Goddess From The Sky [Chapter. 2] – End

o-matic

Title : Goddess From the Sky
Author : Jeni_Jenay
Main Cast :
Kwon Jiyong, Sandara Park
Support Cast : Kim Jaejoong
Length :
2 Shoot
Genre :
Romance, Sad, Angst, Fantasy
Rating :
T
Disclaimer : Cerita ini terinsipirasi dari Mvnya SM The Ballad yg Miss You, walopun ga sepenuhnya sama.. aku suka banget sih sama itu lagu.. Sebenernya ini ff udah lamaaa~ banget usang didalam laptop,nah karena ga ada waktu buat post jadi baru bisa sekarang dipostnya.. menyempatkan waktu yg ada.. wehehe semoga tetep suka sama ffnya *bow!

 ——

Karena Jiyong tau ini hanyalah imajinasi sematanya. Ini tidaklah nyata! Ini tidak mungkin terjadi! Atau mungkin ini sebuah dejavu?

Dara mencodongkan wajahnya dan mencium kedua mata Jiyong dengan pelan, panas, terbakar, perih langsung menyerang bibirnya. Namun Dara berusaha menahannya,

“Sebentar lagi kau akan tau siapa aku.” Dara tersenyum melepas tangannya dari wajah Jiyong,

[JIYONG POV-]

“Sebentar lagi kau akan tau siapa aku.” Aku membuka mataku perlahan, cahaya terang langsung menerobos masuk ke pupil mataku, membuatku sedikit menyipitkan kedua mataku.

Aku menatap sekitar, tertegun.. Aku berada ditempat yang berbeda, ini bukan kamarku! Eh? Dimana Dara? Kenapa dia menghilang? Ini… di.. dimana??

“Papa, aku mohon. Huhuhu..”

“Tidak! Kau tidak boleh membantah!”

“Tidak Papa, tidak!!”

“Kau mau aku mencabut semua sayapmu ha??? Supaya kau tidak bisa kemana-mana lagi.. Mau??”

Aku terkejut dengan gema suara lelaki paruh baya itu, dia memunggungiku tapi aku yakin dia ayah dari gadis yang menangis didepannya ini. Siapa mereka? Kenapa aku bisa disini?

“Mama…..”

“Maafkan Mama sayang, tapi Mama tidak ingin Jaejoong yang berposisi sebagai Dewa Jove menghancurkan langit. Dia bisa kapan saja mengirimkan halilintar kelangit.”

“Tapi kenapa aku yang harus jadi korbannya? Aku anak kalian!”

Ada apa ini? Mereka bicara tentang siapa? Kenapa aku ada disini??

“APA KAU TIDAK TAU POSISIMU HA? KAU DISINI SEBAGAI DEWI VENUS!!”

“JADI JIKA AKU DEWI VENUS KENAPA? APA AKU HARUS DENGAN DEWA JOVE ITU? TIDAK KAN???”

Ap.. apa-apaan ini? Kenapa mereka jadi berteriak-teriak seperti ini? Aku harus menghentikan mereka..

“DARA!!!”

Dara??? ….. Dara???? Apa mungkin dia Dara yang sedang bersamaku tadi? Aku berlari menghampiri gadis yang tidak aku lihat wajahnya itu…..

Deg!

Benar! Dia Dara! Di… Dia Dia.. Dara?!?!

“Papa mohon kau tidak akan terluka jika bersama dengannya. Hidupmu bahkan akan bahagia jika bersamanya. Langit damai dan tentram.” Laki-laki paruh baya itu melanjutkan setelah mendesah pelan, inikah Ayah Dara?

“Bahagia?? Pernikahannya baru saja hancur!! Dia egois!! Dia bertindak semaunya!! Papa bilang aku akan bahagia?? Papa ingin membunuhku ha?” Aku terkejut dan berpaling pada Dara, dia menangis sesegukan. Biar aku tebak, sepertinya dia dijodohkan dengan laki-laki yang tidak ia cintai. Oke.. aku harus menolongnya sekarang!

“Dara..” Aku mendekatinya dan menyentuhnya. Woosh~ ha?? Kenapa ini? Aku tidak bisa menyentuhnya! Merekapun sepertinya juga tidak dapat melihatku.. Ke.. kenapa ini??

“Jaejoong sudah berjanji akan menjagamu dan melindungimu Dara. Dia tidak akan menyakitimu.”

“Dia bohong!!”

“Dara!! Apa kau ingin langit hancur? Bumi hancur? Dunia hancur? Tidak kan? Kau bisa membunuh semua yang ada didunia ini jika kau menolaknya.. Kau ingin itu terjadi?” Wanita yang aku tau sebagai Ibu Dara mendekati Dara, perlahan memeluk tubuh mungilnya yang sudah kelelahan akibat menangis.

“Aku ingin kekamar.” Dara beranjak dari tempatnya, kemana dia akan pergi?

“Dara, Mama dan Papa memohon padamu..”

“Aku tau.” Aku mengikuti Dara, memandang mereka dengan tatapan bingungku. Bahkan Dara tidak berjalan dia terbang dengan sepasang sayap putihnya. Jadi?? Dara bukan seorang manusia??

Aku diam disamping Dara, dia tidak melihat keberadaanku, ini sebenarnya bagus. Tapi bagaimana aku akan membantunya?

“Aku tidak ingin disakiti olehnya!”

“Aku tidak ingin menjadi budaknya!”

Perlahan Dara menutup matanya dan mulai berdoa, aku tidak tau doa apa yang dibacanya.. Yang jelas ini seperti mantra. Aku bingung menatapnya. Apa yang Dara lakukan setelah ini?

Mata Dara tiba-tiba terbuka, cahaya terang keluar dari matanya yang sembab. Wajahnya menampakkan ketidaksukaan dan kebencian. Kenapa Dara? Ada apa dengannya?

“Maafkan aku Papa, Mama…”

Aku merasa tubuhku terlempar hebat jauh keluar, ke udara, menembus beberapa tempat yang acak. Aku tidak begitu memperhatikan dimana dan tempat seperti apa yang aku lalui karena ini benar-benar membuat mataku sakit dan kepalaku pusing. Tubuhku bahkan terasa sakit menerjang udara, padahal setauku udara atau angin tidak akan membuat tubuh seseorang sakit ketika dilalui. Tapi ini? Aku seperti melewati beri-ribu jarum tajam yang siap mengoyak kulitku. Sakit! Perih! Aku tidak tahan!

“Aaarrrrggggggghhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Aku membuka mataku kasar, aku merasa seperti kembali ke duniaku. Ketempat awalku. Sakit ditubuhku pun hilang, apa yang baru aku alami?? Dan sekarang aku sudah kembali diposisi awalku, duduk disamping Dara.

“Aku pergi dari langit.” Suara Dara mengejutkanku, aku menatapnya tidak percaya. Jujur aku jadi takut padanya, dia bukan seorang manusia.

“Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu.” Dara menatapku lembut. Yah.. dia benar jika dia ingin menyakitiku mungkin sudah daritadi aku tidak akan duduk manis disini.

“Aku tau aku egois, pergi atas kemauanku sendiri. Tidak peduli bagaimana keadaan langit sekarang. Aku hanya dikuasai egoku. Tapi aku juga tidak mau menikah dengan lelaki itu. Iya aku tau, dia hebat, dia kuat, dia bisa segalanya, punya segalanya, menguasai langit, menguasai bumi, melakukan apapun yang dia mau seenaknya. Tapi aku tidak butuh itu! Untuk apa aku punya suami seperti dia jika hanya kesedihan dan kehancuran yang aku dapatkan? Aku hanya ingin kebahagiaan, walaupun lelaki itu hanya sederhana bahkan dibawah sederhana jika dia bisa membahagiakanku, aku akan terima dengan senang hati. Aku akan mencintainya dengan ketulusan yang aku punya. Aku hanya ingin bahagia..” Dara mulai menangis, ak.. aku tidak bermaksud membuatmu menangis Dara.. Hey.. berhentilah..

“Hey, jangan menangis.” Aku mencoba menenangkannya,

“Mungkin Jaejoong sudah berubah, mungkin dia tulus mencintaimu makanya dia mau menjadikanmu istrinya.”

“Dia tidak akan pernah berubah.” Suara Dara terdengar dingin. Oke.. aku takut mendengar dan melihatnya seperti ini. Dara menatapku tajam bola matanya berubah menjadi cahaya putih yang benderang. Tuhan.. tolong aku! Dia menakutkan.

“Jangan membela Jaejoong!” Dara memperingatkanku pelan namun kata-katanya begitu menusuk. Dia mengerikan.

“Ma.. maaf.. kan aku..” Aku menggeser posisiku perlahan, menatap was-was pada Dara. Dia bisa berubah kapan saja yang dia mau.

Bola mata Dara perlahan kembali seperti semula, menatapku terkejut..

“Aku tidak bermaksud menakutimu.” Dara menatapku merasa bersalah dengan tindakannya barusan. Yah, aku akui sepertinya ini sepenuhnya salahku. Karena aku yang memancingnya terlebih dahulu.

“Ti.. tidak.. ha.. hanya saja kau membuatku kaget.” Aku tertawa paksa, mencoba membuat suasana menjadi lebih baik. Dara memalingkan wajahnya dari hadapanku. Aku masih tidak mengerti dia..

“Kau tau kenapa badai tidak kunjung berhenti turun dari langit?” Aku menatapnya heran. Kenapa? Aku tidak tau. Aku menggeleng pelan.

“Jaejoong sedang melampiaskan kemarahannya pada bumi, dia sepertinya tau aku pergi dari langit dan turun kebumi. Dia ingin menghancurkan bumi untuk menemukanku.” Aku mendongkak menatap kaget pada Dara, maksudnya??

“Seperti yang sudah kau lihat tadi kan?! Dia itu dewa langit, dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Itu juga yang menjadikannya mempunyai kepribadian yang sangat egois, bisa membunuh siapa saja jika keinginannya tidak tercapai. Istri pertamanya bahkan tidak tahan dengan sifatnya yang sangat arogan dan egois itu. Kau tau apa yang terjadi pada istrinya ketika istrinya meninggalkannya?” Dara menatapku tajam, aku menggeleng kaku..

“Dia membuatnya menjadi serpihan debu.”

“Serpihan debu????”

“Ya, dia menombak istrinya sendiri dan akibat tombakan itu istrinya berubah menjadi debu dan menghilang terbawa angin. Jaejoong bahkan tidak menyesali perbuatannya sampai sekarang.”

“Ma.. mana.. mung…”

“Ya, mungkin ini tidak masuk akal dipikiran manusia. Tapi, didunia kami itu sudah biasa.”

“Ak.. aku tidak mengerti.. Siapa kau sebenarnya Dara.”

Dara memalingkan wajahnya menatapku, menatap tajam kedalam mataku,

“Aku berasal dari langit dan tinggal dilangit, aku seorang dewi. Mungkin kedengaran konyol tapi aku tak mau menutupi identitasku sekarang. Aku ingin kau tau siapa aku sebenarnya. Apalagi sepertinya kau orang yang bisa dipercaya.” Dara tersenyum manis padaku, wajah suram dan menakutkannya telah hilang entah kemana..

“Jadi kau bukan manusia?” Dara mengangguk sambil terus tersenyum,

“Kau seorang dewi?”

“Yah, kau pasti tau kan kisah-kisah yunani kuno tentang para dewa dan dewi yang tinggal dilangit? Seperti itulah aku.”

“Jadi itu nyata?” Aku menatapnya tak percaya sekaligus kagum, aku berbicara dengan salah satu dari mereka? Para penguasa langit?!

“Tergantung pada manusia, ingin mempercayainya atau tidak.”

“Aku mengerti..”

“Ji.. Ji.. siapa namamu? Aku lupa.”

“Jiyong, namaku Jiyong.”

“Terima kasih, aku kira manusia akan bersikap kasar pada makhluk seperti kami. Ternyata itu salah.” Dara tersenyum menatapku, kerlingan matanya begitu indah. Dia dewi yang sangat sempurna.

“Ah.. tidak usah berterima kasih.. Dan oh, kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?”

Aku melihatnya sedikit terkejut dengan pertanyaanku, dan tak lama senyuman kembali muncul diwajah manisnya.

“Walaupun kami terlihat kuat, tapi kelemahan kami adalah ketika disentuh oleh manusia. Jika manusia itu memeluk lama tubuh kami, kami akan hancur menjadi abu.”

“Menjadi abu???” Aku melebarkan kedua mataku tak percaya, bagaimana bisa??

“Ya, kami akan merasakan panas yang luar biasa menyakitkan. Seperti sedang terbakar. Tapi, konyolnya manusia sama sekali tidak merasakan itu.” Dara berdiri dari duduknya dan menatap keluar jendela dengan kosong.

“Itu sebabnya aku tak memperbolehkanmu untuk menyentuhku.”

“Maafkan aku, aku tidak tau.”

“Tak terkecuali jika kau memeluk Jaejoong dan para pengawalnya.”

“Maksudmu?”

“Jaejoong mempunyai pertahanan diri yang hanya dia dan para pengikutnya yang tau. Jadi mereka tidak akan hancur jika dipeluk oleh manusia manapun.” Lanjutnya, kenapa kedengarannya tidak adil seperti itu? Apa karena Jaejoong begitu kuat?

“Tapi ada satu cara untuk dapat menghancurkannya.”

“Eh?”

“Memberikan debu dewi yang sudah ditinggal mati kedua orantuanya. Jaejoong bisa langsung hancur ketika debu itu mengenai seluruh wajah dan tubuhnya.”

“Kenapa harus yang sudah ditinggal mati kedua orang tuanya?” Tanyaku heran,

“Sebab dewi itu hanya ada sendirian didunia ini, seluruh kasih sayang tulus orangtuanya telah mengalir didalam jiwa dan tubuh dewi tersebut. Karena Jaejoong benci ketulusan, itu yang membuat pertahanannya hancur seketika.” Dara menjelaskan dengan sangat pelan. Aku menatap punggung Dara nanar, eh.. luka dipunggungnya?

“Punggungmu?”

“Oh ini, sayapku rapuh ketika turun kebumi. Kau taukan jarak langit dan bumi itu seberapa jauh? Untung hanya sayapku, bukan diriku. Walaupun aku dewi yang bisa terbang kapan saja, tapi tetap saja sayapku tidak dapat menopang tubuhku terus menerus, seperti kaki manusia yang bisa lelah kapan saja. Iyakan?” Aku melihatnya terkekeh pelan. Betapa cantiknya gadis didepanku ketika dia tertawa seperti itu.

“Badai sepertinya belum mau berhenti yah? Aku yakin Jaejoong marah besar melihatku menghilang.”

“Bagaimana dengan orangtuamu? Keluargamu?”

Dara terdiam, aku jadi takut melihat reaksinya.. Apa dia akan marah padaku karena menanyakan hal ini? Ah.. Seharusnya aku tidak menanyakan pertanyaan bodoh seperti ini. Bodoh! Bodoh!

“Mereka sudah berubah menjadi debu.” Dara tersenyum miris? Mak.. maksdunya?

“Ak.. ma…af… ak..ku..”

“Jaejoong menombak mereka karena tidak menyetujui lamarannya untuk menikahiku. Apa yang kau lihat sebelumnya beberapa jam sebelum orangtuaku ditombak. Mereka mendatangi Jaejoong dan ingin menolak lamarannya untuk menikahiku tapi Jaejoong malah menombak mereka tanpa belas kasihan.” Aku membeku ditempatku, ada kesedihan mendalam disuara Dara. Apa Jaejoong sejahat dan setega itu padanya?

“Dan kau pasti juga bingung kenapa aku bisa berubah dan kelihatan seperti manusia kebanyakan, iyakan?!” Aku menggangguk kecil menjawab pertanyaan Dara,

“Kau lihat aku berdoa tadi? Aku memohon pada para peri untuk merubah fisikku seperti manusia jika aku sudah berada dibumi nanti. Sebagai gantinya mereka akan mengambil satu sayapku setelah tiba dibumi, inilah sebab luka merah yang kau lihat sekarang. Aku ingin turun kebumi, pergi jauh dari Jaejoong. Aku ingin merahasiakan ini pada kedua orangtuaku, tapi… ternyata mereka telah tiada sebelum aku pergi. Oleh karena itu, niatku untuk pergi semakin kuat.” Aku sedikit tersentak, Dara sama sekali tidak mempunyai sayap dan aku baru menyadarinya. Dan tentang orangtua Dara, aku benar-benar turut berduka, entah kenapa aku tidak tega melihatnya sendirian seperti ini didunia.

“Jadi, tolong selamatkan aku.” Dara berbalik dan menatapku pilu, cairan bening mulai berjatuhan dari mata indahnya.

“Me.. menolongmu?? Ap.. pa yang harus kulakukan?” Aku bertanya bingung.

“Oh tidak! Mereka datang!” Mereka? Siapa yang Dara maksud dengan mereka?

GLEGAR !!!!!! DARRRR !!!!!

Astaga petirnya menyeramkan sekali.. Aku menutup telingaku kuat, suara petirnya benar-benar memekakan telinga..

“Dara!” Aku memanggilnya untuk duduk disampingku, petir bisa kapan saja menyambarnya bahkan ketika didalam rumah, tapi dia masih tetap diam ditempatnya, ia berbalik dan menatapku ketakutan.

“Mereka datang.” Suaranya mengecil, bahkan terdengar seperti bisikan. Mereka? Mereka siapa maksud Dara??

DAAAAARRRRRRR !!!!!!! DAAAAAAAARRRRRRR !!!!!!!!!

Aku kembali menutup telingaku, bahkan lantai yang kupijak ikut bergetar akibat suara petir mengerikan ini. Kenapa Dara masih ditempatnya?

“Dara..!!!”

“Jiyong, tolong aku!” Dara berlari kearahku dan memandangku penuh harap, eh?? Bagaimana aku menolongnya???

“Apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku kebingungan, aku benar-benar bingung harus berbuat apa..

“Peluk aku!”

“Apa? Tidak! Kau akan menjadi abu nanti!”

“Peluk aku!!” Dara berteriak histeris, dan saat itu tiba-tiba entah darimana dua orang berpakaian serba putih dan bersayap menghampiri kami, lebih tepatnya Dara. Aku menatap mereka bingung. Siapa mereka??? Kenapa bisa masuk kesini??

“Jiyong aku mohon!! Peluk aku!!”

“Tidak Dara!” Bentakku keras.

Dua orang itu perlahan berjalan menuju Dara dan menariknya, dan dengan tiba-tiba satu orang lagi muncul entah darimana mengenakan pakaian layaknya dewa dan membawa sebuah tombak besar, bahkan ada mahkota diatas kepalanya.

“Hey, bagaimana kau bisa masuk?” Tanyaku sedikit berteriak, tapi dia hanya mengabaikanku dan berjalan menuju arah Dara.

“Kau berani menantangku dewi venus?”

“Apa kau belum puas membuat orangtuaku menjadi debu hah? Apa kau belum puas menyakitiku?” Dara berteriak tanpa kendali, tangannya sudah dipegang kuat oleh dua orang berpakaian putih tadi.

“MAKANYA JANGAN BERANI-BERANINYA MEMBANTAHKU!!!”

GLEGARRRRRR!!!!!! Aku menutup telingaku lagi. Apa dia yang dimaksud Dara tadi? Diakah Jaejoong? Ya, harus kuakui Jaejoong sangatlah tampan, dia cocok menjadi dewa dan sebenarnya aku juga tak menyangkal kalau dia cocok bersama Dara, tapi mendengar cerita Dara membuatku tak ingin membiarkannya dengan dewa satu ini.

“JIYONG!!!!!!” Dara berteriak lagi, menatapku dengan airmata yang terus mengalir. Apa yang harus aku lakukan???

“Tapi??” Aku diam ditempatku, aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa…

“Biarkan aku mati dipelukanmu!” Dara berkata lemah,

“Aku mohon.. Hanya dengan cara ini kau bisa menghancurkannya!!!” Lanjutnya, tapi???

“DARA! AYO KEMBALI KEATAS LANGIT!!!” Jaejoong menyuruh kedua pengawalnya menarik paksa Dara. Aku terkesiap..

“Kau yakin Dara?” Tanyaku pelan. Dara menoleh dan mengangguk yakin.

“Biarkan aku mati dipelukanmu. Biarkan aku mati dengan kasih sayangmu.” Jawabnya menatap mataku dalam. Aku menarik nafas panjang. Aku ingin menyelamatkannya tapi aku juga tidak ingin membunuhnya.. Bagaimana ini??

“CEPAT BAWA DIA!!!!!” Jaejoong berteriak keras menatap tajam kearahku,

“JIYONG!!!!!”

“Akan aku tombak kamu bocah jika berani mendekati Dara!!!” Baiklah!! Aku menarik nafas kasar, tidak peduli pada apapun sekarang, tidak peduli apa yang terjadi setelah ini, dengan keyakinan yang kuat aku berlari kearah Dara dan memeluknya, tidak peduli dengan tangan para pengawal Jaejoong yang memegang Dara dengan kuatnya. Aku memeluk Dara erat-erat dari belakang, dan saat itu aku merasakan tubuh Dara jatuh tak berdaya.

“Maafkan aku Dara.” Aku berbisik ditelinganya, entah kenapa aku mulai menangis sekarang. Aku benar-benar tidak rela Dara harus pergi dengan cara seperti ini. Kami baru saja bertemu, dan aku harus menghancurkannya dengan cara seperti ini.

“Ti..tidak.. ap-apaa… Teri..ma ka..sih.. Ji..yong..” Dara mencoba berbalik menatapku, senyuman muncul diwajah cantiknya. Dara….

“Te..ri..ma ka..sih ak..ku.. ti..dak.. sa..lah.. or..ra..ng ter..nya..ta…” Dara tersenyum lagi airmata terus keluar dari ujung matanya, aku tau dia menahan panas yang luar biasa akibat pelukan eratku. Dara maafkan aku.. Maafkan aku…

“Ak..ku men..cin..taimu Ji..yong te..ri..ma ka…sih.” Dan saat itu kurasakan tubuh Dara mulai menghilang dan butiran-butiran debu mulai berterbangan didepan tubuh dan wajahku. Aku tercekat, nafasku tertahan, udara disekitarku tiba-tiba lenyap. Dara telah menghilang, dia telah menjadi debu……. Dia? Dia!! Dara maafkan aku.. Maafkan aku! Hatiku menjerit keras melihat Dara hilang dengan cara seperti ini didepan mata kepalaku sendiri. Ini akibat kau Jaejoong!! Ini gara-gara dirimu!!!!

Aku mendongkakkan kepalaku menatap dua pengawal Jaejoong yang melihatku tidak percaya. Jaejoong pun sepertinya terkejut dengan tindakanku yang dengan beraninya membunuh seorang dewi secara langsung dihadapannya.

“KAU!!!” Teriaknya menatapku dengan marah, aku berlari kearah Jaejoong dengan membawa sisa-sisa debu dari Dara dan melemparkan debu itu kewajahnya dengan brutal, akan aku bunuh dewa sinting satu ini!

“Dasar! Tidak punya belas kasihan! Kau membunuh orangtuanya Dara!! Bahkan alasan Dara hancur karena dirimu!!!” Aku makin gila dengan tindakanku, dan tiba-tiba Jaejoong mendorongku kuat hingga aku terpental, wajahnya penuh luka bakar disusul dengan seluruh tubuhnya.

“Laki-laki tidak tau diri! Berani-beraninya kau!” Wajah serta tubuh Jaejoong makin mengerikan, dengan marah aku kembali berdiri, kurampas tombaknya dan tanpa pandang bulu aku menombak dua pengawal Jaejoong dengan gila, keduanya langsung berubah menjadi debu yang berterbangan entah kemana.

“ARGHHHH!!!! TOLONG!!!! ARGH!!!!!” Jaejoong menjerit keras dibelakangku. Aku berbalik dan menyipitkan mataku. Amarahku sudah diatas ambang-ambang.

“Ini bonus untukmu Dewa!!” Aku menombaknya dengan kuat, rasakan ini Dewa Jove!!

“ARGHHHH!!!!!” Mata Jaejoong melotot ingin keluar dari tempatnya dan seperti cahaya Jaejoong langsung musnah dari hadapanku, dia hancur dengan debunya yang berkeliaran disekitarku. Aku membuang tombak yang kupegang kesembarang arah. Entah kenapa pikiranku terasa kacau. Aku ingin berteriak, menangis, menjerit, meraung dan apapun itu. Aku merasa bersalah pada Dara. Aku mohon Dara, maafkan aku… maafkan aku!

Aku membaringkan tubuhku ke atas kasur. Hatiku masih tak tenang, entah kenapa aku juga tidak tau apa penyebabnya. Apa mungkin karena ucapan Dara tadi? Atau karena hancurnya Dara akibat pelukanku? Atau karena kejadian tidak masuk akal yang aku alami ini? Aku jadi ingat ucapan Dara sebelum benar-benar menghilang menjadi abu..

“Te..ri..ma ka…sih ak…ku ti..dak sa…lah or..ra..ng ter..nya..ta.”

“Ak..ku.. men..cin..taimu Ji..yong te..ri..ma ka…sih.”

Ucapan Dara terus terngiang dikepalaku, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Aku menutup mataku mencoba mengistirahatkan pikiranku, semua kejadian ini benar-benar tidak masuk akal. Badai diluar sana mulai berhenti. Aku menghela nafas panjang.. Aku tidak ingin mengalami ini!!!! Aku tidak mau!!!!! Apa yang harus kulakukan setelah ini??

Ring Ring Ring !!!!!

Aku membuka mataku perlahan, tubuhku terasa sakit dan penat. Apa yang baru saja ku lakukan?

“Jam berapa ini?” Tanyaku pada diri sendiri, dan membalikkan badanku untuk mencari dimana jam weker tersayangku.

“07.30… Hoaamm… waktunya bangun.” Dengan langkah gontai aku beranjak ke kamar mandi. Hari ini jadwalnya untuk berbelanja makanan lebih pagi. Karena menurut berita yang aku dengar di TV kemarin malam siang hari ini akan ada hujan badai yang lebat, dan aku tidak ingin bersusah-susah menerjang hujan badai yang mengerikan itu hanya untuk berbelanja kebutuhan makananku. Eh?? Aku merasa aneh dengan setiap ucapan dan pemikiranku. Seperti… aku pernah mengalaminya…  Hmm… Aku sedikit berpikir, ahh~ apa peduliku paling hanya perasaanku saja..

“Daging? Telur? Tepung? Keju? Bumbu sapi panggang? Sayuran? Cemilan? Minuman kaleng? Ah sepertinya sudah semua..” Aku berlalu keluar dari supermarket, cuaca terlihat mendung.. Ah~ sepertinya perkiraan cuaca benar..

Aku mulai berjalan untuk kembali pulang kerumah, aku merasa lelah sekali hari ini padahal aku tidak melakukan apa-apa sebelumnya. Aku hanya menonton TV sebelum benar-benar tertidur.. Huff.. Aku akan tidur setelah sampai kerumah.

Aku berjalan santai melewati beberapa gang kecil disudut kota yang ramai ini, hingga sesuatu tertangkap oleh mataku. Gadis cantik sedang terduduk dengan manisnya diujung gang buntu yang sepi ini. Hey, bahaya bisa mengancammu kapan saja jika kau masih disana. Apalagi menampilannya bisa memancing siapapun untuk mendekati atau mungkin menggerayanginya. Tapi… apa peduliku itu salahnya sendiri, aku meneruskan langkahku yang sempat terhenti akibat gadis tadi………………. Jika benar bahaya akan terjadi padanya setelah aku pergi bagaimana? Aish… aku memutar balik arah perjalananku, kembali ke gang buntu dimana ada gadis cantik berpakaian serba putih itu tadi.

“Hello..” Sapaku sok ramah, gadis manis ini mendongkakkan wajahnya menatapku.

“Apa kau perlu bantuan?” Aku bertanya mencoba menawarkan bantuan pada gadis ini. Yah, basa-basi mungkin.

“Hey.. apa kakimu terkilir?” Tanyaku lagi, dia hanya duduk tetap ditempatnya, sepertinya kakinya sedang terkilir. Dia hanya tersenyum memandangku. Hey… hey.. hey… Apa maksud gadis ini? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku sedari tadi?

“Kau perlu bantuan?” Entah yang keberapa kalinya sudah aku bertanya, tapi gadis ini tetap diam dan terus memandangku dengan wajah polosnya. Oh God!

“Baiklah, jika kau memang tidak apa-apa. Aku akan pergi. Sampai jumpa.” Aku menggeleng bingung dan berbalik ingin meneruskan langkahku, tapi….

“Boleh aku menginap hari ini?” Tiba-tiba gadis cantik ini membuka suaranya. Aku tersentak dan langsung berbalik menatap heran pada sosok didepanku. Dia baru saja berbicara? Hey.. ini keajaiban…

“Bolehkah?” Seperti balon yang meledak ditelingaku, akhirnya aku tersadar dari pandangan heran gadis ini dan mengangguk ragu. Kenapa dengan gadis ini?

“Maaf, rumahku mungkin tidak sebesar yang kau kira.” Aku membuka pintu rumahku tergesa-gesa dan langsung meletakkan barang belanjaanku didapur, kemudian berdiri kembali pada gadis yang kutemui tadi . Ah aku jadi lupa menanyakan namanya.

“Siapa namamu?”

“Dara.”

Ah.. nama yang cantik.. Apa? Tunggu! Dara?? Dara??? Tiba-tiba otakku memutar ulang suatu kejadian yang membuat kepalaku sedikit pusing.

Rangkaian demi rangkaian memenuhi otakku,

“Aku berasal dari langit dan tinggal dilangit, aku seorang dewi.”

“Walaupun kami terlihat kuat, tapi kelemahan kami adalah ketika disentuh oleh manusia.”

“Iya aku tau, dia hebat, dia kuat, dia bisa segalanya, punya segalanya, menguasai langit, menguasai bumi, melakukan apapun yang dia mau seenaknya. Tapi aku tidak butuh itu!”

“APA KAU TIDAK TAU POSISIMU HA? KAU DISINI SEBAGAI DEWI VENUS!!”

“JADI JIKA AKU DEWI VENUS KENAPA? APA AKU HARUS DENGAN DEWA JOVE ITU? TIDAK KAN???”

“Peluk aku!”

“Jiyong aku mohon!! Peluk aku!!”

“MAKANYA JANGAN BERANI-BERANI MEMBANTAHKU!!!”

DAAAAARRRRRRR !!!!!!! DAAAAAAAARRRRRRR !!!!!!!!!

“JIYONG!!!!!!”

“Apa? Tidak! Kau akan menjadi abu nanti!”

“Aku mohon.. Hanya dengan cara ini kau bisa menghancurkannya!!!”

“Biarkan aku mati dipelukanmu!”

“Biarkan aku mati dipelukanmu. Biarkan aku mati dengan kasih sayangmu.”

“JIYONG!!!!!”

‘ARRGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH !!!!!!’ Aku memegangi kepalaku yang serasa ingin pecah, apa tadi? Apa aku pernah mengalaminya? Sepertinya iya, tapi aku tidak ingat kapan lebih tepatnya tidak tau itu telah terjadi atau belum. Aku menahan rasa sakit yang menerjang kepalaku akibat kejadian-kejadian yang terulang kembali diotak dan pikiranku.

Dan kejadian berikutnya aku mendapati diriku menyahut ucapan gadis ini tentang namanya,

“Ah.. nama yang cantik.. Namaku Jiyong, senang berkenalan denganmu Dara.”

DEG! Tidak!! Ini tidak boleh terjadi!! Tidak!!!! Aku tidak mau mengalami ini!!!!! Tidak!!! Tidak!!!!!!

~~END~~

Chap. 1 | Chap. 2 (End)

Sedikit note : tulisan miring(italic) yg warna merah keunguan itu berarti kata yg pernah jiyong ucapin sebelumnya, sedangkan warna hijau  berarti kata yg pernah dara ucapin sebelumnya, terus buat biru tua-tua gitu  berarti kata yg pernah jaejoong ucapin sebelumnya ^.^

Nahh, Jeni minta maaf karna udah lama ga update.. Selama ini sibuk sama sekolah T.T mohon dimengerti yaah.. Semoga ff ini memuaskan plus mengurangi rasa rindu kalian sama ff jeni (ngarep-_-) wkwk.. dan astaga judulnya seperti salah karena kurangnya ketelitian mianhae wehehe… Jeni tunggu ya komennya .. annyeong *bow

Buka lagi front page DGI dan baca aturan poin kedua >> RLC(stand for Read, Like, Comment).. artinya, buka DGI buat baca FF atau yang lainnya, Like yang sudah dibaca, dan terus ninggalik Komentar... Nggak susah kok aturannya...
Author-nya kan udah berbaik hati berbagi imaginasi, jadi nggak ada salahnya juga kan kalo sedikit ngasih support lewat like sama komentar...
Buat silent reader yang berpikiran 'aku udah komen, tapi nggak ada tanggapan.. aku kan udah capek2 komen,' dibalikin lagi, authornya udah capek2 ngetik berhalaman2, mau repot2 upload buat ngirim kemari.. mungkin aja authornya bingung nggak nemu balasan yang tepat buat komentar temen2.. tapi kami yakin kok, komentar yang masuk jadi support tersendiri buat authornya biar tambah rajin...
Satu hal lagi, bisakan kalau ninggalin komen pake nama? buat yang pake akun fb atau twitter, oke..kami ngerti.. nah, yang pake email buat, kasih nama sama alamat email yang valid ya.. sewaktu2 kami tetiba kami pengen pw-in postingan, kemungkinan besar bakal kami kirim via email..
Jadi kami harap, ikutin aturan diatas ya... RLC...

Admin.
Advertisements

33 thoughts on “Goddess From The Sky [Chapter. 2] – End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s