diatas meja kemudian menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi, aku menatap Dara yang masih mencoba menuruti Jong Ki untuk menghabiskan makanannya. Aku menatap Dara dengan berbagai macam pikiran dikepalaku, aku memikirkan bahwa ternyata tidak banyak hal yang aku dan Dara lakukan dulu. Aku jarang makan siang berdua dengannya, aku tidak pernah membawanya ke bioskop, aku juga tidak pernah membawanya untuk makan malam. aku tidak pernah melakukan semua hal yang mungkin Jong Ki lakukan kepada Dara sekarang. aku baru sadar dan aku sangat menyesal karena ternyata aku begitu kehilangan banyak waktu saat dia masih bersamaku.

“kenapa kau terus menatapku seperti itu?” tanya Dara tanpa melihatku, dia mungkin merasakan bahwa aku sedang menatapnya.

“Dara kenapa kau bersikap seperti ini?”

“seperti ini bagaimana?” tanyanya masih tanpa melihatku.

“kau bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu diantara kita.”

“memangnya apa yang telah terjadi dengan kita?” tanyanya kini sambil mengalihkan perhatiannya kepadaku lalu menatapku dengan dingin.

“Dara.” kataku lagi. “kau lupa? Kita bersama selama lebih dari satu tahun, kita memiliki waktu kita bersama.”

“kita memang bersama dengan yang lain sejak kita kuliah bukan? Kenapa kau bertanya?”

“demi Tuhan Dara, kau tahu bukan itu maksudku.”

“lalu apa maksudmu?”

“kita punya hubungan yang lebih dari sekedar ini Dara. aku tahu kau tidak mungkin lupa akan hal itu.” Kataku lagi. Dara hanya diam tidak menjawab apa yang aku katakan, dia hanya terus menatapku dengan berbagai macam emosi yang dia pancarkan dari sorot matanya.

“berhentilah mengatakan bahwa kau tahu segalanya tentang aku.” ujar Dara dengan tenang. “berhenti berbohong kepada dirimu sendiri Jiyong karena pada kenyataannya kau sama sekali tidak pernah mengetahui apapun tentang aku.” sambungnya sambil memakai tas miliknya. “aku mohon jangan pernah mengatakan omong kosong apapun kepada Jong Ki. Aku mohon menghindar saja jika kita tidak sengaja berpapasan dimanapun itu karena jujur aku sama sekali tidak berharap untuk bertemu denganmu lagi.” sambungnya kemudian berdiri lalu pergi dari hadapanku.

Aku terluka, bukan karena Dara menolak untuk bertemu lagi denganku, bukan karena dia menyangkal semua yang pernah kami lewati dulu. Aku terluka karena aku merasa bahwa Dara benar, aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang dia, aku hanya terus menahannya tanpa sekalipun peduli bahwa mungkin Dara terluka karena keegoisanku dulu.

Dara Pov

19 September 2013

Aku baru saja mendapat kabar baik dari pimpinan redaksi di perusahaan tempatku bekerja, beliau mengatakan bahwa aku dipromosikan untuk dipindah tugaskan ke perusahaan pusat yang berada di New York. Aku sangat senang karena ini berarti usahaku yang terus bekerja keras selama ini tidak sia-sia. Aku terus tersenyum hari ini karena ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan untukku.

Setelah keluar dari gedung tempatku bekerja aku langsung pergi menuju rumah sakit dimana Jiyong bekerja, aku ingin Jiyong menjadi orang pertama yang mendengar kabar bahagia ini jadi aku memutuskan untuk menemuinya. Ketika sampai di rumah sakit aku bertemu dengan seorang suster yang sudah aku kenal, dia mengatakan bahwa Jiyong sudah pulang sejak satu jam yang lalu.

Setelah mendengar informasi itu aku langsung keluar lagi lalu berjalan ke shelter untuk menunggu bis yang lewat di sekitar tempat tinggal Jiyong. Aku membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ditempat tinggalnya. setelah sampai di depan apartemennya aku langsung menekan bel namun tidak ada yang datang untuk membuka pintu. Aku menekan bel sekali lagi namun hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Mungkin Jiyong mampir dulu ke suatu tempat makanya dia belum pulang ke apartemennya, aku memutuskan untuk menunggu Jiyong diluar.

Aku sudah menunggu selama hampir setengah jam, aku sedikit kedinginan jadi aku terus menggesekan telapak tanganku dan saat aku akan meniup tanganku tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah kaki yang disusul oleh suara tawa. Aku yakin itu Jiyong karena aku bisa jelas mendengarnya, namun yang membuatku terganggu adalah suara lain yang terdengar dan aku yakin itu adalah suara seorang wanita. Aku mengalihkan pandanganku saat aku melihat dua orang yang kini sedang berbicara sambil tertawa, mereka semakin mendekat membuatku semakin yakin dengan apa yang aku lihat. Jiyong datang dengan seorang wanita, seorang wanita baru yang tidak aku kenal. Mungkin wanita itu adalah kekasih barunya.

Jiyong baru menyadari kehadiranku selama beberapa sesaat. Aku melihatnya memicingkan mata lalu beberapa detik kemudian dia mempercepat langkah kakinya. Aku bisa mendengar wanita yang datang bersamanya bertanya siapa aku dan aku juga bisa mendengar dengan jelas apa yang Jiyong katakan saat dia menjawab pertanyaan wanita itu, dia bilang aku adalah temannya.

“Dara apa yang kau lakukan disini?” tanyanya setelah dia berhasil sampai dihadapanku.

“eumm” kataku sambil menatap Jiyong kemudian menatap wanita yang berdiri disampingnya. Wanita itu sedang melingkarkan tangannya pada lengan Jiyong sambil tersenyum kepadaku.

“Dee?” tanya Jiyong lagi karena aku hanya diam saja. “kau sudah lama menunggu disini?”

“oh,” kataku setelah berhasil mengumpulkan kesadaranku dari rasa terkejut setelah melihat Jiyong dengan wanita lain. “aku baru datang sekitar lima menit yang lalu.” Kataku berbohong sambil tersenyum.

“lalu untuk apa kau kesini?” tanyanya. “pasti ada hal yang penting sampai kau datang kesini.”

“eumm.” Kataku sambil berpikir, tadinya aku ingin mengatakan kabar bahagia kepada Jiyong namun aku mengurungkannya. “aku datang untuk mengambil dokumen yang aku tinggalkan disini.” Kataku setelah mengingat dokumen yang tertinggal di apartemennya seminggu yang lalu saat dia mengajakku kesini. Sekali lagi aku harus berbohong untuk menutupi lukaku. “aku membutuhkannya sekarang.” Sambungku sambil tersenyum kemudian Jiyong mengangguk.

“kenapa kau tidak menghubungiku dulu?” tanya Jiyong. “aku bisa mengantarkannya ke apartemenmu jika kau mengatakan ada dokumen yang ketinggalan disini.” Kata Jiyong kini sambil menekan password apartemennya.

“kenapa? Apa aku tidak boleh datang kesini?” gumamku pelan, tidak menyumbunyikan bahwa aku sedikit kecewa dengan apa yang Jiyong katakan.

“bukan begitu maksudku.” Katanya sambil membuka pintu lalu melihatku. Setelah pintunya terbuka wanita yang datang bersama Jiyong langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan seolah dia memang sudah sering datang ke apartemen Jiyong. “Dara ayo masuk.” Ajak Jiyong kepadaku.

“aku disini saja.”

“kau kedinginan, kau bisa minum teh dulu sebelum kau pulang.” Kata Jiyong sambil memegang bahuku. Aku memegang tangan Jiyong lalu menurunkannya dari bahuku.

“aku baik-baik saja jadi aku akan tunggu disini.” Kataku.

“kau yakin tidak mau masuk?” tanya Jiyong lagi untuk terakhir kalinya, aku mengangguk dengan pasti. “baiklah tunggu sebentar.” ujar Jiyong kemudian dia masuk kedalam apartemennya. Aku menunggu selama beberapa saat sampai Jiyong kembali sambil membawa dokumen yang aku maksud. “ini.” katanya sambil menyerahkan amplop berwarna coklat kepadaku. Aku mengambil amplop itu lalu akan segera pergi saat tiba-tiba Jiyong menahanku. “aku akan mengantarmu.” Katanya.

“tidak usah.” Kataku sambil menggelengkan kepalaku.

“aku khawatir jika kau pulang sendirian.” Kata Jiyong lagi.

“kau lupa? Aku menghabiskan hampir seluruh hidupku sendirian Jiyong. aku akan baik-baik saja.”

“tapi Dara,-”

“aku bisa menjaga diriku sendiri.” Kataku lagi sebelum dia menyelesaikan apa yang akan dia katakan. Aku kemudian kembali berjalan setelah dia tidak mengatakan apapun lagi. Aku terus berjalan dengan tenang sambil memeluk amplop coklat yang aku pegang. aku terus berjalan dan berharap Jiyong akan mengejarku namun aku tidak mendengar derap kakinya. Aku berbalik untuk melihatnya namun ternyata dia sudah tidak ada. Aku kembali membalikan badanku lalu terus berjalan lurus dengan air mata yang mulai turun di kedua pipiku. Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini, aku terluka karena mengetahui dia sedang dengan gadis lain sekarang. Aku terluka karena dia lebih memilih menemani gadis itu dibanding mengejarku. Aku tidak tahu bahwa mencintai seseorang bisa sangat menyakitkan seperti ini.

20 September 2013

“Dara makanlahini aku mohon.” Bujuk Bom yang kini sedang duduk disampingku dengan memangku semangkuk bubur yang telah dia buat. “kau harus minum obat tapi kau tidak akan bisa jika tidak makan terlebih dulu.” Bujuknya lagi sambil menyodorkan sesendok bubur.

“aku tidak lapar Bomie dan aku juga tidak butuh minum obat karena aku baik-baik saja.”

“Dara lihatlah wajahmu sangat pucat, kau kehujanan sepanjang jalan dan kau masih mau bilang kau tidak apa-apa?” tanya Bom kini dengan nada sedikit kesal. Tadi malam aku sengaja pulang jalan kaki dari apartemen Jiyong sampai Bom menemukan aku yang berjalan ditengah hujan. Aku tidak ingin naik bis karena aku tidak ingin orang lain melihat aku menangis jadi aku lebih memilih kehujanan supaya air hujan dapat menyamarkan air mataku. “apa yang terjadi Dara?” tanya Bom lagi.

“tidak ada apa-apa.” Kataku dengan lemah.

“jangan berbohong, aku tahu ada yang salah denganmu beberapa bulan ini.” kata Bom lagi. “apa Jiyong menyakitimu?” tanya Bom dengan hati-hati karena aku tidak kunjung menjawabnya, aku langsung mengalihkan pandanganku kepadanya dengan tatapan bingung. Dari mana Bom tahu tentang aku dan Jiyong?

“apa maksudmu?” tanyaku. “kenapa kau membawa-bawa nama Jiyong?” ujarku sambil mengalihkan pandanganku lagi darinya.

“kau yakin bukan dia yang membuatmu kacau?” tanya Bom lagi. “aku yakin kau seperti ini pasti ada hubungannya dengan Jiyong. tadi malam alasan kenapa aku bisa tahu kau dari apartemen Jiyong adalah karena dia menghubungiku dan memintaku untuk menjemputmu karena dia khawatir jika kau pulang sendirian.” Katanya kemudian diam sebentar dan menunggu respon dariku tapi aku hanya diam saja. “jadi apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Bom lagi. “kenapa kau datang ke apartemennya lalu pulang sambil menangis?”

“tidak ada yang terjadi.” Kataku lagi. “aku hanya lelah karena pekerjaanku.” Sambungku. Kemudian Bom diam. Aku merasa sekarang Bom sedang menatapku.

“aku tahu Dara.” kata Bom tiba-tiba setelah diam beberapa saat.“aku tahu kalian berdua memiliki hubungan spesial dibelakang kami.” Kata Bomlagi berhasil mengalihkan semua perhatianku. “aku tahu sejak melihat mobil Jiyong yang menjemputmu saat kau pulang dari apartemenku, aku tahu kalian memiliki hubungan yang lebih karena aku melihat ada dua sikat gigi di kamar mandimu, dan aku yakin itu milik Jiyong.”

“aku tidak memiliki hubungan yang seperti itu dengan Jiyong.” elakku dengan putus asa.

“jangan berbohong Dara.” tukas Bom dengan sedikit keras. “kau tahu aku tidak bisa dibohongi, aku selama ini diam saja karena aku ingin mendengar semuanya langsung darimu, tapi aku tidak tahan lagi setelah melihatmu seperti ini.” Bom terus bicara namun aku tidak mencoba membalas apa yang Bom katakan. “Dara aku tahu Jiyong adalah lelaki yang baik. Dia sahabat kita dan dia memperlakukan kita dengan sangat baik, tapi apa kau yakin untuk memilih Jiyong? apakah kau yakin Jiyong akan membuatmu bahagia?” tanya Bom. “dia itu playboy Dara dan tidak ada yang bisa diharapkan dari seorang player seperti Jiyong.”

Aku mengalihkan pandanganku kearah lain, mendengar pertanyaan Bom membuat air mataku kembali turun karena apa yang Bom tanyakan adalah pertanyaan yang sama yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri dan sampai saat ini aku sama sekali belum menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaanku itu.

“Dara masih banyak pria lain yang lebih baik dari Jiyong, jadi aku mohon pikirkan lagi keputusanmu ini karena menurutku Jiyong belum cukup baik untukmu. Aku selalu berharap kau bisa bersama dengan pria yang akan membuatmu bahagia dan aku rasa Jiyong bukan orang yang tepat.” Kata Bom lembut sambil memeluk tubuhku dari samping, air mata terus turun dari kedua mataku dan kini aku sedikit terisak setelah mendengar apa yang Bom katakan barusan. “aku bukan sedang berusaha untuk mencampuri urusanmu Dara, aku hanya ingin yang terbaik untukmu.” Sambung Bom sambil mengeratkan pelukannya pada tubuhku. “pikirkan lagi tentang keputusanmu, kau tahu aku akan selalu mendukungmu dengan apapun yang menurutmu itu benar.”

Pada saat-saat seperti ini aku sangat bersyukur karena memiliki sahabat seperti Bom, dia selalu tahu ada yang salah denganku tanpa aku harus memberitahunya. Dan sekarang setelah mendengarkan apa yang Bom katakan aku menjadi semakin ragu. Mungkin Bom benar bahwa Jiyong bukan orang yang tepat untukku. Tapi aku bingung karena aku tidak ingin pergi darinya, aku tidak ingin berpisah dengan Jiyong, aku sangat mencintainya jadi aku tidak bisa meninggalkan dia.

TBC

Buat para readers yang udah pernah baca beberapa FF series aku pasti tahu dong kalau aku pasti bakal ngasih PW di setiap chapter terakhir dan karena ini FF series yang cuma 4 atau 5 chapter jadi aku harap kalian pada komentar disetiap chapter ya soalnya biar gak ribet nanti pas aku ngasih PW. Ini wanti wanti aja dari awal ya soalnya mungkin aku cuma ngasih PW sama para readers setia aja.

Thankyou for Reading my story and please make a comment!!! ^.^

Hengshoo!!

Advertisements

77 thoughts on “Back To Me [Chap. 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s