Behind The Scene #11

bts1

Author : Oktyas

“Annyeonghaseyo.” Sapa Dara saat memasuki kantor. Dengan tergesa-gesa memasuki ruangannya, dan segera mengambil beberapa berkas yang ia tinggal di meja. Keluar dari ruangnya dengan tangan penuh membawa stopmap. Ini adalah syuting hari pertama, dan Dara tidak mau terlambat. Karena terlalu panik, hampir saja ia bertabrakan dengan Chaerin.

“Aigoo eonni, kenapa terburu-buru?” Tanya Chaerin membawa sebungkus roti.

”Aku hampir terlambat Chaerin-ah, ini hari syuting pertama. Apa kau melihat Minzy?”

“Tadi aku melihatnya sebelum pergi ke kafetaria.” Chaerin mengedarkan matanya mencoba mencari sosok gadis berambut pendek itu.

“Kenapa pagi ini mendadak kacau?” Keluh Dara frustasi sambil memasukkan stopmap ke dalam tas yang ia bawa.

“Eonni, jangan gugup. Kau bukan sutradara ataupun pemainnya. Tidak ada yang akan memarahimu.”

“Justru itu, aku tidak ingin dianggap tidak disiplin hanya karena aku bukan sutradara atau pun pemainnya.” Dara menyingkirkan rambutnya yang menyebar di pundak ke belakang. Sehinggaa membuat jelas kalung yang melingkar di lehernya.

“Omo, kalungmu sangat cantik.” Puji Chaerin saat matanya menangkap berlian merah muda yang menggantung di leher Dara. Dengan panik Dara langsung menutupi berlian itu dengan tangannya. “Ah, gomawo.” Dara hendak memasukkan kalungnya ke dalam baju, sebelum Chaerin menahan tangannya dan menarik tangan Dara agar tidak menutupi kalung tersebut.

“Tunggu dulu, ini terlihat familiar. Di mana aku melihatnya?” Chaerin mengamati kalung Dara seolah kalung itu adalah bahan penelitian. Mencoba mengingat-ngingat di mana ia melihatnya.

“Kau mungkin salah lihat.”

“Tidak eonni, penglihatanku itu nomer satu. Kau tahu aku punya mata kucing.” Chaerin kembali memerhatikan kalung itu lagi. Dia yakin pernah melihat kalung itu di suatu tempat. “Oh My Gosh! Kalung itu, kalung semalam.” Gadis itu menutupi mulutnya karena terlalu terkejut.

“A-aniyo, itu hanya mirip.” Dara mencoba meyakinkan Chaerin.

“Tidak eonni. Itu kalung semalam di acara pelelangan. Kalung seharga U$D 50 juta. Ini gila.” Kata Chaerin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak percaya ini.” Tatapannya masih terpaku pada kalung berlian merah muda itu.

“Dara Eonni!” Terdengar Minzy dari belakang berjalan ke arah mereka. “Ayo eonni, semuanya sudah menunggu, kita akan berangkat.”

“Ah oke. Aku sudah siap.” Uh! Leganya, Minzy-ah kau datang di waktu yang tepat. Dara berbalik menggandeng tangan Minzy meninggalkan Chaerin yang masih setengah sadar karena kalung itu.

“Tunggu eonni!” Teriak Chaerin. “Minzy-ah tunggu!” Minzy berhenti ketika mendengar namanya dipanggil tetapi Dara terus menariknya berjalan.

“Dara Eonni! Apa Mr. K itu pacarmu?!! GOSHHH!! Eonni! Minzy-ah! DARA EONNI MEMAKAI KALUNG DI PELELANGAN AMAL SEMALAM!” Chaerin terus mengejar kedua gadis itu sambil berteriak. Tidak memerdulikan tatapan aneh dari pegawai lainnya. Minzy menoleh memberikan tatapan ‘apa-kau-yakin?’

“KALUNG U$D 50JUTA DARI MR. K SEMALAM! KAU HARUS LIAT KALUNGNYA MINZY-AH! PRIA GILA MISTERIUS KAYA SEMALAM ADALAH PACAR DARA EONNI! KAU HARUS PERCAYA PADAKU MINZY!!”

Oh God! Kenapa Chaerin harus berteriak seperti itu? Kali ini aku setuju dengan Seungri jika Chaerin wanita gila. Dia gila!

“Eonni, apakah benar yang dikatakan Chaerin Eonni?” Tanya Minzy saat mereka sampai ke tempat rombongan syuting menunggu. “Akan kujelaskan nanti.” Percuma jika Dara berbohong. Kalung ini tidak bisa dia sembunyikan.

“Josonghamnida Oppa. Kalian harus menunggu lama.” Dara membungkuk ketika melihat Joongki menghampirinya.

“Tidak Dara-ah, kami sedang melakukan persiapan. Apa kau sudah siap?”Joongki menepuk pundak Dara tersenyum. Gadis itu menganggukkan kepalanya bersemangat.

***

Beberapa pemain pendukung sudah mulai melakukan syuting bagian mereka masing-masing. Meskipun mereka bukan bintang utama, Dara mengagumi kemampuan akting mereka yang luar biasa. Di beberapa kesempatan Dara memberikan masukan pada mereka.

Krystal yang baru selesai bersiap-siap sedang menunggu giliran untuk syuting bersama Lee Yoobi. Dia melihat ke arah Dara, dan merasa ada yang berbeda dengan gadis itu. Perlahan, Krystal berjalan ke arah Dara, dan matanya membulat terkejut saat melihat kalung berlian merah muda tergantung di lehernya. Jadi dia wanita beruntung itu?

“Kalung yang bagus eonni.” Puji Krystal lalu duduk di sebelah Dara. Dara yang tidak melihat datangnya Krystal menoleh dengan terkejut.

“T-terimakasih.” Katanya gugup. Lalu Dara menyelipkan kalungnya dan menyembunyikan di balik bajunya.

“Kenapa harus disembunyikan eonni? Bukankah kalung itu kalung mahal yang harus dipamerkan? Mendapatkannya cukup sulit kan eonni? Sampai Mr. K-mu harus mengeluarkan U$D 50 juta?”

“What?” Ada apa dengan gadis ini? Kemarin dia gadis yang ceria dan sekarang?

“Jadi apa pekerjaan pacarmu itu? Berapa usianya? Apa dia masih cukup muda?”

Oke ini keterlaluan. Apa dia berpikir aku berpacaran dengan pria botak berusia 50 tahunan. Batin Dara kesal. “Aku memilih hubunganku menjadi rahasia Krystal. Sejak dulu selagi aku masih menjadi aktris aku tidak suka tentang berbagi kisah cintaku.”

“Jika kau tidak ingin orang-orang mengetahui kisah asmaramu, seharusnya kau tidak memakai kalung itu.” Ujar Krystal. Hell, ia mengakui bahwa ia cemburu dengan Dara. Dia sangat menginginkan kalung itu, meskipun ia semalam telah memberi kode pada Jiyong yang menunjukkan ketertarikannya dengan kalung tersebut, Jiyong seolah tidak menangkap apa maksud Krystal.

“Krystal-ssi, bersiap-siap untuk syuting adegan dengan Yoobi-ssi.” Seorang staf menghampiri mereka.

“Eonni, aku pergi dulu.” Dara mengangguk tersenyum pada gadis itu.

***

TAKE 1 (Oh Rian berjalan di lorong rumah makan dan dengan sengaja menyenggolkan bahunya pada Kang Yoonhe.)

“CUT!” Teriak Joongki. Krystal dan Yoobi langsung berhenti dan menghadap ke arah sang sutradara. “Krystal-ah, di adegan ini kau tidak mendorong Yoobi, tapi hanya menyenggolkan bahumu saja. Dan tolong buat karaktermu berani di sini. Kau bukan Krystal Jung tapi Oh Rian, kau sudah baca naskahnya dan sudah memahami karaktermu tolong praktekkan di sini.”

TAKE 2 (Oh Rian menangkap ayam untuk dijadikan bahan utama di sebuah rumah makan keluarga.)

“CUT!”

“Krystal-ssi, kau sudah bekerja bagus di sini, tapi ekspresimu kurang yakin, saat kau memegang ayam-ayam itu. Karaktermu di sini adalah gadis kaya, yang sok tahu, sok berani, dan merasa tersaingi dengan Kang Yoonhe –Lee Yoobi- gadis biasa yang banyak disenangi orang lain. Jadi meskipun kamu takut, kamu berusaha menunjukkan jika kau berani dan bisa seperti Yoonhe.” Jelas Dara dengan sabar.

“Sandara-ssi, alangkah baiknya jika kau bisa memberikan contoh pada Krystal.” Usul Joongki.

“Apa kau tidak keberatan?”

“Tentu tidak. Ini lebih baik, jiwa aktrismu pasti belum hilang benarkan?” Joongki tersenyum meyakinkan Dara. Dara lalu berdiri dan berjalan ke arah Krystal yang berada di kandang ayam. Dara melakukan adegan yang Krystal perankan, dimana ia menangkap ayam yang kotor, menggunakan ekspresi wajah berani dan sombong sesuai karakter. Setelah menangkapnya Dara lalu mencuci tangannya dan mengeluh layaknya seorang gadis manja seperti yang dituliskan di naskah.

“Uh, Sandara-ssi sangat natural. Kau terlihat sangat berani, tapi saat adegan mencuci tangan ekspresimu berubah drastis menjadi jijik.” Puji asisten sutradara yang mendampingi Joongki. Semua staf dan pemain lain yang di situ juga memberikan pujian.

“Khamsahamnida. Itu bukan apa-apa. Krystal-ssi sebenarnya sudah melakukan kerja bagus. Oh, Yoobi-ah, kau memainkan peranmu dengan bagus di sini. Tapi kau harus ingat karaktermu di sini bukan gadis miskin yang penuh penderitaan. Kau harus menunjukkan rasa sebalmu pada Rian karena kau tahu jika Rian hanya akting.”

TAKE 3 (Mencabuti bulu ayam.)

“Krystal-ah, jangan perlihatkan ekspresi jijikmu.” Kata Dara.

“Bukankah ada pemeran pengganti untuk adegan ini?” Keluh Krystal menatap jijik ke arah ayam yang mati di dalam baskom. Sudah cukup tadi ia berlarian menangkap ayam di kandang. Belum kakinya terkena kotoran ayam. Uh!

“Tapi kami perlu gambar dengan gambarmu yang sedang mencabuti bulu ayam.” Jawab Joongki. “Bertahanlah sebentar.”

“Tapi ini benar-benar menggelikan. Bahkan ayamnya masih mengeluarkan darah di bagian lehernya.” Krystal merengek.

“Banyak aktris utama yang pernah melakukan adegan lebih parah dari itu Krys. Bahkan Dara di filmnya harus benar-benar berhubungan dengan mayat di ruang otopsi.” Tegur Joongki.

Lagi-lagi Sandara. Kenapa aku harus dibandingkan dengan Sandara Eonni terus?!! Kata Krystal kesal di dalam hatinya.

TAKE 4 (Pengalaman pertama naik bus, Rian meninggalkan barangnya di dalam bus dan mencoba mengejarnya ketika ia turun.)

Mereka sudah berpindah ke lokasi selanjutnya. Ini sudah pukul 08.00 malam, terlihat sekali wajah-wajah kelelahan di sini. Tapi mereka terus melakukan pekerjaan dengan baik. Tidak terdengar keluhan dari para staf di sana.

Pada adegan ini, diceritakan Oh Rian menolak supir yang biasa menjemputnya. Karena ia teringat kata-katanya pada Yoonhe bahwa dia adalah seorang gadis mandiri yang tidak ketergantungan dengan semua fasilitas mewah keluarganya. Akhirnya ia dan Yoonhe naik bus bersama meskipun hari sudah malam. Saat ia turun dari bis, dia meninggalkan barang bawaannya di dalam bis, karena ia terbiasa menggunakan mobil pribadi dan selalu ada asisten yang membawakan barangnya. Karena itu, ia harus berlari mengejar bis itu.

“CUT! Sekali lagi!” Teriak Joongki.

Krystal berlari lagi.

“CUT!”

“Krys, bisakah kau berlari lebih cepat lagi? Melihatmu berlari seperti itu, menunjukkan kau tidak peduli dengan barangmu yang tertinggal di bis.” Tegur Dara.

Dengan terpaksa gadis itu mengulangi adegan lari itu, meskipun tubuhnya sudah berteriak kelelahan.

“CUT!”

“Tunjukkan ekspresi yang tetap terlihat menarik di kamera meskipun kau kelelahan dan frustasi. Ulangi sekali lagi neh?” Dara menatap Krystal penuh dengan penyesalan. Merasa bersalah karena gadis itu harus mengulangi adegannya.

Lagi. Krystal mengulangi adegan larinya demi memuaskan sang sutradara.

“CUT!”

“Demi apapun jika kau memintaku untuk berlari lagi aku berhenti!” Teriak Krystal frustasi. Victoria manajernya langsung menghampirinya dengan membawa air mineral dan handuk. “Dan, Sandara Eonni, aku tahu kau adalah aktris terkenal pada eramu, aku tahu drama ini kau penulisnya, tapi apakah itu hakmu untuk mengomentari setiap aktingku?!!” Krystal menatap Dara dengan tatapan benci, kesal, frustasi, dan lelah. Dara tahu bagaimana lelahnya Krystal sekarang. Tapi ia tidak menyangka jika gadis itu akan membentaknya. Apakah aku terlalu mengkritiknya? Apa aku terlalu kejam?

“Sutradara Song, kau sudah punya asisten sutradara di sini, kenapa kau membutuhkan Sandara Seonbae? Jadi apa gunanya kau punya asisten sutradara? Bukankah Sandara Soenbae tidak bertanggung jawab untuk bagian pengambilan gambar?” Tambah Krystal. Dia benar-benar kesal kenapa semua orang di sini mengistimewakan Sandara. Memujinya, Sandara inilah itulah. Bisakah mereka melihat kerja kerasnya?

“Krystal-ssi, Sandara-ssi hanya membantu untuk menyempurnakan pembuatan drama ini. Kami semua setuju jika Sandara ikut andil dalam syuting drama ini. Komentarnya cukup membantu, kami juga mempunyai konsep penilaian yang sama.”

“Kau juga harus meminta persetujuan dari para aktris dan aktor yang terlibat Sutradara Song. Dan kalian terus membandingkan aku dengan Sandara Soenbae, kalian terus memuji Sandara Soenbae di depan mukaku seolah aku terlihat begitu buruk. Kau harus lihat kerja kerasku! Aku juga ingin drama ini sempurna! Aku sudah bekerja semampuku!”

“Krystal-ah, maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membuatmu tertekan. Aku hanya berpikir untuk membagi pengalaman bekerjaku selama menjadi aktris, dan aku-,”

“SHUT UP! Terlalu banyak alasan. Aku selesai syuting hari ini.” Krystal menarik nafas dalam-dalam. “Vic Eonni, ayo kita pulang.” Krystal dan manajernya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi syuting. Semua yang ada di sana tidak mengira Krystal akan kehilangan kontrol emosinya seperti ini.

“Eonni, gwenchana?” Minzy memberikan air mineral pada Dara.

“Gwenchana.” Kata Dara setelah meneguk air minumnya.

“Dara-ah, jangan khawatir. Dia pasti hanya kelelahan. Sebenarnya Krystal bukan tipe seperti itu. Aku pernah bekerja sama dengannya dua tahun lalu dan dia selalu menjadi gadis ceria. Pasti sedang ada masalah yang ia pikirkan.” Joongki menepuk pundak Dara.

“Seharusnya aku tidak terlalu banyak berkomentar. Krystal benar, aku bukan sutradara, aku tidak berhak untuk menilainya.”

“Tolong jangan terlalu dipikirkan.”

“Krystal hanya 21 tahun, dan dia sudah bekerja cukup keras tapi aku tetap mengomentarinya dan tidak puas dengan aktingnya. Kenapa aku sangat keterlaluan?” Dara menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar merasa bersalah.

“Ayo eonni, kau bisa meminta maaf padanya besok. Krystal-ssi pasti sudah baikan besok. Ayo kita pulang.” Ujar Minzy. Seluruh staf sudah mulai berbenah, para aktris dan aktor yang berada di situ juga mulai berpamitan.

“Ayo Minzy-ah. Ini pertama kalinya kau ikut syuting?” Minzy mengangguk.

“Kau pasti lelah. Besok aku akan menraktirmu sarapan.”

“Jinjja? Gomawo eonni.”

***

“Kau terlihat sangat lelah babe.” Ujar Jiyong sambil mengusap-usap rambut halus Dara yang tidur di pangkuannya. Dengan Jiyong bersandar di head board tempat tidur.

“Hm.”

“Tapi pasti menyenangkan, benarkan?” Jiyong tahu bagaimana kekasihnya itu menyukai dunia akting.

“Hm. Sangat menyenangkan. Tapi karena sudah lama tidak syuting, menonton syuting pun sangat melelahkan.” Dara mendesah. “Apa karena aku bertambah tua.”

“Aigoo, kau tidak pernah bertambah tua babe.” Jiyong mencubit ujung hidung Dara. “Dara, tadi TOP Hyung meneleponku, dia ingin bertemu Bom Noona.”

“Jinjja?” Dara memposisikan tubuhnya agar dapat melihat wajah Jiyong. Lelaki itu mengangguk.

“Aku kasihan padanya. Dia sangat frustasi, dia sangat ingin mendengar penjelasan dari Bom Noona. Kau mau membantunya kan?”

“Tentu Ji, kapan Seunghyun ingin bertemu Bommi?”

“Besok.” Mata Dara membulat karena terkejut. Kenapa sangat mendadak? “ Dia ingin secepatnya menyelesaikan masalahnya dengan noona, aku pikir hyung masih menyukai noona.” Jelas Jiyong.

“Seunghyun ingin bicara empat mata? Aku pikir Bommi tidak akan mau jika ia tahu akan bertemu dengannya.”

“Kau pikir mereka bisa berbicara secara normal jika hanya berdua? Mereka akan berteriak satu sama lain. Jadi kita akan menemaninya. Apa besok kau ada waktu?” Dara mengangguk. “Aku akan menghubungi Bommi besok. Tidak masalah kan jika sore?” Jiyong mengangguk dan tersenyum.

“Ayo kita tidur.” Jiyong mengangkat tubuh Dara dan menempatkannya di tempat tidur. Lalu ia berbaring di sebelahnya. Pria itu tidak tega melihat kekasihnya begitu kelelahan. Meskipun sebenarnya banyak yang ingin Jiyong tanyakan. Seperti, bagaimana syutingnya, apakah ada kejadian menyebalkan, apakah Joongki mendekatimu, seperti dulu saat Dara pulang syuting, ia dengan semangat akan menjawab pertanyaan Jiyong. Tapi kali ini Jiyong mengurungkan niatnya. “Kau terlihat sangat lelah.” Dara tidak menjawab, tapi bergeser mendekat ke arah Jiyong memeluk pinggang pria itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jiyong. Tempat kesukaannya. Jiyong melingkarkan tangannya di pinggang ramping Dara dan mengecup puncak kepala gadis itu. “Good night.” Katanya sambil tersenyum.

***

Jiyong duduk di atas sofa sambil memandang Dara dengan cemberut. Ini adalah suatu fase di mana Dara merasa tinggal serumah dengan bocah umur lima tahun. Saat mereka sarapan tadi, Jiyong bertanya tentang bagaimana syutingnya kemarin. Dan seperti yang sudah Jiyong duga, gadis itu akan bercerita dengan semangat. Dara menceritakan semuanya, kecuali bagian Krystal marah-marah. Ia tidak mau Jiyong memarahi Krystal. Tentang bagaimana ia merindukan syuting, merasa sebagai asisten sutradara, dan menceritakan bagaimana perhatiannya Joongki padanya. Dan, tiba-tiba Jiyong mendadak kesal.

“Mau sampai kapan kau cemberut begitu?” Tanya Dara sambil mengambil jaketnya.

“Kau bertingkah seolah itu bukan hal besar.” Balas Jiyong yang masih duduk sofa.

“Itu memang bukan hal besar Jiyong-ah. Joongki Oppa hanya membantuku.”

“Kau bahkan memanggilnya oppa. Dan jangan lupa kau kemarin naik mobilnya menuju lokasi syuting. Padahal jelas-jelas sudah disediakan mobil untuk staf.” Gerutu Jiyong. Dara menghembuskan nafas kesal. Mencoba mengatur emosinya. Lalu ia duduk di sebelah Jiyong.

“Itu karena dia menawariku Jiyong-ah, aku tidak enak hati untuk menolaknya.”

“Dan nanti dia akan menawarimu untuk makan siang, jalan-jalan, dia menyukaimu Dara. Apa kau tidak tahu?” Dara terdiam sejenak. Joongki Oppa suka padaku? “Aku melihatnya sekali saat ia mengantarmu pulang. Tatapan matanya mengatakan bahwa dia jelas suka padamu.” Jiyong menegaskan lima kata terakhir.

“Lalu apa masalahnya jika dia menyukaiku Jiyong?” Dara merapat ke arah Jiyong. Melingkarkan lengannya ke pinggang lelaki itu. “Kau tahu, hanya kau seorang Kwon Jiyong yang mampu memilikiku.” Bisik Dara di telinga Jiyong menggigit daun telinga pria itu.

Jiyong menutup matanya menahan sesuatu dari dirinya agar tidak terbangun. Damn woman. Hanya karena bisikan serak Dara membuat seorang Kwon Jiyong melupakan kemarahannya.

“Dara aku tahu apa yang sedang kau lakukan.” Jiyong menatap Dara tajam. Dara membalasnya dengan tatapan polos seolah ia hanya seorang gadis kecil. Tangan mungilnya mengusap-usap dada bidang Jiyong, naik ke leher, rahang, dan ke bibirnya.

“Ehmm.” Dara mengusap bibir Jiyong dengan ibu jarinya lalu menciumnya. “Aku akan memberimu hadiah malam ini jika kau berhenti jadi anak kecil.” Bisik Dara di bibir terbuka Jiyong. Jiyong memejamkan matanya erat-erat, sebelum mencium Dara dengan penuh gairah.

“Sekarang biarkan aku bekerja.” Kata Dara terengah-engah kehabisan nafas. Mereka berdua lalu bangkit dari sofa bersiap-siap.

“Ngomong-ngomong Jiyong, apa ada yang ingin kau sampaikan untuk pacarmu?” Tanya Dara dengan mengedipkan sebelah matanya. “Krystal Jung.”

“DIA.BUKAN.PACARKU.” Kata Jiyong geram yang membuat Dara tertawa.

***

Chaerin menyeringai saat melihat Dara berjalan menuju ke ruang kerjanya. Dia akan mengintrogasi Dara habis-habisan. Sadar Chaerin sudah menghadang di depan pintu Dara menghela nafas berat. Ini akan jadi pagi yang rumit. Batin Dara.

“Eonni, kau berhutang banyak penjelasan padaku.” Kata Chaerin saat Dara berada di hadapannya.

“Chaerin-ah, ini masih terlalu pagi, biarkan aku memeriksa naskah drama dulu oke?” Dara mencoba merayu Chaerin. Tapi gadis itu menggelengkan kepalanya. “No eonni. Kita bicara dulu baru kerja. Kalo kau mau aku bisa memeriksakan naskahnya untukmu nanti.” Chaerin menggeret Dara masuk ke dalam ruangannya.

“Sekarang jelaskan.” Kata Chaerin setelah mereka duduk berhadapan.

“Apa yang perlu dijelaskan?”

“Oke oke. Aku yang akan bertanya. Jadi apa kau punya hubungan dengan Mr. K?” Dara mengangguk ragu-ragu. Berkali-kali Dara berpikir untuk membohongi Chaerin, ia tahu Chaerin bukan tipe gadis yang mudah dibohongi.

“Jadi siapa Mr. K itu?”

“Aku tidak bisa memberitahumu. Maaf.”

“Kenapa??? Ah eonni ayolah beritahu aku.” Rengek Chaerin namun Dara tetap menggelengkan kepalanya. “Baiklah. Apa alasanmu tidak bisa memberitahuku?”

“Aku memang ingin merahasiakannya. Dan jika waktunya sudah tepat kau juga akan tahu.”

“Tapi kau harus memberi tahuku sebelum kau memberikan pengumuman untuk publik.”

“Tentu, aku akan memberitahumu dan Minzy secepatnya.”

“Apa dia tampan? Hot?”

“Ehm, aku takut kau akan naksir dia Chaerin-ah. Dia tipe cowok yang hot dan seksi.” Kata Dara memberikan senyuman menggoda.

“Omo eonni, beri aku satu.” Kata Chaerin dengan tatapan memohon.

“Mau dikemanakan Seungri? Dia cukup hot juga kok.”

“Aishh. Ya, dia memang hot kalo dimasukkan ke dalam air mendidih.” Kata Chaerin sarkastis. “Eonni, ini hari terakhirmu bekerja di ruang editor benar kan?”

“Ah iya. Bagaimana aku lupa. Aku hanya tinggal memeriksa bagian terakhir dan memberikannya padamu. Aku akan merindukan bekerja di sini.” Dara menghela nafas pelan. Dia akan benar-benar merindukan bekerja di sini. Ini membuatnya merasa dia normal, bukan Sandara Park yang dibayang-bayangi oleh statusnya sebagai mantan aktris.

“Yah! Kenapa kau bicara seolah kau tidak akan datang lagi?”

“Aku memang tidak akan datang ke sini lagi untuk bekerja, tapi untuk mengunjungimu.” Dara memamerkan senyuman cerahnya.

“Kau harus sering datang ke sini, kita belum bicara banyak. Aku ingin lebih mengenalmu.”

“Maksudmu ingin lebih mengenal Mr. K yang hot dan seksi?” Goda Dara membuat Chaerin menggelengkan kepalanya cepat. “Aigoo, aku hanya bercanda. Aku juga ingin lebih mengenalmu. Aku punya banyak pertanyaan tentang Seungri.”

“YAH! Kenapa harus menanyakannya padaku?” Chaerin menatap Dara tidak percaya. Amit-amit jika aku harus membicarakan Seungri. “Eonni jangan bilang jika kau suka dengan Seungri.”

“Waeyo? Kau cemburu?”

“ANIYOOO!!!”

***

“Ayo eonni, sudah waktunya untuk berangkat syuting.” Minzy berdiri di depan meja Dara.

Dara langsung merapikan mejanya. Ini hari terakhirku duduk di kursi ini. Batin Dara. Semua pekerjaannya sudah selesai. “Ayo.” Dara berdiri mengambil tasnya lalu pergi.

Sesampainya di tempat parkir, Dara langsung masuk ke dalam mobil staf diikuti Minzy. Entah kenapa karena obrolannya pagi tadi bersama Jiyong, Dara jadi penasaran. Benarkah Joongki Oppa menyukaiku? Ini akan sangat canggung. Dan langsung masuk ke dalam mobil staf adalah cara terbaik untuk menghindari Joongki.

Kali ini mereka akan mengambil adegan couple Oh Rian –Krystal dan Lim Junho –Kang Minhyuk. Mengingat sikap Krystal kemarin membuat Dara gugup. Apakah hari ini dia akan seperti kemarin? Haruskah aku melihat syutingnya kali ini? Karena sebenarnya Dara tidak ingin membuat para aktris maupun aktor yang membintangi drama ini merasa terganggu dengan kehadirannya. Jika mereka meminta Dara untuk tidak datang dalam syuting, Dara akan menuruti mereka. Meskipun gadis itu sangat ingin terlibat dalam syuting ini.

“Dara-ah.” Joongki datang dari belakang menepuk pundaknya.

“O-oppa.” kata Dara gugup. Uh Dara ada apa dengamu? Konsentrasi. Tiba-tiba kata-kata Jiyong tadi pagi memenuhi pikirannya. Jangan perdulikan Jiyong. Dia cemburu tanpa alasan yang jelas.

“Apa ada sesuatu yang kau khawatirkan?” Joongki menyadari tingkah Dara yang sedikit tegang.

“Ah, itu, Krystal, apakah dia sudah baikan? Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman.” Gumam Dara.

“Aigoo, jangan khawatirkan dia. Dia hanya kelelahan kemarin.” Joongki mengusap-ngusap kepala Dara. Jiyong tidak melihat ini kan?

“Ehm, kalau begitu syukurlah.” Dara melangkah menjauh dari jangkauan Joongki.

“Nikmati syuting hari ini. Bukankah kau sangat menantikan adegan Krystal dan Minhyuk?”

“Ne. Aku benar-benar menantikannya.” Senyum terukir di bibir kecilnya. Ini adegan yang telah ia tunggu-tunggu. Dara sudah bisa membayangkan bagaimana mereka akan berakting menjadi sepasang kekasih.

“Aku bersiap-siap dulu.” Joongki pergi menuju ke tempatnya. Di mana peralatan syuting sudah dipersiapkan.

Dari tempat Dara berdiri, ia bisa melihat Krystal dan Minhyuk mulai berlatih. Dan Joongki mengarahkan mereka berdua. Mereka terlihat cocok. Andai saja Krystal benar-benar bersama Minhyuk ini akan memermudah hubungannya dengan Jiyong.

“Kau tidak mendekat eonni?” Tanya Minzy yang entah dari mana sudah berada di sampingnya. Dara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Aku cukup melihatnya dari sini.”

“Apa ini karena Krystal kemarin? Aku tidak menyangka dia akan bersikap kekanakan.”

“Aku tidak bisa menyalahkan Krystal. Dia memang pantas melakukan itu padaku.” Karena aku sudah ‘mencuri’ pacarnya. Dara merasa pantas Krystal menerima perlakuan Krystal. Ia merasa ini sebagai latihan apabila tiba saatnya Krystal tahu hubungannya dengan Jiyong. Gadis itu pasti akan histeris, Dara tidak bisa membayangkan persis apa yang akan dilakukan Krystal padanya, tapi Dara yakin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sikap Krystal kemarin.

“Kenapa kau begitu baik? Jelas-jelas dia yang tidak masuk akal.” Gerutu Minzy.

“Kenapa kau marah-marah seperti ini Minzy-ah. Itu tidak masalah.” Tawa Dara mencoba meringankan suasana.

“Aishh. Eoh, eonni, apa kau pernah bekerja dengan Joongki Oppa sebelumnya?”

“Neh. Aku pernah syuting film dengannya sekali. Waeyo?”

“Pantas kalian terlihat dekat. Aku kira kau memiliki sesuatu dengan Joongki Oppa.”

“Apa yang kau bicarakan? Sesuatu apa?” Dara memaksakan tawa canggung keluar dari mulutnya.

“Joongki Oppa seperti menyukaimu.” What?! Bahkan Minzy punya pemikiran sama dengan Jiyong?!

“Menurutmu Joongki Oppa menyukaiku? Tapi itu tidak mungkin Minzy-ah.”

“Dia menyukaimu, dilihat dari perhatiannya padamu. Tapi, sepertinya kau sudah punya pacar ya?” Minzy teringat dengan perkataan Chaerin tadi. Lalu menatap kalung berlian yang melingkar di leher Dara.

“Ehm ya seperti itulah.” Gumam Dara malu-malu. Damn Kwon Jiyong! Hanya dengan memikirkannya bisa membuat Dara merona.

“Aigoo eonni, kenapa kau merona? Ya! Kau pasti sangat mencintainya.” Minzy tertawa melihat Dara menjadi malu-malu. “Kau harus menceritakannya pada kami eonni.”

“Aish. Kau dan Chaerin tidak ada bedanya.” Kata Dara pura-pura cemberut.

***

Dara sedang mengirimi Bom pesan mengingatkan gadis itu jika nanti sore dia harus menjemputnya di gedung SBC. Tiba-tiba dia merasa ada yang berdiri di depannya. Dara lalu mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke atas, dan mendapati Krystal berdiri tepat di hadapannya.

“Krys?”

“Aku ingin minta maaf soal kemarin.” Kata Krystal tanpa basa-basi. Ia tampak enggan sebenarnya untuk meminta maaf dengan Dara. Tapi Krystal menyadari dia sudah melewati batas kemarin. “Aku tidak seharusnya seperti itu.”

“Gwenchana.”

“Aku sudah berusaha keras kemarin, tapi yang mereka lihat hanya dirimu. Itu membuatku sedikit hilang kendali.”

Dara terkejut mendengar pengakuan jujur Krystal. “Maaf membuatmu tidak nyaman. Aku berhenti mengomentari aktingmu mulai hari ini. Aku percaya pada Sutradara Song.” Jelas Dara.

“Tolong jangan berhenti. Tapi juga jangan berlebihan saat memberikan komentar.” Raut wajah Krystal menunjukkan keraguan. Di satu sisi ia tidak ingin berurusan dengan Dara, tapi di sisi lain ia tahu betul bahwa komentar Dara sangat membantu perkembangan aktingnya.

“Ehm, baiklah kalau itu maumu. Kau sudah melakukan yang terbaik hari ini Krys. Itu sebabnya aku tidak mengomentarimu hari ini.” Dara tersenyum pada Krystal, sedangkan gadis itu hanya mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.

Para staf serta aktris dan aktor menikmati waktu istirahat mereka. Setelah syuting selama 7 jam mereka beristirahat selama 30 menit sebelum mereka melanjutkan syuting adegan terakhir di lokasi ini. Diam-diam Dara mengamati Krystal yang duduk lesu di kursinya. Bagaimana tidak? Sudah berkali-kali gadis itu mencoba menelepon ‘pacarnya’ tapi tidak ada satu pun yang diangkat.

“Kenapa Jiyong Oppa tidak menjawab satu pun telepon dariku?!” Tanya Krystal frustasi pada managernya, Victoria.

“Mungkin dia sedang ada rapat Krystal-ah. Kau bisa menghubunginya nanti.” Sang manager mencoba mencari alasan untuk menenangkan Krystal.

Apa Jiyong sesibuk itu sampai dia tidak mengangkat telepon dari Krystal?

Lalu Dara mengambil ponselnya dan menelepon lelaki tersebut. Tidak perlu menunggu lama, pada nada dering ketiga Jiyong sudah mengangkat teleponnya.

“Hallo. Ada apa babe?”

“Ehm, ehm apa kau sibuk?” Kenapa dia mengangkat teleponku?

“Aniyo. Wae?”

Sekarang aku harus bilang apa? Tanya Dara panik pada dirinya sendiri. “Ehm aku, aku sudah menghubungi Bommi. Kau tidak lupa acara nanti kan?” Pfiuh. Untung aku punya Bommi untuk dijadikan alasan.

“Tentu saja. Di mana syuting terakhirnya? Aku akan menjemputmu nanti.”

“Tidak usah. Aku akan dijemput Bommi. Karena sebenarnya aku belum memberitahukan pada Bommi tentang alasan sebenarnya.”

“Ah, baiklah. Aku akan langsung di sana bersama Seunghyun.”

“Ide bagus. Oh, Ji aku pergi dulu. Mereka sudah mulai syuting lagi.”

“Oke bye. I love you.”

“Love you too.”

Setelah satu jam menyelesaikan syuting adegan terakhir di lokasi ini, Dara pamit pulang pada semua kru di sana. Ia meminta maaf tidak bisa mengikuti syuting ke lokasi selanjutnya karena ada acara penting yang harus ia hadiri.

“Aku benar-benar minta maaf.” Dara membungkukkan badannya pada Joongki dan para kru yang berada di sana.

“Tidak usah khawatir.” Kata Joongki dan beberapa staf lainnya. Sebenarnya mereka merasa kecewa, karena Dara dapat menghidupkan suasana. Dan kritik-kritiknya sangat membantu. Tetapi mereka tidak keberatan karena keberadaan Dara tidaklah berpengaruh terhadap proses syuting.

“Bagaimana kau pulang? Salah seorang staf bisa mengantarmu Dara.” Usul Joongki khawatir.

“Tidak usah. Aku dan Minzy akan naik taksi. Kau tidak keberatankan?” Dara menoleh ke arah Minzy meminta persetujuan.

“Tentu saja tidak eonni.”

“Tapi Dara-,”

“Tidak perlu oppa. Aku sudah terbiasa naik taksi. Apa yang perlu ditakutkan? Ayo Minzy.” Dara dan Minzy berpamitan sekali lagi sebelum berjalan ke pinggir jalan untuk mencari taksi.

***

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan? Sampai kau ingin bertemu.” Tanya Bom saat mereka sudah di dalam mobil menuju restaurant yang sudah dipesan terlebih dulu.

“Ehm, nanti kita bicarakan di sana.” Bagaimana aku mengatakan pada Bom jika sebenarnya dia akan bertemu dengan Seunghyun? Tanya Dara panik.

“Perasaanku tidak enak. Kau tidak main-main kan?”

Gulp. “Aniyo.” Dara menggelengkan kepalanya.

“Beri aku sedikit bocoran Dara.” Rengek Bom. “Apa ini tentang Jiyong?” Dara menggeleng.

“Krystal?” Dara menggeleng lagi. Bom menghembuskan nafas kesal. Bom sangat tidak suka dibuat penasaran, dan Dara tahu itu.

“Sebenarnya ini tentang Joongki Oppa.” Kata Dara bohong.

“Joongki? Sutradara Song?” Dara mengangguk. “Ada apa dengan dia?”

“Jiyong mengatakan padaku jika ada kemungkinan Joongki Oppa menyukaiku. Dan Minzy juga berkata demikian.” Dara berpura-pura lesu. Dia harus meyakinkan Bom bahwa Joongki adalah masalah yang mengganggunya. Tapi ia tidak benar-benar bohong kan?

“Dan setelah aku amati, sepertinya, Joongki Oppa tertarik padaku. Tapi ini hanya kemungkinan kecil.”

“Dara-ah, sebenarnya aku juga berpikir hal yang sama.” Ujar Bom, pandangannya lurus ke depan membuat Dara terkejut. “Dia terlihat tertarik padamu, sejak kau syuting filmu empat tahun lalu. Dan saat acara lelang kemarin, Joongki tidak bisa mengalihkan matanya darimu.”

“Menurutmu begitu?” Dara menghembuskan nafasnya keras. “Kata-kata Jiyong tentang bagaimana Joongki menyukaiku selalu terngiang di otakku Bommi. Dan setiap Joongki Oppa mengajakku makan, atau pun hanya bicara padaku aku menjadi merasa canggung.”

“Kenapa harus merasa canggung? Tetaplah bersikap biasa. Jika kau canggung lalu menjauhinya, itu menyakiti ego Joongki.” Jelas Bom. “Tapi kau juga jangan memberi harapan palsu padanya. Bersikaplah biasa seperti sebelum kau tahu perasaannya. Dan jika Joongki sudah mengambil jalan lebih jauh seperti mengajakmu berkencan, baru kau ambil langkah ke belakang.”

“Jadi aku harus bersikap biasa saja?” Bom mengangguk. “Aku hanya takut membuatnya salah paham. Kau tahu, aku tidak bisa mengungkapkan hubunganku dengan Jiyong itu membuat sedikit lebih rumit.”

“Arasso arasso. Jangan terlalu dipikirkan.” Kata Bom mencoba menenangkan Dara. “Eoh, Dara kita sudah sampai.” Bom dan Dara pun turun dari mobil dan masuk ke dalam restaurant. Saat keluar dari mobil Dara tanpa sadar membetulkan kerah bajunya yang membuat kalungnya terlihat.

“OMO DARA!” Teriak Bom saat melihat berlian merah muda tergantung di leher sahabatnya. “OHMYGAWDD!!! Si brengsek itu!” Bom menyentuh kalung itu dan menatapnya tidak percaya. “Mr. K semalam jadi itu Kwon Jiyong?”

Dara mengangguk gugup. Dara tahu betapa Bom menginginkan kalung itu semalam.

“Dia benar-benar, brengsek yang manis.” Kata Bom tetap tidak percaya.

“Kau selalu mengatai Jiyong brengsek.” Gerutu Dara.

“Dia memang brengsek. Tapi dia manis, romantis, Dara bagaimana bisa kau punya kekasih seperti Jiyong?! Harusnya Jiyong berhenti memanjakanmu.”

“Memanjakanku?! Aish. Sepertinya kau butuh seorang brengsek manis yang bisa mendampingimu agar kau tidak iri padaku.”

“Aku tidak iri Sandara Park. Apalagi hanya seorang Kwon Jiyong.”

“Oh ya ya. TAPI KAU BUTUH SEORANG PACAR YANG PASTI AGAR TIDAK MENGGANGGU KEBAHAGIAN ORANG LAIN.”

“YA!!!!! SANDARA P-,” Kata-kata Bom terhenti saat ia melihat Jiyong dan SEUNGHYUN duduk manis tidak jauh dari mereka berdiri. “Kenapa ada Jiyong dan, dan Seunghyun?!” Desis Bom. Perlahan gadis itu menoleh ke arah sahabatnya.

“Sandara Park jangan bilang jika kau merencanakan pertemuan ini.” Bom menatap Dara seoalah dia akan menghancurkan setiap tulang di tubuh mungil Dara.

“Babe! Bom Noona! Ayo kemari, kami sudah menunggu kalian!” Seru Jiyong dengan senyum polosnya yang membuat Bom membelalakkan matanya. Dan sebelum Bom bisa kabur, Dara menarik Bom menuju meja yang sudah di pesan.

***

 

 

 

 

TBC

<< Back | Next >>

A/N:

YAH, DAN SETELAH BERABAD-ABAD NGGA UPDATE. MAAFKAN -_-

KAYAKNYA EMANG AKU NGGA BISA UPDATE CEPET. SOALNYA KETERGANTUNGAN SAMA MOOD. DAN KEMARIN-KEMARIN MOODNYA MASIH MALES LUAR BIASA.

MAAF SEKALI LAGI, KARNA KAYAKNYA DI PART INI CERITANYA ABSURD. SOALNYA AKU GAGAL FOKUS DI PART 11 INI. TAPI SEMOGA KALIAN TERHIBUR. DAN TETEP MAU NGLANJUTIN BACA FF INI SAMPE SELESAI. OH YA KOMENTARNYA JUGA JANGAN LUPA 😀 LOVE YOU!!!

MAAF LAGI KALO ADA TYPO, SOALNYA SAYA GAK PERNAH EDIT SEBELUM DIKIRIM KE DGI, HEHE. MOHON MAKLUM. 😀

DOAKAN MOOD SAYA MEMBAIK DAN RAJIN BUAT NULIS NEXT CHAP-NYA.

Advertisements

54 thoughts on “Behind The Scene #11

  1. yang dapet kalung mahal
    mauu dong satu bang Naga kekeke
    tapi sayang chap 10 belum baca di protect padahal udah coment do chap sebelumnya tapi belum dikasih
    minta pw nya dong thor
    ini emailku yantiresmana01@gmail

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s