기용취 – Giyongchi: Cinq

giyongchi

~ Cinq: Emmêlés ~

**

Debut Perdana Park Sandara di Fashion Show Giyongchy

CCNNchGUAAASMCS
[+13 429, -1] Tidak bisa dipercaya… Sandara Park sangat cantik…
[+12 897, -0] Homaigadh homaigadh homaigadh homaigadh… dia seperti dewi yang turun dari kahyangan! Apakah dia sungguh seorang manusia? >.<
[+12 546, -3] Aku sudah menikah dan merupakan ibu satu orang anak, usiaku lebih muda dari Sandara Park, tapi dia terlihat 10 tahun lebih muda dariku… T_T sangat cantik, dan Haru juga menuruni kecantikan ibunya… T_T
[+11 984, -2] Dal-bie… benar-benar seperti boneka… ❤
[+1 726, -1] Impian adikku adalah menjadi Sandara Park! XD
[+1 560, -97] Apakah hanya aku yang tidak menyukai suami Sandara Park? (o_o)
[+645, -6] Aku sudah menjadi penggemar Sandara Park selama 10 tahun, tapi aku masih sulit percaya jika dia sudah lebih dari 30 tahun dan memiliki anak. Aisht, orang yang tidak mengenalnya pasti akan percaya bahwa jika dia mengaku masih berusia 20 tahun!
[+563, -9] Beruntung sekali Donghae Lee menjadi suami seorang Sandara Park.. kekeke
[+1, -15 674] Sandara Park sudah terlalu tua untuk menjadi model, apalagi untuk perancang kelas dunia. Seharusnya Giyongchy memilih model-model muda
Sandara Park dan Jiyong Kwon di Karpet Merah Grand Opening Giyongchy
HD
 [+5,860, -17] Mereka sudah bersahabat lama… sungguh menyenangkan… ❤
[+3,672, -196] Mengenal Sandara Park selama belasan tahun, bagaimana mungkin Jiyong Kwon bisa menjadi gay… kekeke
[+2,916, -0] Sandara Park dan Jiyong Kwon bersahabat baik… seandainya aku memiliki sahabat seperti mereka pasti akan sangat menyenangkan~ XD
[+1,037, -0] Sandara Park dan Haru bahkan mengenakan rancangan Giyongchi sehari-hari! Jiyong Kwon, jadikan aku sahabatmu!!! >.<
[+437, -167] Dulu sempat beredar kabar bahwa Sandara Park dan Jiyong Kwon memiliki hubungan, dan melihat foto mereka berdampingan begitu, aku tidak keberatan jika Sandara bercerai dengan Tuan Lee demi Designer Kwon! XD
[+402, -155] Apakah hanya aku yang berpendapat mereka berdua sangat cocok? kekeke

Donghae Lee nyaris saja membanting tablet di tangannya begitu membaca komentar para netizen. Di telinganya masih terngiang jelas suara ayahnya yang menelepon sepuluh menit lalu.

“Apa saja yang kau lakukan, hah?! Katamu kau akan mengurus semuanya, tapi lihat apa yang kutemukan begitu aku bangun pagi ini?! Semua berita ini sama sekali tidak akan membantu kampanyemu nanti!”

Donghae yang ketika itu tengah bersiap untuk pergi ke kantornya segera bergegas meraih komputer tablet miliknya dan membuka halaman situs berita. Dia langsung merutuki kelengahannya sendiri. Seharusnya semalam dia langsung memerintahkan asistennya untuk mengurus masalah ini!

Tapi jika mengingat lagi kondisinya semalam, tidak mengherankan jika otaknya tidak bisa berpikir dengan benar.

“Oh, kau sudah mau berangkat?” kata sebuah suara mengagetkan Donghae.

Donghae menoleh dan secara otomatis sebentuk senyuman langsung terbentuk di bibirnya. “Eoh, ada sesuatu yang harus kuurus. Tapi tenang saja, aku akan segera pulang begitu semuanya selesai.”

Ne, arasseo,”

“Aku tidak akan mematikan ponselku, jadi jika ada apa-apa kau harus langsung menghubungiku,” pesan Donghae.

**

Dara mengusap peluh di keningnya, lelah setelah semalaman terjaga.

“Ya, panasnya sudah turun, untung saja. Aku tidak tahu harus bagaimana jika dia masih panas tinggi, kau tahu kan Oppa, Haru sangat tidak menyukai rumah sakit…” katanya melalui telepon.

Jika mengingat kejadian semalam, emosi Dara kembali tersulut. Ibu mana yang akan diam saja ketika pulang disambut dengan raung tangisan dari putrinya. Dan kenyataan bahwa seharusnya ayah dari putrinya – yang sayangnya masih resmi berstatus sebagai suaminya – tidak berada di sana sebagaimana yang seharusnya.

Ingin sekali rasanya Dara memukuli Donghae sampai babak belur begitu mendengarkan penuturan Haru bahwa Donghae buru-buru pergi begitu menerima telepon.

Abeoji pergi begitu saja, padahal aku sudah bilang bahwa perutku sakit,”

Bayangkan saja bagaimana perasaan Dara saat membuka pintu dan mendapati Haru meringkuk di lantai menangis keras sambil memegangi perutnya. Bisa-bisanya Donghae pergi meninggalkan seorang anak, anaknya sendiri, kecil dalam keadaan demikian. Lebih parahnya dia sama sekali tidak berusaha menghubungi Dara terlebih dahulu untuk sekedar memberikan alasan kenapa dia harus segera pergi.

“Kau tidak perlu kembali ke mari, Oppa…” tolak Dara, sambil memijat pelipisnya. Dia sungguh merasa tidak enak karena telah merepotkan Jiyong.

Begitu mendapati Haru yang menangis meringkuk memegangi perutnya, Dara yang panik langsung menelepon orang pertama yang muncul di kepalanya. Jiyong. Dan pria itu masih menjadi orang yang paling bisa Dara andalkan. Jiyong tidak mengecewakannya, langsung datang dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Dan keberadaan Jiyong yang sesaat, karena harus menghadiri after party Grand Opening Giyongchy, sangat membantu.

 “Kau sudah sangat membantu semalam, dan aku yakin kau pasti masih butuh waktu untuk tidur,”

Omma…” suara Haru memanggilnya mengalihkan perhatian Dara.

Oppa, tunggu sebentar, sepertinya Haru sudah bangun,” kata Dara melepas gagang telepon dari telinganya, namun tidak memutus sambungan dan membawa serta benda itu ke kamar putrinya.

“Haru, annyeong…” Dara membuat suaranya menjadi ceria. “Bagaimana perasaanmu pagi ini? Apakah sudah lebih baik? Perutmu masih terasa sakit?” tanyanya beruntun begitu masuk ke kamar Haru, kemudian duduk di tepi ranjang. Reflek, dia langsung menyentuhkan punggung tangannya ke kening dan leher Haru, lalu mendesah lega karena tidak merasakan panas tinggi.

Haru menganggukkan kepalanya pelan. “Sedikit,” jawabnya.

Terdengar suara gumam dari benda di tangan Dara yang menarik perhatian Haru.

“Apakah itu Papa Jiji?” tanya Haru, ada sedikit sinar penuh harap di matanya yang membuat hari Dara sedikit terbersit ngilu. Dia masih ingat sinar harap yang sama yang muncul di mata Haru semalam karena beranggapan akan menghabiskan waktu bersama dengan abeoji-nya.

Neh, apakah kau ingin bicara dengan Papa Jiji?” tanya Dara, mengangsurkan gagang telepon portabel di tangannya kepada Haru.

Haru menganggukkan kepala kembali, kali ini sedikit lebih bersemangat.

“Papa Jiji!” seru Haru riang.

Jika Dara tidak melihat wajah pucat Haru, dia pasti akan berpikir bahwa putrinya sudah kembali sehat!

Chincha?” Mata lebar Haru membulat penuh antusias. “Neh! Yaksok!” kemudian dia terkikir riang.

Omma, omma… ini,” dia menyerahkan gagang telepon kembali kepada Dara dan nyaris melompat bangun dari tempat tidur. “Aku mau mandi, Omma, Papa Jiji akan segera datang!” serunya.

Oppa, apa yang kau katakan pada Haru?” Dara tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Namun sebelum dia bisa menerima jawaban dari orang di ujung sambungan, seruan Haru sudah kembali terdengar. “Omma, ppalliwa!”

“Iya, Sayang… sebentar!” dia pun ikut meninggikan suara. Meskipun masih belum bisa mengikuti perubahan suasana yang tiba-tiba ini.

“Aisht, Oppa!” dia nyaris berteriak sebelum memutus sambungan.

**

Omma!” seruan Haru sedikit mengejutkan Dara. Hampir saja dia menumpahkan gelas berisi susu di tangannya.

“Iya, Haru-ah, iya… Omma mendengarmu, tidak perlu berteriak begitu,” jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Meski sebenarnya dia merasa lega putrinya sudah kembali ceria.

Dara tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya melihat pemandangan yang menyambutnya. Haru dan Jiyong saling berpelukan di atas tempat tidur, pandangan mata keduanya tertuju pada layar televisi yang menayangkan Discovery Channel. Jangan ditanya dari mana Haru mengenal saluran itu, dia sendiri pun tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Yang pasti, suatu hari Dara mendapati putri kecilnya duduk di depan televisi yang menayangkan dokumentasi ekspedisi ke Afrika. Dan sejak hari itu, tanpa disadari koleksi DVD di rumah mereka bertambah dengan dokumentasi ekspedisi-ekspedisi ke berbagai benua.

Omma,” kata Haru saat melihat Dara sudah berada di ujung pintu. “Papa Jiji benar-benar payah!” lapornya bersemangat, melirik ‘Papa Jiji’-nya sebelum kemudian tertawa meremehkan.

 “Yah, Haru-ah!” nada suara Jiyong memperingatkan.

Dara mengabaikan Jiyong yang (berpura-pura terlihat) kesal dan menghadap Haru dengan perhatian penuh. “Oh ya, benarkah?” dari sudut matanya, dia bisa melihat senyuman tersungging di wajah Jiyong. “Bagaimana kalau kau menceritakan pada Omma kenapa Papa Jiji payah, tapi sebelumnya minum susumu terlebih dahulu,”

Haru tak memprotes saat Dara menariknya untuk duduk dan dengan patuh meraih gelas susu yang diberikan kepadanya. “Ne, Omma,”

Saat Haru baru meneguk separuh isi gelasnya, suara bel pintu terdengar. Jiyong memandang Dara, tatapan matanya menanyakan apakah ada tamu yang sedang ditunggu. Tapi Dara hanya menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak memiliki janji dengan siapa pun. Meski demikian, tak urung, wanita itu segera bangkit berdiri dan keluar dari kamar Haru menuju ke pintu depan.

Begitu membukakan pintu, mata Dara terbelalak lebar melihat siapa yang datang.

“Apa yang kau inginkan dengan datang ke mari?”

**

Perasaan Jiyong tak tenang setelah beberapa saat Dara belum juga kembali. Telinganya menangkap suara-suara samar, namun tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun dari nadanya, Dara dan tamunya itu tengah bersitegang.

“Haru-ya, kau tunggu di sini dulu dan jadilah gadis baik. Papa Jiji akan menghampiri Omma, setelah itu kita bertiga akan melanjutkan menonton, arachi?”

Haru telihat menimbang sesaat, tapi akhirnya memutuskan untuk patuh tanpa memprotes.

Ne, arachi.”

“Anak pintar,” ucap Jiyong penuh sayang sambil mengelus kepala Haru, sebelum kemudian beranjak.

Jiyong menutup pintu kamar Haru perlahan, lalu bergerak menuju ke pintu depan. Suara-suara  yang tadi didengarnya kian jelas, dan firasatnya tidak salah. Jelas siapa pun itu yang datang, dia berselisih paham dengan Dara.

“…beraninya kau datang ke mari marah-marah karena alasan tidak penting, setelah kau meninggalkan putrimu kesakitan seorang diri!”

Ah, rupanya Donghae Lee yang datang.

Jiyong mendesah dan tersenyum kecut. Sejak dulu, pria itu selalu saja pintar merusak suasana.

“Haru sakit?” pertanyaan bodoh Donghae kembali membuat Jiyong mendesah. Jika dia menjadi pria itu, diam adalah jalan terbaik.

“KAU MASIH BERANI BERTANYA?!”

Benar bukan?’ Batin Jiyong mendengar Dara berteriak keras. Dia sampai bertanya-tanya teriakan Dara tidak membuat Haru melesat keluar. Oh, tapi kemudian dia ingat, bahkan jika terjadi gempa sekali pun, Haru tidak akan beranjak dari tempatnya saat sedang menonton acara kesayangannya, atau setidaknya begitu yang dikatakan Dara padanya.

“KAULAH YANG TERAKHIR BERSAMA PUTRIKU SEBELUM AKU MENEMUKANNYA MERINGKUK DI LANTAI, MENANGIS KESAKITAN!”

Jiyong memutuskan sekarang adalah saatnya dia keluar sebelum Dara meruntuhkan gedung tempat mereka berada dengan suara teriakannya.

“Dara,” panggil Jiyong sambil berjalan mendekat.

Mendengar suaranya, perhatian Donghae teralihkan kepada Jiyong, tapi hanya sesaat, dan dia kembali menatap Dara. Jiyong langsung menempatkan diri di samping wanita itu, memegang bahunya.

“Maafkan aku, aku tidak tahu jika Haru sakit…”

“Tahu pun, aku ragu kau tidak akan melarikan diri pada kesempatan pertama yang kau peroleh,” sela Dara pedas.

“…Hyora meneleponku dan aku harus segera pulang,”

Kening Jiyong berkerut mendengar ada nama lain yang di sebut. Seingatnya, Donghae Lee tidak memiliki saudara perempuan bernama Hyora. Tapi, keheranannya semakin bertambah melihat reaksi Dara yang hanya mendengus. “Sudah kuduga,”

“Dara, kumohon mengertilah… Hyora sedang hamil dan,”

“Siapa Hyora?” potong Jiyong tajam. Kedua matanya tertuju pada Donghae, menuntut penjelasan.

“Bukan urusanmu,” sergah Donghae, tidak merasa berkewajiban menjelaskan apa pun kepada pria itu.

“Jelas itu adalah urusanku! Sudah kuperingatkan padamu…”

Oppa, sudahlah… itu tidak penting,” kata Dara berusaha menanangkannya, menahan Jiyong yang akan maju melalui lengannya.

“Dara apa maksudmu dengan tidak penting?! Jelas-jelas…”

Oppa,”

Jiyong mendesah berat, menelan kembali kata-kata yang sudah akan keluar dari ujung lidahnya dan menutup mulut. Melihat Jiyong sudah tidak akan menyelanya, Dara kembali mencurahkan perhatiannya pada Donghae.

“Sebut aku sebagai wanita yang paling tidak berperasaan, aku tidak peduli, karena yang dipertaruhkan di sini adalah keselamatan putriku. Jadi terserah kalau kau mau menyebutku egois atau apa,” ucap Dara pelan namun penuh ketegasan. “Jika itu terserah padaku, aku akan lebih senang seandainya  Haru tidak mengenal abeoji-nya, daripada dia harus selalu dikecewakan seperti ini,”

**

“Apa itu tadi Dara-ah?” tanya Jiyong setelah Donghae pergi.

Dara mendesah dan menjatuhkan dirinya ke sofa, sebelah tangannya bergerak untuk memijat pelipisnya yang pening. Jiyong bergerak dan ikut duduk di sebelahnya.

“Dia datang untuk marah-marah, tapi justru aku yang memarahinya.” Jawab Dara, lalu kemudian menambahkan setelah melihat ketidakpahaman di wajah Jiyong. “Menurut pendapatnya artikel semalam tidak akan membantu kampanyenya,”

“Artikel?” JIyong semakin tak mengerti.

“Kau tidak memeriksa artikel tentang acaramu semalam?” tanya Dara yang dijawab oleh Jiyong dengan gelengan. “Ya, intinya itulah yang membuatnya datang ke mari, lupa bahwa semalam dia meninggalkan putrinya sendirian, menangis, demi seseorang yang menyebut dirinya sebagai orang dewasa,”

“Hyora?” tanya Jiyong.

“Ya, Hyora.” Dara membenarkan.

Apa maksudnya semua ini? Siapa Hyora?

Selama ini mereka berdua masih saling menjalin komunikasi dengan baik, tapi tidak pernah sekali pun Jiyong mendengar nama Hyora disebut.

“Siapa Hyora?” kembali Jiyong tidak bisa mencegah dirinya bertanya, meskipun separuh dari dirinya enggan mengetahui jawaban yang akan Dara berikan padanya.

**

~ To be Continue ~

sj logo giyongchi

<< Back  Next >>

p.s. please check this

Advertisements

30 thoughts on “기용취 – Giyongchi: Cinq

  1. sukaaaa>< lanjut lanjut lanjutt!
    eh btw aku readers baru ff inii, sempetnya komen disini mianhae~
    suka ffnyaa, jelas bacanya ga ribet. argh geregetan pas donghae bertengkar sama dara. pokoknya cepet dilanjut unniee, fighting hengsho~

  2. Haru itu anaknya donghae tapi karna mungkin dari dulu diurusinnya sama jiyong makanya haru manggil jiyong dengan sebutan papa ji…right??

  3. thor kapan update huhuhu
    aku bahkan ngescroll jauh kebawah demi ff ini:(
    aku bahkan udah lupa username ku, entah itu bambam atau farahfitri kekeke
    fighting thoorrr!! i hope u will update it very soon^^

  4. aku suka banget sama FF ini, berhubung suka banget sama baca novel jadi aku coba baca FF ini dan sumpah kayak baca novelnya penulisannya juga bagus, coba bikin novel insyaallah aku beli hehe

  5. Udah lama gk buka DGI, kapan dilanjut cerita ini, lama nunggu dan beberapa kali cek belum ada kelanjutannya juga… D setiap chapnya bikin penasaran.
    Update please….

  6. Daebakk ff nya.
    Bikin pnsaran.
    Eonii kpan update lagii.. Udah lama pisan nunggu nya.
    Bolak.balik baca ini. Tpi blom ada juga update.an trbarunya.

  7. good job banget ya donghae, ihh kok aku lebih suka liat dara sama jiyong ya? homaygohd aku lebih milih jiyong yang jadi ayahnya haru deh, jiyong juga keliatan sayang banget sama haru. bukan cuma sama dara tapi sama haru juga, ngga kaya bapaknya, ihh ngga banget deh bapaknya haru -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s