기용취 – Giyongchi: Quatre

giyongchi

~ Quatre: Rideau ~

**

Dara merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal setelah duduk berjam-jam, menunggu gilirannya untuk audisi.

“Peserta nomor satu empat lima delapan,” panggil seorang panitia, menatap daftar di tangannya sebelum kemudian menghilang, kembali masuk ke dalam ruang audisi.

Dara mendesah, menatap nomor stiker yang ditempel di bajunya. 1539. Masih lebih dari lima puluh orang lagi yang harus ditunggu sampai tiba pada gilirannya. Dia menepuk-nepuk kedua pipinya dengan telapak tangan. Di saat seperti itu, ponselnya bergetar. Ada telepon masuk.

Yoboseyo? Oppa? Neh… masih ada sekitar lima puluhan orang lagi, neh… hehe, belum… neharraseo, neeh~,”

Begitu sambungan teleponnya terputus, Dara mendesah. Dia mendengar peserta nomor urutan berikutnya dipanggil, dilihatnya arloji  yang melingkari pergelangan tangannya. Tiga menit. Masing-masing peserta berada di dalam ruangan sana sekitar tiga menit. Berarti dirinya masih memiliki waktu sekitar dua setengah jam. Masih banyak waktu baginya untuk sekedar makan malam.

Setelah meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa dia pergi sejenak untuk makan malam, akhirnya Dara bangun dari posisinya yang duduk bersila di lantai lobi hotel tempat diadakannya casting.

“Kau mau ke mana?” tanya seseorang yang duduk di sebelahnya.

“Makan malam, aku lapar…” jawab Dara memegangi perutnya yang sekarang mulai dia rasakan protesnya. Setelah diingat-ingat, dia tidak ingat pada makan siang tadi. “Apa kau mau ikut bersamaku?” tawarnya setelah melihat stiker nomor yang tertempel di baju gadis itu, lima nomor sebelum dirinya.

“Ah… boleh juga. Kalau dipikir-pikir aku memang merasa lapar,” katanya.

Dara mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.

“Perkenalkan, aku Sandara… tapi panggil saja aku Dara,” Dara mengulurkan tangannya.

“Aku Hyesun, Kim Hyesun. Aku baru pertama kali ini melihat wajahmu, apakah ini audisi pertamamu?”

“Ya, ini adalah audisi pertamaku,” jawab Dara.

Keduanya berjalan keluar dari lobi sembari berbincang. Namun langkah Dara terhenti saat matanya menangkap seseorang. Mau tak mau, Hyesun pun ikut menghentikan langkah.

“Oppa…” kata Dara, tersenyum pada orang yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

**

Dara mengelus kepala Haru yang kini telah tertidur, berusaha sepelan mungkin melepaskan diri dari pelukan lengan kecil putrinya. Haru hanya bisa tidur jika ada orang yang memeluknya, atau jika tidak bocah kecil itu bisa tidak memejamkan mata barang sepicing pun

Dara sendiri tidak yakin sejak kapan tepatnya kebiasaan Haru itu muncul – sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu, tapi Inna menyarankannya untuk membawa Haru ke psikolog anak.

Suara dering telepon, Dara bergegas keluar dari kamar Haru sebelum gadis kecil itu terbangun karena bunyi dering yang tak kunjung berhenti.

Yoboseyo?” sapa Dara, suaranya tertahan.

Yoboseyo, Dara-ah… nyalakan televisimu sekarang,” suara Inna terdengar di telinga Dara.

Neh?” Dara bingung, tapi tak urung tetap bergerak mengikuti apa yang dikatakan oleh manajernya itu.

“Aisht, kau bilang aku harus mengingatkanmu jika waktunya Korean Next Top Model tayang. Acaranya sebentar lagi akan dimulai,” suara Inna terdengar gemas.

Dara tertawa, menepuk keningnya karena lagi-lagi dia melupakan hal kecil yang dikatakannya. Untung Inna adalah manajer yang bisa dibanggakan.

“Ah, neh, hehehe… maafkan aku Unnie, kau tahu kan bagaimana sistem kerja otakku. Gomapsumida telah mengingatkanku,”

Begitu sambungan telepon terputus, Dara segera meraih remote televisi dan menekan tombol power. Benar saja, lagu pembuka acara telah terdengar dan profil para kontestan yang masuk ke putaran final diputar satu per satu – juga komentar-komentar dari para juri.

Konsentrasi Dara bukan pada acara ajang pencarian bakat model papan atas melainkan tercurah khusus pada seseorang. Jika ditanya mengenai pendapatnya tentang acara yang tengah ditontonnya sekarang, Dara pun yakin dirinya tidak akan bisa menjawabnya. Tidak jika matanya hanya menatap kosong pada sosok seseorang.

“Saya memang tidak mengikuti para peserta dari masa audisi, tapi jangan dipikir saya tidak tahu apa-apa,” mendengar suaranya saja mampu membawa senyuman terukir di bibir Dara. “Dan saya sangat yakin para juri lain yang telah mengikuti proses dari awal memiliki pertimbangan khusus kenapa mereka-mereka ini yang menjadi finalis, jadi lakukanlah yang terbaik dan jangan membuat para juri menyesali keputusan mereka,” lalu menambahkan, “Oh, dan jangan membuat saya kecewa karena telah membiarkan kalian memakai baju rancangan khusus dari Giyongchi,”

Kalimat terakhir itu mampu memancing tawa dari Dara. Jelas hanya Jiyong yang bisa berkata demikian dengan senyum manis terkembang, tapi terasa sangat mengancam.

**

Jiyong tersenyum senang melihat gadisnya menatap lekat sepotong pakaian di pangkuannya – hasil karyanya yang terbaru.

Oppa, ini cantik sekali…” katanya tak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia sekali lagi sangat terpesona akan kreasi Jiyong. Namun kemudian, ekspresinya berubah. Dia menolehkan kepala menatap tajam ke arah pria itu. “Tapi oppa, berhenti membuatkanku baju… kau harusnya fokus untuk clothing line-mu saja. Jika kau terus-terusan menambah isi lemariku, kapan kau bisa membuka butik?”

Jiyong tertawa renyah mendengar gerutuan kekasihnya, yang bukan kali pertama ini didengarnya.

Jagiya, kau tahu apa yang memotivasiku untuk membuka butik?” tanya Jiyong, tapi sebelum kekasihnya itu bisa menjawab dia melanjutkan, “Yaitu agar kau tidak perlu pusing memikirkan tentang pakaian, biar aku saja yang memikirkannya dan kau cukup fokus saja pada mimpimu untuk menjadi aktris ternama.” Jelasnya.

“Tapi…”

Jiyong meletakkan jari telunjuk di bibir kekasihnya dan menambahkan, “Jika sudah saatnya nanti aku ingin kau hanya memakai pakaian buatanku. Tapi untuk sekarang, aku akan cukup puas dengan kau mau menerima apa yang kubuatkan khusus untukmu,”

“Oppa…”

“Dan perlu kau tahu, aku menggunakan kedua tanganku sendiri untuk membuat baju khusus untukmu,”

“Oppa…”

Tak bisa berkata-kata, kekasihnya langsung menghambur ke dalam pelukan Jiyong. Pria itu tertawa, menyambut kekasih hatinya dengan tangan terbuka.

“Aku tahu, aku tahu… kau benar-benar mencintaiku… aku juga sangat mencintaimu… saranghae,” Jiyong mencium puncak kepala kekasihnya.

Saranghae,” balas kekasihnya, menentramkan hati Jiyong.

**

Dara menyiapkan semua yang dipikirkannya akan dibutuhkan oleh Haru. Memastikan bahwa semua snack kesukaan gadis kecilnya tersimpan di tempat yang bisa dijangkau dan menyetel alarm yang telah direkamnya untuk mengingatkan apa saja yang harus Haru lakukan.

Dia sudah menelepon Donghae dan mengirimkan pesan mengenai daftar tentang apa saja yang harus dilakukan pria itu untuk Haru. Tapi untuk berjaga-jaga, dia telah merekam semuanya dan menyetelnya sebagai alarm yang akan berbunyi pada jam-jam khusus.

“Apa kau benar-benar tidak ingin ikut ke tempat Papa Jiji?” sekali lagi Dara bertanya, untuk kesepuluh kalinya dalam dua puluh menit terakhir.

Aniyo,” Haru menggelengkan kepalanya mantap.

Dara mendesah, gadis kecilnya sungguh sangat keras kepala. Jika dia sudah memutuskan sesuatu, maka akan sulit untuk mengubahnya. Seperti kali ini, Haru berkemauan untuk menghabiskan waktu bersama dengan abeoji-nya, alih-alih ikut dengannya ke acara grand opening Giyongchi Store Seoul.

“Bagaimana kalau abeoji-mu datang terlambat? Dan Inna Imo tidak bisa menemanimu menunggu,” meski tahu usahanya akan sia-sia tapi tak ada salahnya dicoba.

Andwe, OmmaAbeoji sudah berjanji.” Haru menjawab tegas.

“Tapi…”

Omma,” Haru memotong, terkadang Dara sampai lupa bahwa putrinya ini belum benar-benar genap enam tahun. “Aku sudah besar, aku bisa menunggu di rumah sendiri sampai Abeoji datang,” ujarnya. “Dan Omma harus cepat berangkat, atau Papa Jiji akan marah karena Omma terlambat,” katanya.

Untuk kesekian kalinya, Dara mendesah, kalah berdebat dengan putrinya sendiri.

“Baik, baik. Omma mengerti, kau sudah besar dan bisa menjaga diri selama beberapa saat sampai Abeoji datang, tapi…”

Omma!!!

**

“Donghae Lee, pastikan kau segera tiba sekarang juga!” bentak Dara pada teleponnya. Saat ini dirinya sudah berada di perjalanan menuju ke tempat grand opening, menghubungi pria yang sampai detik ini (sayangnya) masih berstatus sebagai suaminya).

“Aku tahu, sebentar lagi aku sampai sana,” jawab Donghae terdengar santai meski di sini Dara sudah ingin meledak rasanya. Bagaimana bisa pria itu santai saja mengetahui Haru tengah menantinya – sendirian.

“Kumohon, untuk sekali ini kau jangan mengacaukannya. Aku tidak tahu apakah Haru akan bisa memaafkanmu jika sampai kau kembali merusak kesempatan ini,” kata Dara pada akhirnya.

DI ujung sana, Donghae hanya diam tak menjawab. Antara memikirkan perkataan Dara atau entah dia hanya enggan menanggapi.

“Donghae, Lee…” nada Dara menajam, seolah memperingatkan bahwa pria itu tidak diperkenankan membuat satu kesalahan sekecil apa pun.

Arasseo, Dara… Arasseo. Aku tahu apa yang harus kulakukan,”

“Baguslah kalau begitu,” balas Dara sebelum memutus sambungan telepon.

Dara menghembuskan nafas berat, menatap ke arah luar memandangi lampu-lampu jalanan. Batinnya merasakan ada sesuatu yang mengganjal, tapi dia mencoba menepisnya. Haru akan baik-baik saja, ya, dia yakin itu. Jika dia harus mengakui satu hal mengenai suaminya, pria itu adalah orang terakhir yang akan berani mencelakakan putri kecilnya, bukan begitu?

**

“Terima kasih kau sudah mau datang,” Jiyong tersenyum lebar, senyuman yang sama seperti yang selalu ada dalam kenangan Dara. Senyuman lepas yang seakan mengatakan kepada dunia bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa semuanya adalah bahagia. Meski beberapa tahun terakhir, baginya senyuman itu bagaikan paradoks yang menyerukan kenaifannya.

“Tentu saja, Oppa… kau tahu aku tidak mungkin melewatkan hari ini. Tadinya aku ingin sekali membawa Haru, tapi…”

“Tidak masalah, aku mengerti,” potong Jiyong, masih tersenyum.

“Dan seharusnya kau tidak perlu menungguku di red carpet tadi,” mata Dara memicing penuh gurau.

Jiyong tertawa keras, mengabaikan beberapa pasang mata yang langsung menoleh ke arahnya penuh rasa ingin tahu. Merasa penasaran, apa yang telah membuat pria dingin itu tertawa.

“Mana mungkin aku membiarkanmu berjalan melewati sekawanan manusia bermata kamera mengerubungimu sendirian begitu saja?” meski mengatakannya dalam nada gurau, Dara bisa mengenali kejujuran dalam perkataan Jiyong itu.

“Kau lupa jika aku telah terbiasa melakukannya sendiri, aku sudah kebal,” jawab Dara.

“Dan itu adalah hal yang paling kubenci,” kali ini keseriusan nampak jelas di kedua mata Jiyong, meski ekspresi wajahnya masih tetap lembut. “Jadi, kau tetap pada keputusanmu untuk menolongku, kan?” Jiyong mengalihkan obrolan mereka.

Kedua alis Dara terangkat dan keningnya berkerut. Detik berikutnya pemahaman muncul di wajahnya. Bibirnya kemudian tersenyum.

“Tentu,”

..

“Apa kau serius, Oppa? Kau tahu benar, aku ini bukan model. Bagaimana jika aku malah mengacaukan acaramu ini,” Dara mulai panik, berjalan mondar-mandir di belakang panggung, sudah siap dengan kostum yang khusus dirancang untuknya – seperti biasa.

Jiyong mendesah, memberi tanda kepada asistennya untuk bersiap-siap. Sebelum Dara, ada sekitar dua lusin model yang akan melenggang di catwalk terlebih dahulu. Dara akan menjadi penutup – meski sebenarnya, jika seandainya wanita itu memutuskan untuk mengurungkan niatnya pun tidak akan mengacaukan acara. Kemunculan Dara akan membuat malam ini sempurna!

Dengan penuh kesabaran, Jiyong menatap Dara, memegang kedua bahu wanita itu memaksa mereka saling berharapan.

“Sandara,” Jiyong selalu memanggil Sandara jika dia sedang berkata serius – seperti sekarang. “Dengarkan aku,” dia memulai pelan. Sudah bertahun dia mengenal Dara dan tahu dengan pasti saat ini wanita itu sedang dilanda panik. “Semuanya akan baik-baik saja, kau akan luar biasa seperti yang biasa kau lakukan,” katanya. “Yang kau butuhkan adalah menarik nafas dalam-dalam, tenangkan dirimu, dan semuanya akan baik-baik saja,” tambahnya.

“Baik. Tarik nafas. Tenang. Aku tenang,”

“Tarik nafas dalam-dalam,” pinta Jiyong.

Dara melakukan seperti yang diminta.

“Hembuskan perlahan,”

Setelah tiga kali melakukan yang Jiyong minta, Dara bisa merasakan detak jantungnya sedikit melambat. Jiyong bisa menyadari hal itu dari perubahan ekspresi wajah Dara.

“Bagus,” kata Jiyong tersenyum. “Haru pasti akan bangga padamu, kau bisa melakukannya demi Haru, kan?”

Mendengar nama putrinya disebut, bibir Dara melengkung membentuk senyuman.

“Tentu,”

**

“Apa yang sedang kau lakukan?! Bagaimana kau bisa membiarkan hal ini terjadi?!”

Donghae menjauhkan ponselnya dari telinga, ayahnya menelepon dan langsung marah-marah bahkan sebelum dia menyelesaikan sapaannya.

“Apa maksudmu, Abeoji?”

“Dasar bodoh! Apa kau tidak bisa menjaga istrimu?! Apa saja yang kau lakukan, hah? Apa kau pikir hal ini akan bisa membawamu ke parlemen?!”

Abeoji, aku masih tidak mengerti,”

“Buka berita sekarang dan lihat apa yang sedang terjadi!”

Dan sebelum bisa menjawab, sambungan telepon diputus sepihak. Donghae mendesah lelah, malam ini adalah malam yang panjang untuknya. Tapi tak urung, dia melakukan seperti yang diperintahkan ayahnya.

Debut Perdana Park Sandara di Fashion Show Giyongchy

CCNNchGUAAASMCS
Seoul – Aktris kawakan Park Sandara akhirnya melakukan debut perdananya melenggang di atas catwalk.
Kemunculan Sandara di grand opening Giyongchy tidak perlu dipertanyakan lagi, tetapi yang menjadi perhatian adalah untuk pertama kalinya aktris cantik berusia 29 tahun itu mau menjadi salah satu model dan bahkan mengenakan salah satu rancangan khusus dari Jiyong Kwon. Seperti yang diketahui oleh khalayak umum, selama karirnya Sandara tidak pernah menghadiri acara fashion dari desainer mana pun. Akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya mengagetkan karena keduanya adalah kenalan lama dan bersahabat dekat. Bahkan banyak sumber menyebutkan bahwa Sandara hanya bersedia mengenakan pakaian rancangan Giyongchy dalam segala kesempatan.
Sandara Park dan Jiyong Kwon muncul bersama di karpet merah. [KT]
Next >> Sandara Park dan Jiyong Kwon di Karpet Merah Grand Opening Giyongchy

Donghae langsung mengklik berita selanjutnya.

Sandara Park dan Jiyong Kwon di Karpet Merah Grand Opening Giyongchy

HD
Seoul – Aktris cantik Sandara Park menghadiri grand opening Giyongchy dan datang bersama dengan Jiyong Kwon langsung.
Untuk pertama kalinya menghadiri acara fashion dalam 10 tahun karirnya sebagai aktris Korea, Sandara Park datang berpose di karpet merah untuk kamera dengan salah satu rancangan khusus dari Jiyong Kwon yang mendampinginya. Sandara dan Jiyong Kwon telah bersahabat sejak lama dan Sandara datang untuk memberikan dukungannya. [JK]

Ponsel Donghae kembali berdering, yang langsung diangkat pada dering pertama.

Neh, Abeoji, aku akan mengurusnya,”

**

**

~ To be Continue ~

sj logo giyongchi

<< Back  Next >>

p.s. please check this

Advertisements

30 thoughts on “기용취 – Giyongchi: Quatre

  1. jadi dara sebenarnya masih suka sama jiyong? tapi karna bapaknya abang dongek akhirnya dara nikah sama dongek? T.T Bang, gak usah diurus deh mendingan, biarin dara sama jiyong please :”””” dara ayooo ceraikan bang dongek/jahat/ haru kn dah deket tuh sama ji, jadi gpplah~
    next chap thor

  2. Masih bingung, kenapa dara bisa nikah sama donghae ??
    Dijodohinkah ??
    Ihh gemes deeeh
    Jangan bang gegara ini donghae gag jadi jemput haru trus terjadi sesuatu sama haruuu,
    Kenapa ji sama dara bisa putus unn ??

  3. DARAGON moment ..:)
    cute…cute..
    kuat bgt cintanya gd.
    wlopun dah tau dara nikah n punya anak,
    masih ajha cintanya gak kurang 🙂

  4. Donghaenya nyantai kok bapaknya yang ribug sih….
    Udah neng ama Ji aja yg jelas2 lebih sayang n cinta ma Dara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s