Back To Me [Chap. 1]

PicsArt_07-23-04.01.01 FF

Author : Reni Bintang

Assalamualaikum !!!
Anyeonghaseyo!!
Aloha!!
Reni dateng lagi nih sama FF terbaru.. Semoga berkenan untuk membaca ya para readers DGi yang pada baik hati!!!
Happy Reading!!!

Jiyong Pov

11 Juli 2016

Aku tahu bahwa aku mencintainya tapi aku tidak pernah tahu bahwa aku begitu mencintainya. Saat ini, saat aku melihat lagi sosoknya berdiri dihadapanku, aku sama sekali tidak bisa mengontrol detak jantungku yang berpacu dengan begitu cepat, mataku tidak bisa berpaling dari sosok bidadari itu. Seorang dewi yang sudah sejak tiga tahun yang lalu tidak pernah lagi bisa aku temui. Seorang dewi yang mampu mencuri semua perhatianku hanya dengan tawanya yang renyah, seorang dewi yang begitu saja pergi dari hidupku.

“Dara kapan kau kembali dari New York?” suara Yongbae berhasil menarik kesadaranku lagi, setelah sebelumnya aku lama menatap pada wanita itu, wanita yang akan selalu menjadi gadisku.

“dia baru kembali tadi malam dan hari ini aku berhasil membujuknya supaya mau berkumpul dengan kita semua.” Ujar Seungri yang datang bersama Dara. “kalian terkejut bukan?” tambahnya yang langsung dibalas anggukan oleh yang lainnya. Chaerin berdiri kemudian mendekat kepada Dara lalu melingkarkan tangannya pada lengan sahabatnya itu.

“Unnie kau bilang kau sibuk malam ini makanya kau menolak ajakanku tadi siang.” Ujar Chaerin dengan wajah sedikit cemberut.

“aku memang sibuk tapi Seungri benar-benar membuatku gila.” Aku merasakan jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik saat aku mendengar lagi suara itu. Suara lembut Dara. “dia terus menelponku setiap detik makanya akhirnya aku memutuskan untuk ikut.” Kata Dara kini sambil tersenyum kepada Chaerin.

“baguslah Seungri, kau melakukan hal yang benar hari ini. aku sangat berterimakasih karena kau berhasil membawa Unnie kesayanganku kesini.” Ujar Chaerin kepada Seungri. “Unnie aku benar-benar merindukanmu, sudah hampir satu tahun kita tidak bertemu.” sambungnya kini sambil memeluk tubuh Dara dengan sangat erat.

Aku mendengar suara tawanya lagi, suara tawa yang tidak pernah lagi aku dengar sejak lama. “aku juga merindukanmu, aku merindukan kalian.” Katanya sambil membalas pelukan Chaerin.

“berhenti mengatakan omong kosong Dara.” ujar Yongbae sambil berdecak. “kalau kau benar-benar merindukan kami harusnya kau selalu memberi kami kabar. Tapi kau lagi-lagi selalu menghilang tanpa jejak jika sudah kembali ke New York”

Dara menyunggingkan senyuman meminta maaf lalu duduk disofa panjang dihadapanku. “mianhae. Aku bukannya tidak ingin memberi kalian kabar.” Katanya dengan sangat lembut. “aku takut akan sangat merindukan kalian jika mendengar suara kalian makanya aku selalu menahan diriku untuk menghubungi kalian.” Sambungnya.

“jika kau merindukan kami kau tinggal pulang saja ke Korea.” Ujar Seungri sambil tertawa.

“memangnya kau pikir New York – Korea itu dekat huh?” tanya Dara sambil mendengus kepada Seungri.

“Oppa kenapa kau cuma diam saja?” Chaerin menepuk bahuku membuatku langsung mengalihkan perhatianku kepadanya.

“huh?” tanyaku dengan bingung. “kau bilang apa?”

“kenapa kau diam saja? Kau tidak senang bertemu dengan Dara unnie?” tanyanya lagi membuatku langsung melihat kearah Dara. Dia juga sedang menatapku dan setelah menyadari aku melihatnya Dara langsung menyimpulkan senyuman manisnya. Aku merindukan senyuman manisnya namun senyumannya tidak sama lagi seperti dulu.

“sejak Dara pindah kau sama sekali belum bertemu dengannya kan Ji?” tanya Yongbae sambil melihat kearahku, aku mengangguk mengiyakan.

“Hai Ji.” sapanya sambil tersenyum.

“Hai.” Balasku. “eummm… bagaimana kabarmu?”

“aku baik. Aku baik-baik saja.” Jawabnya kemudian mengalihkan pandangannya dariku. “kemana yang lain?” tanyanya kini kepada Seungri. “kau bilang semuanya sedang berkumpul? Mana Seunghyun, Bom dan juga Daesung?”

“mereka sebentar lagi pasti akan datang.” Jawab Seungri.

“Bom tidak akan datang. Dia bilang ada masalah pada EO yang dia sewa untuk menyiapkan acara pertunangannya.” Ujar Yongbae sambil mengambil soju kemudian menuangkannya pada gelas kecil. “Seunghyun hyung dan Daesung pasti akan datang sebentar lagi.”

“Nuna kenapa kau pulang dengan mendadak seperti ini?” tanya Seungri tiba-tiba. “biasanya kau akan memberitahu kami seminggu sebelum kau kembali ke Korea.”

“aku ada urusan yang harus aku selesaikan di Korea jadi aku akan tinggal selama dua minggu disini.” Ujar Dara. “lagipula aku harus menghadiri acara pertunangan Bomie jadi aku pulang sebentar.”

“jadi nanti kau akan kembali lagi ke New York?” tanya Chaerin sambil mengalihkan pandangannya kepada Dara yang dibalas anggukan kepala oleh Dara.

“kita harus menghabiskan waktu bersama kalau begitu, kau pulang sangat jarang jadi mumpung semuanya sedang ada di Korea jadi kita harus berkumpul lagi seperti dulu.” Kata Seungri dengan semangat. “aku benar-benar merindukan kita seperti dulu.” Sambungnya. “benarkan Hyung?” tambahnya sambil menepuk bahuku.

“huh?” kataku lagi dengan terbata. “iya iya.” Sambungku setelah mencerna apa yang sebelumnya Seungri katakan.

“kau kenapa sih Hyung? Kau aneh sekali malam ini. Apakah kau dan Kiko bertengkar lagi?” tanya Seungri kepadaku dan entah kenapa aku secara otomatis melihat Dara saat Seungri mengucapkan nama Kiko yang sebenarnya adalah mantan kekasihku, aku ingin melihat reaksi Dara tapi sepertinya dia biasa saja karena kini aku melihat dia mengambil air putih kemudian tersenyum kepada Chaerin seolah dia tidak peduli tentang hal itu. “Hyung?” ujar Seungri lagi kini sambil mengguncang tubuhku pelan.

“eh sorry aku hanya sedang banyak pekerjaan di rumah sakit.” Ujarku sambil melihat Seungri kemudian mengambil sebotol soju lalu langsung menenggaknya.

“Nuna kau mau minum?” tawar Seungri sambil menyodorkan segelas soju kepada Dara.

“ah mian Seungri-ah, tapi aku sudah tidak minum alkohol.” Tolaknya dengan lembut.

“wah kau benar-benar sudah berhenti minum?” tanya Chaerin dengan takjub. Dara mengangguk sambil tersenyum. “kenapa? Apa kau sakit?” suara Chaerin terdengar sangat khawatir.

“anni.” Dara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “kekasihku tidak suka jika aku mabuk.” Sambungnya yang langsung membuatku melihat kepadanya. Aku terkejut dan entah kenapa aku merasa terluka mengetahui Dara sudah memiliki kekasih.

“kau punya kekasih?” tanya Seungri, Dara mengangguk sambil terus tersenyum. “bule New York?”

“dia asli Korea juga seperti kita.”

“dia orang Korea juga?” kini Chaerin yang bertanya. “apakah kita mengenalnya?”

“sepertinya iya karena dia sering muncul di teve.”

“wah daebak.” Kata Yongbae dengan matanya yang berbinar tidak percaya. “kau pacaran dengan selebritis?” Dara kembali menggelengkan kepalanya.

“dia seorang dokter, tapi dia punya acara kesehatan disalah satu stasiun televisi swasta.”

“Unnie tolong jangan bilang bahwa kekasihmu itu adalah Dr. Song.” Ujar Chaerin sambil menutup mulutnya yang daritadi sudah terbuka lebar sejak Dara mengatakan dia punya kekasih. Aku melihat ekspresi Dara dan menunggu jawabannya karena aku juga penasaran pria seperti apa yang berhasil memiliki Dara. “Unnie kenapa kau hanya tersenyum?” tanya Chaerin lagi. “jadi benar Dr. Song yang sekarang sedang menjadi pembicaraan seluruh wanita di Korea itu adalah kekasihmu?” tanyanya lagi. aku terus mengamati Dara dan hatiku seakan diremas dengan begitu hebatnya saat aku melihat Dara mengangguk dengan senyuman yang terus menghiasi wajah cantiknya. Aku merindukan senyuman itu tapi aku tidak suka jika penyebab senyuman itu adalah namja lain.

Dara Pov

27 Januari 2013

Namanya adalah Jiyong, Kwon Jiyong . Namanya berarti naga sama dengan shio tahun lahirnya. Dia memiliki golongan darah A, dia sangat suka donat, anjing, fashion dan dirinya sendiri. Dia lebih muda dariku tapi dia sangat pintar hingga bisa masuk kedalam kelas akselarasi dan akhirnya bisa kuliah ditahun yang sama denganku. Dan karena itulah kami bertemu, kami satu kelompok saat masa orientasi siswa dan sejak saat itu kami menjadi sahabat bersama dengan beberapa orang yang lain. kami bersahabat selama kami kuliah dan terus berlanjut sampai kami memiliki pekerjaan masing-masing.

Aku dan Jiyong sangat dekat mungkin lebih dekat dibandingkan sahabatku yang lain dan saking dekatnya aku sampai tahu semua rahasia tentang Jiyong. dia seorang playboy profesional yang memiliki pacar lebih banyak daripada jari kakinya, dia seorang perayu ulung hingga semua wanita bisa dengan mudah tertipu dengan semua rayuan gombalnya dan bisa aku katakan aku adalah salah satu diantara wanita-wanita itu walaupun sebenarnya Jiyong tidak pernah sekalipun merayuku tapi entah kenapa aku bisa terpesona dan akhirnya mencintai Jiyong.

Aku tidak tahu kapan tepatnya ini semua terjadi, yang aku ingat saat itu dia mengantarku pulang sehabis kami berkumpul bersama dengan sahabat kami yang lain, aku dan dia sedikit mabuk. Malam itu aku tidak ingat apapun yang telah kami berdua lakukan dan saat pagi hari saat aku bangun dari tidur aku merasakan ngilu pada pangkal pahaku dan kemudian aku menyadari bahwa Jiyong juga tidur di tempat tidurku dengan keadaan kami berdua dalam kondisi sama-sama telanjang.

Aku dan Jiyong meyakini bahwa hal itu bisa terjadi karena kami berdua sama-sama mabuk sehingga kami tidak punya cukup kesadaran untuk menghindari semua yang mungkin telah kami berdua lakukan. namun anehnya setelah kejadian itu aku tidak bisa lagi memandang Jiyong dengan perasaan yang sama, aku tidak bisa lagi menganggapnya sebagai seorang sahabat karena setelah itu dan sampai sekarang aku menganggapnya sebagai seorang pria.

Dan anehnya setelah malam itu hubunganku dengan Jiyong menjadi sangat berbeda, kami selalu terlihat seperti biasanya jika dihadapan sahabat kami yang lain tapi sebenarnya jika dibelakang mereka kami memiliki sebuah rahasia, kami menjalin suatu hubungan tapi entahlah aku tidak tahu apa tepatnya hubungan kami ini karena Jiyong tidak pernah mengatakan dia mencintaiku atau memintaku untuk menjadi kekasihnya. Kami berciuman, berpelukan, bercinta dan melakukan hal-hal lainnya tapi sampai saat ini aku tidak bisa menyebut apa hubungan kami karena yang aku tahu Jiyong bahkan masih memiliki kekasih lain, kekasihnya yang sah.

“Dara kau sedang memikirkan apa?” tanya Bom yang  sedang menghias kue dengan serius. Aku duduk dikursi dihadapannya sambil bersidekap dimeja.

“aku tidak memikirkan apapun.” Kataku.

“kau yakin tidak memikirkan apapun?” tanya Bom penuh selidik. Aku mengangguk dengan mantap lalu tersenyum dan menegakkan tubuhku yang akhirnya membuat dia percaya. “Dara bagaimana orang yang aku kenalkan kepadamu itu?” tanya Bom tiba-tiba. Tempo hari dia mengenalkan aku kepada seorang namja yang bekerja diperusahaan yang sama dengannya.

“dia baik.”

“kau menyukainya?” tanya Bom tanpa melihatku.

“dalam konteks apa?” tanyaku untuk memastikan.

“kau tahu apa maksudku, berhentilah berpura-pura.” Katanya sambil berdecak. aku tertawa karena Bomie benar-benar ahli dalam mendeteksi hal-hal seperti ini.

“aku masih ingin sendiri.” Kataku akhirnya untuk menjawab pertanyaan Bom.

“sampai kapan?” tanyanya lagi kini sambil menaruh krim pada sebuah wadah. “kau tidak bosen apa menjomblo terus?” tanyanya lagi sambil melihatku lalu berdecak. “sudah lama aku tidak melihatmu dengan seorang pria kecuali Jiyong atau sahabat kita yang lain.” aku tersenyum menanggapi perkataan Bom. “Dara aku serius, kau butuh seseorang untuk menjagamu. Kau tidak akan selamanya bisa sendiri.” Sambung Bom yang sedang membersihkan tangannya dengan tissue.

Aku juga tahu aku butuh seorang namja untuk menjagaku tapi untuk saat ini aku merasa Jiyong sudah cukup menjagaku, hanya mereka tidak tahu saja.

“Dara pria seperti apa yang kau inginkan huh?” tanya Bom yang kini sudah menatap lurus kepadaku. “aku akan mencarikanmu namja yang sangat kau inginkan.”

“terimakasih Bomie tapi kau tidak perlu melakukan itu.” Kataku sambil tersenyum.

“apa kau sudah memiliki seseorang sekarang? Apakah kau diam-diam berpacaran tanpa bilang kepadaku?” tanya Bom sambil memicingkan matanya. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat lalu segera mengalihkan pandanganku pada kue yang telah selesai dia buat.

“wah kue buatanmu indah sekali.” Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. “pasti rasanya sangat enak. Aku ingin mencicipinya.” Kataku lagi sambil tersenyum kepada Bomie.

“sana pergi dari apartemenku. Aku tidak akan memberikanmu kue buatanku sebelum kau berkencan dengan seseorang.” Katanya sambil mengangkat kue itu kemudian menaruhnya di kulkas, saat aku akan merajuk aku mendengar suara dari ponselku. Aku segera membaca pesan yang masuk lalu langsung tersenyum dan berdiri setelah tahu bahwa Jiyong sedang menungguku dibawah, kami memiliki janji malam ini.

“Bomie aku pergi dulu.” Kataku sambil mengambil tas milikku yang berada disofa ruang tengah.

“Dara kenapa kau pulang? Kau marah ya? Kan aku cuma bercanda saat mengusirmu tadi.” katanya dengan nada suara yang lucu yang langsung membuatku tertawa.

“aku pulang bukan karena kau mengusirku Bomie, tenang saja.” Kataku sebelum membuka pintu apartemennya.

“lalu kenapa kau pulang?”

“hanya ingin saja.” Kataku sambil tersenyum senang kemudian menutup pintu apartemen Bom setelah melambai sebelumnya. Aku langsung berlari kearah lift dan dengan tidak sabar menekan tombolnya supaya aku bisa segera menemui Jiyong, sebenarnya aku sudah beberapa hari tidak bertemu dengannya jadi aku sangat merindukannya. Setelah keluar dari lift aku langsung keluar dan segera berjalan cepat kearah mobil Jiyong yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk gedung apartemen Bom.

“Anyeong.” Sapaku sambil duduk dikursi penumpang. “maaf membuatmu menunggu lama.” Sambungku sambil memakai sabuk pengaman kemudian tersenyum kepadanya. “bagaimana kabarmu?”

“aku baik-baik saja.” Katanya sambil tersenyum kemudian menghidupkan mesin mobil lalu segera melajukan mobilnya.

“bagaimana konferensinya?” tanyaku setelah kami diam selama beberapa saat.

“membosankan, kau tahu sendiri aku bukan seseorang yang bisa tahan duduk berlama-lama sambil mendengarkan berbagai macam presentasi.” Katanya sambil fokus pada jalan. “bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya balik.

“seperti biasa, membosankan.” Jawabku kemudian menatap kebawah tiba-tiba tertarik pada jari-jari kukuku. Aku ingin mendengar Jiyong mengatakan bahwa dia merindukanku tapi dia sama sekali tidak mengatakan hal itu.

“Dara ada apa?” tanyanya setelah menyadari aku yang tiba-tiba menjadi diam.

“tidak ada apa-apa.” Kataku dengan memasang senyum yang aku paksakan.

“kau lapar?” tanyanya lagi dengan suara sedikit khawatir. “kau sudah makan?”

“aku belum makan apapun sejak pagi, tadinya aku akan makan siang dengan Bomie tapi karena kau pulang aku jadi membatalkannya.” Kataku.

“kenapa kau membatalkannya?” tanya Jiyong. “harusnya kau jangan melakukan itu, lihatlah sekarang kau jadi kelaparan.”

“tidak apa-apa.” Kataku sambil tersenyum. “kau mau menemaniku makan siang, kan?” tanyaku memberanikan diri untuk mengajaknya makan, dia mengangguk kemudian tersenyum.

“Dara nanti malam kau ingin pergi kemana?”

“aku sudah memesankan tiket. Ada film bagus, kau tidak keberatan bukan?” dia kembali mengangguk lalu tersenyum. Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara diantara kami membuat suasana dimobil ini sedikit membosankan jadi aku berinisiatif untuk menyalakan radio dan mendengarkan lagu-lagu yang diputar.

Selama beberapa saat aku dan Jiyong diam dalam keheningan seperti ini lalu tiba-tiba aku mendengar suara dari ponselnya. Dia langsung mengangkat panggilan itu.

“Ya Jagiya ada apa?” katanya setelah mengangkat panggilan itu. Aku tahu bahwa panggilan itu berasal dari kekasihnya. “tentu saja aku merindukanmu.” Katanya lagi sambil sedikit tertawa, aku menghembuskan napas kemudian mengalihkan pandanganku pada luar jendela, pura-pura tertarik dengan keadaan diluar sambil mengikuti alunan lagu yang diputar di radio untuk menutupi rasa sakitku. Jiyong sama sekali tidak merindukanku tapi dia merindukan kekasihnya. Iya kekasihnya yang sah. “sekarang?” kata Jiyong setelah diam untuk mendengarkan apa yang kekasihnya itu katakan. “baiklah aku akan kesana sebentar lagi.” aku kembali menghembuskan napas setelah mendengar apa yang Jiyong katakan karena itu berarti dia akan meninggalkanku sekarang dan akan menemui kekasinya. Setelah beberapa saat Jiyong kembali menutup panggilannya kemudian aku merasakan dia melihat kepadaku. “Dara?” tanyanya dengan pelan kemudian kembali menatap lurus kedepan. “aku tidak bisa menemanimu makan siang.” Katanya kepadaku. “Sohee memintaku untuk menemuinya.” Sambungnya. Aku tahu Jiyong, aku sudah mendengarnya jadi kau tidak perlu mengatakan apapun lagi.

“baiklah.” Kataku sambil mengalihkan pandanganku lalu menatapnya sambil tersenyum.

“kau baik-baik saja kan?” tanyanya dengan suara merasa bersalah. Aku mengangguk sambil terus menyimpulkan senyumanku. “kau mau makan dimana? Aku akan mengantarmu kesana.”

“turunkan saja aku didepan sana. Disana ada restoran enak.” Kataku sambil menunjuk kedepan, Jiyong mengangguk kemudian kembali fokus pada jalan. Dia menghentikan mobilnya setelah tiba ditempat yang aku tunjuk tadi.

“Dara nanti malam aku akan menjemputmu.” Katanya sambil membantuku melepaskan sabuk pengamanan. Aku mengangguk kemudian tersenyum. “maafkan aku.” katanya lagi dengan nada menyesal sambil mengusap kepalaku dengan lembut.

“tidak apa-apa.” Kataku setelah mengambil tas milikku di jok belakang kemudian membuka knop pintu mobil dan segera keluar dari mobil Jiyong. Dia kembali melajukan mobilnya setelah aku turun. Setelah Jiyong dan mobilnya pergi aku langsung berjalan kearah shelter dan menunggu bis yang lewat ke daerah tempat tinggalku, aku tidak bisa makan dengan perasaan yang seperti ini jadi aku memutuskan untuk pulang ke apartemen.

Jiyong Pov

13 Juli 2016

Sudah dua hari sejak aku melihatnya lagi dan setiap hari selama itu yang aku lakukan adalah memikirkannya, memikirkan semua hal yang pernah terjadi dengan kami dulu sebelum akhirnya dia menghilang dan meninggalkan aku tanpa satupun penjelasan. Setelah malam itu aku meminta nomor kontak Dara kepada Chaerin, aku ingin menghubunginya namun aku tidak sanggup untuk melakukan hal itu jadi yang aku lakukan hanya memandang nomornya selama waktu luang yang aku miliki. Aku merindukannya dan aku sangat ingin mengatakan hal itu kepadanya.

“apakah pasienku masih banyak?” tanyaku kepada suster yang bertugas.

“tinggal dua lagi.” jawabnya sambil melihat papan yang sedang dia pegang.

“apakah ada operasi hari ini?” tanyaku lagi.

“tidak ada jadi dokter bebas setelah ini.” jawabnya sambil tersenyum.

“oh, terimakasih.” Kataku sambil tersenyum. “tolong panggilkan pasien berikutnya.” Sambungku.

Setelah selesai memeriksa pasien aku langsung berganti pakaian dan segera keluar dari ruanganku untuk pulang, aku sangat ingin beristirahat karena sudah dua hari ini aku sibuk karena banyak operasi yang aku lakukan.

Saat aku sedang berjalan melewati bagian unit gawat darurat, aku melihat sosok seseorang yang begitu familiar sedang berbincang dengan salah satu suster. Aku memicingkan mataku untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat dan setelah jarak kami semakin dekat aku semakin yakin bahwa yang aku lihat sekarang adalah Dara. Apa yang sedang dia lakukan disini? Apakah dia sakit? Aku begitu khawatir jadi aku semakin mempercepat langkah kakiku kearahnya.

“Dara.” ujarku setelah aku sampai ditempatnya. Dia langsung mengalihkan pandangannya kepadaku. “apa yang sedang kau lakukan disini? Apa kau baik-baik saja?” tanyaku dengan tidak sabar.

“oh.” Katanya. “aku baik-baik saja.” Sambungnya. Dia mengalihkan lagi pandangannya kearah suster yang berdiri dihadapannya lalu tersenyum dan menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaannya.

“jadi apa yang kau lakukan disini?” tanyaku lagi setelah suster itu pergi.

“aku baru saja menemui seseorang yang aku kenal disini.” Jawabnya sambil tersenyum. “dan sekarang aku sedang menunggunya.” Sambungnya.

“siapa?” tanyaku penasaran.

“Jong Ki Oppa.”

“apa mungkin Dr. Song Jong Ki?” tanyaku, dia mengangguk. Aku mengerti sekarang, jadi kekasih Dara adalah salah satu dokter utama di bagian UGD dirumah sakit yang sama denganku.

“kau sendiri sedang apa?” tanyanya. “apakah kau bekerja disini juga?” aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“apakah kekasihmu masih lama?” tanyaku. Dia menautkan alisnya lalu melihat jam tangan yang melingkar pada tangannya.

“setengah jam lagi dia selesai.” Katanya setelah memastikan jam.

“kau mau minum kopi denganku?” tanyaku dengan sedikit ragu. Aku sendiri sebenarnya tidak mengerti kenapa aku berani mengajak Dara untuk minum kopi namun aku merasa harus melakukannya karena aku benar-benar sangat merindukan dia dan mungkin dengan cara ini aku bisa sedikit mengobati rasa rinduku. “ada sebuah coffee shop di dekat sini, kalau kau tidak keberatan mungkin kita bisa minum kopi sambil menunggu kekasihmu selesai.” Sambungku.

“baiklah.” Katanya setelah agak lama berpikir. Aku sedikit menyunggingkan senyuman setelah mendengar jawabannya. Aku dan Dara kemudian berjalan kaki sampai coffee shop yang aku maksud.

greentea latte disini sangat enak.” Kataku setelah kami sudah sampai di tempat tujuan, sekarang kami sedang duduk berhadapan dikursi dekat jendela. “aku ingat kau begitu mencintai greentea.” Sambungku sambil tersenyum. Tidak ada tanggapan yang keluar dari mulut Dara yang sekarang sedang melihat buku menu.

“saya pesan Americano.” Ujarnya sambil menutup buku menu itu kemudian melihat kearah waitress yang berdiri disamping kami.

“aku Americano juga.” ujarku ketika waitress menanyakan pesananku. Setelah beberapa saat waitress itu pergi. “apa yang kau lakukan di NYC?” tanyaku kepada Dara yang kini sedang memandang keluar ;jendela, melihat orang-orang yang berlalu lalang. Aku ingat tempat favorit Dara di sebuah cafe adalah kursi yang dekat dengan jendela, karena dengan begitu dia bisa memandang orang-orang yang berlalu lalang. Dara sangat menyukai itu.

“aku bekerja disalah satu perusahaan majalah fashion disana.” Katanya sambil mengalihkan pandangannya kearahku. “kau sudah lama bekerja dirumah sakit itu?” tanyanya.

“sudah hampir dua tahun.” Kataku tanpa sekalipun mengalihkan pandanganku darinya. “bagaimana kau bisa mengenalnya?”

“huh?”

“kau dan Dr. Song.” Kataku memperjelas.

“hanya begitu saja, kami bertemu diacara perkumpulan warga Korea di NYC saat dia masih bekerja disana, kami lalu berteman baik dan sekarang kami berpacaran.”

“sejak kapan?” tanyaku lagi.

“hampir satu tahun.” Jawabnya. Setelah dia menjawab, waitress datang dengan membawa pesanan kami, saat Dara akan mengambil kopi miliknya aku melihat sebuah cincin yang melingkar dijari manisnya. Perasaanku tidak enak saat aku melihat cincin itu.

“kalian bertunangan?” tanyaku sesaat setelah waitress itu pergi. Dara langsung menurunkan tangannya ketika dia sadar bahwa aku sedang menatap cincin yang dia kenakan. Aku menunggu jawabannya dengan sedikit gugup.

“dia sudah melamarku.” Katanya kemudian dia mengambil cangkir americano lalu meminumnya. “aku pulang ke Korea sebenarnya untuk bertemu dengan keluarganya untuk membicarakan acara pertunangan kami.” sambungnya setelah menaruh lagi cangkir itu.

“kau mencintainya?” tanyaku lagi, dia sedikit menyunggingkan senyuman saat aku bertanya. dia mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela.

“aku mencintainya dan yang terpenting dia mencintaiku.” Katanya dengan pelan sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.  Hatiku sangat sakit saat aku mendengar dia mencintai lelaki lain. selama beberapa saat tidak ada lagi yang berbicara, yang terdengar hanyalah musik klasik yang diputar di cafe ini.

“Dara kenapa kau pergi?” gumamku yang berhasil mencuri perhatiannya. Dia menatapku lama dengan sorot mata dingin, aku menunggu dia untuk mengatakan sesuatu dan mungkin menjelaskan kenapa dia pergi meninggalkan aku tanpa memberitahuku terlebih dulu namun dia terus diam dan setelah beberapa lama dia menghela napas panjang seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.

“aku harus pergi karena sebentar lagi Jong Ki Oppa selesai.” Katanya sambil memakai tasnya. “terimakasih untuk ajakan minum kopinya, sampai jumpa.” Sambungnya lalu dia berdiri dan pergi meninggalkan aku yang terus menatap punggungnya yang semakin menjauh. Aku mohon berbaliklah dan kembali kepadaku, Dara.

Dara Pov

8 April 2013

Aku baru pulang dari salah satu mall besar yang berada di Seoul, aku baru saja membeli sebuah gaun cantik yang akan aku kenakan malam ini, Jiyong mengajakku untuk makan malam dan aku sangat senang makanya aku membeli baju baru karena aku berpikir semua gaun yang aku miliki terlalu ketinggalan zaman, aku ingin terlihat cantik dan anggun malam ini.

Setelah jarum jam menunjuk ke angka lima aku langsung bergegas ke kamar mandi dan langsung membersihkan diriku. Setelah selesai aku langsung duduk didepan meja rias untuk mempercantik diri dan menata rambutku.Aku bersiap lebih awal karena aku tidak ingin membuat Jiyong menunggu lama nanti jadi saat dia datang aku sudah siap dan kami bisa langsung pergi.

Setelah selesai berhias aku kembali memperhatikan gaun yang akan aku pakai untuk memastikan bahwa gaun itu tidak akan membuatku malu, aku kembali membuka lemari bajuku dan langsung mencari gaun indah lainnya lalu menyimpan dua gaun yang aku temukan di lemari pada tempat tidurku bersandingan dengan gaun yang baru aku beli. Aku memilih lagi karena aku benar-benar ingin terlihat cantik. Aku mengambil gambar dari ketiga gaun itu lalu mengirimnya kepada Bom dan Chaerin untuk meminta pendapat mereka. Setelah aku menunggu lama akhirnya aku memilih gaun yang baru aku beli karena kedua sahabatku merekomendasikan gaun itu.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika aku selesai memakai baju dan berdandan, mungkin Jiyong akan menjemputku setengah jam lagi jadi aku langsung melihat koleksi sepatu yang aku miliki lalu memilih sepatu yang paling cocok dengan gaun yang aku pakai sekarang. Setelah menemukan yang paling cocok aku langsung mengambilnya lalu memakainya.

Setelah memakai sepatu itu dan memastikan semuanya sudah sempurna aku langsung duduk disofa ruang tengah apartemenku untuk menunggu Jiyong, sesekali aku memeriksa wajahku dengan cermin yang daritadi aku pegang, terus memastikan bahwa aku sudah sangat cantik.

Sudah setengah delapan malam dan harusnya Jiyong sudah menjemputku sekarang, aku mengambil ponselku lalu dengan cepat mengetik pesan untuk Jiyong dan bertanya dia berada dimana namun aku kembali menghapus pesan itu dan mengurungkan niatku karena aku berpikir bahwa mungkin Jiyong sedang sibuk menyetir jadi dia tidak akan bisa membalas pesanku jadi aku memutuskan untuk terus menunggunya.

Aku terus melihat kearah jam dinding yang terus berdetak, Jiyong terlambat padahal dia bilang akan menjemputku pukul setengah delapan tapi ini sudah pukul delapan lebih dan Jiyong masih belum datang. Aku terus menunggu Jiyong dengan tidak sabar, aku menggigit kuku jempolku karena menjadi cemas, takut sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.

Aku mengambil ponselku lagi lalu memutuskan untuk menghubungi nomor Jiyong namun nomornya sedang tidak aktif, aku semakin cemas namun aku terus menunggunya. Aku menyandarkan kepalaku pada sandaran sofa lalu menghembuskan napas panjang. Banyak pikiran yang melintas dikepalaku sekarang, tentang Jiyong yang mungkin tidak akan datang lagi dan kembali membatalkan janjinya seperti janji-janjinya yang lain namun aku masih berpikir positif dan meyakinkan diri bahwa kali ini Jiyong pasti akan datang karena dia telah berjanji.

Aku mendengar suara dari ponselku menandakan ada pesan yang masuk, aku yang tadi sedang memejamkan mata langsung mengambil ponselku lalu melihat pesan masuk itu. Pesan dari Jiyong.

Dara maafkan aku, aku tidak bisa pergi malam ini

Setelah membaca pesan itu aku langsung mengalihkan pandanganku kearah jam dinding yang ternyata kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku kembali memandang ponselku lalu menekan tanda reply.

Ah maafkan aku Ji, aku juga lupa memberitahumu bahwa aku tidak bisa pergi malam ini karena pimpinan redaksi memintaku untuk lembur. Syukurlah kalau kau juga tidak bisa

Aku langsung menekan tanda send setelah pesan untuk Jiyong telah selesai aku ketik dan tidak butuh waktu lama aku langsung menerima kembali jawaban dari Jiyong.

Syukurlah kalau begitu, aku khawatir kau mungkin menungguku tapi aku bisa bernapas lega karena kau tidak melakukannya

Aku kembali mengetik untuk membalas pesan Jiyong.

Baiklah Ji aku harus kembali menyelesaikan pekerjaanku. Selamat malam.

Tulisku pada layar ponsel, aku menekan tanda send bersamaan dengan air mata yang mulai jatuh membasahi layar ponselku. Setelah membalas pesan Jiyong aku langsung berdiri kemudian melepaskan sepatu yang aku pakai lalu menyimpan kembali ditempatnya. Aku masuk kedalam kamarku lalu membereskan semua gaun yang berserakan diatas tempat tidur saat aku memilih baju. Aku menghapus semua makeup yang menempel pada wajahku lalu segera tidur setelahnya, berharap besok aku bisa melupakan malam yang sangat menyakitkan ini.

13 April 2013

“berhentilah minum Seungri-ah kau sudah menghabiskan banyak minuman, aku tidak ingin mengantarmu pulang lagi karena kau tidak bisa pulang sendiri.” Kata Chaerin sambil merampas gelas berisi alkohol yang coba Seungri minum dan karena ulahnya itu Seungri langsung cemberut dan kesal.

“Chae kenapa kau selalu menggangguku?” bentak Seungri yang kesal karena Chaerin merampas minumannya. “kembalikan.” Katanya lagi sambil mencoba mengambil kembali gelas miliknya namun Jiyong dengan sigap mengambil gelas dari tangan Chaerin lalu meminumnya dengan sekali tenggak. “Ya Hyung.” Ujar Seungri dengan sedikit merenggut.

“bagus Oppa.” Kata Chaerin kemudian Jiyong dan Chaerin melakukan High Five. Aku, Chaerin, Seungri dan juga Jiyong sekarang sedang bersama karena kebetulan kami sedang mempunyai waktu luang sedangkan teman-teman kami yang lain tidak bergabung karena mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

“Nuna aku kesal sekali.” Kata Seungri yang duduk disampingku. Aku tertawa melihat tampangnya yang terlihat kecewa. “hanya kau disini yang menyayangiku.” Sambungnya sambil memeluk lenganku. Aku kembali tertawa kemudian mengusap rambutnya dengan lembut.

“ya, apa yang kalian lakukan huh?” tanya Jiyong sambil menunjuk kami berdua.

“memangnya apa yang kita lakukan?” tanya Seungri dengan acuh. “mulai sekarang Dara Nuna adalah pacarku karena hanya dia yang menyayangiku.” Sambungnya lagi, aku yakin sekarang Seungri pasti sudah mulai mabuk. Dia selalu mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal jika sudah begini.

“biarkan saja, dia pasti sudah sangat mabuk.” Kata Chaerin kepada Jiyong. aku menatap Jiyong yang kini ternyata sedang menatapku, dia sedikit menggerakan bola matanya kearah Seungri, awalnya aku tidak mengerti tapi setelah Jiyong menggerakan bola matanya lagi aku sadar bahwa dia menyuruhku untuk melepaskan tangan Seungri yang memeluk lenganku. Aku menurut kemudian melepaskan tangan Seungri membuatnya kembali merenggut.

“Nuna aku dengar kau habis berkencan.” ujar Seungri tiba-tiba.

“huh apa maksudmu?” tanyaku dengan bingung.

“Chaerin bilang kau memiliki seorang kekasih.” Katanya lagi, aku mengalihkan pandanganku kepada Chaerin untuk meminta penjelasan.

“waktu itu kau mengirimkan gambar beberapa gaun dan meminta pendapatku dan Bom Unnie untuk memilih mana yang lebih bagus.” Kata Chaerin sambil melihatku. “bukankah itu artinya kau akan berkencan dan meminta pendapat kami karena kau ingin mengesankan pria itu?” sambungnya. Aku langsung menggaruk kepalaku dengan gugup. aku tidak menyangka bahwa Chaerin akan mengira bahwa aku memiliki kekasih karena hal itu. “siapa dia unnie? Siapa lelaki yang sedang kau kencani?” tanyanya lagi. Aku menatap Chaerin lalu menatap Jiyong yang duduk dihadapanku. Dia mengerutkan alisnya, aku pikir dia juga sedang menunggu jawabanku.

“kau bicara apa sih? Aku tidak memiliki kekasih. Aku terlalu sibuk untuk memikirkan hal itu sekarang.” Kataku sambil mengambil gelas yang berisi bir kemudian sedikit meminumnya.

“lalu gaun itu untuk apa?” tanyanya lagi masih tidak percaya.

“eumm,” kataku sambil mencoba berpikir. “temanku bertanya jadi aku menanyakan juga kepada kalian.” Kataku lagi kemudian tertawa canggung kepada Chaerin.

“jadi kau tidak berkencan?” tanya Seungri. aku mengalihkan pandanganku kepadanya lalu mengangguk. “kalau begitu berkencan saja denganku, aku pastikan kau akan bahagia.” Sambungnya kemudian tertawa.

“jangan dengarkan dia, dia sedang mabuk.” Ujar Chaerin kepadaku. aku mengangguk sambil tersenyum kepadanya lalu aku mengalihkan pandanganku lagi kepada Jiyong. dia masih menatapku dengan bingung. Aku salah tingkah karena terus ditatap olehnya jadi aku mengalihkan pandanganku lagi lalu kembali membicarakan hal lain dengan Chaerin.

Setelah menjelang tengah malam, kami semua memutuskan untuk pulang. Chaerin harus pergi untuk mengantar Seungri yang sudah cukup mabuk jadi dia tidak bisa mengantarku pulang. Awalnya aku berniat memesan taksi namun Jiyong menawarkan untuk mengantarku pulang, aku mengiyakan karena sebenarnya aku sangat merindukan dia karena kami belum bertemu dan saling menghubungi lagi sejak dia membatalkan acara makan malam kami waktu itu.

“Dara kenapa kau bohong kepadaku?” tanya Jiyong setelah kami sudah berada didalam mobilnya selama beberapa menit.

“huh? Aku berbohong?” tanyaku sambil melihat kepadanya. “maksudmu apa sih? Aku tidak mengerti.” Sambungku.

“kau bilang kau tidak menungguku malam itu.” Katanya lagi kini sambil melihatku kemudian kembali fokus kejalan.

“oh malam itu?” tanyaku dengan sedikit tergagap. “aku memang tidak menunggumu kok, aku kan sudah bilang kalau aku lembur malam itu.” Sambungku berbohong. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku menunggunya.

“lalu apa yang dibicarakan Chaerin tadi?” tanyanya lagi.

“aku kan sudah bilang bahwa temanku meminta pendapat.”

“berhentilah berbohong Dara.” katanya kini dengan sedikit keras. “aku yakin temanmu tidak meminta pendapatmu tentang gaun-gaun itu.”

“aku tidak berbohong, aku memang tidak menunggumu.” Kataku lagi masih teguh pada apa yang aku katakan sebelumnya. Jiyong tidak boleh tahu bahwa aku menunggunya dan terluka karena hal itu.

“lalu untuk apa kau memilih gaun?” tanyanya lagi. “kalau bukan karena menungguku apa mungkin kau menunggu lelaki lain?” tanyanya lagi dengan suara yang cukup tinggi. Aku mendesah karena ini pertama kalinya dia membentakku.

“aku menunggu lelaki lain Ji, beberapa hari yang lalu aku pergi dengan lelaki yang Bomie kenalkan kepadaku makanya aku meminta pendapat mereka tentang gaun yang harus aku pakai.” Kataku akhirnya kembali berbohong supaya Jiyong tidak lagi bertanya dan mengungkit malam itu, karena ketika mengingat malam itu perasaanku sangat sakit. Setelah mendengarku berbicara Jiyong langsung menghentikan mobilnya dengan mendadak membuatku sedikit terkejut. “ya !apa yang kau lakukan?” kataku sambil memegang dadaku karena terkejut.

“siapa dia? Siapa lelaki yang kau temui?” tanyanya dengan suara keras membentakku. Aku menatapnya dengan bingung karena dia terus membentakku dari tadi dan jujur saja hal itu membuat perasaanku terluka karena orang yang aku cintai berteriak kepadaku dengan alasan yang sangat tidak jelas.

“kenapa kau berteriak kepadaku?” kataku dengan pelan masih dengan menatapnya yang kini sedang menatapku dengan penuh emosi. “sebenarnya kau ini kenapa?” tanyaku lagi kini dengan air mata yang mulai menggumpal. Dia sedikit terenyak, mungkin karena melihat air mataku lalu pandangannya melembut kembali.

“Dara maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu.” Ujarnya sambil menghapus air mataku yang mulai turun dipipiku.

“lalu kau kenapa?” tanyaku lagi dengan lirih. “kenapa kau berteriak kepadaku?”

“aku tidak tahu Dara, aku minta maaf.” Katanya lagi kini sambil mengusap lembut wajahku. Aku menggapai tangan Jiyong lalu menghempaskannya. Aku terluka karena perbuatannya namun hanya kata maaf yang sanggup dia katakan kepadaku sekarang. Aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku tidak ingin Jiyong melihat aku menangis karena dia, aku tidak ingin dia tahu bahwa aku terluka karena begitu mencintainya. “Dara aku marah karena aku tidak suka mendengarmu bersama lelaki lain.” katanya kini sambil memelukku dari samping. “aku tidak suka memikirkanmu dengan lelaki lain.” sambungnya dengan lembut. “aku mohon jangan pernah lagi pergi dengan lelaki lain siapapun itu.”  Aku tidak mengalihkan pandanganku, aku tetap diam dalam posisiku dan terus menangis setelah mendengar apa yang Jiyong katakan. Aku mohon katakan bahwa kau cemburu, aku mohon katakan bahwa kau marah karena kau mencintaiku.Sekali saja aku ingin mendengar Jiyong mengatakan hal itu.

TBC

Sebelumnya aku ingin minta maaf dengan poster yang aneh itu, mau bagaimana lagi? aku bukan ahli dalam hal edit edit gambar jadi ya begitulah akhirnya, seadanya!

Ini sebenarnya FF series dengan sedikit chapter paling Cuma 3 sampai empat chapter dan aku harap selalu komen ya di setiap chapternya para readers-nim tercinta.

Thankyou for Reading my story and please make a comment!!! ^.^

Hengshoo!!

Advertisements

93 thoughts on “Back To Me [Chap. 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s