Behind The Scene >>> Take #4

bts

Author : Oktyas

 

Dara berlari memasuki lift. Dia mengeluarkan air mata yang sedari tadi ditahannya. Ini terlalu sakit melihat Jiyong bersama dengan gadis lain, lebih-lebih gadis itu tidak sepertinya. Bukan gadis yang memalukan seperti dia. Tapi Dara harus tetap pada pendiriannya. Dia menginginkan kebahagiaan Jiyong. Dia menginginkan prianya bersama seseorang yang pantas dengannya.

“Appa, jika appa tidak berhenti dari dunia gelap appa, silahkan tinggalkan kami.” Ujar Dara datar sambil menatap lurus ke arah kedua mata ayahnya. “Aku tidak mau eomma terluka lagi. Appa selalu membahayakan eomma, membahayakan Sanghyun, membahayakan keluarga kita.”

“Beraninya kau mengatakan ini padaku?” Bentak ayahnya. Tapi itu tidak membuat Dara bergeming. Dia sudah lelah dengan keadaannya. Ibunya yang kadang menjadi bahan taruhan, adiknya yang kadang menjadi sandera. Hanya karena pekerjaan ayahnya yang kriminal! Ayahnya sudah lama berkecimpung di dunia gelap itu. Menjadi pengedar narkoba, pembunuh bayaran, penjudi, bukan sesuatu yang baru baginya. Lebih baik mengorbankan ayahnya yang sudah tidak peduli pada keluarganya daripada ia harus melihat adik dan ibunya terluka.

“Karena kau sudah keterlaluan! Jika kau bisa berubah, kau masih bisa kumaafkan, kau masih bisa jadi ayahku lagi, tapi jika tidak, lebih baik keluar dari hidup kami.”

***

[NEWS] Park Dong Hyun Ayah dari Sandara Park ditangkap di sebuah markas besar mafia buronan polisi.Diduga, Park Dong Hyun merupakan anggota mafia yang sudah menjadi buronan di seluruh asia. Kepolisian Korea Selatan, bekerja sama dengan pihak agen rahasia dari beberapa negara untuk menangkap sindikat mafia tersebut.

COMMENT
[xxx1] OHGOD! Dia benar-benar seorang mafia? Lalu bagaimana putrinya bisa dengan nyaman menjadi seorang aktris dengan image innocent? Ah aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan.

[xxx2] Jadi selama ini Sandara menyembunyikan pekerjaan ayahnya? Dia pasti tahu ayahnya adalah seorang buronan, tapi dia tidak menyerahkannya pada polisi? Aku rasa dia juga pantas untuk ditangkap. Well, dia menyembunyikan seorang mafia.

[xxx3] Uh! Sudah kutebak. Image polosnya hanya topeng. Mana mungkin dia punya kepribadian seperti itu sedangkan ayahnya seorang pembunuh?

[xxx4] Ini mengejutkan! Ayahnya seorang mobster, mungkin ibunya seorang pelacur. Aku tidak tahu. Bagaimana dia bisa tumbuh di keluarga seperti itu. Dan dia tetap tenang menikmati kepopulerannya. Atau mungkin dia juga bekerja sebagai pembunuh bayaran, dan dia menjadi aktris untuk menutupi identitasnya. Ini seperti film saja!

[xxx5] Ayahnya mungkin seorang buronan, tapi bukan berarti Sandara Park seorang kriminal. Aku sedikit kecewa dengannya, karena aku fans-nya. Tapi pasti dia mengalami situasi yang sulit. Kami para fans mencoba mengerti. Bagaimana pun juga dia ayahnya. #StayStrongSandara

“Hey.”Jiyong memanggil Dara lembut. Dara yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh ke arah Jiyong. Jiyong lalu duduk di sebelah Dara, dan mencoba melihat apa yang sedang Dara lakukan dengan ponselnya.

“Sudah aku katakan, kau tidak perlu melihat komentar-komentar mereka Dara.” Jiyong merebut ponsel Dara.

“Jiyong kembalikan.” Pinta Dara. Jiyong menggeleng. Dia memerhatikan kekasihnya. Matanya sembab karena semalaman dia menangis. Tidak, dia tidak menangisi tentang nasibnya, atau tentang karirnya. Dara menangis karena banyak para netizen mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Mereka bahkan mengatakan ibunya seorang pelacur. Bagaimana bisa? Jiyong tahu, seberapa pun gadisnya mencoba untuk bersikap kuat, tetap saja dia seorang wanita yang hatinya sangat peka.

Jiyong mendekat ke arah Dara dan memeluknya erat. “Aku tahu ini berat untukmu Dara. Jika aku bilang ini baik-baik saja, kau pasti tahu aku bohong. Tapi aku janji semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu Dara.”

Dara menyandarkan kepalanya ke dada Jiyong. Tubuhnya mulai bergetar, tapi dia tidak menangis.

“Aku mencintaimu Dara.” Ucap Jiyong sambil memainkan rambut halus Dara dengan tangannya.

“Aku juga. Sangat mencintaimu.” Kata Dara lirih.

“Aku akan melindungimu Dara. Aku tidak akan melepasmu.” Gumam Jiyong sambil menghirup wangi rambut Dara. Memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di atas kepala Dara.

***

“Hey kau sudah siap?” TanyaHyesun, managernya. Dara mengangguk memberikan senyuman pasti.

“Tenang saja eonni.”

“Dara ingat, kami semua mendukungmu di sini. Bahkan sajangnim juga. Karena kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Aiyo, eonni, jangan membuatku menangis.” Ujar Dara tertawa. “Nanti mataku sembab saat konferensi pers.”

“Kajja. Kita harus bersiap-siap. Sebentar lagi konferensi pers akan dimulai.” Hyesunmenepuk pundak Dara.

Hari ini, YG Entertainment, agensi tempat Dara bernaung mengadakan konferensi pers untuk membicarakan skandal yang menimpa Dara. Pihak agensi ingin meluruskan masalah ini, agar Dara tidak menerima perlakuan kasar atau komentar-komentar tidak pantas yang tidak seharusnya ditujukan padanya.

Dara, juru bicara dari YG, serta CEO YG Yang Hyun Suk memasuki aula yang digunakan untuk konferensi pers. Puluhan wartawan dari berbagai media sudah berada di sana. Lampu blitz kamera menyambut kedatangan mereka.

“Terimakasih para teman media yang sudah hadir di sini.” Kata Juru bicara membuka konferensi pers dengan sopan. “Kami selaku agensi yang menaungi Sandara Park akan meluruskan berita yang tengah menyebar luas. Sandara-ssi, sudah hampir 5 tahun berpisah dengan ayahnya. Dia tidak tahu dimana keberadaan ayahnya tersebut. Sandara-ssi bersama ibu dan adiknya sudah tidak berhubungan dengan ayahnya lama. Tapi, kadang-kadang ayahnya mengunjungi Sandara-ssi, tapi tidak pernah memberitahu Sandara-ssi dimana ia tinggal. Diakui Sandara, ayahnya memang tidak jarang melakukan kekerasan pada ibunya atau padanya.”

“Jadi kami selaku agensi Sandara-ssi, serta keluarganya, kami mohon kepada para masyarakat untuk berhenti melakukan teror atau pun memberikan komentar-komentar yang tidak layak kepada Sandara. Kami juga ingin meminta maaf karena sudah menimbulkan kekacauan ini. Dan setelah kami melakukan perundingan dengan Sandara-ssi, kami memutuskan, bahwa Sandara-ssi akan hiatus dari dunia entartainment bebearapa saat.” Juru bicara memberikan penjelasan sejelas-jelasnya pada awak media.

Sandara mengambil microfon di depannya, dia ingin memberikan beberapa patah kata sebelum hiatus dari entertainment.

“Terimakasih semuanya yang telah hadir.” Ucap Dara sambil tersenyum. “Aku di sini ingin mengucapkan banyak terimakasih pada semua pihak yang sudah mendukungku. Dan aku juga ingin meminta maaf karena telah membuat para fans dan masyarakat kecewa. Kejadian ini sangat membuatku terpukul. Bagaimana pun juga aku ingin mempunyai keluarga yang normal seperti orang-orang di sini. Sekali lagi aku meminta maaf.” Dara menundukkan kepalanya. Matanya mulai berair.

“Di sini aku secara pribadi datang untuk acara konferensi pers. Karena aku sendiri yang ingin konferensi pers ini terselenggara. Aku tahu Sandara-ssi orang seperti apa. Dia selalu ingin terlihat kuat di hadapan orang lain. Dan ketika melihatnya menangis, ini menyakiti hati kami orang-orang terdekatnya. Mohon terus dukung Sandara-ssi. Terima kasih.” Tambah Yang Hyun Suk. Setelah itu juru bicara menutup acara konferensi pers yang singkat ini. Mereka dijaga ketat dengan bodyguards keluar dari aula tersebut menuju ke halaman depan.

Banyak fans dan wartawan yang sudah menunggu mereka di luar sehingga mereka sulit berjalan menuju mobil mereka. Beberapa fans Dara terlihat sedang adu mulut dengan para antifans. Dalam perjalanan menuju mobil, Dara mendengar beberapa orang berkata tentang dirinya.

“Aku tiba-tiba tidak rela Jung Ill Woo pernah menjadi pasangan Dara walaupun itu di sebuah drama.” Kata seorang gadis.

“Aku juga. Ya ampun, siapa pun kekasih Dara sebenarnya sangat sangat kasihan. Bagaimana bisa dia mempunyai mertua seorang pembunuh, jika mereka menikah nanti?” Tambah gadis di sebelahnya.

Percakapan dua gadis itu terus berputar di kepala Dara. Bagaimana kalau dirinya menikah dengan Jiyong? Itu berarti Jiyong mempunyai mertua seorang pembunuh? Itu sama saja menurunkan kehormatan keluarga Kwon.

“Hey Dara, kau melamun.” Hyesun menepuk bahu Dara. Dara menoleh, tersenyum lemah padanya. “Kita sudah sampai.”

Dara dan Hyesun keluar dari mobil, CEO Yang Hyunsuk keluar dari mobil yang berbeda. Menghampiri Dara.

“S-sajangnim. Aku tidak tahu harus berterima kasih padamu dengan cara apa lagi. Aku banyak merepotkanmu.” Dara terisak. “Kau sudah melakukan banyak untukku. Tapi aku tidak bisa membalasmu. Terima kasih sajangnim. Terima kasih.”

“Dara,” Hyunsuk mengelus kepala Dara. “Aku sudah menganggapmu sebagai anakmu sendiri. Hm? Sejak pertama kali kau mendaftar pada agensi ini. aku akan selalu peduli padamu. Aku dan Eunjoo senang mengenalmu. Kami menyayangimu Dara-ya.” Kata Hyunsuk tulus. Dia dan istrinya, Eunjoo sudah menganggap Dara sebagai puterinya sendiri. Dan saat melihat Dara menangis seperti ini, membuat hatinya sakit. Hyunsuk Sajangnim memeluk Dara hangat sebagai pelukan seorang ayah.

“T-terimakasih banyak.” Kata Dara masih menangis sesenggukan di dada Hyunsuk Sajangnim.

“Sudahlah Dara. Berhenti menangis. Ayo kita masuk. Bereskan beberapa urusan, setelah itu kau bisa pulang.” Hyunsuk Sajangnim menarik diri. “Aku tahu kau gadis yang kuat. Dan mereka, tidak pantas mendapatkan air matamu.”

***

“Jangan khawatir Bommi-ah. Aku baik-baik saja.” Dara memegangi ponselnya di tangan kiri, sedang tangan kanannya sibuk menyisir rambutnya yang baru dikeringkan.

“Hm. Iya aku di apartemenku. Apa? Tidak perlu Bommi, kau baru pulang dari Paris aku tahu kau lelah. Iya iya. Kau bisa mengunjungiku besok. Oke, sampai jumpa.” Dara meletakkan ponselnya di atas meja sebelah tempat tidurnya.

Saat Bom pertama kali mendengar gosip Dara, ia langsung menelepon Dara dan mengatakan padanya bahwa ia akan pulang ke Seoul dari Paris menggunakan penerbangan paling awal. Walaupun Dara sudah melarang Bom untuk pulang, karena Dara tahu, Bom masih harus menyelesaikan pameran desainnya di Paris. Sebagai salah satu desainer terkenal, tentu saja itu akan berat bagi Bom untuk meninggalkan acaranya. Tapi Bom terlalu menyayangi sahabatnya itu.

Dara sadar, meski banyak yang membencinya, tapi dia masih memiliki orang-orang yang mencintainya, yang peduli padanya. Tadi sore, setelah Dara pulang dari kantor agensinya, Jiyong menemani Dara di apartemennya. Mereka menghabiskan waktu bersama sekedar untuk menonton film. Tapi itu tidak masalah bagi Dara, asalkan Jiyong bisa di sisinya. Sayangnya, Jiyong harus pulang lebih awal karena ada masalah perusahaan serius yang mendadak. Dara tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa pria itu. Tanpa cintanya, kasih sayangnya.

Ting Tong

Tiba-tiba terdengar suara bel rumahnya. Dara melirik jam yang ada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Jam 8.00 malam, siapa yang datang malam-malam begini? Pikir Dara. Hyesun? Tidak mungkin. Dia pasti akan menghubungiku jika akan datang. Jantung Dara berdetak lebih kencang tidak seperti biasanya. Bagaimana kalau wartawan, antifans? Dara melihat dari intercomnya, dan mendapati wanita usia lebih dari 50 tahunan berdiri di depan pintunya. Ohmygod! Dengan cepat Dara membuka pintunya.

“Omo, halmeoni. Mari silahkan masuk.” Dara mempersilahkan wanita masuk dan mempersilahkan dia duduk. “Apa anda mau teh?”

“Tidak usah, terimakasih. Aku tidak akan lama.”Jawab wanita itu dingin.

Lalu Dara duduk di seberang nenek tersebut. Apa yang dilakukan nenek Jiyong di sini? Pikir Dara panik. Karena tidak pernah sekali pun wanita tua itu datang kemari.

“Ada apa anda repot-repot datang kemari?” Tanya Dara sopan.

“Dara, apa kau mencintai cucuku?” Tanyanya langsung tanpa basa-basi.

“N-neh?”

“Apa kau mencintai Jiyong?”

“T-tentu saja halmeoni.” Kemana arah pembicaraan ini?

“Kau pasti menginginkan Jiyong bahagia kan?” Dara mengangguk gugup. “Aku yakin kau adalah gadis yang pengertian Dara-ya. Kau pasti tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi pada Jiyong. Termasuk hal buruk karenamu.”

Deg! Jantung Dara mulai berdegup tidak beraturan. Dia merasakan telapak tangannya mulai basah karena keringat.

“Dara, aku benar-benar menyesal atas segala sesuatu yang menimpamu. Tapi sebagai nenek, aku tidak bisa mengambil resiko untuk cucuku. Aku ingin kau melepaskan Jiyong selagi kau mampu. Apa kau bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kalian menikah? Semua media pasti akan meliput dan mencari informasi tentang pernikahan kalian. Dan, apa jadinya keluarga Kwon nanti jika salah satu penerusnya menikah dengan putri pembunuh? Kehormatan Kwon yang sudah kami jaga puluhan tahun bisa turun begitu saja. Oke, aku mungkin terdengar sangat egois. Tapi coba pikirkan anak-anak kalian kelak. Mereka pasti akan bertanya siapa kakeknya, dimana kakeknya? Ayah Jiyong, dia adalah pria terhormat, itu tidak masalah. Tapi ayahmu? Apa yang akan kau katakan pada anakmu nanti Dara? Kau tidak mungkin membohongi mereka selamanya. Katakan saja kau bisa membohonginya, tapi pasti anakmu nanti akan tahu dengan sendirinya. Apa menurutmu mereka akan bangga memiliki seorang kakek seorang kriminal? Tentu saja tidak Dara. Jadi aku mohon tinggalkan Jiyong. Demi kebaikan kalian.” Jelas Nenek Jiyong.

Tubuh Dara mulai dibanjiri dengan keringat dingin. Ingin sekali dia mengatakan sesuatu, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Kepalanya terasa mulai berat. Ini yang dia takutkan selama ini. Ini adalah mimpi buruk yang selalu membayanginya.

“Aku tahu ini sulit. Aku juga yakin Jiyong mencintaimu. Tapi masih banyak gadis yang lebih cantik dari keluarga baik-baik yang pasti dapat membuat Jiyong tertarik. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”

Dara ingin berteriak pada wanita tua di depannya, bahwa dia tidak akan meninggalkan Jiyong, bahwa dia akan bertahan di sisi Jiyong, dan bahwa Jiyong tidak akan mau meninggalkannya, karena Dara tahu betapa lelaki itu mencintainya, memujanya. Tapi suaranya mengkhianatinya.

“T-tentu saja halmeoni. Aku mencintainya, dan aku akan membiarkan dia bahagia bersama seseorang yang layak.” Kata Dara tidak yakin. “Aku akan meninggalkannya secepat mungkin. Jangan khawatir.” Dadanya terasa di remas, menjadi sesak.

“Syukurlah kau bukan gadis keras kepala. Terima kasih Dara.”

“Ya. Ngomong-ngomong, aku sangat lelah malam ini. Aku ingin tidur lebih awal. Maafkan aku.” Ujar Dara berdiri. Nenek Jiyong mengikuti Dara dan berjalan menuju pintu.

“Selamat malam Dara.” Dia keluar dari apartemen Dara. Dara menutup pintunya. Lalu dengan segera dia menuju ke kamarnya. Bergelung di kasur yang dingin. Menangis sesenggukan.

Semua yang dikatakan oleh Nenek Jiyong bagaikan pisau yang menancap di jantungnya dan mengkoyak hatinya. Dara ingin percaya bahwa yang dikatakan Nenek Jiyong itu tidak benar. Tapi semakin Dara menolak keyakinan itu, semakin terasa sakit hatinya. Karena semuanya benar. Dara tidak mungkin menjadi kebahagiaan Jiyong, Dara tidak mungkin menjadi wanita terhormat yang bersanding bersama Jiyong, dan karena dia tidak mungkin menjadi ibu sebagai anak-anak Jiyong. Dara semakin mengeratkan pelukannya pada bantal yang sekarang sudah basah karena air matanya.

“Jiyong aku mencintaimu. Sangat.”

***

“Dara kau yakin?” Tanya Bom khawatir.

“Tentu Bommi.” Jawab Dara tanpa melihat ke arah Bom. Ia sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.

“Tapi Dara,-“

“Bommi percuma. Aku tidak akan berubah pikiran. Kau mau ikut atau tidak? Aku sudah beli dua tiket. Tapi, jika kau tidak ingin ikut, tak apa. Asal kau antarkan aku ke bandara.” Potong Dara cepat. Dia tidak ingin mendengar sesuatu dari Bom karena dia takut akan berubah pikiran.

“Sebenarnya apa alasanmu kenapa kau harus pergi ke luar negeri? Bagaimana dengan keluargamu? Jiyong?”

Deg. Nama itu lagi. Tidak, Dara tidak boleh lemah. Dia harus bisa meninggalkan Jiyong demi kebahagiaan prianya. “Bommie, aku berjanji akan memberitahumu bila kau sudah setuju aku pindah ke New York.”

“Oke oke. Aku ikut denganmu ke New Dia harus bisa meninggalkan Jiyong demi kebahagiaan prianya. “Bommie, aku berjanji akan memberitahumu bila kau sudah setuju aku pindah ke New York.”

“Oke oke. Aku ikut denganmu ke New York. Aku akan bekerja di butikku yang berada di sana.”

“Aku sudah menelepon eommaku, aku sudah membeli rumah di Busan, dan meminta eomma dan Sanghyun tinggal di sana. Aku perlu ketenangan Bommi. Aku ingin pergi ke tempat dimana tidak ada memori menyakitkan yang tertinggal. Aku ingin memulai dari awal.” Dara mendesah lemah.

Setelah kedatangan Nenek Jiyong ke apartemennya, keesokan harinya Dara langsung memesan dua tiket penerbangan ke New York. Dia tahu Bom punya butik di sana itulah mengapa dia memilih New York. Sore harinya ia dan Jiyong masih sempat menghabiskan waktu berdua. Bahkan Dara menginap di rumah Jiyong. Dan pada pagi harinya, ia pulang ke apartemennya tanpa sepengetahuan Jiyong. Dan di sinilah dia sekarang bersama Bom sedang bersiap-siap. Dia sengaja ingin menciptakan moment terakhir bersama Jiyong sebelum pergi.

Bom menghambur ke arah Dara, memeluk sahabatnya itu erat. Dia tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan Dara. Tapi ia tidak menuntut Dara untuk menceritakannya sekarang. Bom akan menunggu Dara sampai ia siap untuk bercerita.

Malam harinya, Dara dan Bom bersiap untuk ke bandara. Dara sengaja memilih penerbangan malam hari untuk menghindari para wartawan. Sebelumnya, Dara akan menghubungi Hyunsuk Sajangnim.

“Sajangnim maafkan aku, tapi aku harus pergi. Maaf aku tidak memenuhi kontrak yang telah disepakati. Aku akan membayar dendanya.” Kata Dara sambil menangis.

“Dara-ya, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba pergi ke New York? Bicaralah padaku Dara.” Suara Hyunsuk Sajangnim terdengar khawatir. Dara juga bisa mendengar suara dari Eunjoo yang bertanya apa yang terjadi padanya.

“Aku, aku hanya ingin memulai semuanya dari awal. Ini terlalu berat untukku sajangnim. Maafkan aku.”

“Ya! Dara! Kau bisa datang kemari. Aku mencintaimu. Tidak perlu kau pikirkan kontrak. Tapi kau harus berjanji kau akan kembali ke Korea lagi eoh?” Kali ini Eunjoo yang berbicara padanya.

“Eonni, aku berjanji akan kembali. Tapi aku tidak tahu akan berapa lama tinggal di sana. Eonni, gomawo, jeongmal gomawo.” Dara menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Dara dan Bom keluar dari lift untuk ke tempat parkir untuk mengambil mobil Dara. Saat pintu lift terbuka, Dara membeku, dilihatnya sosok yang selama ini ia pikirkan. Jiyong berdiri di sana, menatap Dara dan Bom bergantian dengan tatapan bingung.

“Babe, kau akan pergi?” Tanya Jiyong. Dara mengabaikannya dan berjalan melewati Jiyong. “Dara!” Panggil Jiyong.

Dara tidak menggubrisnya. “Bommi, ambil mobilku dulu. Aku akan menyusul.” Dara memberi Bom kunci mobilnya.

“Dara, kau akan pergi kemana?” Jiyong mulai panik. Dia menarik lengan Dara sehingga mereka berdua berdiri berhadapan. Jiyong menatap mata gadis di depannya itu. Ia bisa merasakan kesedihan di mata Dara. “Babe, please, bicaralah.”

“Maaf Jiyong.” Suara Dara bergetar. Pertahanannya runtuh seketika saat menatap mata Jiyong. “Maaf.”

“Ada apa Dara?” Jiyong menyingkirkan rambut Dara yang menutupi wajahnya.

“Aku harus pergi. Aku tidak bisa bersamamu lagi. Maaf.”

“Apa?” Tatapan Jiyong berubah menjadi sebuah ketakutan. Tidak Jiyong tidak ingin mendengar ini.

“Aku harus pergi Jiyong. Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi. Ini hanya akan menyakiti kita berdua. Tolong berbahagialah, dan carilah wanita yang pantas untukmu.” Air mata mulai menusuk Dara. Suaranya semakin tidak jelas, karena Dara berusaha keras untuk menahan tangisnya. “Biarkan aku pergi.”

“Kau bercanda?” Tanya Jiyong tidak percaya. Ada apa dengan gadisnya ini? Tiba-tiba ia ingin pergi dari sisinya dengan alasan yang tidak jelas. “Katakan kau bercanda Dara.” Dara menggeleng.

“Ada apa denganmu? Please Dara please! Jangan pergi. Kau adalah wanita yang aku cintai. Kau satu-satunya wanita yang pantas untukku.”

“Jiyong, aku puteri seorang pembunuh. Mana mungkin aku pantas denganmu.” Dara mencoba tertawa, meski air matanya sudah membasahi pipi halusnya.

“Tidak Dara! TIdak!” Jiyong sudah kehilang kendalinya, air mata sudah membanjiri wajahnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi untuk menahan Dara agar tidak pergi.

“Jiyong kumohon!” Gadis itu menangis tapi mencoba untuk tetap terlihat tegar, “Bagaimana kalau mereka tahu? Bagaimana kalau masyarakat tahu tentang hubungan kita? Itu akan menghancurkanmu Jiyong! Masa depanmu masih panjang! Kau akan menjadi CEO mewarisi ayahmu!”

“Aku tidak peduli! Biarkan mereka tahu! Biarkan mereka tahu kau adalah milikku! Kumohon Dara jangan pergi.”

“Tapi aku peduli karena aku mencintaimu! Aku bukan wanita baik-baik! Aku bukan dari keluarga baik-baik Jiyong!” Dara mulai terisak, ia sudah tidak sanggup untuk bicara lagi. Dia tahu, jika dia bicara lebih banya air matanya akan terus menerus untuk keluar.

BEEP.

Suara klakson mobil datang mendekat lalu menepi di dekat keduanya. Dan Bom keluar dari mobil tersebut menghampiri Dara.

“Ayo Bommie, kita pergi.” Dara berjalan masuk ke mobil melewati Jiyong. Sedangkan Bom berdiri di samping mobilnya, menatap Jiyong sedih. Dia tahu betapa hancurnya hati pria itu, tapi dia juga tahu betapa hancurnya hati Dara sahabatnya.

Bom berjalan mendekati Jiyong, “Jiyong,berikan dia waktu. Kau tahu ini waktu yang sulit untuknya, setelah semua yang terjadi.” Bom mencoba menjelaskan pada Jiyong. Berharap memberikan sedikit kekuatan untuk membuat pria itu berdiri lagi.

“Tapi kenapa harus pergi dariku Bommie? Aku akan melindunginya. Kau tahu kan aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitinya?” Tanya Jiyong. Suaranya tersayat.

“Aku tahu. Aku tahu Jiyong.” Bom menghembuskan nafasnya tegang, “Tapi kau juga tahu kan betapa Dara mencintaimu?” Jiyong mengangguk lemah. Kenapa jika gadis itu mencintainya, dia ditinggalkan?

“Ingat Jiyong, jika kau percaya Dara hanya untukmu, tunggulah dia. Karena aku yakin dia juga ingin menunggu dirinya sendiri menjadi Dara yang pantas bersanding untukmu.” Bom menepuk pundak Jiyong pelan, lalu melangkah pergi dan masuk ke dalam mobil.

***

TBC

 << Back  Next >>

 

 

 

 

Advertisements

38 thoughts on “Behind The Scene >>> Take #4

  1. Oh jadi gitu ceritanya,ayahnya dara seorang pembunuh bayaran,penjudi,dll
    Kasian banget dara,kasian juga jiyong 😭😥
    Itu neneknya jiyong kebangetan banget
    Lebih mentingin nama baik dari pada kebahagiaan cucunya
    Untung ada bom dan orang2 yang selalu ngedukung dara
    Semoga mereka bisa bersatu kembali

  2. oh ayahnya seorang mafia
    tega banget appa nya , Dara jadi harus ngorbanin perasaannya sendiri
    percaya ga percaya pas baca yang coment soal dara aku ampe nangis entahlah ngefeell banget

  3. Finally teka teki masa lalu dara terungka..
    Alasan kenapa dara terpaksa berpisah sama jiyong…
    Awalnya sempat mengira klo perpisahan mereka terjadi karna latar belakang kekayaan mereka yg berbeda tp ternyata tebakan saya salah kaprah 😀
    Gilaaa separah itu kah kejahatannya ayah dara? Sampai2 beberapa negara bekerja sama untuk nangkep dia hahaha
    Itu komentar netizennya nyata ya??berasa bgt kejamnya dunia entertaiment korea klo udah kena scandal . siapa yg salah gak masalah yg penting ada yg dipersalahkan *maksudnya?* hahaha
    Moment dimana papi YG angkat bicara soal scandal dara di konferensi pers itu mengharukan bgt loh,dikehidupan nyata bisa dikatakan papi YG itu memang bener2 sayang bgt sama dara dan Jiyong..
    Jadi pas baca yg begini langsung bisa ngerasain gimana sayangnya papi ke dara..

  4. yashhh ternyata neneknya jiyong dibalik ini semua
    sumpah ya ini cerita nggak klise karena walaupun jiyonh yang ditinggalin tp dia nggak marah dan nemu cewek lain
    mantapppp
    #daragonisreal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s