Behind The Scene #17

hhhh

Author : Oktyas

~~~

Satu minggu lagi Jiyong akan genap berusia 27 tahun.  Dara bingung setengah mati harus memberi hadiah apa pada Jiyong. Ini akan menjadi perayaan pertama setelah berpisah empat tahun.Dia bahkan sudah menanyakan ini pada Bom semalam. Tapi entah kenapa ia punya firasat Jiyong malah yang akan memberikan kejutan nanti saat ulang tahun laki-laki itu. Lelaki itu sudah memiliki segalanya. Mulai dari wajah tampannya, perusahaannya, kekayaannya, pamornya, dan tentu saja pacar cantiknya!

Akhir-akhir ini Jiyong sangat sibuk. Berangkat pagi, kadang sebelum Dara bangun, dan kembali saat ia sudah terlelap. Karena hal itu juga yang membuat Dara ingin memberikan kejutan untuk Jiyong.

Sandara memasuki restaurant yang sudah disewa untuk merayakan pesta rampungnya syuting Drama Paper Heart. Lampu blitz menyambut kedatangan perempuan mungil cantik itu. Sesampainya di dalam ia disambut dengan suka cita oleh para staf serta aktor dan aktris Drama Paper Heart.

“Untuk kerja keras kita semua! Cheers!” Joongki mengangkat gelas sojunya yang diikuti seluruh kru dan para aktor dan aktris.

“Untuk sutradara tampan kita!” Kata Direktur Jung yang diikuti gelak tawa satu ruangan.

“Yah! Noona!” Joongki menutupi wajahnya karena malu. “Ayo kita sampaikan kesan terakhir kita sebelum berpisah. Aku ingin mendengar dari tokoh utama drama ini. Krystal.” Lanjut Joongki.

“Aigoo. Aku sangat berterima kasih pada semua yang sudah bekerja keras. Kita sudah menyelesaikan syuting episode terakhir kita dengan lancar, dan aku berharap rating drama ini tetap menjadi di puncak sampai selesai nanti. Ini adalah pengalaman yang berharga.” Krystal membungkukkan kepalanya memberi hormat.

“Ini adalah pengalaman yang hebat, karena aku bekerja dengan orang-orang hebat. Mulai dari Joongki Hyung, Sandara Noona, Krystal, Yoobi, dan semua staf di sini. Ayo kita bertemu lagi dan membuat karya hebat lagi.” Kali ini Minhyuk menyampaikan kesannya sambil mengangkat gelas sojunya.

“Dara, ayo sampaikan kesan dan pesanmu.”

“Ini adalah pertama kalinya aku menulis sebuah drama, dan aku merasa sangat bersyukur bisa bekerja bersama kalian. Walaupun banyak masalah dan konflik yang terjadi, tapi kita tetap bisa melaluinya dengan baik. Selesainya drama ini membuatku berpikir kapan aku menulis drama lagi? karena bisa saja ini adalah drama pertama dan terakhir yang aku tulis.” Ujar Sandara dengan tenang. Jujur ia tidak tahu apakah setelah hubungannya dengan Jiyong dipublikasikan, dirinya masih bisa berkarya di dunia hiburan.

“Eonni, benarkah itu?” Tanya Chaerin yang penasaran dan kaget mendengar perkataan Dara.

“Ya aku tidak tahu dengan pasti.” Jawab Dara dengan tersenyum.

Semua orang mengobrol, makan, dan tertawa seperti tidak ada beban. Dara merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Berkumpul bersama kru dan melakukan hal-hal yang hanya dilakukan di dunia hiburan.

“Dara, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Tanya Joongki berhati-hati.

“Iya?”

“Tentang hubunganmu dan Kwon Jiyong-ssi-,” Kalimat Joongki menggantung. Ia tidak tahu bagaimana menanyakannya pada Dara, karena ia takut akan melukai perasaan gadis itu.

“Ah itu. Aku tahu kau pasti akan bertanya.” Dara tersenyum. “Kau ingin tahu detailnya Oppa?”

“Aniyo. Aku hanya penasaran. Bagaimana bisa kau bersama Jiyong sedangkan Jiyong berkencan dengan Krystal.”

“Kami sudah berkencan sejak enam tahun yang lalu. Dan karena ada suatu masalah, kami harus berpisah. Sebenarnya ini adalah kesalahanku, karena aku meninggalkan Jiyong empat tahun lalu.” Dara menghembuskan nafas pelan. “Lalu Jiyong dijodohkan dengan Krystal. Kau tahu bagaimana keadaan Jiyong saat aku kembali? Ia sama hancurnya dengan diriku. Bahkan dengan gadis sesempurna Krystal ia tidak bahagia. Aku sudah menyakitinya terlalu dalam. Aku tidak tahu apa yang kulakukan ini benar atau salah. Tapi oppa, aku ingin bahagia. Aku ingin menebus kesalahanku pada Jiyong dengan cara bertahan di sisinya. Salahkah aku?” Suara Dara terdengar serak. Sedikit mabuk karena beberapa gelas soju yang ia minum dan gejolak emosi yang membuncah di dalam dadanya.

“Aku yakin kau dan Jiyong sudah melalui banyak cobaan. Ya mungkin ini adalah cara kalian untuk bahagia.”

“Ya, kau juga harus bahagia oppa. Banyak perempuan yang tergila-gila padamu.” Dara menepuk pundak Joongki.

“Aigoo. Kalian berdua, pantas saja kalian terkena skandal. Duduk berdua tidak bergabung dengan yang lain.” Dengus Chaerin yang diikuti Minzy kemudian duduk di sebelah Dara.

“Ini pembicaraan orang dewasa, kau tahu?”

“Kau tahu eonni? Pacarmu ini mengirimiku pesan untuk mengawasimu agar kau tidak dekat-dekat dengan Joongki Oppa.” Tutur Chaerin.

“Benarkah?! Aish jinjja! Baru saja kemarin dia berjanji tidak akan cemburu dengan hal-hal yang tidak jelas.” Gerutu Dara sambil mengutuk Jiyong di dalam otaknya.

“Sepertinya Jiyong benar-benar posesif ya?” Joongki terkekeh.

“Eoh, oppa! Kau sudah tahu?” Tanya Minzy yang dibalas Joongki anggukan kepala.

“Ayo tambah sojunya lagi.” Seru Chaerin. “Sudah lama aku tidak minum.”

“Oke oke, aku akan mengambil sojunya.” Dara bangkit dari kursinya untuk meminta soju pada pelayan. Karena kurang memerhatikan saat berjalan, Dara tidak sengaja menabrak seseorang.

“Eoh, maafkan aku.” Saat Dara mendongak, terlihat Krystal dengan wajah dinginnya.

“Eonni apa kau mabuk?” Tanya Krystal. “Bagaimana bisa kau tidak fokus?” Gerutu gadis itu.

“Aniyo, maafkan aku.”

“Sepertinya sejak tidak menjadi aktris, kau bertindak sesukamu. Tapi aku tidak peduli. Ngomong-ngomong, terima kasih. Meski pun aku tidak menyukaimu, tapi aku berterima kasih karena kau memilihku bermain di drama ini. Ini pengalaman yang berharga. Sampai jumpa Miss Park. Meski pun aku tidak berniat untuk bertemu dirimu di projek selanjutnya.”

“Aku juga berterima kasih padamu. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi ke depannya. Sampai jumpa.” Mereka berdua berbalik dan berjalan saling menjauhi. Yah akhirnya mereka bisa mengucapkan salam mereka dengan cara yang dewasa, itu sudah cukup bagi Sandara.

Dia kembali ke meja dengan membawa beberapa botol soju.

“Mari kita berpesta!” Joongki mengangkat gelasnya dan bersulang dengan ketiga gadis itu.

“Sudah lama aku tidak minum seperti ini.”Kata Sandara lalu meneguk sekali habis sojunya.

“Aigoo, eonni kau tidak boleh mabuk, ingat itu.” Chaerin mengingatkan.

“Tentu saja. Jika aku mabuk Jiyong pasti membunuhku.” Gumam Dara. Ia mengambil ponsel di saku jaketnya yang bergetar.

Aku sudah di depan. Ayo pulang.

“Aigoo, sepertinya aku harus pulang sekarang.” Dara membenahi penampilannya.

“Ada apa?” Tanya Joongki sedikit kecewa.

“Aku sudah dijemput. Lagi pula ini sudah hampir tengah malam.” Dara bangkit dari kursinya dan berpamitan dengan staf, selebriti, serta rekan-rekannya.

Dara merapatkan jaketnya saat udara dingin malam menyapu kulit halusnya. Ia berjalan ke arah mobil yang sangat ia kenali. Mobil yang biasa Jiyong gunakan untuk melakukan kencan rahasia. Pintu mobilnya terbuka otomatis saat Dara sudah di depan mobil itu dan kemudian masuk.

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Dara menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang terasa membeku.

“Apa kau tidak membawa kaus tangan?” Jiyong menyalakan heater di dalam mobil.

“Aku tidak tahu akan sedingin ini.” Gerutu Dara.

“Kau menikmati pestanya?”

“Tentu saja. Aku minum banyak, tapi untungnya tidak sampai mabuk.”

“Aku akan menyeretmu keluar jika sampai mabuk. Tapi syukurlah, semuanya sudah selesai iya kan?”

“Sebenarnya masih ada fanmeeting lagi, tapi aku tidak tahu aku akan hadir atau tidak. Karena fanmeeting hanya untuk aktor dan aktrisnya saja.”

“Tidak usah menyibukkan dirimu. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama.”

“Aku juga berpikir begitu.”

“Minggu depan, ayo kita ke Hawai.”

“Hawai?! Ada apa kenapa tiba-tiba begini?” Tanya Dara panik. Minggu depan adalah hari ulang tahun Jiyong, berniat untuk memberi Jiyong kejutan, tetapi malah lelaki itu yang memberi kejutan untuk Dara.

“Apa kau punya jadwal, rencana?” Jiyong menatap Dara dengan alis berkerut.

“Tidak, tidak.” Dara menggeleng lemah. Bagaimana mengatakannya ya? Sepertinya kejutan Dara harus menyesuaikan rencana Jiyong.

“Apa kau tidak senang?”

“Tentu aku senang, tapi ini kan ulang tahunmu seharusnya aku yang memberikan kejutan, aku yang mengajakmu berlibur bukan sebaliknya.” Dan Dara mengatakan semuanya.

Jiyong terkekeh pelan, memperhatikan baik kekasihnya yang masih cemberut. “Aigoo, apa itu penting? Yang terpenting bukankah kita bersama?”

“Aku merasa menjadi kekasih yang tidak berguna.”  Gumam Dara.

“Berhenti berpikir yang tidak-tidak babe.” Jiyong menggenggam tangan Dara. “I love you.” Dara tersenyum, ia akan memastikan ini akan menjadi ulang tahun Jiyong yang tidak akan bisa laki-laki itu lupakan. Dan gadis itu tidak pernah berhenti mengucapkan syukur mempunyai Jiyong di hidupnya

***

“Hyung! Hyung!” Jiyong mengatupkan giginya dengan kesal. Suara itu sudah lima belas menit terakhir mendengung mengganggu konsentrasinya.

“Hyung! Bagaimana kau bisa meninggalkan aku sendiri?! Ajak aku ke Hawai!” Rengek Seungri sambil menghentak-hentakan kakinya.

“SEUNGRI!” Desis Jiyong, wajahnya memerah karena menahan kemarahannya yang siap meledak kapan saja.

“Hyung! Ini sangat tidak adil!” Laki-laki itu malah memanyunkan mulutnya dan menjatuhkan bokongnya di kursi di hadapan Jiyong, gagal menyadari jika sang naga sudah murka. “Aku juga ingin berjalan-jalan dengan Sandara Noona!”

“Apa kau tidak tahu jika Dara adalah pacarku?!” Sungut Jiyong sambil memberikan tatapan paling mematikan pada sekretarisnya itu.

“Aku tahu aku tahu.”

“Kau tahu, tapi kau tetap ingin berjalan-jalan dengannya?”

“Iya. Karena aku lebih suka dengan Dara Noona dari pada kau Hyung!”

“WHAT?!!”

“Ah, Hyung, aku hanya, bagaimana bisa kau meninggalkan dongsaengmu sementara kau bersenang-senang?”

“Carilah pacar, dan ajak dia untuk bersenang-senang, berjalan-berjalan. Dan sementara ini kau adalah sekretarisku, kau akan mengerjekan pekerjaanku selama aku pergi.” Kata Jiyong final.

“Tapi Hyung-,”

“Aku dengar satu kata lagi dari mulutmu, kau tamat.” Jiyong kemudian bangkit dan keluar dari ruangannya dengan membanting pintu. Kadang berada dalam satu ruangan dengan Seungri membuat kondisi tubuh tidak sehat.

Jiyong menghubungi Youngbae dan menanyakan apa semua persiapan liburannya dengan Dara sudah siap. Lelaki itu memang sudah merencanakan liburan ini jauh-jauh hari. Mulai dari hotel, jet pribadi, yacht. Dia ingin merayakan ulang tahun pertamanya bersama Dara setelah berpisah dengan moment yang tidak akan pernah mereka lupakan, dan dia berjanji untuk membuat setiap harinya dengan Dara menjadi hari yang berarti dalam hidup mereka.

“Yes all ready.” Kata Youngbae memberi laporan.

“Thanks bro.”

“Shit man, how can u escape from your shit job one week man… its too long.” Keluh Youngbae.

Jiyong tertawa. “Don’t blame me, I need a really great time to celebrate my birthday with my baby girl.”

“Dara pasti akan kecewa jika tahu kau sudah merencanakan ini sejak sebulan lalu. Melihat bagaimana Dara Noona, ia pasti ingin memberimu kejutan.”

“Kau benar. Dia marah saat aku mengajaknya ke Hawai.”

“Oke man, aku harus pergi. Pekerjaanku sangat banyak di sini karena CEO sialanku akan liburan seminggu dan meninggalkan pegawainya untuk bekerja keras.” Youngbae tertawa mendengar dengusan Jiyong dari seberang telepon.

Jiyong bergegas pulang ke apartemennya untuk bersiap-siap. Dua jam lagi jet pribadi akan datang menjemput mereka di bandara. Sesampainya di sana ia mendapati kekasihnya sedang bersantai menonton televisi dengan kaos oblong dan celana pendeknya.

“Kenapa kau belum bersiap-siap?” Tanya Jiyong sambil mengendorkan ikatan dasinya.

“Tidak usah panik Jiyong. Aku sudah bersiap-siap. Masih dua jam lagi kan?”

“Aku hanya terlalu bersemangat.”

***

Jika ada yang Anda butuhkan Mr. Kwon, telepon saja nomor ini.Dan selamatberlibur.Kata sipenjaga villa.

“Ya, terimakasih.”Jiyongdan Dara membalasnyadengansenyuman.Dara kemudian merasakan lengan Jiyong memeluk tubuhnya. Dia berbalik dan menatapnya lalu melingkarkan lengannya di pinggang pria itu dan meringis lebar layaknya anak berumur 4 tahun.

Merekaberduamemasuki villa yang sudahdisewaselamasatumingguitu. Dara tidakbisamenyembunyikan rasa takjubnyamelihatgaya villa modern minimalis, dengandindingsebagianbesarterbuatdarikaca. Ruangtamu yang langsungmenyambungdenganruangtelevisiitumempunyadinding yang menghadapkearahlaut.Pemandanganlautdanbatuankarang yang menakjubkanlangsungmemanjakanmatamereka.

“IniluarbiasaJiyong.”Bisik Dara.

Jiyongmembiarkan Dara berkelilinguntukmelihat-lihat.Di bagiandapur, yang dilengkapi mini bar, dandindingkaca yang juga menjadipintumenyuguhkanpemandangan yang tidakkalahindah.Pepohonankelapa yang rindang, satu set sofa, sertakolamrenangdenganukuransedangsiapmemanjakanmerekaberdua. Dari sinimereka juga dapatmelihatindahnyalaut yang terletak di bahahmereka.

“Oh God, bagaimanakaubisamenemukantempatsempurnasepertiini?”

“Well, akuhanyaterbiasauntukmemberikan yang terbaikuntukmu.” JawabJiyongdengansenyumanlebarnya.

“Initidakadil.”Tiba-tiba Dara menghentakkankakinya sambal cemberut.

Jiyongmembulatkanmatanyakarenapanik, “Ada apa baby?”

“Harusnyaaku yang memberikankejutanuntukmu.Tapimalahaku yang dikejutkandenganini.”Dan lagi, perempuanitumempermasalahkan yang menurutJiyongtidakadagunanya.

“Babe, kausudahberjanjitidakakanmembahasinilagikan?”

“Iya, tapi-,”

“Tidakadatapi-tapian.Selamasemingguiniakuinginkaumenikmatisetiapdetiknya di sinibersamakutanpamemikirkanhallain yang tidakmasukakal. Arasseo?”

“Arasseo.”

“Ah inibarukekasihku.Gadis yang baik.”Jiyongmengusap-usaprambut Dara bagaikananakanjing. “Sekarangayomenatakamar, setelahitukitakeluar. Makanataujalan-jalanterserahpadamu.”

“Benarakubaruingat, akucukuplapar.Ayo kitacarimakanan.”Dara bergegasmasukkekamaruntukmembongkarpakaian-pakaiannya. “Akuingin lobster asammanis, esserut, makanankhas Hawaii seperti loco moco, acai bowl, ah akulupadaftarnya, akuakanmembukamemoku.”

“Kauyakinbisamenghabiskansemuaitu?”

“Apakaumeremehkanku Kwon Jiyong?”Dara berbalikmenghadapJiyong, meletakkankeduatangannya di pinggangrampingnya, alisnyaberkerut.

“Baiklahkalaubegitu.”

Setelah selesai membereskan barang-barangnya, mereka berdua berkeliling kota dengan mobil yang telah disewa. Mereka mencari rumah makan yang sudah direkomendasikan penjaga villa. Restaurant tersebut berada di pinggir jalan, yang berseberangan dengan pantai bebas.

Setelah menghabiskan makan siang mereka, Jiyong dan Dara memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai. Bergantengan tangan. Tidak ada yang bicara, mereka membiarkan keheningan ini untuk sejenak menikmati semilir angin, dan aroma laut lepas.

“Apa kau mau bersepeda, sembari menunggu matahari tenggelam?”Tawar Jiyong sambil menunjuk penyewaan sepeda yang ada di dekat mereka. Sandara mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Akkkk!!! Jiyonggg!!! Jangan cepat-cepat!” Dara berteriak sambil memencet bel yang ada di sepedanya.

“Kau yang meminta balap sepeda.” Jiyong memelankan kecepatannya, tapi tetap tidak membiarkan Dara mendahuluinya. “Dan siap-siaplah untuk menerima hukumanmu.”

“Kau curang! Jika ini di film-film, si laki-laki akan sengaja mengalah untuk kekasihnya Jiyong.” Dara terus merengek, sambil mencoba menyejajarkan sepedanya dengan Jiyong. Nafasnya mulai tidak beraturan.

“Bangunlah sayang! Ini bukan film.” Jiyong tertawa dengan puas. Sebenarnya ia tidak ingin membuat Dara kelelahan, tapi ide untuk mengerjai kekasihnya itu terus menerus muncul di otaknya. “Malam ini pasti akan menyenangkan. Kau siap memijatku kan baby?”

“Aku membencimu Kwon Jiyong!”

***

Pada hari keempat di sana, Jiyong dan Dara menghabiskan waktu mereka dengan berselancar. Dara cukup terkejut dengan kemampuan berselancar Jiyong, karena setahu dirinya, Jiyong tidak terlalu pandai beberapa tahun yang lalu. Sedangkan Dara, menunggu Jiyong di tepi pantai, berjemur sambil menikmati kelapa muda segar.

AH kekasihku sangat tampan. Jiyong dengan rambut basahnya, membawa papan selancar berjalan ke arah Dara yang sedang berjemur di bawah payung, dengan kaca mata hitam menutupi matanya.

“Hi baby. Sudah kenyang memandangiku?” Tanya Jiyong sambil menyereput jus jeruknya.

“Ya sepertinya, kau menikmati waktumu pamer pada perempuan-perempuan bule di sana.” Balas Dara.

“Aigoo, cemburu?” Jiyong merebahkan tubuhnya di kursi sebelah Dara. “Ke mana lagi kau ingin pergi?”

“Ehm,  malam ini bisakah kita makan malam di hotel saja, di kamar kita? Badanku cukup lelah setelah seharian kemarin kita pergi ke berbagai tempat.”

“Tentu saja tidak masalah honey. Apapun untukmu.”

Malam harinya, mereka memutuskan untuk makan malam di tepi kolam renang.  Berbincang-bincang sambil menunggu pelayan datang membawakan makanan.

“Kita harus berlibur di Spanyol suatu saat nanti.” Ujar Dara sambil memainkan jemari Jiyong.

“Ehm, di sana banyak tempat yang bagus.  Mungkin untuk bulan madu?”

“Bulan madu? Wah, itu ide bagus, tapi bukankah akan lebih menyenangkan jika bisa berkeliling ke beberapa negara?”

“Tur Eropa kalau begitu.” Usul Jiyong yang disetujui Dara.

“Tapi, bukankah itu akan memakan waktu yang lama? Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Tentu saja aku akan mengambil cuti.” Jawab Jiyong santai.

“Kau selalu menyalah gunakan jabatanmu.” Dara berdiri dari tempat duduknya. “Aku ingin ke kamar mandi.” Dara menjawab  pertanyaan tak terucapkan dari Jiyong.

Bukannya pergi ke kamar mandi seperti yang ia katakan, gadis itu malah bergegas pergi ke luar untuk mengambil sesuatu. Sesuai dugaan, di depan pintu masuk sudah ada dua pelayan yang membawa satu troli berisi makanan, dan troli lain yang berisi kue ulang tahun, bunga, dan hadiah yang sudah Dara pesan. Dara meminta pelayan yang membawa makanan untuk masuk lebih dulu untuk meletakkan makanan pada meja yang sudah disediakan.

“Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. Happy birthday my jiyongi, happy birthday to you.” Dara menyanyi sambil membawa kue ulang tahun di tangannya. Jiyong yang duduk membelakangi Dara segera menoleh saat mendengar suara kekasihnya itu.

“Oh wow.” Lelaki itu tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini.

“Sekarang tiup lilinnya.” Kata Dara dengan senyum manisnya. Jiyong menutup matanya untuk membuat permohonan sebelum meniup lilinnya.

“Gomawo baby.” Jiyong mengecup dahi Dara lembut.

“Aku stres memikirikan bagaimana memberimu kejutan, karena kau sudah merencanakan agenda selama di Hawaii, nah jadi, aku meminta maaf hanya bisa memberimu ini.”

“Oh no, ini luar biasa. Kau tidak perlu meminta maaf.” Jiyong mengambil kue di tangan Dara, lalu meletakkannya di atas meja, sebelum memeluk gadis itu. “Aku mencintaimu.”

“Aku mencintaimu juga. Tapi ada hadiah yang perlu kau buka Jiyong.” Dara menunjukkan bungkusan kado di atas troli yang ditinggalkan pelayan.

“Aku ingin kau menjadi hadiahku.” Bisik Jiyong.

“Ya, aku juga, tapi itu nanti.”

“Baiklah, baiklah.” Jiyong mengambil bungkusan yang paling kecil. “Kenapa ada banyak sekali hadiah di sini?” Jiyong melihat satu per satu bungkusan hadiah yang berjumlah total lima buah itu.

“Ehm, itu, buka sajalah Jiyong. Kau akan tahu nanti.” Jawab Dara gugup.

Jiyong lalu membuka hadiah yang di tangannya.  Terdapat sebuah buku dan selembar surat.

“Golden Chance Oleh Sandy Park.” Gumam Jiyong.

“I-itu adalah buku pertama yang aku terbitkan di New York.” Kata Dara menjawab kebingungan di wajah Jiyong.

“Oh Tuhan, Dara.” Jiyong menatap Dara dengan kagum, bangga, dan takjub. Tapi bagian dari dirinya juga merasa sedih karena dia tidak ada pada sisi Dara saat hari itu. Dengan tidak sabar, Jiyong membaca surat yang terselip di halaman depan buku.

Untuk Jiyong, lelaki yang aku cintai.

Hai, bagaimana kabarmu? Ini adalah hari ulang tahunmu yang ke 23 tahun. Semoga kau bahagia Jiyong. Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, tapi aku tetap akan memberimu hadiah. Mungkin ini bukan sesuatu yang mahal, atau pun yang kau inginkan. Tapi ini yang pasti adalah sesuatu yang ingin aku bagikan untukmu. Ini adalah buku pertamaku. Aku ingin kau menjadi orang pertama yang membaca buku ini, tapi aku tahu ini mustahil. Di dalam buku ini adalah keringat, kerja keras, dan curahan hatiku.

Sepertinya cukup sampai di sini suratku, karena air mataku terus mengalir, aku tidak yakin bisa melanjutkan menulis surat ini lagi. Tolong berbahagialah, dan jaga kesehatanmu.

Yang mencintaimu, Sandara Park.

“OH SHIT BABY.” Jiyong langsung merengkuh tubuh mungil Sandara. Air matanya kini sudah jatuh membasahi rambut gadis itu. Ia tidak peduli. Membaca surat itu, mengingatkannya kembali pada masa-masa sulit tanpa Dara, wanita yang selalu ia cintai.

“Kenapa kau menangis?” Tanya Dara sambil mengusap air mata Jiyong.

“Maafkan aku karena tidak menemanimu saat kau membutuhkan. Empat tahun di sana, kau pasti mengalami hal sulit, iya kan?” Dara menggelengkan kepalanya. Ia sendiri tidak bisa menahan air matanya.

“Tidak Jiyong. Kau tidak perlu meminta maaf.” Dara menangkup pipi Jiyong, “Dan kenapa kita berdua menangis seperti ini?” Kata Dara yang membuat keduanya tertawa kecil.

“Ini salahmu. Kau membuat seorang Kwon Jiyong menangis.” Ujar Jiyong dengan mengembungkan pipinya seperti seorang bocah lima tahun. “Jangan katakan empat hadiah yang lain, itu adalah hadiah ulang tahunku sebelumnya?”

“Well, i-iya.”

“Dan di dalamnya ada surat yang cukup menguras emosi. Mataku akan sembab kalau begini caranya.” Canda Jiyong.

“Aniyoo. Kau hanya berlebihan, surat-surat itu hanya ungkapan bagaimana bersyukurnya aku memilikimu.”

Empat hadiah lainnya yaitu, sebuah patung miniatur mereka berdua, album foto mereka berdua dari mereka awal berpacaran, lukisan foto Jiyong dengan anjingnya, dan miniatur mobil lamborghini mini yang dilapisi emas.

“Ini luar biasa babe. Dan terlalu berlebihan, tidakseharusnya kau membeli hadiah sebanyak ini.”

“Aku membeli ini pada setiap hari ulang tahunmu. Dan yah, terkumpul sebanyak ini karena aku menghabiskan empat tahun tanpa dirimu.” Bela Dara. “Tapi kau menyukainya kan?” Raut wajah Dara berubah menjadi was-was.

“Tidak, tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya. Ulang tahun terbaik.” Jiyong memeluk Dara dan mencium puncak kepalanya. “Dan, aku mencintaimu.”

“Aku mencintaimu juga, tapi sepertinya kita melupakan makan malamnya.” Dara melirik ke arah makanan di atas meja yang belum tersentuh.

***

“Ini hari terakhir kita di Hawaii.” Gumam Jiyong dengan nada tidak senang. Rasanya, lelaki itu tidak ingin mengakhiri liburannya di sini.

“Ya. Kembali pada kenyataan.” Dara menanggapi sambil bersandar pada dada Jiyong. keduanya sedang bermalas-malasan di atas tempat tidur setelah menonton film, dan beberapa kali bercumbu.

“Mungkin aku harus mengambil cuti beberapa hari lagi.”

“Tidak Jiyong. Jangan gila. Kita sama-sama punya tanggung jawab yang harus diselesaikan.”

“Iya tapi-,”

“Kita masih punya banyak waktu. Bukankah kau mengatakan ingin selamanya bersamaku? Aku rasa selamanya itu cukup lama untuk menghabiskan waktu berdua.”

“Aigoo. Belajar dari mana berkata manis seperti ini?” Jiyong mencubit hidung Dara yang membuat gadis itu kesal.

“Cepat kau mandi, badanmu terasa lengket.” Dara gantian mencubit pinggang laki-laki itu.

“Oh dear, aku bukan satu-satunya yang butuh mandi di sini. Bagaimana kalau kita mandi bersama?”

“Tidak terima kasih. Aku lelah. Jangan bicara omong kosong tentang kita hanya mandi, karea aku tidak percaya.” Dara menendang Jiyong hingga terjatuh dari tempat tidur. “Go go go!”

Tiga puluh menit Dara menunggu Jiyong keluar, tapi sepertinya laki-laki itu sedang menikmati waktunya di kamar mandi. Jiyong bisa lebih parah dari kebanyakan perempuan. Menghabiskan waktu satu jam di kamar mandi untuk berendam, mandi lulur, dan bercukur.

“Jiyong aku bersumpah jika kau tidak keluar dari kamar mandi lima menit lagi, aku akan mendobrak pintunya.” Seru Dara dari kamar.

“Sebentar lagi baby. Aku sedang memakai masker.” Sahut Jiyong dari dalam.

“Damn!” Rutuk Dara pada diri sendiri. Dia mempunyai kekasih yang melakukan perawatan tubuh lebih rajin dari dirinya.

Drrttt… Drrtt… Drrttt..

Dara menoleh ke arah ponsel Jiyong yang bergetar di atas meja. “Jiyong ada yang meneleponmu. Nomor tidak dikenal.”

“Angkat saja baby.”

Dara menjawab panggilan telepon di ponsel Jiyong, “Yoboseoyo?”

“Yoboseoyo, nuguseoyo?” Jawab suara orang yang menelepon.

“Maaf, tapi ini siapa?” Dara balik bertanya.

“Bukankah ini nomor Jiyong?”

“Ya, tapi Jiyong-,”

“Babe! Bisa kau ambilkan handuk untukku?” Terdengar teriakan Jiyong dari kamar mandi.

“Neh!”Jawab Dara. “Aku minta maaf, tolong tunggu sebentar.” Kata Dara pada orang itu. Setelah memberikan handuk pada Jiyong, Dara berjalan ke ruang televisi mencoba memanggi l penelepon tersebut.

“Hallo, hallo.” Ujar Dara tapi tidak ada suara balasan, padahal panggilannya masih tersambung. “Yoboseoyo? Uhm apa anda akan menunggu Jiyong atau ada yang ingin disampaikan?” Tetap tidak ada suara.

“Sepertinya anda tidak serius dengan panggilan ini, aku meminta maaf karena aku akan menutup teleponnya.” Kata Dara cukup kesal dengan penelepon misterius ini. Ia menunggu beberapa saat, memberi kesempatan jika si penelepon membuka mulutnya.

“KYAHHHH!!!” Jerit Dara saat merasakan tubuhnya terangkat dari belakang, dan ponsel di tangannya terjatuh. “Ya Jiyong! Kau membuatku jantungan!”

“Aigoo, my baby.” Kekeh Jiyong. “Dan sekarang ini adalah waktumu mandi Miss Sandara Park.”

“Turunkan aku! Ponselmu terjatuh!”

“Aku bisa membeli ponsel baru lagi, tapi jika kekasihku bau keringat seperti ini, aku bahkan tidak bisa berganti pacar. Maka dari itu kau harus mandi.” Goda Jiyong sambil tetap menggendong Dara di pundaknya, seperti karung beras.

“YAH KAU!”

“I LOVE YOU TOO BABY!”

“SHIT!”

“OH mulut nakal harus diberi hukuman nanti.”

***

Krystal masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan campur aduk. Seharian ini ia disibukkan dengan pemotretan dan syuting produk iklan. Baru pukul sembilan ia menyelesaikan jadwalnya. Dan harus kembali syuting besok pukul empat pagi.

Ia merasa buruk tidak dapat merayakan ulang tahun kekasihnya, Kwon Jiyong. Dan karena jadwal yang sama-sama padat, dua kali ia ke kantor tidak menemukan Jiyong di kantornya, bahkan ponselnya sering tidak bisa dihubungi. Seharusnya besok ia tidak ada jadwal, tetapi karena suatu masalah besok ia diharuskan bekerja. Krystal benar-benar kesal, hari besok sudah direncanakan gadis itu untuk memberi kejutan pada Jiyong. Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Krystal mengambil ponsel dari tasnya ingin menelepon Jiyong, tapi sesaat setelah melihat kondisi ponselnya yang kehabisan batre gadis itu mengerang marah.

“Eonni, pinjami aku ponselmu. Aku ingin menelepon Jiyong Oppa.” Ujar Krystal pada Victoria, managernya. “Gomawo.” Gumam Krystal sambil mengetikkan nomor Jiyong yang sudah ia hafal. Senyum terbentuk di bibir Krystal saat mendengar sambungannya terhubung. Dirinya mulai khawatir saat panggilannya tidak diangkat. Tapi kekhawatiran Krystal menghilang seketika saat panggilannya diangkat.

Yoboseoyo?”Krystal langsung membeku saat mendengar suara seorang perempuan yang menjawabnya.

“Yoboseoyo, nuguseoyo?” Tanya Krystal dengan hati berdebar-debar.

“Maaf, tapi ini siapa?”Perempuan itu balik bertanya.

“Bukankah ini nomor Jiyong?”

Ya, tapi Jiyong-,”

“Babe! Bisa kau ambilkan handuk untukku?”  Samar-samar Krystal dapat mendengar suara Jiyong. Tangannya mendadak dingin. Babe? Jiyong memanggil perempuan itu babe? Siapa dia?

Neh!” Suara perempuan dari seberang telepon menyahuti Jiyong. “Aku minta maaf, tolong tunggu sebentar.”

Hallo, hallo.Yoboseoyo? Uhm apa anda akan menunggu Jiyong atau ada yang ingin disampaikan?Sepertinya anda tidak serius dengan panggilan ini, aku meminta maaf karena aku akan menutup teleponnya.”Krystal seperti tidak mempunyai kekuatan untuk membuka mulutnya. Hatinya terasa sakit, tapi ia juga tidak berniat menutup teleponnya, ingin menggali informasi lagi, ingin mengetahui lebih jauh lagi siapa perempuan itu, meskipun sudah cukup jelas status perempuan itu bagi Jiyong. Namun hati kecilnya masih berharap secuil keajaiban.

KYAHHHH!!!” Terdengar suara jeritan perempuan, kemudian suara debuman benda jatuh. “Ya Jiyong! Kau membuatku jantungan!”

“Aigoo, my baby.” Dan kemudian suara tawa lelaki yang ia cintai.“Dan sekarang ini adalah waktumu mandi Miss Sandara Park.” Mata Krystal membulat tidak percaya ketika mendengar sebuah nama yang tidak asing. Sandara Park?

“Turunkan aku! Ponselmu terjatuh!”

“Aku bisa membeli ponsel baru lagi, tapi jika kekasihku bau keringat seperti ini, aku bahkan tidak bisa berganti pacar. Maka dari itu kau harus mandi.”

“YAH KAU!”

“I LOVE YOU TOO BABY!”

“SHIT!”

“OH mulut nakal harus diberi hukuman nanti.”

Krystal tetap menempelkan ponsel di telinganya. Mendengar setiap suara dari seberang panggilan. Air matanya kini sudah membanjiri wajahnya. Dirinya hancur, dunianya hancur. Jadi ini alasan Jiyong tidak pernah bisa dihubungi? Apakah mereka menghabiskan waktu bersama? Merayakan ulang tahun Jiyong bersama? Sudah berapa lama hubungan mereka? Berbagai pikiran berkecamuk di pikiran gadis itu.

“Krystal, ada apa? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Victoria khawatir.

“Jangan menilai buku dari covernya. Tch, siapa sangka kepolosannya adalah topeng dirinya yang busuk?” Krystal tertawa getir sambil mengusap air matanya kasar.

TBC

***

<< Back | Next >>

Hallooo.. ketemu lagi, setelah enam bulan tidak update… Im sorry… nggak usah aku kasih tau kenapa, karena ntar malah dikiranya ngeles hehe. Yah pokoknya ada banyak kegiatan yang 100% butuh waktu, tenaga, bahkan duit aku. Wkwk. (Aktivis ceritanya) Aku gak bisa NGASIH JANJI UPDATE CEPET. Tp aku usahain.

Happy Fasting! Marhaban ya Ramadhan.

 

Advertisements

46 thoughts on “Behind The Scene #17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s