Behind The Scene #13

bts1

Author : Oktyas

~~~

Drrrt… Drrrt… Drrrt…

Terdengar dering ponsel Dara untuk ketiga kalinya. Dengan ragu-ragu Chaerin mengangkat panggilan itu lalu menempelkan ponsel di telinganya.

“Oh God Daraa!” Terdengar suara panik Jiyong sebelum Chaerin mengucapkan salam.

“Kenapa kau tidak langsung mengangkat teleponmu? Apa kau masih marah padaku?” Chaerin kehilangan kata-kata. Ia ingin mengatakan pada Jiyong bahwa dia bukan Dara, tapi rasa gugupnya membuat dia kehilangan suaranya tiba-tiba.

“Dara, babe, aku benar-benar minta maaf soal semalam. Please Dara bicara padaku.” Mohon Jiyong. Dia merasa gila saat Dara tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun. “Please sweetheart, aku tahu aku sudah mengacaukan rencanamu, aku mencintaimu Da-,”

“M-maaf Mr. Kwon, Dara Eonni sedang di kamar mandi dan dia belum kembali.” Kata Chaerin gugup.

“Dan ini siapa?”

“Chaerin, Lee Chaerin. Maafkan aku Mr. Kwon karena sudah menjawab panggilan anda untuk Dara Eonni. Maafkan aku.” Chaerin mengangguk-anggukan kepalanya seolah Jiyong berada di depannya. Ia sudah bisa membayangkan betapa marahnya Jiyong karena dia sudah lancang.

“Tidak masalah Chaerin-ah, suruh dia meneleponku setelah kembali. Terimakasih sebelumnya. Bye.” Chaerin menghembuskan nafas lega setelah Jiyong mengakhiri panggilannya.

“Bagaimana?” Tanya Minzy khawatir melihat wajah Chaerin yang berubah pucat.

“Mr. Kwon, mereka berkencan.”

“What?! Kau tidak bercanda kan eonni?” Chaerin menggeleng. “Tapi bagaimana bisa?”

“Aku tidak tahu Mingkki-ah, dia terus-terusan meminta maaf pada Dara Eonni, dan dia memanggil eonni babe, sweetheart atau apapun, bahkan dia mengatakan jika ia mencintai Dara Eonni.” Bisik Chaerin. Gadis itu masih tidak percaya apa yang didengarnya dari Mr. Kwon tadi. Ia sama bingungnya dengan Minzy. Bagaimana bisa?

“Omo, ladies, aku minta maaf.” Dara terlihat berjalan terburu-buru ke arah mereka. “Kamar mandi terdekat sedang ada perbaikan jadi aku harus mencari kamar mandi lain. Lalu aku bertemu Joongki Oppa dan kami mengobrol well, aku lupa waktu.”

“Gwenchana eonni.” Minzy tersenyum dengan canggung. “Oh eonni, kau tadi mendapat telepon.” Minzy dan Chaerin saling memberi kode melalui mata mereka.

“Jinjja? Dari siapa?” Dara mengambil ponselnya dan meminum milkshakenya.

“Mr. Kwon.”

“Mr. Kwon? Oh oke.” Kata Dara belum menangkap apa yang dikatakan Minzy.

Tangannya bergetar saat mengingat nama yang Minzy sebutkan. “Minzy-ah? Siapa tadi yang meneleponku?” Tanyanya sedikit gugup setelah ia mencerna apa yang dikatakan Minzy.

“Mr. Kwon Jiyong, maaf aku harus mengangkat teleponmu.” Jawab Chaerin dengan rasa bersalah.

“KWON JIYONG?!!” Seru Dara panik. Oh no! apa mereka sudah tahu tentang hubungannya dengan Jiyong?Tarik nafas, keluarkan. Okay, tetap tenang. “T-tidak masalah Chaerin-ah.” Wajah Dara mulai terlihat pucat.

“Dia menyuruhmu untuk meneleponnya kembali.” Tambah Chaerin.

“Hallo.”

“Hello babe.”

“Maaf tadi aku ke kamar mandi.”

“Apa kau berada di kantor?”

“Ne.”

“Kenapa tidak memberitahuku? Apa ada sesuatu yang kau lakukan di sana?”

“Maaf Ji, ya kami akan membicarakan tentang syuting.”

“Dara, aku benar-benar minta maaf, hm? Please babe.”

“Aku tidak marah Jiyong-ah.”

Jiyong menyadari cara bicara Dara yang berbeda dari biasanya. Dia terdengar seperti menjaga jarak dan menggunakan nada bicara sopan seperti menelepon seorang klien.

“Apa Chaerin ada di sana?” Lalu Dara meng-iyakan. “Jangan marah padanya babe, dia terdengar ketakutan tadi.”

“Aku tidak marah. Hanya saja kau tahu, bagaimana cara menjelaskannya?”

“Jelaskan sebisamu Dara. Aku percaya padamu.”

“Oke.” Jawab Dara singkat diselingi dengan hembusan nafas lelah

“Hey hey, kenapa kau terdengar lesu? Nanti malam kita akan berkencan. Dan aku janji tidak akan ada yang mengacaukan rencana kita malam ini.”

“Pastikan kau tepati janjimu Kwon.” Kata Dara dengan senyum di bibirnya. Membayangkan kencan mereka nanti malam membuat Dara ingin siang cepat berganti malam.

“Pasti maam. I love you.”

“I love you too, jangan terlalu lelah.”

“Tidak, ehm babe, Seungri akan mengantarmu pulang nanti. Tinggal beritahu aku kapan kau selesai.”

“Oke, aku akan menghubungi nanti.” Sebenarnya Dara ingin menolak Jiyong, tapi ia merasa tidak nyaman karena sedari tadi Minzy dan Chaerin terus memandanginya.

“Eonni apa hubunganmu dengan Mr. Kwon?” Tanya Minzy hati-hati. Meskipun ia sudah tahu jawabannya. Tapi gadis itu ingin mendengar penjelasan langsung dari Dara. “Kami berjanji akan tutup mulut.”

Dara melihat mereka ragu-ragu. Mungkin ini saatnya. Pikir Dara.

“Eonni ceritakan pada kami.” Rengek Chaerin. Dan dua gadis itu terus memohon pada Dara untuk menceritakan hubungannya dengan Jiyong. Karena tidak adanya pilihan Dara menceritakan hubungannya dengan Jiyong dari awal, sampai persetujuan keluarga Jiyong dan Krystal. Tapi Dara melewati bagian saat nenek Jiyong memberikan ultimatum untuk meninggalkan cucunya. Ia tidak ingin membuat keluarga Jiyong terlihat buruk di mata mereka.

“OMO! Jika kau dan Jiyong Oppa tidak putus, itu berarti kalian sudah berpacaran enam tahun?” Dara mengangguk kemudian tertawa karena melihat ekspresi lucu di wajah Chaerin dan Minzy dengan mulut terbuka.

“Sebenarnya itu bisa lebih lama lagi. Karena aku bertemu Jiyong sejak dia masih SMA, aku dikenalkan oleh Seunghyun padanya. Lalu kami menjadi dekat. Tapi kami memutuskan untuk tidak memberi label pada hubungan kami, karena usianya yang masih muda dan karirku di dunia hiburan masih baru.”

“Daebak! Pantas saja walau sudah putus empat tahun kalian bersama lagi.” Chaerin menunjukkan rasa kagumnya pada pasangan rahasia ini.

“Kalau diperhatikan, aku tidak pernah melihat Jiyong Oppa tersenyum jika bersama Krystal.” Ujar Minzy yang langsung disetujui Chaerin.

“Eonni saat Jiyong Oppa SMA berapa usiamu?” Tanya Minzy penasaran.

“Waeyo? Aku lebih tua dari Jiyong empat tahun.” Jawab Dara yang membuat dua temannya itu membuka mulutnya tidak percaya.

“Jiyong Oppa penggemar noona.” Seru Chaerin yang membuat dia mendapat pukulan di pundaknya dari Minzy menandakan dia untuk diam. Bagaimana pun juga mereka sedang membicarakan tentang rahasia besar di tengah kafetaria.

“Ya tipe idealnya adalah noona. Jadi jangan pernah mendekatinya karena tidak akan berhasil.” Dara berpura-pura memberi peringatan pada mereka berdua.

***

Dara duduk di sofa sambil menonton televisi menunggu Jiyong pulang ke rumah. Ini baru empat sore tapi Dara sudah tidak bisa menahan rasa senangnya untuk bisa berkencan dengan Jiyong nanti malam. Terserah jika orang-orang menyebutnya norak atau apa. Sudah empat tahun mereka tidak pergi berkencan, jadi wajar saja, jika gadis bertubuh mungil itu merasa bersemangat. Ini seperti kencan pertama mereka. Dan lalu Jiyong berjalan ke arahnya dengan setelan jas yang sedikit berantakan, senyum tersungging di bibirnya ketika melihat wanitanya menatapnya dengan senyuman hangat.

“Apa kau lelah?” Dara berdiri dan melepaskan kancing jas lalu melepaskan dasinya.

“Tidak lagi.” Kata pria bermata coklat itu tersenyum. “Kenapa kau selalu cantik?” Jiyong mengecup kening Dara sebelum Dara tertawa.

“Sepertinya kau butuh mandi air hangat. Tunggu di sini aku akan menyiapkan untukmu.”

Jiyong menyusul Dara ke dalam kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. Saat ia masuk, Dara sudah selesai menyiapkan bathub dengan penuh air hangat serta mencampurnya dengan minyak lavender.

“Cepat mandi, dan jangan lupa kita ada kencan malam ini.” Senyum cerah terlihat di wajah gadis itu saat ia mengatakannya.

“Kau sangat semangat untuk kencan nanti malam?” Dara mengangguk pasti. “Seharusnya kau ikut mandi denganku agar semua rasa lelahku ini hilang.”

“Kwon jangan mencoba untuk mengambil keuntungan. Aku akan memijitmu setelah kau mandi nanti. Dan sekarang cepatlah mandi.” Bisik Dara di telinga Jiyong membuat lelaki itu merinding. Lalu tangan mungilnya menyentuh handuk Jiyong yang digulung di pinggang sambil menatap Jiyong dengan tatapan nakal dan menariknya sehingga membuat Jiyong telanjang bulat. Dan dengan sengaja Dara menepuk pantatnya saat gadis itu berjalan keluar.

“Ya! kau dasar wanita penggoda!” Pekik Jiyong yang membuat Dara tertawa keras. Damn woman! Sepertinya aku akan memerlukan waktu untuk mandi lebih lama.

***

“Ini seperti masa lalu.” Dara terkekeh melihat peralatan yang tersebar di atas meja. Ada masker, hoodie, kacamata hitam, beanie. “Padahal aku sudah tidak menjadi aktris lagi.”

“Tapi mereka tetap mengenalimu. Dan apa kau perlu aku ingatkan siapa yang kau kencani? The Great Kwon Jiyong.” Jiyong memakaikan Dara beanie yang hampir menutupi seluruh keningnya dan kacamata hitam. Sedangkan Jiyong dia memakai jaket saint laurent hitam kesayangannya, dan kacamata hitam.

“Kau tidak memakai masker?” Tanya Dara sambil berjalan menuju lift dengan Jiyong di sebelahnya.

“Nanti saat situasi mulai menegangkan.” Tawa Jiyong. “Aku merasa kita sedang dalam misi rahasia.” Jiyong menggandeng tangan Dara menuju dimana mobilnya terparkir. Mereka tidak perlu khawatir soal keberadaan netizen atau pun wartawan berada di sana. Apartemen Jiyong memiliki pengamanan yang ketat, wajar saja gedung apartemennya adalah apartemen termahal di Korea Selatan.

Mobil Jiyong berhenti di depan sebuah restaurant di daerah Hongdae. Bukan tempat romantis untuk berkencan memang. Tapi ini seperti mengingatkan masa lalu pada mereka berdua. Mereka sering diam-diam berkencan di sini dan tidak ada wartawan yang berhasil mengabadikan moment mereka. Meskipun daerah ini terbilang cukup ramai oleh pengunjung. Tapi kenyataanya mereka yang di sini tidak peduli dengan kesibukan orang lain.

Sebelum keluar dari mobilnya Jiyong tidak lupa memakai maskernya. Lalu menggandeng Dara memasuki restaurant klasik yang banyak didatangi para anak muda yang memiliki jiwa seni musik. Karena di dalamnya ada penampilan live dari sebuah Indie Band lokal.

“Aku merindukan kencan di sini.” Kata Dara dengan antusias sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. “Tempat duduk favorit kita juga kebetulan kosong.”

Setelah pesanan mereka di hidangkan, Jiyong melepas maskernya. Dan mulai menikmati hidangan mereka. Meja mereka menghadap ke arah panggung, dan kebetulan meja mereka berada pada baris ke dua dari depan, sehingga tidak banyak orang yang memerhatikan mereka.

“Band-nya cukup bagus. Aku sudah tidak lama melihat penampilan langsung seperti ini.” Ujar Dara sambil mengiris steak-nya.

“Benarkah? Saat kau di New York kau tidak pernah pergi untuk menonton?”

“Menonton musik secara langsung? Tentu saja pernah, hanya saja tidak sering. Aku tidak terlalu suka keluar. Aku suka menghabiskan waktuku di depan laptop untuk menulis buku.” Dara mengambil nafas sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku tidak bisa menikmati hariku di sana Jiyong. Itu hari-hari yang sulit.”

Jiyong meletakkan sendok dan pisaunya. Menggenggam tangan mungil Dara. Menatap manik cokelat yang kini terlihat berkaca-kaca. Dia bisa melihat betapa banyaknya kesedihan yang wanitanya rasakan. Keputus asaan, penyesalan, ketakutan semuanya tergambar di matanya.

“Its okay Dara. Itu memang waktu sulit untuk kita berdua, tapi aku benar-benar menyesal. Seharusnya aku bisa menjagamu, membuatmu tenang, bukan membuatmu pergi. Maafkan aku.”

“Kenapa kau yang harus meminta maaf Ji? Ini salahku, aku yang meninggalkanmu dan membuat kita sama-sama hancur. Seharusnya aku juga memikirkan perasaanmu tapi apa aku egois. Aku hanya ingin lari untuk menyelamatkan diriku sendiri.” Air mata menetes satu persatu membasahi pipi Dara, segera Jiyong mengusap lembut dengan ibu jarinya.

“Hey babe, kenapa menangis? Bukankah seharusnya kau gembira? Ingat ini kencan pertama kita setelah sekian lama.” Jiyong mencoba membuat kekasihnya tersenyum kembali. Ya pada dasarnya dia tahu jika Daralah yang bersalah karena meninggalkannya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan wanita itu. Apa yang terjadi di masa lalu terlalu berat untuk dihadapinya.

“Why im such cry baby?” Dara tertawa sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya. “Maaf sudah menghancurkan kencan malam ini.”

“Oh babe tidak. Tentu saja tidak. Malam ini baru dimulai.” Jiyong mengambil tangan Dara dan menciumnya dan memberikan senyum terhangatnya untuk perempuan yang paling ia cintai.

Mereka berjalan-jalan di jalanan Hongdae berbau dengan para pengunjung. Daerah ini memang tidak pernah sepi. Banyak band indie lokal yang memamerkan kemampuan mereka di pinggiran jalan. Jika mereka beruntung akan diundang ke dalam café atau pun bar-bar.

“Suaranya bagus. Lagunya juga tidak membosankan.” Puji Dara saat mereka berhenti di kerumunan yang mengelilingi salah satu band indie yang sedang tampil.

“Mereka punya kemampuan. Tapi sayang band indie tidak punya peluang sebesar idol.” Timpal Jiyong. “Dara, apa kau mau berduet denganku?”

“Apa? Duet di mana?” Alisnya berkerut menatap Jiyong dengan bingung.

“Tentu saja di sana. Kita bisa membayar dan meminta mereka memainkan lagu yang kita minta.”

“Kau gila? Tidak, aku tidak mau. Aku tidak bisa menyanyi Jiyong.” Dara cepat-cepat menolak usulan Jiyong itu. Menyanyi di depan teman-temannya pun dia tidak berani apalagi di jalanan Hongdae? Demi apapun!

“Tapi bukankah kau ingin jadi penyanyi dulu? Kau tahu ini salah satu kesempatanmu untuk naik tingkat dari sekedar penyanyi kamar mandi.” Goda Jiyong memamerkan senyum jahilnya. Dara mengerucutkan bibirnya karena kesal.

“NOOO! Please Jiyong kita sudah pernah setuju untuk tidak membahas tentang ‘mimpiku dulu’.”

“Ayolah babe.” Bukan Jiyong namanya jika dia menyerah sebelum mendapat apa yang ia dapatkan. Dara menggelengkan kepalanya keras-keras. Tidak. Tidak akan dia menyanyi. Cukup kamar mandi menjadi saksi bisu kemampuan menyanyinya.

“Oke kalau begitu aku akan menyanyi sendiri.” Dara memberikan tatapan ‘apa-kamu-bercanda?’ pada pria di hadapannya itu. “Tidak babe. Aku akan menyanyikan untukmu.” Jiyong melepaskan genggaman tangan Dara dan pelan tapi pasti berjalan ke arah band yang sedang mereka tonton.

“Jiyong-ah.” Panggil Dara. Ia tidak percaya Jiyong benar-benar akan menyanyi. Ia masih berharap Jiyong menghentikan jalannya. Tapi lelaki itu malah melambaikan tangannya pada Dara dan tersenyum. Kerumunan tersebut sedikit demi sedikit membelah memberi Jiyong ruang untuk berjalan.

Apa dia benar-benar serius? Ya Tuhan! Bagaimana jika ada paparazzi?! Pikiran Dara menjadi kacau, melihat Jiyong yang semakin menjauh darinya. Dengan terpaksa ia mengikuti Jiyong. Ingin dia berteriak untuk menghentikan pacar ‘pemberaninya’ well, tapi itu pasti akan menarik perhatian di sana.

Jiyong sudah berdiri di barisan paling depan. Ia menunggu sang vokalis untuk merampungkan lagunya. Setelah menyelesaikan lagunya, Jiyong mengangkat tangannya. Vokalis itu menatap Jiyong dan mempersilahkannya bicara.

“Aku ingin menyanyikan satu lagu untuk kekasihku. Apa kau keberatan?” Para penonton bersorak mendengar permintaan Jiyong.

“Tentu tidak. Silahkan.” Sang vokalis bergeser dari micstandmemberikan tempat untuk Jiyong. Tapi kemudian ia menatap Jiyong dengan tatapan bingung. Karena Jiyong masih memakai maskernya setelah ia keluar dari restaurant tadi. “Tapi maaf, maskermu?”

“Oh, terimakasih.” Jiyong menurunkan maskernya tapi tidak benar-benar melepaskannya. Masker itu masih menempel di dagunya. “Aku ingin menyanyikan lagu You’re Still The One dari Shania Twain bisakah kau memainkannya untukku? Itu lagu sekitar 20 tahun yang lalu.”

“Kami tahu. Jangan khawatir Sir. Itu memang lagu lama tapi cukup popular, liriknya banyak disukai.” Jawab vokalis tersebut dengan tersenyum.

Para penonton mengantisipasi bagaimana penampilan Jiyong ketika anggota band mulai memainkan instrumennya. Dari depan Jiyong bisa melihat Dara yang berada di barisan kedua sedang menatapnya. Dara tidak ingin berteriak lagi untuk menghentikkannya. Matanya terus menatap laki-laki nekat itu dengan rasa cinta dan kasih sayang.

(When I first saw you, I saw love.
And the first time you touched me, I felt love.
And after all this time, you’re still the one I love.)

Jiyong tidak mengalihkan pandangannya saat mengatakan kata-kata tersebut. Dia tidak ingin melihat orang lain gadisnya.

Looks like we made it
Look how far we’ve come, my baby
We mighta took the long way
We knew we’d get there someday

 

Oh Jiyong! Mata Dara mulai-mulai berkaca-kaca. Lirik demi lirik yang Jiyong nyanyikan itu seperti kisah mereka. Ya mereka butuh jalan yang panjang untuk sampai di sini. Sampai mereka bersama lagi. Dara mengingat kembali keputusan bodohnya untuk meninggalkan Jiyong, dan betapa menyesalnya dia melakukan itu.


They said, “I bet they’ll never make it.”
But just look at us holding on
We’re still together, still going strong

 

Jiyong kembali menatap Dara dengan lembut dan keteduhan. Laki-laki itu selalu percaya bahwa mereka akan tetap bersama. Bahkan Jiyong tetap menunggu saat Dara pergi entah kemana menuruti keegoisannya. Tiba-tiba kata-kata nenek Jiyong berputar-putar di kepalanya. Menyuruh Dara untuk meninggalkan pria yang sangat ia cintai. Tapi lihat sekarang, mereka kembali bersama. Dan akan selalu bersama. Dara berjanji pada dirinya sendiri untuk cintanya, Jiyong.


(you’re still the one)
You’re still the one I run to
The one that I belong to
You’re still the one I want for life
(you’re still the one)
You’re still the one that I love
The only one I dream of
You’re still the one I kiss good nigh

Jiyong melangkah maju membelah kerumunan. Berjalan ke arah wanitanya. Menggenggam tangannya. Seolah ia ingin mempertegas bahwa Dara adalah satu-satunya tempat kembali, satu-satunya wanita yang ingin ia habiskan waktu bersama, dan seseorang yang ia cintai. Satu-satunya.

Dara tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia membenamkan wajahnya pada dada Jiyong, dan secara otomatis lengan kekar pria itu merengkuh tubuh kecil wanitanya. Penonton di sana melihat mereka dengan perasaan kagum dan haru. Mereka bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari mata Jiyong. Dari cara ia berjalan dan memeluk wanitanya. Mereka tidak peduli dengan pertunjukkan yang terhenti. Seolah mereka terhipnotis dengan pasangan yang masih saling memeluk tanpa memedulikan orang lain.

Dara terlalu banyak menangis bahkan tidak bisa berhenti setelah setengah jam penampilan Jiyong selesai. Dan tentu saja ia menyalahkan Jiyong untuk hal ini. Saat mereka berjalan orang-orang selalu memerhatikan mereka karena Dara yang tidak bisa berhenti menangis. Ia bukan menangis karena masih terbawa suasana haru saat Jiyong menyanyi, tapi karena ia merasa malu banyak orang yang melihatnya. Saat menangis wajah Dara akan berubah merah serta pipi dan hidung akan terlihat seperti bantal. Dia terus memarahi Jiyong di sepanjang jalan sambil menangis sehingga membuat orang menatap Jiyong dengan tatapan menuduh.

Lalu Jiyong membawa ke pedagang kaki lima di pinggir jalan untuk membeli tteopokki. Meski ia tidak terlalu suka dengan jajanan pasar itu, tapi Dara sangat menyukai makanan ini. Dan Jiyong berharap itu akan membuat mood Dara membaik.

“Bisakah aku tambah lagi?” Tanya Dara dengan senyum lebarnya. Matanya masih terlihat sembab sehabis menangis lagi. Uh! Siapa peduli? This is tteoppeokki everyone!

“Babe, kau sudah habis empat piring.” Kata Jiyong saat melihat kekasihnya ingin memesan satu piring lagi.

“Tidak peduli. Apa kau tahu banyak energi yang sudah aku gunakan hanya untuk menangis malam ini? Kesalahannya ada padamu.” Kata Dara tajam sambil mengambil piring kelimanya. “Jika besok aku sakit perut karena terlalu banyak makan ini, jika besok aku jelek karena makan ini, jika besok aku jadi gemuk karena makan ini, INI ADALAH SALAHMU! APA KAU MENGERTI KWON?!” Ujar Dara dengan berapi-api sambil memberi tatapan paling mengerikan yang ia punya pada Jiyong.

Oh God! Apa yang Jiyong lakukan kali ini? Ini semuanya berjalan baik, dan romantis. Tapi lihat bagaimana kencan mereka? Jiyong mendesah berat. Dara segera menoleh ke arah Jiyong.

“Ada apa? Apa kau lelah menungguiku?” Dara memicingkan matanya ke arah Jiyong. Tidak. Ini bukan tipe pertanyaan dari Dara yang harus dijawab jika didengar dari nadanya. Yang butuh Jiyong lakukan hanya duduk manis dan diam.

Setelah menghabiskan piring ke tujuhnya, akhirnya mereka meninggalkan warung tersebut dan mulai berjalan-jalan lagi. Tangan Jiyong melingkar nyaman di pinggang gadisnya. Dan Jiyong sangat bersyukur mood Dara sudah normal kembali. Jika ia ditanya bagaimana bisa mood Dara berubah begitu cepat masih menjadi misteri baginya. Lalu mereka memasuki toko baju di pinggir jalan.

“Apa kau ingin membeli sesuatu?” Tanya Jiyong sambil melihat-lihat hoodie yang digantung.

“Ayo kita beli sesuatu.” Kata Dara masih menempel pada Jiyong. Pakaian yang dijual di sini memang bukan barang-barang bermerek yang sering mereka pakai. Tapi toh, mereka bukan di Gangnam yang berisikan butik-butik brand mahal dan ternama. Dan barang di sini juga memiliki kualitas yang lumayan meskipun barang lokal.

“Oh, Ji, ini imut sekali.” Mata Dara tidak berpaling dari kaos couple yang berada di tangannya.

“Apa kau menginginkannya?” Please tidak. Jangan. Doa Jiyong dalam hati. Dara mengangguk antusias yang membuat Jiyong mendesah pasrah. “Coba kau pegang ini, apa ini akan pas untuk tubuhmu?” Dara membandingkan kaos itu dengan tubuh Jiyong mencoba menerawang bagaimana jika kaos itu dipakai Jiyong.

Jiyong melihat sekali lagi kaos couple yang kini berada di tangannya. Ini bukan pertama kalinya mereka membeli barang couple. Tapi barang-barang mereka selalu terlihat classy, dan tidak norak. Seperti jaket merah Chrome Heartnya. Tapi ini? kaos bergaris-garis pink-putih dengan gambar kartun kelinci dengan tulisan I love you. Dan kaos milik Dara memiliki desain yang sama kecuali gambar kelincinya memiliki pita di atas kepalanya. Tapi tentu saja Jiyong tidak akan menolak untuk membeli kaos itu. Lagi pula belum pasti dia akan memakainya. Jiyong tersenyum penuh dengan kemenangan memikirkan hal itu.

***

Jika Dara mengingat kembali bagaimana kencannya dengan Jiyong tadi malam, dia harus mengakuti itu adalah kencan yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya. Tidak terlalu berjalan rencana memang, tapi pria bodoh romantis itu tetap dapat membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Oh, ngomong-ngomong soal Jiyong, lelaki itu sedang marah pada Dara tanpa alasan yang jelas. Itu bermula saat Dara mengatakan pada Jiyong tentang keputusannya akan ikut syuting ke Jeju besok. Dan tiba-tiba bang! Jiyong marah-marah tidak jelas pada Dar dan tentu saja tidak mengizinkannya ikut. Seberapa kerasnya Dara berpikir apa yang membuat Jiyong begitu marah ia belum menemukannya.

“C’mon Jiyong itu hanya di Jeju. Tidak jauh.” Perempuan berpawakan kecil itu belum menyerah untuk membujuk kekasihnya.

“Tidak. Apa kau tahu arti kata tidak Miss Park? Haruskah mengatakannya dengan bahasa lain?” Jiyong tidak menghiraukan Dara, matanya tetap menghadap ke arah majalah fashion yang ia pegang.

“Apa menyenangkannya aku ikut syuting di Seoul dan melewatkan di Jeju? Dan babe, aku sudah lama tidak ke Jeju. Aku ingin sekali pergi ke sana.” Dara menggunakan suara paling memelas yang ia punya berharap dapat meluluhkan hati Jiyong.

“Jika kau ingin ke Jeju, pergi denganku nanti akhir pekan. Kita akan bersenang-senang di sana. Kau tidak usah mengkhawatirkan syutingmu itu.”

“Jiyong tolong berikan alasan masuk akalmu kenapa kau tidak ingin aku pergi ke Jeju?” Dara sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.

“Sudah aku bilang, Jeju itu terlalu jauh, jika masih di daerah sekitar Seoul aku akan mengizinkanmu.” Jawab Jiyong datar.

“Hentikan omong kosong itu Ya Tuhan!” Seru Dara marah. “Aku sudah dewasa Jiyong! Aku sudah pernah pergi ke luar Korea Selatan dan aku kembali secara utuh.” Dara menjambak rambutnya frustasi.

“Apa kau mau aku mengizinkanmu untuk pergi ke Jeju bersama sutradara itu?” Tanya Jiyong dengan menaikkan suaranya.

“Maksudmu Jongki Oppa?”

“Shit! Bahkan kau memanggilnya oppa.” Geram Jiyong. “Dee, apa kau tidak tahu dia menyukaimu! Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu.”

“Tidak Jiyong. Dia hanya menganggapku sebagai teman itu saja. Dan jika dia memang menyukaiku apa masalahnya? Aku tidak akan memutuskanmu dan memilih dia.”

“Tetap tidak Dara. Aku tidak bisa percaya dengannya.”

“Aku akan pergi dengan atau tanpa seizinmu Jiyong.” Kata Dara final. Dia tidak bisa menerima alasan kekanakkan Jiyong. Lalu dia beranjak dari sofa dan memasuki kamar untuk memulai mengepak barang-barangnya. Ia akan berangkat pada pukul 11.00 am. Sebelum berangkat ia punya janji di café bersama Bom. Dara penasaran kenapa Bom minta bertemu, biasanya dia langsung datang ke apartemen Jiyong tanpa diundang. Apa ada masalah lagi antara dia dan Seunghyun? Pikirnya.

Pagi harinya mereka berdua memakan sarapan dengan tenang. Mereka sudah menyelesaikan masalah Jeju dengan baik. Meski dengan berat hati akhirnya Jiyong mengizinkan Dara untuk pergi. Semuanya sudah baik-baik saja semalam. Bahkan mereka bercinta seperti tidak terjadi pertengkaran sebelumnya. Tapi wajah Jiyong pagi ini yang terlihat cemberut membuat Dara mengerutkan kening.

“Jiyong-ah, ada apa?” Tanya Dara menatap Jiyong.

“Apa kau yakin akan ikut?” Tanya Jiyong.

“Ya. Dan tolong jangan bahas ini lagi. Aku kira kau sudah setuju semalam?”

“Ya, tapi..” Jiyong tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia membuang nafasnya keras.

“Hey, tidak ada yang perlu dikhawatirkan Jiyong.” Kata Dara sambil mengupas apel untuk Jiyong. Lelaki itu tidak menjawab, hanya menatap Dara dengan sendu.

“Kenapa kau sudah rapi pagi ini?” Jiyong mengalihkan pembicaraan.

“Bom ingin bertemu denganku nanti pukul 09.00 am. Kami akan bertemu di café dekat kantormu.”

“Oh, apa Seunghyun dan Bom kembali lagi?” Jiyong memasukkan apel yang sudah dipotong-potong Dara ke dalam mulutnya.

“Aku tidak tahu mereka kembali atau tidak. Tapi hubungan mereka sudah baikan sekarang.” Dara berdiri dari tempat duduknya dan mengambil jas untuk Jiyong. Lalu kembali lagi dan memakaikannya pada pria itu.

“Seungri akan menjemputmu nanti oke. Dia yang akan membawakan barang-barangmu ke kantor.” Jiyong mencium kening Dara lembut membuat wanita itu tersenyum.

“Oke. Terimakasih.”

***

“Ceritakan. Ada apa Bommie?” Tanya Dara langsung saat Bom datang. Ia bisa melihat sahabatnya itu sedang punya masalah.

“Begini, kau tahu aku dan Seunghyun, kami tidak memutuskan untuk kembali menjadi pasangan lagi.” Dara mengangguk mendengarkan Bom. “Ya kami tidak sedekat dulu memang, tapi kami sudah dua kali pergi bersama. Dan masalahnya adalah, kemarin dia datang ke butikku dan mengajakku makan siang.” Bom berhenti untuk mengambil nafas.

“Lalu?” Tanya Dara yang sudah tidak sabaran.

“Dia memintaku untuk kembali menjadi kekasihnya. Apa yang harus aku lakukan Dara?” Tanya Bom bimbang.

“OHMYGOD! Seunghyun melakukannya?” Tanya Dara girang yang dibalas anggukan oleh Bom. “Terima saja Bommi.”

“Bagaimana bisa aku menerimanya Dara? Kami tidak seperti dulu lagi.”

“Bom-ah, apa kau masih memikirkannya?” Bom mengangguk.

“Apa kau merasa menyesal kenapa kesalah pahaman itu terjadi? Maksudku jika tidak terjadi salah paham itu hubungan kalian masih baik-baik saja.” Gadis itu mengangguk lagi.

“Apa kau bisa membayangkan hidupmu dengan lelaki lain Bom?” Kali ini dia menggeleng dengan mendesah berat.

“Kau belum melupakannya Bommi, kau masih menginginkannya. Dia masih jadi bagian darimu.” Ujar Dara. “Terima dia, berikan kesempatan lain untuk kalian berdua.”

“Tapi bagaimana jika semuanya tidak berjalan lancar? Kami sekarang hanya seperti orang asing yang saling mengenal Dara.”

“Kalau begitu mulailah dari awal. Mulai lagi untuk saling mengenal. Mulai lagi untuk saling memahami.” Kata Dara dengan tersenyum. Dara tahu bagaimana Bom mencintai Seunghyun dulu. Dan sekarang ia masih bisa melihat rasa cinta itu belum menghilang. “Jika kalian memang untuk satu sama lain, takdir pasti akan memainkannya untuk mu dan Seunghyun.”

“Darimana kau bisa mengatakan bahasa sok puitis seperti itu?” Tanya Bom yang membuat Dara tertawa. Dara sudah tahu apa jawaban sahabatnya meski ia tidak menjawab. Bom akan memberikan kesempatan kedua untuknya dan Seunghyun.

“Ini yang namanya pengalaman adalah guru yang terhebat.”

“Ah ya ya ya. Kau dan Jiyong benar-benar amazing! Berpisah empat tahun dan kembali lagi. Serius Dara, kau bisa cari cowok latin yang seksi saat kita liburan di Brazil.” Cibir gadis berambut merah itu.

Bom memutuskan untuk ikut Dara ke kantor. Ia ingin bertemu lagi dengan Minzy dan Chaerin. Dua gadis muda itu sangat menyenangkan jika diajak ngobrol. Dan di sinilah mereka di ruang tamu lantai enam. Chaerin protes karena dirinya tidak bisa ikut ke Jeju bersama Dara dan Minzy.

“Bagaimana kalian tega meninggalkan aku sendiri?” Rengek Chaerin lagi.

“Kita bisa berlibur bersama Chaerin-ah tidak khawatir.” Ujar Dara.

“Selama mereka berdua pergi aku akan mengajakmu berburu cowok seksi bagaimana? Dan juga shopping, banyak keluaran baru yang aku dengar.” Kata Bom tersenyum. Mata Chaerin langsung berbinar mendengar ajakan Bom.

“Eoh Eonni kau yang terbaik.” Chaerin mengajungkan ibu jarinya pada Bom.

“Noona!” Suara teriakan familiar membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara. Dan di sana Seungri sambil membawa satu koper besar dan di sampingnya ada seorang staf yang membawa satu koper lagi menghampiri mereka. “Ini barang-barangmu. Dimana aku harus meletakkannya?”

“Di sini saja tidak masalah. Sebentar lagi aku akan berangkat.”

“Bom Noona, aku merindukanmu.” Seungri langsung memeluk Bom sehingga membuat gadis itu terkejut.

“Ya! Tolong pelan-pelan. Bajuku ini jika salah satu hiasannya ada yang jatuh harganya akan berkurang 10 dollar kau tahu.” Kata Bom kesal. Ia mengenakan mini dress warna hijau dengan banyak mote-mote yang menempel pada bajunya.

“Aku hanya merindukanmu noona.” Seungri mengerucutkan bibirnya.

“Lee Seungri bisa kau tinggalkan kami setelah menyelesaikan urusanmu?” Tanya Chaerin tajam.

“Oh maaf Lee Chaerin memangnya siapa kau?” Balas Seungri dengan nada sarkatis. Dan seolah tidak ada orang lain di sana mereka saling memberikan tatapan tajam. Jika mata mereka bisa memancarkan api bisa dipastikan gedung itu sudah kebakaran. “Kedudukanku di sini lebih tinggi dari kedudukanmu.” Tambah Seungri.

“Oh ya? Tapi yang aku lihat kau hanyalah tukang suruh-suruh.” Kata Chaerin marah.

“Oh jinjja! Bagaimana bisa kau mengatakan itu! Dasar! Coba lihat dirimu, hapus eyelinermu itu dan lihat seperti apa wajahmu.” Balas Seungri yang tidak rela dengan ucapan Chaerin.

“APA MASALAHMU?!!! SEMUA WANITA MENGGUNAKANNYA!” Teriak Chaerin.

“Tapi kau menggunakan satu botol setiap harinya!”

“Dan kau berapa banyak BB Cream yang kau gunakan untuk menutupi mata panda jelekmu!”

“Tidak ada yang pernah berani bertanya itu padaku Chaerin! Sekalipun Mr. Kwon!”

“Seungri-ah memangnya Jiyong harus tahu berapa banyak kau menggunakannya?” Bom menyela pertengkaran mereka berdua.

“Aish noona. Tolong bela aku dari gadis bar-bar itu.” Ujar Seungri kesal dengan nada memohon. Tapi Bom hanya menggelengkan kepalanya dengan tertawa. “Satu lagi Lee Chaerin, sebanyak apapun make up yang kau pakai kau tidak akan pernah menyamai CL 2NE1!” Kata Seungri lalu pergi meninggalkan para gadis.

“Aku masih lebih baik dari pada CL-CLmu sialan!”

***

“Seungrat. Dara hari ini pergi ke Jeju. Dia akan di sana selama satu minggu.” Ujar Jiyong dengan tatapan kosong ke arah jendela. Ini sudah ke 20 kalinya dalam satu hari ini Jiyong mengucapkan kata-kata yang sama. “Kau bisa membayangkannya betapa kesepiannya aku?” Seungri menirukan gaya bicara Jiyong. Dan dia sudah bisa menebak apa yang akan bos-nya katakan setelah ini. Aku akan mati Rat. Kata Seungri di dalam hati.

“Aku akan mati Rat.” Betulkan?

“Hyung itu hanya pekerjaan yang Dara Noona harus jalani.” Dan Seungri selalu menjawabnya dengan kalimat yang sama.

“Tapi seminggu?! Bukankah itu terlalu lama?”

“Kau pernah ditinggalkan Dara Noona selama empat tahun dan kau masih bernafas.”

“Kau tidak mengerti karena kau tidak punya pacar!” Geram Jiyong. “Coba kau bayangkan Chaerin-mu itu pergi selama seminggu apa yang kau rasakan?”

“Damai. Benar-benar damai. Dan satu lagi dia bukan Chaerinku. Dia sudah melukai harga diriku sebagai pria sejati.” Kata Seungri kesal saat mengingat pertengkarannya tadi. Jiyong menatap Seungri penuh tanya.

“Apa maksudmu melukai harga dirimu?”

“Apa kau percaya, dia bertanya padaku berapa banyak BB Cream yang aku gunakan untuk menutupi mata pandaku.” Seungri menghembuskan nafas kesal. “Hilang sudah jati diriku hyung.”

Jiyong tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan dari temannya itu. “Yah, Ri-ah, sebenarnya berapa banyak yang kau pakai? Aku juga penasaran. Karena jika kau tak memakainya kau terlihat seperti zorro* kau tahu? “

“Yah Hyung! Aku kira kau berada di pihakku?!” Seungri memandang hyung-nya dengan cemberut. “Kenapa kau tidak kembali ke masalah Dara Noona meninggalkanmu selama seminggu?”

Dan seperti disiram air dingin kesadaran Jiyong kembali lagi. Ia akan menjalani malam-malamnya selama seminggu tanpa Dara. Membayangkannya saja sudah terdengar menyedihkan.

“Kenapa kau tidak mengunjunginya hyung? Bukankah kau punya jet pribadi?”

“Jenius! Kau benar-benar jenius!” Wajah Jiyong kembali bersemangat. Dia akan mengunjungi Dara setelah jam kerjanya selesai. “Ri telepon Dongwook Hyung pastikan dia bisa menerbangkanku ke Jeju sore malam ini.” Dongwook adalah temannya dan juga pilot pribadinya.

***

* Zorro sebuah film tentang pahlawan. Cari di internet sendiri ya 😀

Long time no seeeee! Aku buatin agak panjangan dari chapter kemarin. Dan yang minta Daragon scene. Ini dia aku kasih buat kalian. Maaf kalo masih mengecewakan. Terimakasih juga yang udah mau baca ff ini walopun updatenya lama pisan. Tp saya janji bakal selesein ff ini kok. Makasih semuanya. Minta komennya boleh dong 😀

<< Back | Next >>

Advertisements

37 thoughts on “Behind The Scene #13

  1. aku kemarin baca dari chapter 1 sampai chapter 13, ceritanya bagus tapi kadang kadang ada typo nya yang bikin kalimat jadi ambigu. selain itu maaf yah ini kan ceritanya agak dewasa tapi kalau bisa mah pas adegan gini ceritanya dijadiin jadi lebih elegan soalnya kalau aku baca yang adegan dewasanya kesannya malah jadi geleuh. maafin ini cuma saran hehe

  2. Ya ampuuunnn…ririn couple gak ada abisnya
    Setiap ketemu pasti berantem
    Jadi ketawa ngakak pas jiyong mendramatisir cerita hari2nya tanpa dara selama seminggu
    Sampe2 seungri tau apa yang akan jiyong katakan selanjutnya
    😂😂😂😂

  3. ih si jiyong lebay ketimbang enggk ketemu 1minggu aja merana nya keterlaluan ,bener tuh kata si sungrat dara ninggalin 4 tahun aja situ masih bisa nafas gimana ceritanye cuma 1minggu bisa mati kan yg baca jdi ketawa dan sebel ,hahaha…..

  4. bener deh, daragon itu sweet couple bener bener!! cobaa aja kalo real life, girang abisss!! kkkk~ ririn couple juga lucuuu, kalo di scene nya mereka ga bisa ga ketawa dehh kkkk~ ayoo bommie unni, terima top oppa hehehe😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s