Behind The Scene #16

hhhh

Author : Oktyas

~~~

“Jangan lupa untuk datang besok oke?” Dami tersenyum lebar kepada Jiyong dan Dara sambil menggandeng bocah laki-laki imut berusia lima tahun, putranya.

“Kami akan datang jangan khawatir.” Jiyong mengantar Dami menuju pintu keluar diikuti Dara. Dami dan putranya,  Yojin pamit untuk pulang setelah makan malam bersama.

“Apa hadiah untuk ulang tahun Yojin besok?” Tanya Dara setelah Dami pulang.

“Apa saja yang kau suka. Besok kita bisa belanja.”

“Jinjja?! YESS! Yojin sangat menggemaskan.”

“Tapi Dara, apa kau tidak gugup bertemu keluargaku besok?” Tanya Jiyong khawatir. Tapi jika Dara gugup memang pantas karena sudah empat tahun mereka tidak bertemu. Dan status Jiyong yang bukan lagi kekasih Dara di mata mereka.

“Tentu. Tapi, kau akan membantuku kan Ji?” Dara menatap Jiyong tersenyum.

“Tentu sayang. Aku akan di sampingmu selalu.”

Lalu dengan perlahan, Dara membuka pintunya, dan menampilkan sosok Dami dan seorang bocah kecil berusia sekitar empat tahun berdiri di sampingnya.

“Hai, selamat sore.” Kata Dara gugup tidak tahu apa yang harus ia katakan.

“S-sandara?!”

“Dami Eonni.” Suara Dara terdengar seperti bisikan.

“God, kau benar-benar Sandara kan?” Dami memegang kedua pundak Dara. “Akhirnya kau kembali juga.”

“Neh. Eoh, Dami Eonni silahkan masuk.” Kata Dara dengan canggung.

“Di mana Jiyong?” Dami duduk di sofa bersama anak laki-lakinya.

“Dia masih di kantor.”

“Tolong hubungi dia, dan suruh dia pulang. Aku ingin berbicara padanya karena sudah menyembunyikanmu.” Dara mengirim pesan pada Jiyong dan memintanya pulangg.

“Arasso. Tapi eonni, tentang itu aku yang meminta Jiyong untuk tidak memberitahu siapa-siapa dulu.” Jawab Dara merasa takut, canggung, gugup menjadi satu. Dulu saat ia bersama Jiyong, dirinya dan Dami berteman dekat. Ia sudah menganggap Dami seperti kakaknya sendiri.

“Iya tapi Dara kau tahu betapa kacaunya ini? Dan adikku yang malang harus terjebak dengan gadis cengeng itu.”

“Mianhae eonni.” Dara menundukkan kepalanya.

“Aniyo. Kau tidak perlu minta maaf karena ini bukan salahmu. Aku tahu kau pergi meninggalkan Jiyong karena halmeoni. Benar kan?”

“B-bagaimana eonni tahu?” Matanya melebar karena terkejut.

“Aku mendengar halmeoni berbicara pada appaku. Dan karena dia, hidup kalian berdua benar-benar berantakan.”

“Kau tidak memberitahukannya kepada Jiyong kan?”

“Tidak. Karena aku yakin adikku bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”

“Eoh eonni, ngomong-ngomong siapa bocah menggemaskan ini?” Tanya Dara mencubit pipi chubby bocah itu.

“Apa kau tidak ingat? Tentu dia putraku. Namanya Yojin. Say annyeon pada Dara imo.”

“Aigoo, apa aku sudah setua ini sampai dipanggil imo.” Gerutu Dara.

“Aishh kau bahkan sudah pantas untuk memiliki anak sendiri Dara.”

Kedua wanita itu memutuskan memasak untuk makan malam. Dan meninggalkan Yojin di ruang televisi, karena bocah itu sibuk menonton acara kartun favoritnya. Dan setelah hampir satu jam mereka berdua akhirnya mereka selesai memasak dan menata makanannya di meja. Bersamaan dengan itu terdengar suara Jiyong memasuki rumah.

“Aku pulang.” Teriak Jiyong dari pintu masuk.

“Aigoo kenapa dia harus berteriak-teriak seperti itu.” Cibir Dami.

“Noona, ada apa kau kemari?” Tanya Jiyong saat ia memasuki dapur.

“Kenapa? Kau tidak senang melihatku?!”

“Bukan begitu noona.”

“Dasar kau tidak tahu terima kasih. Dan kenapa kau tidak memberitahu jika Dara kembali?”

“Kau tahu kan ini rumit.”

“Aku tahu ini masalah rumit . Maka dari itu beritahu aku, aku akan membantumu bodoh!” Dami menjitak kepala Jiyong sebal.

“Kau, kau tidak marah noona jika aku kembali pada Dara?”

“Untuk apa aku marah? Lagi pula aku lebih sayang pada kebahagianmu dan Dara dari pada pada perusahaan ini.”

“Aigoo. Kau adalah noona terbaik.” Jiyong memeluk Dami.

“Tapi jangan lupa, keponakanmu satu-satunya besok berulang tahun dan aku ingin kalian berdua datang oke?”

“Apa?! noona?! Apa kau gila?!” Jiyong seolah dijatuhi bom setelah mendengar Dami meminta ia dan Dara datang.

“Eonni, sepertinya itu kami belum bisa melakukannya. Jika hanya Jiyong yang datang itu tidak masalah, tapi aku? Tidak eonni aku bekum siap.” Ujar Dara sepemikiran dengan Jiyong. Pada pesta ulang tahun itu pasti akan hadir keluarga Jiyong yang lain, dan status Dara sebagai mantan kekasih Jiyong pasti akan membuat suasana menjadi canggung.

“Aku tidak mau tahu kalian berdua harus datang. Dan Jiyong, apa kau berencana menyembunyikan Dara selamanya? Karena Dara bukanlah perempuan yang harus disembunyikan.” Kata Dami tegas yang membuat pasangan tersebut terdiam.

“Noona kumohon.”

“Ayo ikut aku. Kita perlu bicara.” Dami menarik tangan Jiyong keluar dari dapur meninggalkan Dara yang merasa takut.

“Ada apa lagi noona?”

“Nenek sedang merencanakan pernikahanmu dengan Krystal. Dan aku ingin kesempatan ini kau gunakan untuk menggagalkan rencananya.”

“Aku sudah bilang kepada nenek jika aku tidak akan menikah dengan Krystal.”

“Memangnya nenek akan menurutimu Jiyong? Tidak! Gunakan kesempatan ini untuk membuat nenek mundur. Lakukan apa saja! Jika nenek mulai mengancam perusahaan, kau kan CEO-nya dan saham terbanyak juga ada padamu.” Dami mengatakan ini semua hanya ingin melihat adiknya itu bahagia. Setelah dua tahun hidup seperti robot. “Lagi pula ayah juga tidak setuju kau menikah dengan Krystal.”

“Oh Noona! Aku sangat mencintaimu!” Jiyong memeluk Dami dengan erat. “Aku akan memastikan rencana nenek gagal.”

“Itu baru lelaki sejati.” Dami menepuk pundak adiknya.

***

“KAU! Bisa-bisanya kau tidak pernah menghubungiku?!” Tanya Bom dengan bersungut-sungut.

“Sepertinya perlu diluruskan sedikit. Aku menghubungimu, tapi kau selalu mengatakan kau sedang sibuk. Oh iya aku lupa. Kau sibuk berpacaran dengan Seunghyun.” Kata Dara santai sambil memasukkan barang belanjaan ke dalam troli.

“Tapi setelah itu kau tidak menghubungiku lagi. Dan bahkan kau berselingkuh dengan Joongki.”

“Oh My GOD! Jaga mulutmu!” Desis Dara melihat situasi sekitar. Meskipun mereka berdua menggunakan masker dan topi, tapi siapa tahu ada yang mengenali mereka berdua. “Kita di tempat umum Bommie!”

“Oke oke. Dan kenapa kau berbelanja sendirian tapi mengenakan atribut penyamaran?”

“Aku menunggu Jiyong. Kami akan membeli hadiah ulang tahun untuk Yonji, keponakan Jiyong.”

“Sekarang kau sudah berani berkencan di tempat umum?”

“Tunggu, aku dan Jiyong selalu kencan di tempat umum. Kami adalah ahlinya dalam bidang penyamaran.” Dara menepuk dadanya dengan bangga. “Sepertinya kau harus berlatih padaku jika kau ingin berkencan dengan Seunghyun dengan bebas.”

“Jinjja. Apa sih yang dibanggakan dengan itu.” Dengus Bom.

Mereka berdua memutuskan menunggu Jiyong sambil beristirahat di café yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Untungnya tidak terlalu ramai karena ini bukan hari libur. Dan tepat saat pesanankeduanya datang, terlihat Joongki berjalan ke arah meja mereka.

“Dara!” Seru Joongki dengan sumringah. “Oh, Park Bom-ssi, apa yang kalian lakukan di sini?”

“Berbelanja, kau tahu girls time. Duduklah oppa.” Pinta Dara.

“Apa yang berbelanja? Jelas-jelas kau sedang menunggu kekasihmu ke sini.” Cibir Bom sambil menyesap jus mangganya.

“Jadi kekasihmu akan datang?” Tanya Joongki dengan senyum getirnya. Hatinya masih terasa perih mengingat perempuan yang disukainya sudah memiliki seseorang istimewa di hatinya.

“Ehm neh.” Jawab Dara dengan gugup. Bagaimana jika Jiyong dan Joongki bertemu?

“Apa aku mengganggu?” Tanya Joongki khawatir. Ia takut jika kekasih Dara marah dengannya karena gosipnya dengan Dara.

“A-aniyo Oppa. Kenapa kau harus mengganggu?”

“Ya berharap saja kekasihmu itu tidak menyemburkan apinya saat datang nanti.” Ujar Bom dengan polosnya.

“Tolong jangan hiraukan dia Oppa.” Dara memberikan tatapan sengit pada sahabatnya itu yang tidak diacuhkan sama sekali.

Mereka asyik mengobrol, tidak memerdulikan pengunjung lain yang datang, karena memang tempat mereka berada di dalam ruang VIP yang tidak bisa dimasuki sembarangan orang. Tiba-tiba Dara merasakan seseorang mencengkeram pundaknya pelan.

“Hei babe.” Bisik orang itu di telinga Dara. Tanpa harus menoleh pun ia tahu siapa pria di belakangnya. Jiyong menempati kursi kosong di sebelah Dara. “Apa kau sudah menunggu lama?” Tanyanya tanpa melepaskan masker hitamnya yang menutupi separuh wajahnya.

“Tidak. Hanya beberapa menit cukup untuk mengobrol.”

“Ah, sepertinya kau punya teman lain. Aku kira kau hanya bersama Bom Noona.” Jiyong mengamati Joongki yang terlihat gugup dengan tatapan tajamnya di balik kaca mata hitam yang ia pakai.

Bom tertawa, ia tahu betul betapa gugupnya sahabat itu. “Kita hanya bertemu di sini Ji.”

“Aku Joongki.” Joongki mengulurkan tangannya yang diterima Jiyong.

“Ya, siapa yang tidak mengenalmu Joongki-ssi? Kau cukup sering dibicarakan akhir-akhir ini.” Timpal Jiyong yang mengingatkan sutradara muda itu akan gosipnya dengan Sandara.

“Apa kau mau memesan minum?” Tanya Dara mencairkan ketegangan yang tiba-tiba tercipta.

“Tidak perlu. Kau tidak keberatan berbagi minum kan?” Jiyong mengambil gelas berisi jus apel milik Dara sebelum gadis itu bisa menjawab. Jiyong menurunkan maskernya untuk memudahkan ia meminum jus apelnya.

Joongki di sisi lain sangat terkejut saat mengenali wajah di balik masker itu. Kwon Jiyong?!! Yang benar saja? Matanya tidak menipukan?

“Sepertinya ini waktunya aku pergi. Oh ya Jiyong, aku ingatkan padamu tolong jangan sembunyikan Dara untuk dirimu sendiri! Aku juga berhak!” Gerutu Bom.

“Aku tidak menyembunyikannya noona. Tapi dia sendiri yang ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganku. Iya kan babe?” Jiyong mengedipkan matanya dengan genit ke arah Dara.

“GOSH! Kekasihmu itu amit-amit!” Bom membelakkan matanya, dan memberikan tatapan jijik pada Jiyong.

“Kalian berdua hentikan. Ini di tempat umum demi apa pun.” Pinta Dara menatap Bom dan Jiyong bergantian.

“Noona just go already, its our date time.” Kata Jiyong dengan suara imutnya. Sepertinya ia lupa akan keberadaan Joongki yang duduk di depannya dan melihat mereka semua dengan mulut terbuka karena terlalu terkejut melihat Kwon Jiyong melakukan aegyo.

“Joongki Oppa, maafkan aku, tapi kami harus pergi.” Dara mengatakan dengan perasaan bersalah.

“Its okay. Nikmati kencan kalian.” Balas Joongki dengan tersenyum.

“Lain kali ayo kita bertemu, iya kan Ji?”

“Of course. Lets meet again next time.” Jiyong memasang dan Dara memasang kembali masker mereka. Jiyong merangkulkan tangannya di pundak Dara.

“See you Oppa!” Seru Dara tersenyum di balik maskernya yang di balas lambaian tangan Joongki.

Jiyong dan Dara beralih ke tempat baju-baju anak, mencari baju yang cocok untuk Yojin. Dara dengan antusias memilihkan pakaian-pakaian mana yang akan ia jadikan sebagai hadiah ulang tahun bocah menggemaskan itu.

“Yang ini atau yang ini?” Dara bertanya pada Jiyong tapi laki-laki itu hanya diam saja. “Jiyong?”

“Tch. Kenapa kau tidak tanya dengan Joongki saja?” Balas Jiyong dengan lesu.

“Aku kira kita sudah membicarakan ini.” Dara menghela nafasnya dengan sedikit jengkel. “Apa yang membuatmu marah Jiyong?”

“Dia menyukaimu Dara. Aku bisa melihatnya dari matanya.” Ujar Jiyong. Jika saja Joongki tidak menyatakan perasaannya pada Dara, gadis itu akan tidak percaya dengan perkataan Jiyong.

“Lalu?”

“Tentu saja aku merasa cemburu. Dia selalu akan mencari perhatianmu.” Gerutu Jiyong.

“Jiyong, meskipun dia menyukaiku tidak akan ada yang berubah. Kami akan tetap menjadi teman yang saling menghormati. Dan buktinya dia tidak melakukan hal-hal gila kepadaku.”

“Tapi-,”

“Aku kira ini akan jadi kencan kita, tapi kenapa kau malah membuat suasananya seperti ini?” Suara Dara meninggi. Ia tahu kekasihnya adalah orang paling pencemburu di dunia. Tapi kadang kelakuannya membuatnya risih. Marah dan cemburu tanpa alasan yang jelas.

“Maaf. Maafkan aku babe. Hanya saja, kau tahu akan, aku sedikit posesif.” Kata Jiyong menyesal. Ia kemudian merangkul tubuh mungil kekasihnya itu. “Ayo kita berkencan. Maafkan aku.”

Sandara tersenyum dari balik maskernya. “Aku memaafkanmu, dan mari berkencan.”

“Ya, tapi ngomong-ngomong ini bukan salahku. Kau sudah membuatku jatuh terlalu dalam pada pesonamu. Hingga rasanya jika ada sepasang mata yang melirik kecantikanmu saja rasanya hatiku terbakar.” Kata Jiyong dengan acuh tak acuh sambil memilih baju-baju lucu di depannya. “Its your fault Sandara Park.”

Sandara memandangi punggung Jiyong dengan mata membulat tidak percaya.

***

Sore ini Jiyong dan Dara dalam perjalanan rumah utama keluarga kwon. Di mana Yojin merayakan ulang tahunnya yang ke lima. Dara merasakan rasa gugup di seluruh darahnya. Telapak tanganya yang tidak berhenti berkeringat. Meskipun Jiyong sudah berungkali mengatakan padanya jika semuanya akan baik-baik saja, tetap saja kegugupannya tidak menghilang begitu saja.

“Ayo Dara, kita sudah sampai.” Jiyong menggenggam tangan Dara dengan tersenyum.

“Ah, oke.” Dara menghembuskan nafasnya. “Aku siap.” Ia mengatakan pada dirinya sendiri.

“Sangat cantik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Sekali lagi Jiyong meyakinkan Dara.

Sekarang keduanya memasuki rumah besar itu. Mereka disambut dengan pelayan, dan dibawa ke ruang keluarga di mana mereka mengadakan pestanya. Dara bisa mendengar suara orang berbincang-bincang, gelak tawa, dan suara imut Yojin.

Dan seperti yang sudah Dara bayangkan, semua orang tiba-tiba terdiam saat melihat dirinya dan Jiyong memasuki ruangan. Tapi dengan cepat Dami memecahkan keheningan.

“Akhirnya kalian datang.” Dami memeluk Jiyong dan Dara bergantian. “Aku sempat mengira kalian tidak akan datang.”

“Apa sih yang tidak kulakukan demi noonaku?” Goda Jiyong dengan senyuman cerah di bibirnya.

“Yojin-ah, kemari.” Dami memanggil putra kesayangannya itu. “Kau ingat Dara imo kan? Kita mengunjunginya kemarin.” Yojin dengan mata bulatnya mendongak dan menatap wajah Dara dengan malu-malu.

Dara lalu menyejajarkan tingginya dengan Yojin dan memberikan hadiah yang telah ia persiapkan bersama Jiyong. “Ini untukmu.” Dara mengusap kepala Yojin dengan lembut.

“Boleh kubuka sekarang?” Tanya Yojin dengan suaranya yang menggemaskan.

“Bukalah.”

Yojin membuka salah satu hadiah dari Dara dan Jiyong. Senyuman lebarnya terpasang di bibir mungilnya saat melihat satu set permainan kereta api beserta rel dan aksesoris pelengkap lainnya seperti hewan-hewan, dan pepohonan.

“Aku suka ini. Gomawo.” Dengan mengejutkan Yojin mencium pipi Dara, dan langsung berlari sambil membawa mainannya.

“Dia menyukaimu Dara.” Ujar Dami dengan senang. “Jiyong sepertinya kau mendapat saingan baru.”

“Oh noona, tolong jangan buat aku sakit kepala.”

“Ayo, pestanya baru akan dimulai.”

Dara dan Jiyong bersalaman dengan tamu-tamu yang kebanyakan merupakan keluarga Jiyong. Semua yang di sana menyambut mereka berdua dengan hangat, meski rasa penasaran memenuhi otak mereka. Bertanya-tanya bagaimana bisa Sandara Park bersama Kwon Jiyong. Dan saat Dara bersalaman dengan nenek Jiyong, dia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak perlu takut dengan wanita yang sudah membuat dirinya menderita itu. Dara dengan tersenyum menjabat tangannya yang berkeriput. Sedangkan Nenek Kwon mengatupkan bibirnya sehingga membentuk satu garis tipis. Dengan jelas menunjukkan rasa tidak sukanya.

Mereka berdua bergabung dengan perayaan pesta ulang tahun Yojin. Menikmati hidangan yang sudah disediakan. Sambil memakan cupcakenya, Dara melihat penampilan teman-teman Yojin yang bernyanyi.

“Sepertinya kau sangat menikmati pestanya.” Kata Mr. Kwon yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya.

“Ah, neh.” Dara tersenyum.

“Aku senang melihatmu kembali Dara. karena itu berarti, putraku juga kembali.” Ayah Jiyong tersenyum dengan tulus kemudian mengalihkan pandangannya menuju Jiyong yang sedang mengambil makanan.

“Aku juga senang bisa kembali.”

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu pergi Sandara. Tapi aku berharap padamu kau bisa bertahan dengan Jiyong, selama yang kalian bisa.”Kwon Sangwoo menarik nafas. “Aku tahu aku bodoh saat berpura-pura tidak melihat betapa menderitanya Jiyong dan memilih untuk menuruti rencana yang bahkan aku tidak tahu apa tujuannya untuk menjodohkan Jiyong dengan Krystal.”

“Aku akan melakukan yang terbaik.” Dara tersenyum.

“Well, apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya Jiyong sambil membawa dua gelas anggur dan memberikan satu gelas pada Dara. Dirinya takut jika ayahnya mengatakan sesuatu yang tidak-tidak.

“Kenapa wajahmu tegang sekali Jiyong?” Goda ayahnya membuat Dara tertawa. “Kami hanya mengobrol karena aku merindukan Sandara.”

“Aku juga merindukanmu Paman.”

“Oh Tuhan, apa kalian sedang bermesraan di depanku?” Jiyong memicingkan matanya ke arah kekasih dan ayahnya secara bergantian.

“Tolong selesaikan salah paham kalian. Aku ingin ke belakang.” Pamit Dara menuju ke kamar mandi. Sejauh ini pestanya berjalan dengan lancar. Tidak ada hal-hal yang tidak dia inginkan terjadi. Meski kadang ia mendengar beberapa tamu membicarakannya. Tentang hubungannya dengan Jiyong, dan posisinya diantara Jiyong dan Krystal. Tapi ia tidak akan membiarkan itu merusak moodnya yang bagus malam ini.

Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, ia bergegas keluar untuk bergabung lagi dengan pesta. Tapi sebelum ia sampai ke ruang tengah, ia dihadang oleh Kwon Mirae, nenek Jiyong.

“Aku tidak ingin berbasa-basi denganmu Sandara.” Desis Mirae. “Apa kau tidak jelas dengan perkataanku empat tahun lalu? Kau tidak cukup baik untuk Jiyong.”

“Maafkan aku, halmeoni. Aku tidak menuruti perkataan anda. Empat tahun lalu aku hanya berpikir untuk diriku sendiri. Aku tidak berpikir rasa sakit yang dihadapi Jiyong, dan kini aku akan menebus segalanya. Aku akan berdiri di samping Jiyong sebagai kekasihnya dengan atau tanpa restumu.” Kata Dara dengan sekali tarikan nafas.

“Dasar kau kurang ajar! Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku?! Dengar, Jiyong akan menikah dengan Krystal, kau tidak bisa melakukan apa-apa lagi.”

“Jiyong adalah pria yang sangat baik yang pernah aku kenal. Dia hanya akan melanggar aturan jika memang sangat dibutuhkan. Jika dia cukup bahagia dengan Krystal, aku tidak akan menghalangi pernikahan mereka. Tapi, lelaki sebaik Jiyong sampai berselingkuh dari Krystal yang posisinya sebagai kekasihnya sendiri hanya untuk mencari kebahagiaannya itu terdengar sangat menyedihkan.”

“Jangan berbicara sembarangan tentang cucuku! Dia bukan lelaki brengsek yang akan berselingkuh.”

“Tapi nyatanya dia sudah melakukannya. Dan jika anda lihat ke belakang, anda lah penyebab cucu anda melanggar aturan. Maafkan aku sekali lagi, kali ini aku bukan Sandara yang lemah. Permisi, Jiyong sudah menungguku.” Dara berjalan melewati Kwon Mirae yang menahan marahnya.

Dara menghembuskan nafasnya lega. Ia begitu tegang saat berpapasan dengan nenek Jiyong tadi. Tapi ia tidak akan membiarkan Kwon Mirae tahu betapa takut dirinya, karena dia sekarang harus menjadi wanita kuat untuk dapat bersanding dengan Kwon Jiyong.

***

“Halmeoni.” Suara Dami tertahan saat memanggil nenek yang selama ini ia kira adalah wanita hangat penyayang. “Selama empat tahun kau mengorbankan kebahagiaan Jiyong, jika aku menjadi dirimu, aku bahkan tidak berani untuk memperlihatkan diriku di depan Jiyong selamanya.”

“Dami.” Suara Kwon Mirae terdengar takut, gugup.

“Kau tahu Jiyong sangat menyayangimu? Menghormatimu? Apa kau bisa membayangkan jika Jiyong tahu kau dibalik menghilangnya Sandara selama empt tahun?” Dami tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

“Tolong dengarkan nenek.” Mirae memegangi erat lengan cucunya. “Aku hanya ingin yang terbaik untuk Jiyong, untuk keluarga kita.”

“Tolong nenek, kau bisa memperbaiki semuanya. Sebelum Jiyong tahu, sebelum semuanya terlambat.”

“Tidak Dami, tidak.”

“Kalau begitu kau harus mempersiapkan dirimu. Jiyong, dia tahu apa yang harus dilakukannya untuk melindungi orang yang ia sayangi.”

TBC

***

<< Back | Next >>

Advertisements

52 thoughts on “Behind The Scene #16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s