Behind The Scene >> Take #6

bts

Author : Oktyas

 

“Omo! Kenapa kau pergi dengannya!? Ya! Kau bodoh atau apa sih?” Dara meremas bantal yang dipangkunya, pandangannya tidak pernah meninggalkan layar televisi datar itu. “Dia yang membunuh adikmu! Kenapa kau bersamanya? Lelaki tolol!” Dara mulai terisak. Dia mengambil tissu yang sudah ia sediakan di meja samping sofa, mengelap air matanya.

“Cepat kembalilah! Jangan pergi dengan wanita jalang itu! Omo! Apinya mulai besar, cepat kembali, selamatkan kekasihmu!” Dara melemparkan bantalnya ke layar televisi.

Ting Tong

Dara menoleh ke arah pintu, tapi kembali fokus pada layar kaca di depannya. Seolah televisi itu bisa diajak bicara. Seolah televisi itu bisa merasakan betapa kesalnya Dara dengan drama yang baru ditonton. Bagaimana kalau gadis itu mat-?

Ting Tong

Dara menghela nafas kesal. Siapa sih yang mengganggu waktu menontonku? Terpaksa berdiri dari singgasananya yang nyaman. Berjalan dengan lesu ke arah pintu. Ia sudah menyiapkan ribuan kutukan untuk siapa pun yang di depan pintu. Entah kenapa Dara merasa pikirannya hari ini sedikit agresif. Mungkin karena terlalu kacau memikirkan banyak hal. Membuka pintu tanpa melihat interkom terlebih dahulu karena terlalu kesal. Segera matanya membulat setelah melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

“Ji-Jiyong.” Katanya tergagap. Nafasnya tersangkut di tenggorokan.

“Dara.” Seru Jiyong lega Dara membukakan pintu. Namun, gadis itu segera menutup pintu itu. Berusaha mendorong tubuh Jiyong yang sudah masuk setengah.

“Pergilah!” Dara mencoba sekuat tenaga untuk menutup pintu, tetapi Jiyong berusaha menahannya.

“Dara tolong dengarkan aku.” Mohon Jiyong. Tidak. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Kumohon pergilah.” Suara Dara mulai bergetar, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya siap meluncur keluar. “Pergilah Jiyong.” Pinta Dara masih berusaha menutup pintunya.

“Shit! Dengarkan aku Dara!” Dan dengan sekali dorong, Jiyong berhasil membuka pintu. Berjalan mendekat ke arah Dara. Dara melangkah mundur tiap kali Jiyong berjalan ke arahnya. Sampai punggungnya menempel dinding.

“Dara.” Panggil Jiyong. Suaranya penuh dengan emosi. Rindu, putus asa, marah, dan bersyukur. Bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertemu dengan wanitanya lagi. Kaki Dara mulai bergetar, saat tubuh Jiyong menempel rapat pada tubuhnya. Ia bisa merasakan nafasnya di rambutnya. Mata Jiyong tidak pernah meninggalkan tatapan gadisnya yang penuh dengan rasa takut, keraguan, dan kebencian. Kebencian terhadap dirinya sendiri.

Mengusap pelan pipi lembutnya. Dia bisa merasakan hangat air mata yang membasahi pipinya. “Berhenti menangis, kumohon.” Bisiknya. Dengan itu, Jiyong menempelkan bibirnya pada bibir mungil Dara. Tangisan Dara semakin kencang. Ia berusaha mendorong Jiyong menjauh, dan memukuli dadanya. Tapi Jiyong terlalu kuat untuknya. Terlalu kuat untuk tubuhnya yang sudah lelah. Dan, Dara menyerah dalam pelukan Jiyong yang masih mencium bibirnya. Memberi lumatan-lumatan kecil. Ciuman ini terasa hangat. Penuh kerinduan dan kasih sayang. Ciuman yang membawa beribu emosi Jiyong. Seolah dirinya ingin mengatakan semuanya lewat ciuman itu pada Dara.

Jiyong menjauhkan diri dari Dara. Tangannya melingkar protektif di pinggang gadis itu. Menatap Dara yang masih mengatur nafasnya. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka, mengundang Jiyong agar menciumnya lagi.

“Oh Tuhan, aku sangat merindukanmu.” Kata Jiyong lalu memberikan kecupan kecil pada bibirnya. Dara menatap Jiyong dalam diam, tiba-tiba kehilangan suaranya.

“Aku mencintaimu Dee, selalu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menunggumu walaupun itu membutuhkan waktu selamanya.” Jiyong menanamkan kecupan di dahinya, hidungnya, dan kedua mata basah Dara.

“Ji-Jiyong.” Tidak yakin bahwa Jiyong dapat mendengarnya. Dara merasa tidak mempunyai kekuatan untuk berbicara.

Jiyong menempelkan telunjuknya di bibir Dara mengisyaratkan Dara agar diam.

“Biarkan aku melanjutkan kata-kataku Dara.” Jiyong menarik nafas pelan. “Dua tahun pertama setelah kau menghilang adalah neraka bagiku Dara. Bahkan aku tidak tahu bahwa aku hidup. Dan dua tahun setelahnya, itu lebih buruk bagiku. Setelah Krystal datang dan bertingkah menjadi kekasihku, itu benar-benar tidak membawa pengaruh padaku. Aku hanyalah robot Dara. Aku tidak hidup. Tidak akan bisa sampai kau kembali. Kumohon jawab aku Dara, apa kau masih mencintaiku?” Jiyong menatap Dara khawatir. Dia takut bila gadisnya sudah merubah perasaannya untuknya.

“A-aku,” Kalimat itu menggantung begitu saja. Dara masih sangat mencintai Jiyong. Tapi apa bedanya jika dia mencintai Jiyong, Jiyong tetap milik orang lain.

“Katakan Dara. Katakan kau masih mencintaiku.” Mata Jiyong mulai berair. Oh My. Dia tidak boleh menangis di sini.

“Maafkan aku Jiyong.” Dara terisak. “Maafkan aku. Tapi apa bedanya jika aku mencintaimu atau tidak, kau tetap milik orang lain.”

“Berhenti memikirkan orang lain Dara. Pikirkan dirimu, kebahagiaanmu. Setidaknya pikirkan tentang kita. Aku ingin kita bahagia Dara, dan hanya ada satu jalan yang bisa membuatku bahagia, yaitu bersamamu.”

“T-tapi,”

“Tolong Dara. Jika kau masih mencintaiku kembalilah padaku. Aku tidak ingin melewati hari esok seperti empat tahun yang aku jalani tanpamu. Itu terlalu menyakitkan.”

Dara membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada yang keluar. Dia benar-benar menyesal membuat Jiyong harus merasa sakit seperti ini. Ia mengira inilah yang terbaik bagi mereka, tapi apakah jalan terbaik itu berarti merasakan sakit setiap mereka menarik nafas?

Dara menggeleng bingung. “A-aku tidak tahu.”

Jiyong mengeratkan pelukannya pada pinggang Dara, menatap Dara sendu. “Apa kau mau mendengar sebuah cerita?” Dara bingung. Apa maksud Jiyong? Entahlah. Otaknya sudah terlalu lelah untuk berpikir. Tanpa sadar ia pun mengangguk. Jiyong menggendong Dara menuju sofa terdekat. Dia mendudukan Dara di atas pangkuannya, membelai lembut rambutnya.

“Ibuku, dia sangat tahu betapa aku mencintaimu Dara. Dan dia juga yang melihatku hancur saat kau meninggalkanku.Setiap orang selalu berusaha membuatku untuk kembali hidup. Begitu pun ibuku. Kadang aku melihatnya menangis sendirian. Seharusnya hanya aku yang menangis, tapi dia, dia juga ikut menangis. Dia selalu mencari kemana kau pergi, dia menyewa orang untuk menyelidiki kepergianmu Dara. Pada awalnya aku mengira aku berjuang sendirian, tapi ibu selalu di sampingku. Lalu pada waktunya dia sudah tidak tahu harus mencarimu kemanadan dia berpikir bahwa jika aku mempunyai seseorang yang berada di sisiku bisa membuatku kembali hidup. Dan dia mengenalkanku pada Krystal, dia meminta Krystal menjadi kekasihku, dan karena suatu alasan aku tidak bisa menolak permintaan ibu. Jadi aku mengikuti permintaannya.” Suara Jiyong tercekat. Ia menatap Dara, wajahnya sudah penuh dengan air mata yang terus mengalir.

“Jiyong aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.” Dia tidak pernah membayangkan Jiyong akan sesakit itu.. Dari caranya lelaki itu menatap Dara, ia tahu bahwa ia sangat sakit.Dan ibunya, Dara sangat mengenalnya. Wanita penuh kasih sayang. Dia sudah menganggap dia sebagai ibunya sendiri, tapi karena keputusan bodohnya dia menyakitinya, dan menyusahkannya

“Tidak perlu Dara. Dan semuanya berjalan seperti mimpi. Dan semuanya menjadi lebih buruk saat orangtuanya menawarkan kerja sama bisnis pada perusahaan kami. Dan mereka meminta aku dan Krystal menikah. Nenekku setuju. Tidak ada yang membantahnya. Aku, aku hanya mengikuti permainan mereka, karena aku tahu kau akan kembali, dan pada saat itu waktulah aku untuk berbelok dan meninggalkan permainan bodoh mereka.”

“Ibumu, dia pasti sangat membenciku. Aku, aku benar-benar bodoh.” Dara menutupi wajahnya dengan telapak tangannya dan terus menangis.

“Hey baby. Sudahlah. Tidak dia tidak membencimu. Dia akan senang jika melihatmu. Berhentilah menangis.” Jiyong menarik kedua tangan Dara dan mencium keningnya. “Yang perlu kau lakukan sekarang adalah kembali padaku. Jangan pedulikan mereka. Aku mohon sekali saja pikirkan kita. Tentang kebahagiaan yang seharusnya kita dapatkan.”

“Kau tidak akan mempublikasikan hubungan kita kan?” Tanya Dara takut. Dia belum siap jika orang-orang tahu bahwa ia mengencani Jiyong.

“Tidak Dara. Meskipun aku sangat mengumumkan pada dunia bahwa kau milikku, untuk saat ini aku belum bisa. Aku tidak ingin kau mendapat perlakuan buruk oleh media lagi. Kau tahu fans Krystal dan aku sangat berlebihan.” Jiyong membayangkan kejadian 4 tahun lalu saat Dara mendapat caci maki dari para netizen.

“Lalu bagaimana dengan Krystal? Apa kau akan memutuskan hubunganmu begitu saja dengannya tanpa alasan yang jelas?”

“Lupakan tentang Krystal. Serahkan padaku. Aku akan mencari cara untuk menjauhkan dia dariku.” Jiyong menatap Dara dengan penuh harapan. Berharap bahwa gadis itu akan mengerti dan menerimanya.

“Oke.” Bisakah aku mendapat kebahagiaan ini sekali lagi di sisi pria yang kucintai ini? Bolehkah aku bersikap egois untuk sekali saja. Aku juga ingin bahagia.

Dan mulai pada detik ini Dara bertekad untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Dia ingin menjadi wanita kuat yang bisa Jiyong banggakan, yang akan terus berdiri di sisinya.

“Jiyong, aku mencintaimu.”

***

Jiyong memerhatikan gadis yang tidur di sebelahnya. Memerhatikan tiap inci wajanya, kulit putihnya, hidung mancungnya, bibir mungilnya. Sudah berapa lama sejak gadisnya tidur di lengannya? Pikir Jiyong. Oh God! Aku sangat merindukanmu. Jiyong menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Dara. Semalaman tidak tidur hanya untuk menonton gadisnya tidur, Jiyong rela melakukannya. Dalam hati Jiyong berjanji akan melindungi gadisnya dan tidak akan membiarkan dia pergi lagi. Merasakan neraka selama empat tahun itu sudah cukup.

Dara bangun saat ia merasakan teriknya mentari menusuk kelopak matanya. Mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya sedikit terasa pening karena terlalu banyak menangis semalam. Dara terlonjak dan langsung duduk saat ia mengingat kejadian semalam. Omo! Benarkah Jiyong datang kemari semalam? Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar mencari Jiyong, tapi tidak ada tanda-tanda bawa pria itu di sini. Aigoo, pasti itu mimpi. Tidak mungkin Jiyong datang ke apartemenku. Tapi tunggu, semuanya terlihat sangat nyata semalam. Bahkan dia masih bisa merasakan bibir pria itu di bibirnya. Dan aroma pria itu masih melekat di sini. Dara menepuk-nepuk pipinya bingung.

“Pagi baby.” Kata seseorang mengacaukan lamunan Dara. Dara menoleh ke arah suara. Dan di sana Jiyong bersandar di pintu, telanjang dada, sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, menyeringai nakal ke arahnya. Gulp! Mulut Dara terbuka, dan mata sialannya tidak mau berkedip. Terus memandangi pemandangan indah di depannya.

“Begitu merindukan tubuhku Ms, Park?” Tanya Jiyong menggoda. Dara dengan segera mengalihkan pandangannya. Dia bisa merasakan pipinya memanas. Sejak kapan Jiyong bertambah seksi seperti itu, seingatku dulu dia tidak mempunyai abs? Omo Dara apa yang kau pikirkan? Dara menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa harus malu? Bukankah kau sudah pernah merasakan semuanya baby? Hm? Apa perlu kuingatkan lagi bagaimana nikmatnya diriku?” Bisik Jiyong yang sudah duduk di sampingnya. Jiyong menjilat belakang telinga Dara, mengembuskan nafas di sana yang membuat gadis itu merinding. “Bagaimana agresifnya kau saat naik di atasku?”

Mata Dara terbelalak saat mendengar kalimat terakhir Jiyong. Dia berusaha mengumpulkan kewarasannya dan segera bangkit dari tempat tidur. Menatap Jiyong sebal,menyambar handuknya dan berlari ke kamar mandi tidak memerdulikan Jiyong yang sudah tertawa terbahak-bahak di kasurnya.

“Kwon Jiyong! YOU SUCH A JERK!” Terdengar teriakan Dara dari kamar mandi yang membuat Jiyong semakin tidak bisa menahan tawanya.

***

“Kau tidak mengganti pakaianmu?” Tanya Dara saat mereka di dalam mobil Jiyong. Jiyong memaksa Dara untuk berangkat ke kantor bersama, walaupun Dara sudah menolak berkali-kali dengan alasan bagaimana jika ada pegawai yang melihat mereka. Tapi hell, dia adalah Kwon Jiyong. Hanya semalam saja dia bersikap romantis dan sok puitis untuk mendapatkan Dara kembali.

“Aku sudah menelepon Seungri untuk membawakan pakaian jangan khawatir.” Jiyong menggenggam jari Dara dan membawanya ke bibirnya lalu mengecupnya. Membuat gadis itu merona.

Dan setelah sampai di kantor mereka, Jiyong membawa Dara ke dalam lift khusus keluarga yang tersedia dari tempat parkir khusus Jiyong dan yang kamera CCTV-nya tidak tersambung ke ruang pengendalian keamanan, melainkan ke ruangannya. Jadi tidak ada yang akan melihat mereka.

“Jiyong.” Panggil Dara ragu-ragu.

“Hm?”

“Aku ingin bertemu dengan ibumu.”

Jiyong terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab. “Ya. Nanti sore kita temui ibuku.” Jiyong mencium kening Dara. Dara merasa ada yang aneh dengan Jiyong. Ada kesedihan dalam suaranya. Tapi Dara memutuskan untuk tidak bertanya.

“Oke. Aku pergi dulu.” Dara keluar dari lift yang berhenti di lantai 11 dimana ruang Jiyong berada. Dara lalu pergi ke ruangannya yang berada di lantai 6 menggunakan lift untuk para pegawai.

Dara masuk ke dalam ruangannya yang masih sepi. Karena Dara dan Jiyong pergi ke kantor lebih awal, mengantisipasi agar tidak ada yang melihat mereka. Hanya ada beberapa rekan kerjanya yang sudah berada di situ. Dara memutuskan untuk pergi ke kafetaria membeli kopi dan kue untuk Chaerin dan Minzy. Well, suasana hatinya sedang senang hari ini. Bagaimana tidak? Dia kembali dengan Jiyong! Memikirkannya saja membuat perut Dara jungkir balik.

“Eonni! Kau sudah datang?!” Chaerin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Dara di mejanya.

Dara mengangguk. Senyuman tidak terlepas dari wajahnya. “Aku punya kopi dan kue untukmu.” Dara memberikan kopi dan sekotak kue pada Chaerin.

“WOW. Sesuatu yang baik terjadi padamu ya kan?” Chaerin memberikan tatapan menyelidik.

“Kenapa kau tidak mengatakan terima kasih lalu duduk dan menikmati kopimu selagi panas?”

“WOW! Bahkan sekarang kau berani padaku? Kau harus menceritakan padaku nanti.” Chaerin menuruti Dara dan menuju mejanya. Tidak lama kemudian Minzy datang. Dia sama terkejutnya dengan Chaerin saat melihat Dara sudah duduk manis di kursinya.

“Oh eonni! Kau sudah datang?! Mianhae eonni aku terlambat.” Minzy membungkuk memberikan tanda maaf pada Dara. “Jeongmal mianhae.”

“Tidak Minzy-ah. Kau tidak terlambat. Hari ini aku berangkat lebih pagi. Dan ini ada kopi dan kue untukmu.” Dara memberikan kopi dan sekotak kue pada Minzy. Minzy membungkukkan badannya lagi mengucapkan terima kasih. Lalu Minzy duduk di kursinya, yang berada di sebelah Dara.

“Minzy, sepertinya Dara eonni baru menang lotre.” Ujar Chaerin sambil mengetukkan jarinya di meja.

“Benarkah?”

“Hm. Lihat dia membeli banyak kue dan kopi. Tentu saja dia baru menang lotre.” Chaerin melirik ke arah meja Dara yang penuh kotak kue dan beberapa gelas kopi.

“Tch! Apakah ini yang akan kau lakukan saat kau menang lotre Chae?” Tanya Dara. Chaerin mengangguk pasti. “Kalau itu aku, aku akan membeli rumah dan mobil mewah. Lalu mengadakan pesta. Bukan dengan kopi dan kue.” Canda Dara. “Aku sedang merasa senang hari ini. Jadi aku ingin berbagi pada kalian.”

“Ehm eonni, nanti kita akan ada pertemuan dengan Sutradara Song bersama ketua editor pukul 09.00 pagi untuk membicarakan naskah drama.” Kata Minzy sambil membolak-balik buku agenda di tangannya. Dara mengangguk-ngangguk mendengarkan.

“Eonni, mungkin nanti banyak teks dramamu yang akan dirubah. Bukan dirubah semuanya, masih tetap mempertahankan kerangka aslinya, tapi mungkin akan ada perubahan yang cukup besar. Itu tidak apa-apa kan?” Tanya Chaerin tiba-tiba khawatir.

Dara tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Aigoo, Chaerin-ah, tentu saja tidak masalah. Jangan sungkan untuk mengusulkan perubahan nanti.” Dara tahu jika Chaerin merasa tidak enak padanya. “Oh ya Chaerin-ah, bisakah kau memberikan kue dan kopi ini pada Seungri?”

“MWORAGO?!!!!”

***

“Aku ingin bertemu dengan Kwon Jiyong.” Kata Bom pada resepsionis Kantor SBC TV. Setelah pulang dari Jeju ia memutuskan menemui Jiyong untuk memberikan sedikit pelajaran untuknya.

“Apa anda memiliki janji dengannya?” Tanya resepsionis itu sopan.

“Aniyo. Tapi aku ingin bertemu dengannya.” Bom tetap menjaga ekspresi wajahnya datar.

“Maaf Miss, kami tidak bisa memertemukan anda dengan Mr. Kwon bila anda tidak memilki janji temu sebelumnya.” Jelas resepsionis tersebut.

“Kenapa kau memperumit masalah ini nona?” Tanya Bom tidak sabar. “Hanya temukan aku dengan Jiyong, aku hanya ingin bicara dengannya maksimal 15 menit. Setelah itu aku pulang.”

“Tetap saja tidak bisa.” Resepsionis itu mulai sedikit jengkel.

“Tenang saja Ms. Choi Sulli,” Bom melihat name tag yang tertempel di baju resepsionis itu. “Aku Park Bom, tentu kau kenal aku. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang memalukan. Aku tidak akan meminjam uang pada perusahaan kalian. HANYA. TEMUKAN. AKU. DENGAN. KWON. JIYONG.”

Sulli menatap ngeri Bom. Dia ingin berteriak memanggil keamanan untuk menyingkirkan Bom, hell, tapi dia desainer terkenal di Seoul, dia harus memikirkan baik-baik tindakan apa yang harus dia lakukan. “Kami mohon maaf Ms. Park, anda tidak bisa menemui Mr. Kwon, anda bisa bertemu dengan Sekretaris dua, untuk membuat janji temu.”

“WHAT THE HELL?! AKU HANYA INGIN BERTEMU DENGAN PRIA BRENGSEK ITU KENAPA KAU MEMPERSULITKU?! BIARKAN AKU MEMUKUL BOKONGNYA ATAU MENAMPAR WAJAHNYA SEKALI SAJA SETELAH ITU AKU PULANG?!!! Teriak Bom tepat di depan wajah Sulli. “KAU TIDAK TAHU BETAPA BRENGSEKNYA BOS-MU ITU KAN? AKU AKAN MEMBERITAHUMU! DAN SEKARANG DIMANA DIA?!!” Bom sudah kehabisan kesabarannya. Dia sudah meluangkan waktunya ke sini, dan apa yang ia dapatkan? Memangnya siapa Jiyong bersikap sok seperti raja?

Beberapa pegawai lain mulai berdatangan menenangkan Bom dan membujuk agar dia pulang. Mereka tidak berani mengusir Bom dengan cara kasar, karena dia cukup terpandang. Bom terus mengumpat dan mengatai Jiyong dan para pegawainya!

“Maaf Ms. Park tapi anda bisa,-”

“Aku tidak mau dengar omong kosong!”

Dan pada saat bersamaan, Jiyong dan Seungri memasuki kantor. Mereka baru saja melakukan meeting makan siang bersama kolega perusahaan. Jiyong mengerutkan keningnya saat melihat keributan di meja resepsionis. Mereka memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Seungri menyipitkan matanya saat mencoba mengenali wanita tinggi dengan rambut merah yang dikerubungi pegawai. Cukup mudah membedakannya, karena tentu saja para pegawai mengenakan seragam sedangan perempuan tersebut mengenakan mini dress ketat berwarna emas.

Bukankah itu Bom Noona? Pikir Seungri. Itu pasti dia. “Bom noona!” Panggil Seungri. Bom langsung menoleh ke arah Seungri sedangkan para pegawai langsung menjauh dari Bom saat melihat Seungri bersama Seungri dan Jiyong. Bom berjalan dengan angkuh keluar dari kerumunan menuju Jiyong dan Seungri.

“Apa yang membuatmu datang ke sini noona?” Tanya Seungri.

“Menyelesaikan beberapa urusan.” Katanya menyeringai. Lalu ia menghadap Jiyong yang sedang menatapnya, tanpa pikir panjang Bom menampar Jiyong keras. Membuat para pegawai yang di sana terkejut sampai menahan nafas.

“Auw! Noona! Apa yang kau lakukan?” Tanya Jiyong sambil mengusap-usap pipinya. Dia menatap Bom dengan tatapan tidak percaya.

“YOU SON OF A BITCH!” Bom memukul dada Jiyong sekuat tenaga.

“STUPID LIAR!” Bom memukul kening Jiyong.

“KARENA MENYAKITI SAHABATKU!” Mata Bom berair. Saat ia mengingat Dara, keinginan balas dendam pada Jiyong semakin menggebu-nggebu. Bom terus memukuli Jiyong. Kepalanya, lengannya, dan memberikan tinjuan di perutnya.

“Noona, tunggu. Biar aku jela-”

“Jelaskan apanya?!” Bom menarik telinga Jiyong.

“Auw Noona!” Jerit Jiyong sambil berusaha melepaskan tangan Bom. Kedua tangan Bom berhasil dikunci Jiyong. Tapi Bom tidak kehabisan akal, dia lalu menggigit lengan Jiyong.

“Noona, tolong berhenti.” Seungri mencoba melerai Bom dan Jiyong. Seungri menarik Bom menjauhi Jiyong.

“Aku yakin kau tidak mau ikut campur Ri.” Bom memberikan tatapan mematikan pada Seungri. Seungri menelan ludahnya dan perlahan mundur.

“AUWWWW!” Jerit Jiyong kesakitan melepaskan tangan Bom. Saat Bom akan memukulnya lagi, terdengar suara teriakan memanggil namanya.

“BOMMIE!” Dara berlari ke arah mereka. Dara memberikan tatapan tajam pada Bom. “Apa yang kau lakukan di sini Bommi-ah?”

“MEMBERI PELAJARAN PADA BOS-MU.” Lalu pandangan Dara berganti menuju Jiyong. Mulut Dara terbuka lebar, terkejut melihat keadaan Jiyong. Rambut acak-acakan, beberapa kancing kemejanya putus, memar di sudut bibir, dan bekas cakaran di pipi.

“Omo.” Dara menutupi mulutnya, lalu menghadap Bom. “Kita akan bicara nanti Bommie.”

“Noona, bagaimana kalau kita membawa Jiyong ke ruangannya terlebih dulu. Tidak lucu kan jika hyung jadi tontonan sirkus seperti ini.” Seungri melihat di sekitar mereka para pegawai membentuk lingkaran menonton mereka.

Mereka berjalan menuju ruangan Jiyong dengan diikuti tatapan aneh, kasihan para pegawai. Bagaimana tidak? Dengan keadaan Jiyong yang mengenaskan seperti ini, mungkin akan muncul komunitas PEDULI KWON JIYONG.

Sesampainya di dalam mereka duduk di sofa. Bom masih tetap memberikan tatapan sengit pada Jiyong. Dara duduk di sebelah Bom. Sial! Aku belum mengatakan pada Bom jika aku dan Jiyong sudah kembali. Pasti Bom akan marah padaku. Sedangkan Seungri mengambil air dingin, handuk kecil, serta kotak berisi obat-obatan. Lalu Seungri duduk di sebelah Jiyong dan akan mengelap wajahnya dengan handuk. Jiyong menatap Seungri ngeri. Mereka duduk sangat dekat, hingga bisa merasakan nafas sama lain.

“Apa kau gay?!” Teriak Jiyong. Seungri melompat dari kursinya, dan pindah ke sofa lain.

Jiyong melihat ke arah Dara. “Dara tolong obati aku. Hanya ada 2 perempuan di sini. Aku menolak Bom noona, karena mungkin dia akan mengambil kesempatan ini untuk membunuhku.” Kata Jiyong saat Bom memberikan tatapan curiga padanya.

Dara berpindah ke sebelah Jiyong dan mulai membersihkan luka-luka di wajah Jiyong dengan air dingin. Dara mengambil kapas, dan menetesinya dengan alkohol. Lalu mengusap luka-luka Jiyong dengan alkohol tersebut.

“Auw.” Jiyong meringis kesakitan.

“Oh, maaf. Memarnya lumayan banyak.” Gumam Dara. Antara tidak tega melihat Jiyong kesakitan dan ingin cepat-cepat keluar dari suasana canggung ini. Dara terus mengobati Jiyong sampai dia lupa jika Bom masih di sini. “Sudah. Ini akan sembuh dalam beberapa hari.” Dara mengusap-usap wajah Jiyong lembut dengan tangannya.

Seungri dan Bom tidak percaya apa yang mereka lihat. Kecanggungan yang tadi ada tiba-tiba menghilang begitu saja. Bagaimana bisa Dara tidak merasa malu dan gugup mengobati Jiyong?Pikir Bom.

“Hyung! A-apa, apa kalian kembali bersama?!” Dara tersadar, dan segera menjauh dari Jiyong.

“Ya. Aku dan Dara memutuskan kembali bersama.” Jawab Jiyong lalu memberikan seringaian pada Bom.

“Darong! Kenapa kau tidak memberitahuku?! Apa aku sudah tidak penting lagi?!” Suara Bom bergetar. Air mata sudah menusuk keluar. Dan mulailah, pertunjukan opera dari Bom.

“Tidak Bommi. Kami baru membicarakan ini tadi malam.”

“Jadi kau sengaja memilih membicarakan hal ini saat aku tidak ada?!”

“Bukan seperti itu Bommi, percayalah padaku.” Dara memeluk Bom dari samping. “Aku belum sempat memberitahumu, karena aku kira kau akan pulang nanti sore. Dan aku ingin membicarakan ini langsung. Bommie, kau tahu kan aku mencintaimu lebih dari siapa pun?”

Bom mengusap air matanya dan mengerucutkan bibirnya. “Bahkan lebih dari Jiyong?”

Dara mengedipkan matanya bingung. “T-tentu. Tentu saja.” Dan mereka berdua berpelukan lagi.

Tbc…

LEAVE YOUR COMMENT 😀 KRITIK DAN SARANNYA JUGA DITUNGGU

THE END???? BERCANDA. INI SEBENERNYA BARU MULAI CERITANYA.

HAPPY HOLIDAY 😀 LOVE U APPLER 😀

<< Back  Next >>

 

 

 

 

Advertisements

54 thoughts on “Behind The Scene >> Take #6

  1. Akhirnya balikan juga 😍😍😍
    Suka bgt moment darajiyong 😍 udah langsung ngebayangin gimana sexy-nya jiyong pas keluar dari kamar mandi 😜
    Wow…boomi 😃 kayaknya cuma boom yg berani nyerang jiyong didepan para pegawai 😄
    Next aahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s