기용취 – Giyongchi: Six

giyongchi

~ Six: Entortillé ~

**

Playlist for this chapter >>

**

Noona, kenapa kau tidak pernah memberitahuku jika pernikahan Dara bermasalah?” tuntut Jiyong setibanya di rumah Bom, tempatnya tinggal selama dirinya di Korea.

Mwo?” Bom menghentikan aktivitasnya, menurunkan majalah yang tengah dibacanya dan meletakkan di atas pangkuannya. “Apa maksudmu dengan pernikahan yang bermasalah?”

Jiyong berkedip. Menatap wanita yang telah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri, dan benar-benar akan menjadi kakaknya nanti setelah ia resmi menikah dengan sepupunya. “Apakah kau tidak tahu?” tanya Jiyong pelan, menjatuhkan dirinya di sofa di samping Bom.

Wajah Bom masih menampakkan ekspresi keterkejutan, memutar tubuhnya menghadap ke arah Jiyong, punggungnya tegap. “Coba kau ceritakan dengan jelas, apa maksudmu dengan pernikahan bermasalah?!” nada suaranya tinggi. Tapi itu bisa dimaklumi, karena seingat Jiyong Bom menyayangi Dara seperti saudaranya sendiri. Mereka bahkan sudah dekat sebelum Bom menjalin hubungan dengan Seunghyun. Jiyong sendiri tak habis pikir, apa yang kemudian membuat keduanya jauh dan hilang komunikasi seperti ini. Yang pasti hal itu bukan karena Bom tidak lagi menyayangi Dara, karena bisa dilihat dari reaksinya ini, Bom masih sangat peduli dengan Dara.

“Aku sendiri juga tidak begitu paham, Noona, itulah kenapa aku bertanya kepadamu.” Ungkap Jiyong, memijat keningnya. Pertanyaannya tadi tak digubris oleh Dara, dan wanita itu malah mengalihkan pembicaraan. Tapi dari cara komunikasi Dara dan Donghae, Jiyong bisa membaca dengan jelas bahwa hubungan keduanya tidaklah sebaik yang selama ini ditampakkan.

“Kau tahu, kan, semalam aku membawa Dara ke acara pembukaan Giyongchy?” Jiyong memulai ceritanya.

Bom menganggukkan kepala, mengiyakan. Ia tahu, karena Jiyong dan Seunghyun memberitahunya, dan sebenarnya dirinya pun dimaksudkan untuk hadir, jika bukan ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.

“Kalau begitu, kau sudah membaca berita-berita yang muncul?” pancing Jiyong. Kembali ia mendapatkan anggukan kepala dari Bom.

“Lalu?”

“Donghae Lee tidak menyukai hal itu. Dia akan maju untuk pemilihan senator tahun ini dan dia tidak membutuhkan berita tentang istrinya datang ke acara resmi dengan pria lain. Dia datang dengan marah-marah tadi pagi, lupa bahwa dirinya meninggalkan anaknya yang masih berusia enam tahun sendirian, dalam keadaan sakit. Dara menemukan Haru menangis meringkuk di lantai kesakitan.”

Mworago?!” seru Bom, matanya terbelalak lebar.

Jiyong mendesah, mengusap wajahnya dengan tangan. “Ya, Dara tidak mengajak Haru ke acara pembukaan bukan karena itu bukan acara untuk anak-anak. Tidak sekali dia membawa serta Haru jika hal itu memang perlu. Tapi semalam, Donghae sudah setuju untuk menjaga Haru, dan anak itu juga sedang merindukan ayahnya. Yang jadi masalah, saat Haru melaporkan bahwa perutnya merasa sakit, Donghae mendapatkan telepon dari seorang wanita bernama Hyora – yang katanya tengah hamil – dan langsung pergi begitu saja tanpa benar-benar memastikan bahwa putrinya baik-baik saja, atau minimal menelepon Dara.

“Aku masih belum mendapatkan jawaban dari Dara tentang siapa Hyora sebenarnya, tapi untuk apa Donghae buru-buru memenuhi panggilan seorang wanita hamil yang bukan istrinya? Oh, dan satu hal lagi, Dara dan suaminya tidak tinggal serumah.”

Jiyong mendongak, menatap Bom untuk meminta jawaban. Tapi yang ditatap malah menatap kosong, seolah masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.

Jiyong kembali mendesah, mengerti apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran dan hati Bom. Ia pun masih merasa belum percaya dengan semua yang diketahuinya hari ini.

“Aku tidak pernah tahu…” akhirnya Bom tersadar dari pikirannya. “Kupikir dia hidup dengan bahagia…” suaranya lirih. “Kami sudah jarang bertemu, tapi setiap kali mendapatkan kesempatan untuk bertemu, dia selalu terlihat bahagia… dan… dan aku masih sulit menerima keputusannya untuk meninggalkanmu dulu…” terdengar nada sesal dalam suaranya.

Jiyong tidak bisa berkomentar, tidak jika melihat ekspresi yang ditunjukkan wajah Bom saat ini. Wanita itu mengerutkan keningnya, berpikir dalam. Jiyong sangat mengerti, karena ia yakin akan mendapati dirinya memasang ekspresi serupa jika saja dia mau menyempatkan diri untuk bercermin.

**

Dara menatap wajah damai putrinya yang tengah terlelap. Haru adalah satu-satunya hal yang membuatnya tidak merutuki hidup. Satu-satunya hal baik yang tak hentinya ia syukuri semenjak keputusan bodohnya tujuh tahun lalu. Tapi, jika dia tidak bertindak bodoh waktu itu, dia tidak akan memiliki Haru.

Perlahan, dilepaskannya pelukan Haru pada lengannya. Tidak ada yang salah pada Haru, begitu kata psikolog anak yang didatanginya dulu. Ketakutan Haru untuk tidur sendiri itu beralasan, anak-anak memang memiliki daya imajinasi yang sangat aktif. Meskipun Haru mengatakan dia takut akan dimakan monster, namun Dara memiliki dugaan lain yang lebih masuk akal.

Walaupun ayahnya hanya sejangkauan tangan, tapi nyatanya Haru besar tanpa sosok ayah yang bisa dijadikannya sebagai tempat berlindung. Sosok Donghae hanyalah orang yang putrinya panggil sebagai abeoji – bahkan Dara tidak tahu sejak kapan panggilan Haru pada Donghae berubah dari appa menjadi abeoji. Dia ingat Haru kecil masih memanggil Donghae dengan sebutan appa, tapi pada suatu hari panggilan itu berubah begitu saja tanpa alasan yang jelas.

Kesibukan Donghae membuatnya jarang memiliki waktu untuk Haru. Ditambah lagi dengan kondisi pernikahan mereka yang sama sekali tidak berlandaskan ikatan cinta. Keduanya sudah sama-sama belajar, tapi memang perasaan mereka untuk satu sama lain tidaklah lebih dari sekedar rasa simpati. Dan kenyataan bahwa sudah ada nama orang lain yang tertulis di hati masing-masing semakin mempersulit keadaan.

Seandainya saja…

Omma…” lirih suara Haru membuyarkan pikiran Dara. Segera perhatiannya teralih pada putrinya yang masih terpejam, bibir mungilnya bergerak-gerak memanggilnya. Gadisnya gelisah dalam tidurnya.

“Shhh… gwenchana, Omma di sini, Sayang…” bisiknya di telinga Haru, menenangkan. Direngkugnya kembali Haru ke dalam pelukannya.

Tidak ada kata seandainya. Baginya hidupnya sekarang adalah Haru. Menyesali keputusannya dulu berarti menyesali keberadaan Haru. Dan kata-kata menyesal tidak pernah sedikit pun terlintas di benak Dara jika menyangkut tentang putrinya.

**

Jiyong menatap nanar kekasihnya yang masih bersorak senang. Senyum dan tawa gadisnya nyaris mampu menghapus kegundahan yang kini tengah dirasakannya. Nyaris.

Jika saja dia tidak dihadapkan pada pilihan untuk pergi meninggalkan gadisnya dalam kurun waktu yang lama, pastilah dia pun akan ikut bergembira. Tapi… lima tahun bukanlah waktu yang lama.

Oppa, kenapa wajahmu tidak tampak senang begitu? Harusnya kau tersenyum,” ujar kekasihnya, menarik paksa kedua sudut bibir Jiyong agar membentuk sebuah senyuman. “Nah, begitu!” dia tampak puas dengan hasil kerjanya.

Jiyong meraih kedua tangan gadisnya yang masih memegangi wajahnya, menggenggamnya. Jiyong selalu merasa dirinya memiliki tangan yang kecil, tapi setiap kali melihat tangannya menggenggam tangan gadisnya, anggapannya berubah. Tangan gadisnya jauh lebih kecil, terlalu kecil untuk ukuran seorang wanita dewasa.

“Jika aku tidak tahu pasti, aku pasti akan menganggap kau merasa senang aku harus pergi jauh.” Ungkap Jiyong, menatap tangan kekasihnya yang berada dalam genggamannya.

Oppa…” dari suaranya, Jiyong tahu kekasihnya tidak lagi tersenyum.

“Apa sebaiknya kutolak saja?” tanya Jiyong, kali ini mendongak untuk menatap langsung wajah kekasihnya.

Mata gadisnya langsung melebar mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibirnya dan otomatis menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Andwe!” tegasnya. “Ini adalah mimpimu, Oppa, dan kesempatan seperti ini tidak selalu datang dua kali.” Nasehatnya.

“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak pernah membayangkan akan dihadapkan pada pilihan di mana aku harus meninggalkanmu…”

“Aku akan marah padamu jika kau sampai bertindak bodoh, Oppa!” ancamannya memotong perkataan Jiyong.

“Tapi ini Paris…”

“Apa kau sudah dengar tentang pesawat terbang?”

“Tapi lima tahun…”

“Apa kau pikir aku tidak akan mengunjungimu di sana atau kau pikir aku tidak akan menyuruhmu pulang saat kau memiliki waktu luang?”

“Tapi…”

Oppa! Berhenti mencari alasan!”

**

Memandangi gedung bercat aneka warna di hadapannya, Jiyong tak bisa menahan tawanya. Seumur hidup, tak pernah ia membayangkan mau masuk ke tempat seperti ini. Tapi…

“Papa Jiji!” seruan kecil menghentikan langkahnya. Hanya sesaat, karena kemudian dia menyegerakan diri untuk menghampiri sosok kecil yang telah mencuri hatinya – bahkan sejak tangisan pertama.

Aigoo, uri Haru…” dia membungkuk untuk menangkap Haru yang berlari dan melemparkan tubuh kecilnya ke arahnya. “Aigoo… baru kemarin, tapi kenapa kau berat?” dia pura-pura protes.

“Hihihi…” Haru terkikik geli dalam gendongan Jiyong dan hanya membenamkan wajah di bahu pria itu.

Menyadari bahwa mereka tidak sendiri, Jiyong membungkuk memberi salam kepada dua guru Haru yang rupanya mengikuti gadis kecil itu ketika berlari menghampirinya. “Annyeonghaseyo,” sapanya.

Kedua guru Haru balas membungkukkan badan dan tersenyum.

Omma eoddiya?” pertanyaan Haru menarik kembali perhatian Jiyong.

Omma sedang dalam perjalanan,” jawab Jiyong singkat, merasa tidak perlu menjelaskan lebih jauh kepada Haru. Terlebih dua orang guru Haru mendengarkan percakapan mereka.

Sebenarnya hari ini dia tidak berencana untuk menjemput Haru. Tapi tadi saat menelepon Dara untuk mengajak wanita itu dan Haru makan siang, Dara memberitahunya dia sedang dalam perjalanan menjemput Haru. Dan karena lokasinya saat itu tidak jauh dari sekolah Haru, diputuskan bahwa mereka akan bertemu di sekolah Haru.

“Jiyong-ssi, bolehkan saya meminta tanda tangan? Saya adalah fans Anda,” satu dari guru Haru bersuara, membuat Jiyong mengalihkan pandangannya dari gadis kecil dalam gendongannya.

“Oh, neh. Tentu.” Jawabnya tersenyum.

Mendengar jawaban Jiyong, guru itu segera berlari ke dalam ruangan, mungkin untuk mencari pulpen dan kertas, diikuti oleh temannya. Saat dia kembali menatap gadis kecil yang tengah digendongnya, Haru tengah menatapnya dengan kerutan di kening.

“Papa Jiji,” panggilnya dengan ekspresi serius.

“Neh?”

“Tanpa tangan itu apa?” tanyanya mendesak dengan mata lebarnya yang membulat penuh.

Jiyong tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Haru dan ekspresi yang ditunjukkan gadis kecil itu kian menambah kelucuannya.

“Tanda tangan, Haru-ya, bukan tanpa tangan.” Jawab Jiyong setelah tawanya usai. Namun kemudian otaknya berpikir keras mencari penjelasan yang bisa mudah dimengerti oleh gadis kecil seusia Haru. “Bagaimana kalau kutunjukkan saja?” putus Jiyong pada akhirnya, gagal mendapatkan penjelasan.

**

Jiyong menginjak pedal gas hingga maksimal, tidak mempedulikan dengan tanda peringatan yang terdengar karena dia mengemudi melewati batas kecepatan yang seharusnya. Amarahnya tak lagi bisa dibendung setelah dua jam dicobanya untuk menahan diri saat sedang bersama Dara dan Haru. Apa yang disampaikan guru Haru tadi padanya benar-benar membuatnya murka.

“Donghae-ssi tidak pernah datang menjemput Haru. Jika bukan karena Sandara-ssi  dan Donghae-ssi masih sering muncul berdua di TV, kami pasti akan beranggapan mereka telah bercerai dan Haru diasuh oleh Sandara-ssi.”

Jiyong tak habis pikir, apa yang dilakukan bajingan itu sampai meluangkan waktu untuk datang ke sekolah putrinya sendiri pun tak bisa? Dari pengakuan guru yang lain, selalu hanya Dara yang datang bahkan saat pertemuan orang tua murid yang harusnya didatangi oleh kedua orang tua.

Tidak mengindahkan tanda dilarang parkir, Jiyong melompat keluar dari mobilnya setelah dia mematikan mesin. Seorang satpam berlari menghampiri, tapi dia tidak punya waktu untuk ini. Tanpa pikir panjang, Jiyong melemparkan kunci mobilnya kepada si satpam dan melanjutkan langkahnya.

“Donghae Lee, di mana ruangannya?” tanyanya pada resepsionis.

“Ruangan Tuan Lee ada di lantai 20, tapi…” belum selesai jawaban yang diberikan oleh sang resepsionis, Jiyong sudah pergi menuju ke lift terdekat, tidak mengindahkan teriakan yang ditujukan padanya.

Ketika beberapa petugas keamanan datang menghampiri, pintu lift yang akan membawa Jiyong menemui Donghae sudah terlanjur menutup. Beruntung hanya ada dia sendiri di dalam box lift saat ini. Entah apa yang akan dilakukannya jika ada orang lain di dekatnya sekarang.

Setelah rasanya selamanya, akhirnya lift berhenti di lantai yang dituju Jiyong. Tak sabar, dia menerobos keluar bahkan sebelum pintu lift membuka sempurna. Baru saja dia berniat untuk membuka satu per satu ruangan yang ada di lantai ini, orang yang dicarinya muncul dari ujung koridor.

Donghae tak sempat menyapa Jiyong, karena belum sempat mengeluarkan suara untuk menanyakan maksud kedatangan Jiyong, sebuah tinju mendarat di pipinya.

“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, Donghae Lee!” raung Jiyong murka, mencengkeram dasi dan kerah kemeja Donghae.

Beberapa orang yang kala itu sedang berjalan bersama Donghae berusaha melepaskan cengkeraman Jiyong dan menjauhkannya dari Donghae. Tapi Jiyong yang tengah dilanda amarah tidak mudah ditenangkan begitu saja.

“Apa masalahmu? Kenapa kau tiba-tiba datang ke mari dan memukulku?!” Donghae ikut tersulut emosi, mengusap hidung dan sudut bibirnya yang berdarah setelah akhirnya orang-orang yang bersamanya berhasil melepaskan dirinya dari cengkeraman Jiyong.

“Kau masih berani bertanya padaku?! Hah!” Jiyong kembali berusaha merangsek maju, namun ditahan oleh orang-orang yang tadi melepaskan cengkeramannya.

“Apa maksudmu? Aku tidak merasa punya masalah denganmu, sial!”

Jiyong mendengus mendengar penuturan Donghae. “Tidak punya masalah katamu? Apa kau siap mendengarkan apa masalahku padamu di sini? Di depan orang-orang ini?” seringai Jiyong.

**

~ To be Continue ~

sj logo giyongchi

<< Back  Next >>

 

Advertisements

21 thoughts on “기용취 – Giyongchi: Six

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s