WITCHLOVE ~ Nothing’s Changed (3) #12

WL

Author : Zhie

Nostalgia ke Ost. Full Metal Panic karena gak dapet ver. indox, yang japan aja kita dengerin, sementara untuk ver. indo berupa lirikx aja ya ^.^ >>> yang paham akan hal ini berarti kita tumbuh di masa/era yang sama waks… >.<

Berdua mencari tempat berlindung
Kita berlari di tengah hari hujan
Meski tuk itu aku harus
Kehilangan sesuatu
Hanya ada satu hal yang
Harus kulindungi

Alasan kenapa kita terlahir
Di dunia ini
Akan kucari bersamamu
Biar pun ku harus
Sakit karenanya
Mari kita sambut Pemenang yang baru

~~~

“JIYOOOOOOOOOOOOOOONG! DARAAAAAAAAAAAAA! DIMANA KALIAAAAAAAAAAANN?” teriak Sulli saat mengikuti Lauren yang memaksa untuk mencari Jiyong dan Dara masuk ke dalam hutan, “Lauren-ah, bagaimana kalau kita kembali dan memanggil bantuan… aku rasa itu lebih baik dari pada kita mencarinya seperti ini.” ucap Sulli kemudian mencoba memberi pengertian pada gadis kecil yang menurutnya keras kepala itu.

“Anio. Eonni… feeling ku selalu tepat, mereka tak berada jauh dari sini.”

“Tapi Lauren-“

“Ayo, Eonni… ke arah sini, aku yakin itu.” ajak Lauren kemudian menarik tangan Sulli untuk mengikutinya.

“Aigo. Kau begitu mengkhawatirkan mereka, neh?”

“Aku sudah katakan padamu, Eonni… merekalah yang kuanggap Eomma dan Appa saat orangtuaku menitipkanku pada mereka, jadi karena itu… aku memanggilnya mereka dengan sebutan yang tidak seharusnya di usia mereka, mungkin itu berlebihan… mereka pun telah melarangnya tapi aku yang terkadang tak mendengarkan mereka, dan akhirnya ini menjadi kebiasaan. Mianhe, bila itu sempat membingungkanmu Eonni.”

“Aigo… aigo, mengapa setiap kau berucap aku seperti bicara dengan yeoja seumuranku sekarang. Tapi tenanglah Lauren-ah, aku mengerti… kau sebenarnya pasti sangat merindukan orangtuamukan, baiklah… kajja kita kembali mencari mereka.” ucap Sulli kemudian, membuat Lauren tersenyum dan kembali melangkahkan kaki mungilnya disusul Sulli yang mengikutinya.

~~~

Dara dan Jiyong kembali tak saling bicara sekarang- mereka diam, berkelana dengan pikiran mereka masing-masing sampai akhirnya Dara sekilas melihat ke arah Jiyong yang menatap langit malam dengan tenang- ia berusaha untuk dapat membaca apa yang ada dipikirannya sekarang… tapi ia gagal- Dara tetap tak bisa mengerti dirinya ditambah ucapan Jiyong beberapa saat lalu agar dirinya tak menghilang dari pandangannya itu membuat Dara memiliki begitu banyak perkiraan. Apa Jiyong mengatakan itu karena benar-benar mengkhawatirkannya? Atau ia mengatakan itu karena tak ingin lagi direpotkan dengannya? Sungguh. Ia tak mengerti.

“Kenapa?”

“Eoh?”

“Kenapa kau melihatku tak berkedip seperti itu, hah?”

“Mwo?” Dara tersentak, Jiyong menyadari ia tengah memperhatikannya sekarang, “A- anio. Aku hanya itu- aku hanya penasaran bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Sulli.” ucap Dara asal, tapi itu malah semakin membuat Jiyong menatap tajam padanya.

“Mwo? Sulli?”

“Ah. Ne.” Dara sadar ia telah salah bicara sekarang, tak seharusnya ia menanyakan itu pada Jiyong tapi itu telah terlanjur ia katakan, “Ma- maksudku… itu- itu karena aku melihat kalian begitu dekat jadi kupikir, mungkin saja kalian telah memiliki suatu hubungan.”

“Mwo?”

“Aigo. Bodohnya kau, Dara. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, eoh?” rutuk Dara dalam hati pada dirinya sendiri, “Mianhe. Kau tak harus menjawabnya, Jiyong. Jadi lupakan saja.” ucap Dara cepat kali ini, berharap Jiyong tidak terlalu menanggapinya… tapi diluar dugaan, sedetik kemudian Jiyong tersenyum- tak lagi melihat dirinya dan kembali melihat ke langit luas.

“Apa sebenarnya yang kau pikirkan, hah? Aku dan Sulli- kami berteman, Dara… bersahabat- sejak kecil dan itu tidak berubah, ia tetap sahabatku hingga sekarang. Walaupun ia selalu mengerjaiku- mengataiku, tapi tetap menyenangkan bersahabat dengannya… ia dapat tahan dengan segala omelanku dan selalu sabar mendengarkan keluh kesahku disaat aku memang membutuhkan seseorang untuk bicara, kau tahu… aku saat kecil sangat kesepian, walaupun Appa berusaha untuk selalu ada dan meluangkan waktu untukku tapi tetap aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang… ada saatnya aku merindukan Eomma, dan saat appa mengajakku kemari, Sullilah yang sabar menemaniku… aku bukanlah anak yang mudah bergaul saat itu, Dara.”

“Ah. Dia yeoja yang cantik dan perhatian ya. Lalu apa kau menyukainya?” Entah kenapa Dara berani menanyakan itu kali ini, Jiyong sempat melihat kembali ke arahnya saat mendengar Dara tiba-tiba menanyakan hal itu padanya… tapi Jiyong pun menghela nafas panjang sebelum menjawabnya.

“Aku pasti menyukainya, karena itulah aku masih berteman dengannya hingga sekarang, tapi jika yang kau maksud itu rasa suka seorang namja pada yeoja- ANIO, jika itu yang ingin kau tahu.” jawab Jiyong dengan tegas di akhir kalimat. Dara pun mengangguk mengerti dan jujur itu membuatnya lega, “Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau menanyakan hal itu hah? Itu adalah sesuatu yang pribadi, kau tahu?” tanya Jiyong kali ini berhasil membuat Dara tak mampu lagi untuk membalas tatapannya.

“A- ani. Itu karena dari caramu melihatnya sangat berbeda bila kau melihatku dan Lauren, jadi kupikir-“

“Memang bagaimana caraku melihatnya, hah?” potong Jiyong membuat Dara mengerutkan keningnya- berpikir, “Apa begini?” Jiyong tiba-tiba memposisikan tubuhnya tepat di hadapan Dara- mendekatkan wajahnya dan menatap lekat Dara.

Deg

“Ya!” pekik Dara mendorong Jiyong untuk menjauh darinya, karena tak dapat dipungkiri tatapan Jiyong padanya itu membuat Dara seketika kehabisan nafas.

Jiyong pun tertawa melihat bagaimana reaksi Dara padanya, namun sesaat kemudian tawanya terhenti dan kembali menatap serius Dara.

“Berhentilah terlalu cemburu, Dara.” ucap Jiyong kali ini mampu membuat Dara membulatkan matanya.

“Aku? Cem- cemburu?”

“Ne.”

“ANIO.” Dara menolak tegas.

“Lalu?”

“Lalu apanya?”

“Sikapmu itu.”

“Anio. Sudah kubilang, aku hanya-“ Dara tak lagi melanjutkan ucapannya saat ia melihat setitik cahaya terang muncul dari semak-semak yang tak berada jauh darinya, “Jiyong, apa itu?”

“Mwo?”

“Itu, di sana.” tunjuk Dara, Jiyong pun berdiri dari duduknya dan saat itu setitik cahaya yang seperti terbang- mengikuti arah angin itu, bertambah… tidak hanya satu, dua, tapi itu seperti ratusan bahkan mungkin ribuan… hingga akhirnya malam yang semula terasa gelap- mencekam kini lebih terlihat indah dari sebelumnya.

1442215926-Melihat-Potensi-Wisata-Kunang---Kunang-Di-Batam

“Itu kunang-kunang, Dara.”

“Mwo? Jinjja? Waaahh… daebak. Ini indah, Ji.” ucap Dara kemudian- berusaha berdiri dari duduknya, Jiyong pun dengan sigap membantunya. Menuntun Dara untuk berdiri di sampingnya- melihat lebih jelas, lalu Dara pun menautkan kedua telapak tangannya- memejamkan mata sejenak.

“Apa yang kau lakukan, eoh?”

“Memanjatkan harapan.”

“Mwo?”

“Bukankah ini sebuah keberuntungan kita dapat secara langsung melihatnya… pernah dengarkan bagi sebagian orang, kunang-kunang dapat mengabulkan permohonan layaknya bintang jatuh… jadi aku pikir tidak ada salahnya, mungkin apa yang menjadi harapanku dapat terwujud.”

“Memang apa harapanmu?”

“Harapanku sekarang adalah kita bisa mengalahkan penguasa kegelapan, dan juga… tidak ada yang berubah, aku berharap benar-benar tidak akan ada yang berubah.” ucap Dara pelan, Jiyong pun hanya diam tak lagi bersuara- membiarkan Dara menikmati keindahan di hadapannya dan tak lama terlihat Dara mengusap kedua telapak tangannya, kali ini karena hawa yang semakin dingin dari sebelumnya.

“Sepertinya sudah waktunya kita untuk berusaha pergi dari sini, Dara.” ucap Jiyong akhirnya.

“Ah. Ne.”

“Apa itu telah lebih baik?” tanya Jiyong kemudian- merujuk ke kaki Dara.

“Neh. Gwaenchana.” jawab Dara.

“Apa kita tidak bisa pergi menggunakan sihirmu, Dara?” tanya Jiyong kemudian, saat menyadari akan sangat sulit bagi mereka untuk dapat keluar dari tebing itu jika tidak ada bantuan dari atas.

“Anio. Aku merasa ada sesuatu yang salah dengan diriku, aku tidak bisa menggunakannya.” jawab Dara menyesal akan hal itu, Jiyong pun mengecek ponselnya.

“Tidak ada sinyal di-“

“Appa… Eomma….” Tiba-tiba suara itu terdengar dari atas mereka- terlihat kepala Lauren yang menyembul di sana, disusul Sulli di sampingnya.

Guk… guk… guk…

Guk.. guk…

Beberapa saat kemudian…

Dara dan Jiyong akhirnya berhasil keluar dari tebing dengan bantuan Sulli dan sedikit kekuatan sihir dari Lauren- tentu Lauren memakai kekuatannya tanpa sepengetahuan Sulli, ia sengaja membuat Sulli begitu mudah menarik akar yang menjulur agar dapat membantu Dara dan Jiyong keluar dari sana.

“Daebak. Ini hebat… ini sulit dipercaya, aku begitu mudah mengeluarkan kalian… ah, aku bahkan tidak sadar dapat sekuat ini sekarang.” ucap Sulli kemudian membuat Dara dan yang lain hanya tersenyum menanggapinya, “Lalu Dara… bagaimana kondisimu, apa kau baik-baik saja?” Sulli menunjukkan perhatiannya sekarang, Dara menyesal karena sempat tidak menyukai dirinya karena ia sadar, dirinyalah yang terlalu berlebihan sekarang.

“Gwaenchana, Sulli-yah. Ini tidak begitu parah kok.” jawab Dara, membuat Sulli terlihat bernapas lega.

“Syukurlah. Kalau begitu kajja, kita harus segera pulang agar bisa mengobatinya.” ucap Sulli kemudian, Jiyong pun mengangguk- mengerti akan tatapan Sulli.

“Kalau begitu, kajja… Dara. Naiklah.” Jiyong sengaja merendahkan tubuhnya di hadapan Dara.

“Mwo?”

“Kau tidak mungkin dapat berjalan dengan kondisimu seperti itu, kan? Jadi kajja.”

“Tapi-“

“Cepatlah. Ini bukan yang pertama, Dara… jadi aku tak akan lagi terkejut bagaimana beratnya dirimu.”

“Ya!”

“Eomma… menurutlah pada Appa kali ini, biarkan Appa menggendongmu.” ucap Lauren membuka suara, Dara dengan cepat melihat Sulli dan Lauren bergantian.

“Ya! Lauren kau harusnya tidak memanggilku-“

“Biarkan saja, Dara. Aku rasa Lauren telah terbiasa memanggil kalian dengan sebutan itu, ia telah menganggap kalian sebagai pengganti orangtuanya sekarang… Lauren telah banyak bercerita tadi, jadi aku pikir… jika hanya aku, itu tidak masalah.” ucap Sulli membuat Dara dan Jiyong sedikit terkejut kali ini sementara Lauren hanya tersenyum saat Dara dan Jiyong- melihat ke arahnya, seperti meminta penjelasan.

Dan akhirnya Dara pun meraih punggung Jiyong- membiarkan ia kembali menggendongnya. Sulli dan Lauren telah berjalan cukup jauh di depan mereka dengan anjing kecil yang berada dipelukan Sulli- Sulli memutuskan untuk merawatnya.

“Aku beratkan?” tanya Dara membuka suara.

“Neh. Lebih berat dari sebelumnya.”

“MWO? JINJJA?”

“Ya! Ya! Jangan bergerak, Dara.”

“Ah. Mian.”

Dara tak lagi membuka mulutnya, dan keheningan kembali terasa… sampai akhirnya Dara yang mulai mengantukpun menyandarkan kepalanya ke pundak Jiyong.

“Ya! Kau tidur?” tanya Jiyong pelan.

“Anio.” Dara menjawab lemah.

“Mungkin aku harus katakan ini padamu.” Jiyong kembali bicara, Dara tak mengubah posisinya dan hanya mendengarkan.

“Neh.”

“Tidak akan ada yang berubah, Dara.”

“…”

“Masa depan kita- tidak akan ada yang berubah.” ulang Jiyong kali ini.

Dara hanya diam- tak mampu untuk menjawabnya. Entah kenapa kalimat itu menjadi sangat spesial sekarang, ia begitu lega dan senang saat mendengarnya… hingga ia dapat merasakan air matanya jatuh tanpa mampu ia cegah.

“Gomawo, Jiyong-ah… gomawo.” batinnya terus berucap- berharap walaupun ia tak secara langsung mengatakannya, Jiyong dapat mengerti dan memahami… bahwa kini ia begitu berarti baginya.

~~~

Pagi yang cerah di Oda Cheon Stream, ini hari terakhir dimana Dara, Jiyong dan Lauren menikmati waktu liburannya.

“Aigo. Mianhe, aku tidak bisa menemani liburan terakhir kalian… aku harus pergi ke kota karena hari ini ada tes untuk ujian masuk di universitas yang kuinginkan.” ucap Sulli saat Dara dan yang lain mengantarkannya ke mobil yang akan membawanya.

“Ah. Araesso… gwaencahana, Sulli-yah. Kau harus berhasil neh.” Jiyong memberinya semangat.

“Neh. Gomawo.”

“Jiyong… bisa kau bantu paman membawa beberapa kotak makanan, aku harus memastikan Sulli tak kelaparan di sana.”

“Appa. Jangan terlalu berlebihan.”

“Aigo… untuk putriku tak ada kata berlebihan, itu disiapkan agar kau benar-benar siap menghadapi tesmu jadi kajja… bantu aku, Jiyong.”

“Ne. Paman.” Jiyong dengan sigap mengikuti Paman Minsuk- Appa Sulli, untuk membantunya.

“Cih. Appaku sangat berlebihankan?” ucap Sulli kemudian membuat Dara pun tersenyum.

“Semua Appa akan bertindak seperti itu.”

“Yup. Kau benar. ” Sulli mengangguk setuju, “Lalu bagaimana dengan kakimu?”

“Sudah lebih baik.”

“Baguslah.” ucap Sulli lega mendengarnya, “Ah. Aku lupa membawa ponselku.” serunya saat memeriksa ponselnya tak berada dikantong jeansnya seperti biasa.

“Biar aku yang mengambilnya, Eonni.” ucap Lauren cepat kali ini, karena akan membutuhkan waktu lagi jika Sulli harus melepas sepatunya.

“Ah. Gomawo, Lauren.” Serunya lagi saat Lauren telah dengan cepat masuk kembali ke dalam penginapan mereka, “Menyenangkan memiliki gadis kecil seperti dia disekitar kalian.” lanjutnya kembali pada Dara.

“Neh. Ia memberi keceriaan tersendiri bagiku dan Jiyong, tak jarang ia juga yang menjadi penengah disaat aku dan Jiyong bertengkar seperti biasa.”

“Ah. Araesso.”… “Ngomong-ngomong, Dara.”

“…”

“Mianhe.”

“Mwo?”

“Mianhe… atas sikapku kemarin-kemarin yang aku yakin itu cukup mengganggumu.”

“Ah. Anio, Sulli-yah… kau tidak mengganggu bagiku.” jawab Dara berusaha untuk mengelaknya, dan jujur ia tak enak sekarang.

“Jinjja?” tanya Sulli kali ini menatap Dara lekat- Dara pun akhirnya tersenyum kecut karena tatapan Sulli padanya tak mampu membuatnya untuk berbohong.

“Itu- yeah, sedikit.”

Sulli pun tersenyum.

“Mianhe, neh. Aku hanya bermain-main, Dara… sedikit mengerjaimu.”

“Mwo?” Dara benar-benar tak mengerti kali ini, apa yang dimaksud Sulli dengan bermain-main?

“Aku sebenarnya tak memiliki perasaan apapun pada Jiyong- aku hanya menganggapnya teman… tak lebih, sungguh menyenangkan bagiku jika dapat mengerjainya- mendengar ia berteriak dan memakiku dengan sangat keras. Itulah sebenarnya tujuanku meminta Appa mengundangnya untuk berlibur kemari tapi saat aku melihat ia datang dengan membawamu dan Lauren bersamanya entah mengapa sasaranku menjadi berubah… aku seperti membutuhkan sesuatu hiburan yang baru yaitu dirimu.”… “Menyenangkan saat melihat reaksimu yang terlalu jelas pada Jiyong, jadi entah mengapa aku menjadi ingin memanas-manasimu, membuatmu cemburu.”

“Mwo? Ap- apa maksudmu dengan reaksiku yang terlalu jelas pada Jiyong? A- aku tidak,”

“Ya! Jangan lagi mengelak, Dara… tenang saja, aku akan merahasiakannya dan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Kau menyukai Jiyong… sangat… sangat menyukainya bahkan.”

“YA! ANI-“

“Ssssttt.” Sulli berhasil membuat Dara diam, ia pun tersenyum geli melihat Dara… “Sudah kukatakan kau benar-benar terlihat, akan sangat lucu jika kau mencoba untuk mengelaknya. Aigo. Kenapa Tuhan mempertemukan dua orang yang sama-sama tidak peka, eoh?”

“Mwo?”

“Ani. Lupakan, yang jelas bersemangatlah Dara… aku sepenuhnya mendukungmu, dekati Jiyong dan taklukkan dia.”

“Eh?”

“Wae? Ini bukanlah lagi dijaman dimana pria yang harus mengungkapkannya lebih dulu, jadi tidak masalah jika kau lebih dulu mengatakan padanya lagipula kurasa Jiyong pasti akan menerimamu.”

“Mwo? Ya! Sulli-yah, kenapa kau bisa seyakin itu hah… aku- aku tidak memiliki perasaan seperti itu padanya lagi pula aku- aku hanya sesuatu yang merepotkan baginya.”

“Eh? Merepotkan?

“Neh. Bukankah kau juga mendengar itu langsung darinya?”

“Ahaaa… ternyata dugaanku tidak salah, kau mendengar percakapan kami saat itu.”

“Ah. Itu-“

“Tapi sepertinya kau tidak mendengarnya hingga selesai, Dara… dan itu membuatmu ketinggalan sesuatu yang sangat penting.”

“Eoh? Apa itu?”

“Ehm… setelah kupikir, bukan hakku untuk mengatakannya padamu jadi kesimpulannya… itu rahasia.” ucap Sulli terkekeh saat melihat bagaimana tampang Dara sekarang.

“Ya! Katakanlah padaku apa itu, Sulli-yah… kau tidak harus merahasiakannya jika itu berhubungan dengan diriku.”

“Anio. Itu adalah rahasia.”

“Ya!”

Sulli tertawa puas kali ini, dan tepat saat itu Appanya dan Jiyong telah datang dengan beberapa kotak makanan.

“Omo. Apa yang membuat putriku tertawa seperti itu, eoh? Apa ada yang melucu di sini?”

“Anio. Appa… aku hanya mengobrol ringan dengan, Dara.” jawab Sulli cepat, Dara pun hanya mampu tersenyum- mengiyakan… tak lagi bisa menuntut Sulli untuk memberitahunya.

“Sulli Eonni, ini ponselnya.” ucap Lauren yang datang dengan tergesa.

“Aigo… aigo, jangan berlari Lauren. Tapi gomawo, neh.” balasnya kemudian, saat ponsel itu telah berada di tangannya.

“Kajja, putriku… kau tidak mau terlambatkan?”

“Ne. Appa… kalau begitu aku berangkat dulu, neh… kalian nikmatilah waktu terakhir kalian di sini.” ucap Sulli kembali berpamitan dengan Dara, Jiyong dan Lauren… “Dan untukmu, Dara… jika ingin lebih jelas tanyakanlah langsung pada Jiyong. Ia ada di sampingmu sekarang.” lanjutnya membuat Jiyong seketika melihat ke arahnya- mengerutkan kening, “Atau kau ingin langsung mengungkapkan perasaanmu padanya? Aku mendukungmu?” bisik Sulli saat memeluk Dara.

“Eh?” Dara tak mampu lagi berkata-kata menanggapinya, sementara Sulli kembali terkekeh karenanya.

“Annyeong semuanya, aku pergi neh… sampai jumpa.” seru Sulli akhirnya saat telah masuk ke dalam mobil dan akhirnya mobil itu pun membawanya pergi.

Lalu kemudian…

“Apa yang ingin kau tanyakan, Dara?” Jiyong membuka suara- melihat Dara.

Dara menggeleng cepat, “Anio.”

“Mwo? Tapi tadi Sulli bilang-“

“Anio… anio… aku tidak ingin menanyakan apapun Jiyong, Lauren… kajja kau bilang ingin memancing hari ini.” ucap Dara akhirnya beralih pada Lauren- mengabaikan Jiyong.

“Ne, Eomma. Kajja.” Lauren meraih uluran tangan Dara, namun kemudian Lauren meraih tangan Jiyong dengan tangannya lain yang kosong, “Kajja, Appa. Kita dapat bersenang-senang seperti layaknya sebuah keluarga sekarang.” ucap lauren seketika membuat Dara dan Jiyong saling berpandangan, namun sedetik kemudian mereka sama-sama membuang muka- mengalihkan pandangan mereka satu sama lain.”

“Ah. Ne… ne… kalau begitu, kajja… sayang di saat seperti ini Sulli tidak ada… padahal ia sangat ahli dalam memancing.” ucap Jiyong akhirnya berusaha bersikap seperti biasa.

“Menyayangkan keahlian atau ketidakhadirannya?” celetuk Dara, membuat Jiyong mau tak mau kembali melihat ke arahnya.

“Dua-duanya.” jawab Jiyong singkat.

Sementara Lauren yang berada di antara mereka pun kembali menghela nafas panjang.

“Ya! Eomma… Appa… tidak bisakah untuk hari ini kalian tidak bertengkar. Kita harusnya bersenang-senang bukan?” Lauren mengingatkan.

Kembali itu membuat Dara dan Jiyong saling berpandangan, dan akhirnya mereka pun mengangguk- sepakat untuk tak lagi membuat keributan hari ini.

“Ah. Kau benar, Lauren. Aku dan Jiyong baik-baik saja sekarang… jadi, kajja. Let’s go! Kita bersenang-senang hari.” jawab Dara kemudian dengan senyuman mengembang, begitu pun Jiyong dan itu benar-benar membuat Lauren bahagia melihatnya.

“Bisakah selalu seperti ini? Bolehkah aku berharap? Ah. Aku menyayangi kalian Eomma, Appa. Saranghae.” ucap Lauren dalam hati benar-benar bersyukur sekarang, bersyukur hingga sampai saat ini semuanya baik-baik saja… berharap dan selalu berharap, itu akan indah dan tak akan pernah berubah.

Flashback

“Ah. Karena itu kalian terlihat sering bertengkar?”

“Ne. Kami selalu bertengkar, tidak ada ketenangan bila bersamanya.”

“Itu pasti merepotkan?”

 “Ne. Benar-benar merepotkan.”

“…”

“Tapi-“

“Mwo?”

“Tidak masalah bagiku bila selalu direpotkan olehnya.”

“Wae?” Lama tak juga ada jawabannya, “Apa itu karena kau menyukainya?” tebakan itu malah membuat seseorang yang dituju- terdiam- mengulum senyumnya.

“Haruskah aku menjawabnya?”

“Ani. Tidak perlu, aku bahkan sudah dapat menebaknya… itu terlihat jelas. Kau menyukainya- sangat menyukainya.”

“Neh. Kau benar- Aku benar-benar menyukainya sekarang.”

.

.

.

“Buku mantra ilmu hitam, apa gunanya?”

~

“Penguasa kegelapan datang!”

“Tidak mungkin, awan kegelapan datang lagi.”

~

“Apa? Mundur? Yang benar saja.”

“Turutilah perintaku, ini demi kebaikanmu-“

~

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

~

“Dunia baru? Cih! Kau tidak pantas di sini.”

~

<<<back next>>>

Oke. Angkat tangan yang pernah liat ratusan kunang-kunang? ^.^/… Yey, beruntung aku pernah. 10 tahun lalu tepatnya, saat ngikuti acara persami paskibra. Waahh, sayangnya masa itu belum jamannya punya hape apalagi yang berkamera jadi sekarang hanya tersimpan di memori tepatnya. Berharap bisa ngeliat itu lagi, suer dah bener2 daebak… gak bo’ong ini, percaya deh keke. So, sangat menghargai orang yang juga bisa menghargai suatu karya dengan meninggalkan jejak. Tinggal 2 chap. lagi… yipppeee \o.o/ dan untuk password akan dikirim ke alamat email setelah chap. 13 dipost dengan catatan meninggalkan jejak di seluruh chapter… ok…ok. Love u All, dan Thanks. :*

 

Advertisements

30 thoughts on “WITCHLOVE ~ Nothing’s Changed (3) #12

  1. akh disini aku mikir suli bner2 jath cinta ma jiyong. trnyta salah…

    yg next chaptr kyax bkal tempur ne
    . nd dri kata2 menegang kan dehh. lanjut unn fighting ya

  2. Ternyata waktu itu dara blm denger ampe abis percakapan suli jiyong,,, wahh suli jail ternyata kirain bakal ngrebut jiyong ,,, jiyong kpn nih nembak dara??? Jan d.tahan terus,, daragon emang sejoli dah,,, next chap penguasa kegelapan muncul wih seru ni ,, dua chap lagi ending T_T ,,, d.tunggu next chap ya eonn semangat neh ^^

  3. Aku kira sulli beneran suka sm jiyong ehhh trnyta…lauren pintar bgt..jiyongnya sweet bgt pula..aplg wkt dia blg “Tidak akan ada yang berubah, Dara.” gak tau knp suka bgt pas bgian itu..

  4. Tumben peran sulli disni baik bgt heheh .kirain maksd sulli selangkah lagi mau ngerebut jiyong dari dara . yaaaa ternyata enggak 😀

  5. Aaakkkk sulli, maapin akuu yang negatif thinking sebelumnya
    Diaa baik ternyata hehehe, usil ajaa sih main in dara haha
    Jiyong ternyata beneran suka hemm, cieehh
    Tapi masih saling ego dan ga peka
    Lauren lah satuin mereka haha
    Yah semoga masa depan mereka ga pernah berubah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s