기용취 – Giyongchi: La Première

giyongchi

~ La Première: Spéciale ~

**

Sejak kedatangan Seunghyun, senyuman Jiyong terus mengembang. Pertanda baik tentu saja bagi para model, termasuk Chaerin.

“Dan apa kau tahu, Seunghyun Oppa, dengan seenaknya saja orang ini menyuruhku untuk menjadi model – menggantikan model utama yang dia pecat!” Lapor Chaerin penuh semangat kepada Seunghyun. Ketiganya kini tengah bercengkrama di kafe hotel, sembari mereka beristirahat setelah gladi tadi.

Bibir Jiyong merengut dilaporkan seperti itu. “Itu salahnya sendiri! Siapa yang menyuruhnya bersikap lancang! Berani-beraninya dia menyentuh gaun yang bukan untuknya – dan yang lebih menyebalkan lagi, dia memakainya!” Jelas Jiyong masih merasa tidak terima dengan kejadian kemarin.

Setelah Jiyong mengusir Haruki Kurumizawa dari pagelaran busananya, dia menunjuk Chaerin untuk menggantikan posisi sang gadis Jepang sebagai model utama. Chaerin tidak mungkin menolak; alasan pertama karena sudah tidak ada waktu lagi dan kedua dia tidak berani mengambil resiko berhadapan dengan Jiyong yang saat itu masih marah.

“Oh ya?” Seunghyun terlihat semakin tertarik. “Lalu apa yang kau lakukan pada gaun itu , Ji?” Tanyanya. Dia sudah mengenal Jiyong sejak lama, dia tahu betul betapa sensitifnya sahabatnya itu mengenai rancangan ‘khusus’-nya.

Dalam setiap pagelaran busananya, Jiyong selalu mengeluarkan minimal satu rancangan khusus yang tidak seorang pun yang boleh menyentuh apalagi memakainya. Rancangan itu tidak akan dipamerkan dalam fashion show, tidak akan ada yang tahu seperti apa bentuknya sampai beberapa bulan kemudian seseorang mengenakannya. Bisa saja ada rancangan khususnya yang dipamerkan di butik, namun hal itu pun masih akan menjadi misteri, karena katalog Giyongchi tidak sepenuhnya memuat semua rancangan yang telah Jiyong buat.

“Kau pasti tidak akan percaya, Oppa..” Chaerin berkata, “Jiyong Oppa meminta model itu untuk membuang gaunnya!” Ada nada geli dalam suaranya, namun matanya menatap kagum pada Jiyong.

“Wow!” Seunghyun memandang Jiyong penuh rasa tak percaya. “Wow! Hahaha…!”

Jiyong hanya mencibir. “Aku tidak memamerkan rancangan khususku di atas catwalk bukan berarti aku akan membiarkan ada orang lain yang memakainya di bawah catwalk!” Dengus Jiyong. “Apalagi itu bukan rancangan khususku yang biasa.” Terangnya.

“Ah…” Chaerin dan Seunghyun langsung mengangguk mengerti.

“Lalu bagaimana dengan rancangan khususmu untuk musim kali ini?” Tanya Seunghyun lagi, kali ini nada bicaranya terdengar lebih peduli. Dia tahu betapa pentingnya hal itu bagi Jiyong. Sahabatnya itu bahkan akan rela membatalkan acara pergelaran busananya jika rancangan khususnya belum rampung. Hal itu pernah terjadi.

“Kau pasti tidak akan percaya, Oppa… Jiyong Oppa telah menyelesaikannya dalam semalam!” Chaerin kembali melapor, tidak bisa menyembunyikan nada bangga dalam suaranya.

“Wow, Ji! Kau belum kehilangan sentuhanmu!” Seru Seunghyun riang, merasa senang untuk Jiyong.

Jiyong hanya tersenyum simpul dengan tatapan mata menerawang.

“Jadi kau akan segera kembali ke Korea? Kapan? Apakah setelah pagelaran ini? Kalau begitu kita ke Korea bersama-sama saja.” Cecar Seunghyun bersemangat, senang akan punya teman dalam perjalanan. Maklum saja, dia adalah modan dan artis tanpa agensi maupun manajer. Semuanya dilakukannya seorang diri, dan terkadang gagasan akan memiliki teman seperjalanan sungguh menyenangkannya.

“Tidak masalah.” Balas Jiyong singkat.

“Oh ya.. Omong-omong soal Korea, kemarin aku bertemu dengan produser Korean Next Top Model, dan dia menitipkan pesan untukmu, katanya kau harus menerima tawarannya. Dia memaksa.” Tambah Seunghyun.

Sekitar sebulan yang lalu, Jiyong mendapatkan tawaran sebagai juri dalam variety show Korean Next Top Model. Ajang pencarian bakat bagi para pemula yang ingin berkecimpung di dunia model profesional. Tahun lalu, Jiyong sudah pernah mendapatkan tawaran serupa, namun menolak karena saat itu dia tersandung kasus dengan seorang politisi Prancis.

“Kau akan menerima tawaran itu Oppa?” Selidik Chaerin.

“Hmm, mungkin. Masih kupertimbangkan.” Jawab Jiyong. “Lagipula aku memang berencana akan tinggal lama di Korea kali ini. Ingat rencanaku untuk ekspansi Giyongchi ke Seoul, kurasa aku akan mulai melakukannya.” Dia lalu menatap Seunghyun. “Dan kau, Hyunie Hyung, kau akan tetap menjadi brand ambasador Giyongchi untuk divisi pria!” Matanya menyipit.

Seunghyun memutar bola matanya. “Sudah kuduga. Bahkan di sini pun, aku yang menjadi brand ambasador Giyongchi!”

Jiyong hanya terkikik geli, mata lentiknya berkedip-kedip cantik. Ya benar, sejak mengeluarkan divisi pria dari Giyongchi, Jiyong hanya menghendaki Seunghyun yang menjadi model utamanya.

“Woah, woah…! Chankaman!” Seru Chaerin mengangkat kedua tangannya. “Oppa, kalau kau kembali ke Seoul, siapa yang akan mengurusi Giyongchi di sini?”

Jiyong menatap ke arah Chaerin, berkedip-kedip, seolah menjawab pertanyaan gadis itu tadi. Dan Chaerin yang langsung mengerti pun hanya bisa mengerang kesal.

“Kau benar-benar tidak adil Oppa!”

Jiyong dan Seunghyun tertawa puas melihat Chaerin yang merengut kesal. Kedua pria itu saling ber-high five dan bersamaan mengedipkan sebelah mata mereka kepada Chaerin.

“Tenang saja, akan kuatur agar Seungri dan Youngbae sering-sering datang ke Paris untuk mengunjungimu.” Ujar Seunghyun di sela-sela tawanya. “Dan, Rin.. Bisakah kau segera putuskan, mana di antara kedua pria itu yang akan kaupilih? Kau benar-benar akan terlihat jadi gadis nakal jika kau terus menggantungkan mereka begini…”

Chaerin menatap Seunghyun tak percaya, mulutnya terbuka lebar namun tidak ada kata apapun yang keluar. Terlalu kaget. Sepuluh detik kemudian terdengar teriakan melengking dari gadis itu disusul dengan suara tawa dari dua orang pria yang tengah bersamanya.

“Kalian benar-benar jahat!”

**

“Dara-ah, untuk pemotretan dengan Elle minggu mereka mengirimkan ini,” Yoo Inna, manajer Dara – bernama lengkap Park Sandara atau lebih dikenal sebagai Sandara Park, merupakan seorang artis terkenal asal Korea Selatan. Berbagai jenis peran dalam serial drama maupun film layar lebar pernah dia jajal, dan dengan menyantumkan namanya saja sudah bisa menjadi jaminan bahwa drama dan film itu akan laris.

Dara yang tengah sibuk dengan ponselnya, mengalihkan perhatiannya sejenak kepada sang manajer. Mata lentiknya berkedip beberapa kali, melihap apa yang disodorkan oleh Inna padanya. Hanya beberapa lembar kertas.

“Mereka mengirim email padaku semalam, tapi aku baru bisa mencetaknya pagi tadi.” Inna memberikan penjelasan tanpa perlu ditanya, dia sudah terlalu lama mengenal Dara – sudah sangat hafal dengan sikap tubuh artisnya itu. “Ini adalah pakaian yang mereka usulkan untuk kaukenakan saat pemotretan—,”

Bibir Dara mengerucut, mata bulatnya menatap Inna penuh arti. “Unnie…

Arasso, arasso… Akan kukatakan pada mereka kita akan menyiapkan kostum sendiri.” Kata Inna pada akhirnya mengerti arti tatapan polos Dara. Mendengarnya, Dara tersenyum lebar.

Gomawo,”

Neh.” Balas Inna. “Tapi apa kauyakin? Tema pemotretannya adalah flirt, apa kaupunya kostum yang cocok?” Tanya Inna sedikit ragu. Dia memang tahu, wardrobe Dara memiliki koleksi yang sanggup membuat stylist manapun iri, namun seingatnya semua koleksinya lebih mencerminkan sosok anggun, innocent, angel… Tidak ada apapun yang mencolok dan bersifat persuasif.

Dara hanya tersenyum simpul. “Aku tidak tahu. Pasti ada sesuatu yang bisa kita temukan.” Jawabnya santai lalu kembali memusatkan perhatian pada ponsel.

Inna mendesah. Dia tahu tidak ada gunanya memaksa, toh sekali tidak maka akan selamanya tidak bagi Dara. Wanita itu memiliki sifat keras kepala yang tidak tertandingi kecuali oleh…

“Unnie, apa kau sudah meminta supir untuk—,”

“… menjemput Haru?” Potong Inna, “Sudah,” jawabnya langsung.

“Apakah—,”

“Aku juga sudah berpesan kepada supir untuk menyampaikan pada Haru bahwa kau tidak bisa menjemputnya sendiri karena agendamu belum selesai.” Dara tersenyum berterima kasih mendengar penjelasan Inna, dan manajernya itu membalas dengan senyuman maklum.

Dara sudah membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun Inna memotong, “Dan aku sudah meminta supir agar langsung membawanya ke mari, karena kalian sudah punya janji kencan hari ini.”

“Kau sungguh tahu, Unnie…” Dia tersenyum lebar.

“Tentu saja,” balas Inna. “Oh, aku baru ingat.. Tuan Lee menelepon tadi,” lapornya setelah membuka ponselnya dan melihat catatan panggilan.

“Apa katanya?” Tanya Dara tidak benar-benar memperhatikan manajernya. “Unnie, kau masih saja memanggilnya Tuan Lee?” Protes Dara.

“Yah, jangan salahkan aku. Auranya memang menakutkan.” Inna membela diri.

Dara hanya menggelen-gelengkan kepalanya. “Aigoo, bahkan kalian ini seumuran… Jadi apa katanya?” tanya Dara sambil lalu.

“Dia mengingatkan soal acara makan malam yang—,”

“… desainer kebanggaan Korea, Kwon Jiyong kembali meluncurkan karya terbaru untuk musim gugur Giyongchi…”

“— Dara-ah!” panggil Inna berkacak pinggang.

Mendengar namanya dipanggil, Dara menoleh. Mata polosnya berkedip dan mengalihkan pandangan dari televisi. “Neh? Kau memanggilku, Unnie,

Inna menarik nafas dalam, gemas dengan sikap Dara.

“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan tadi?”

“Huh?”

“Aisht, Dara-ah. Kau harus memperhatikan orang yang sedang berbicara padamu, itu adalah adab dasar berbicara dengan orang lain,”

Mianhe,” lirih Dara. “Apa yang kau katakan tadi, Unnie?”

Inna mendesah sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Dara. “Tuan Lee mengingatkan soal makan besok lusa. Dia bilang sesuatu tentang investor penting dan kau harus hadir.”

Dara menganggukkan kepalanya mengerti. “Arasso.” Jawabnya singkat, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah televisi. Komentar dari presenter acara sepenuhnya telah menarik perhatian Dara.

“… kita tunggu saja kejutan apa yang akan dibawa Giyongchi, yang pasti kita semua berbahagia dengan kemungkinan Giyongchi juga akan membuka kantor cabang di sini…”

“Oppa kembali…” lirih Dara dengan mata melebar sempurna.

**

Oppa, lihat… kalian ada di surat kabar lagi,” lapor Chaerin saat sarapan sehari setelah acara fashion show Giyongchi diselenggarakan. Seunghyun dan Jiyong hanya melirik sekilas, kelihatan tidak tertarik dan melanjutkan kegiatan sarapan mereka.

“Paling hanya berita lama,” komentar Seunghyun.

“Tidak ada hal baru, aku berani bertaruh,” giliran Jiyong berkomentar.

Chaerin menganggukkan kepalanya dan membalik halaman surat kabarnya dengan malas. “Kolom gosip, masih membicarakan hal yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Kalian benar, tidak ada yang baru.”

Hampir seluruh rubrik surat kabar memuat tentang Jiyong. Mulai dari kesuksesan pergelaran busana Giyongchi kemarin, deretan penghargaan yang pernah diterima, hingga kisah asmaranya. Untuk bagian terakhir, tidak ada sumber terpercaya karena pria itu tidak pernah mau membuka kehidupan pribadinya kepada media. Dan setahun belakangan, nama Seunghyun selalu dikaitkan dengannya – sebagai pasangan kekasih.

Malas karena semua isi beritanya hampir sama, Chaerin akhirnya melipat surat kabar di tangannya dan menumpuknya bersama dengan tiga surat kabar lain yang sebelumnya sudah dia baca. Hanya ingin mengecek berita tentang Giyongchi, namun seperti biasa, rasa penasaran para wartawan itu tidak terbendung dan akhirnya malah menulis berbagai macam berita tentang Jiyong. Sebelum dengan Seunghyun, dirinyalah yang selalu dikaitkan dengan Jiyong.

“Sudah, lanjutkan sarapanmu.” Kata Jiyong. “Setelah ini kita masih perlu ke workshop,”

Kening Chaerin berkerut, raut mukanya menunjukkan protes. “Yah, Oppa. Untuk apa ke workshop? Baru kemarin kau mengadakan pergelaran busana untuk musim ini? Lagipula bukankah semua rancangan ‘khusus’-mu sudah selesai?!”

Seunghyun hanya menaikkan sebelah alisnya mengamati kedua sepupu itu, namun kemudian hanya mengedikkan bahu memilih untuk diam dan melanjutkan sarapannya. Tidak ada untungnya dia ikut campur dengan masalah mereka.

“Belum semuanya.” Jawab Jiyong. “Aku butuh pendapatmu untuk rancangan Mini Giyongchi,”

Chaerin mendengus kesal. Dia tidak bisa membantah begitu Jiyong menyebut Mini Giyongchi. Itu adalah line khusus yang dikeluarkan Giyongchi dengan sasaran anak-anak. Tidak semua anak, hanya untuk anak perempuan. Jika ingin bertanya alasannya, bertanyalah kepada yang mencetuskan ide itu, Kwon Jiyong.

Mini Giyongchi telah ada sejak tahun-tahun awal Giyongchi, tepatnya lima tahun yang lalu. Jauh lebih dulu dibandingkan divisi pria. Yang menarik dari Mini Giyongchi ini adalah Jiyong tidak pernah mengeluarkan ukuran yang sama setiap tahunnya. Pada saat pertama kali diluncurkan, Mini Giyongchi hanya ditujukan untuk bayi, tahun berikutnya untuk balita usia dua tahun, tahun berikutnya untuk balita usia tiga tahun… dan sampai akhirnya kini untuk anak usia lima tahun. Seolah-olah Mini Giyongchi tengah tumbuh setiap tahunnya.

“Kupikir kau sudah menyelesaikannya,” komentar Chaerin setelah menelan sesuap omelet kejunya. Tidak ada keinginan untuk menolak, karena tahu hal itu adalah salah satu dari sedikit hal yang menjaga Jiyong tetap waras.

Jiyong hanya mengedikkan bahu. “Aku masih merasa kurang yakin, karena itu aku membutuhkan bantuanmu.” Jawabnya.

Diam. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

“Ehem,” Seunghyun berdehem memecah keheningan. “Karena kalian berdua akan sibuk, bolehkan aku berjalan-jalan? Sudah lama aku tidak menikmati Paris.” Pintanya penuh harap.

“Tentu, tapi kau harus menjauhkan diri dari masalah, Oppa.” Jawab Chaerin, menatap tajam ke arah Seunghyun, sambil menunjuk pria itu dengan garpunya.

**

Seorang gadis kecil dengan langkah ringan berjalan riang menuju ke tempat yang telah dia hafal. Sudah sebulan ini dia selalu diantarkan ke mari setelah pulang sekolah. Meski begitu supir yang tadi menjemputnya tetap mengikuti beberapa langkah di belakang.

Annyeong, Haru-ah…”

“Haru, annyeong…”

Orang-orang di sana yang telah mengenalnya menyapa ramah sambil melambaikan tangan, tidak menghentikan pekerjaan mereka, tahu pasti bahwa anak kecil yang mereka panggil dengan nama Haru itu tidak akan membuat masalah. Tangan kecilnya balas melambai dan dengan wajah tersenyum membalas sapaan mereka.

Annyeong..

Langkah kakinya berhenti di sebuah ruangan besar – yang kata ibunya disebut studio, kepalanya melongok ke dalam. Mencoba memastikan apakah dia bisa masuk atau tidak.

“Oh, Haru-ah…” seseorang memanggilnya. Haru menolah dan melihat salah seorang wanita teman ibunya – begitu dia mendeskripsikan semua orang yang bekerja bersama dengan ibunya. “Apa kau mencari Omma-mu?” tanyanya sambil menundukkan badan, menyejajarkan kepalanya dengan Haru.

Neh,” jawab Haru.

Kaja.” Wanita itu kemudian menoleh kepada sang supir, “Biar aku yang mengantarkannya.” Ucapnya.

Neh, kamsahamnida.” Supir itu mengangguk, lalu berpamitan.

“Apakah Omma sudah selesai?” tanya Haru mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam studio.

“Sudah,” jawab wanita itu sambil berusaha mengedarkan pandangan mencari seseorang. Setelah dilihatnya orang yang dia cari-cari berada tidak jauh dari mereka, dia berseru, “Dara-ssi… ada yang mencarimu!”

Haru mengikuti arah pandangan wanita itu dan melihat orang yang dicarinya. Omma-nya. “Omma!”

**

~ To be Continue ~

Oke, saya masih mencoba buat merangkai-rangkai.. sebaiknya ke mana arah cerita yang satu ini.. LOL

Maklum saya ini sering berubah pikiran di saat-saat terakhir.. kkkkkk semoga masih bisa dipahami, dan kalau sulit, yah~ tenang saja.. ini masih chapter pertama..

Sampai ketemu di chapter selanjutnya.. ^^/

<< Back  Next >>

Advertisements

37 thoughts on “기용취 – Giyongchi: La Première

  1. Wah chap ini bikin penasaran bnget!!!ada bnyak bnget pertanyaan yg bikin penasaran!
    Author bener2 pintar bnget buat kita mati penasaran T_T kekekeke
    Lanjut chapnya thor,, aku suka bnget ma ff ini

  2. Author modan itu apa?apa maksudnya model?~~
    Btw, bnyak bgt pertanyaan..siapa tuan Lee?Lee Donghae? trs Dara blg oppa kembali pas abis baca berita Jiyong..dan Haru manggil Dara omma?apa jangan2……ahh nggu lanjutannya aja deh..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s