Feeling the Lose [Chap. 1]

poster

Title : Feeling the Lose
Author : Jeni_Jenay
Main Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong, Ahn Sohee
Support Cast : Park Bom
Length : 2 Shoot
Genre : Romance, Sad
Rating : T
Disclaimer : FF asli buatanku, cover juga, untuk cast punya mereka masing-masing. Disini aku gak bermaksud ngebuat sohee jadi jahat, tapi aku hanya menyesuaikan sifat dia sama ceritaku ^^

Nb : Maaf jika ga ada romancenya sama sekali, author pengen buat sesuatu yang berbeda aja dari sebelumnya. Kritik, saran dan komentarnya mohon agar author bisa membuat ff yang lebih baik dan bagus lagi. Terima kasih *bow!! dan untuk covernya, maaf bgt mau bikin yg suasana gelap tp gini jadinya kekeke.. semoga tetap suka sama ffnya yaks ;’)

SEOUL, APRIL 12TH 2010

“Aku merasa sendirian sekarang.”

“Aku disini.”

“Aku masih tetap merasa sendiri.”

“Jadi apa yang harus aku lakukan?”

“Lebih baik kita berpisah.”

“Bodoh! Apa harus seperti itu?”

“Itu lebih baik.”

“Tidak!”

“Oh ayolah, aku hanya ingin sendiri sekarang.” Yeoja itu menatap namja disampingnya memohon.

“Anggaplah aku tidak ada dikehidupanmu lagi.”

“Itu akan membuatmu lebih sakit.”

“Tapi ini sudah cukup membuatku sakit Dara, kau meminta kita berpisah!”

“Normalkan emosimu jiyong! Aku hanya ingin menenangkan diri sejenak.” Dara nama yeoja itu menghela nafas berat.

“Apa harus seperti ini? Harus dengan cara berpisah? Kekanak-kanakan sekali pikiranmu!”

“Oleh karena itu, sepertinya kau tidak tahan dengan pola pikirku.”

“Shut up Dara! Aku menolaknya!” Jiyong, namja itu menatap Dara dengan tatapan tajamnya.

“Kau egois!”

“Kau lebih egois!”

“Aku hanya mencoba menyesuaikan pola pikirku dengan pola pikirmu. Tapi aku tak pernah bisa.”

“Dara, didalam suatu hubungan, tidak semua pasangan harus mempunyai pola pikir yang sama dan sifat yang sama. Adakalanya mereka berdua berbeda untuk saling melengkapi.” Jiyong mencoba menjelaskan berusaha membuat hati dara mencair lagi untuk merubah keputusannya.

“Itulah yang membuat suatu problem didalam hubungan.”

“Apa yang merasukimu dara?”

“Aku mohon, jika kita jodoh kita akan bertemu lagi nanti apapun alasan dan caranya. Aku hanya ingin sendiri sekarang.”

“Tapi…”

“Kau egois jiyong! Hanya memikirkan dirimu sendiri!”

“Bukan begitu, tapi…”

Dara menatap jiyong dan mendapati raut wajah jiyong yang benar-benar tidak percaya dengan keputusannya sekarang. Bukannya tidak mencintai jiyong lagi, hanya saja ada suatu alasan yang benar-benar membuat dara harus melepaskan jiyong.

“Maafkan aku jiyong, pulanglah. Aku tak ingin kau sakit, cuaca sudah sangat dingin sekarang.”

“Kau sudah membuatku sakit dara!” Jiyong pergi meninggalkan dara di tikungan jalan besar itu.

Maafkan aku jiyong! Tapi dia lebih mencintaimu, dan aku harus melepaskanmu.

 

LONDON, OCTOBER 24th 2012

[Dara POV]

“Kau yakin akan kesana dara?” Seseorang duduk disampingku menatapku dengan wajah khawatirnya.

“Ya.”

“Itu akan membuatmu sakit, aku tau kau masih mencintainya.”

“Itu lebih baik.”

“Kau bodoh Dara! Merelakan perasaanmu begitu saja demi seseorang yang sudah menghancurkan hidupmu! Bayangkan! Sohee merebut seseorang yang kau cintainya, bagaimana bisa kau masih baik padanya.” Bom nama yeoja yang duduk disampingku ini menceramahiku tanpa henti.

Ya aku tau Bom, ini keputusan yang bodoh! Bagaimana bisa aku melepaskan jiyong begitu saja? Tapi aku juga tak ingin  melihat sohee menderita, dia sudah cukup banyak mengalami penderitaan dihidupnya. Aku masih mengingatnya, sangat ingat saat dia terus-menerus memohon padaku tanpa henti.

Flashback, SEOUL 8th APRIL 2010

“Aku mohon unnie, lepaskan oppa.. kau taukan aku sangat mencintainya? Aku mohon unnie, kau juga taukan aku punya penyakit ini. Aku tak tau sampai kapan aku bertahan, aku hanya ingin ada dia disampingku disaat aku membutuhkannya.”

“Tapi kau tak harus memisahkan aku dengan jiyong.”

“Dia tidak akan mencintaiku unnie, kalau kau masih ada dikehidupannya. Aku ingin kau pergi, agar dia bisa seutuhnya mencintaiku. Aku mohon unnie.”

Sohee menangis sejadi-jadinya, aku hanya diam mematung. Aku tidak ingin meninggalkan jiyong tapi bagaimana dengan yeoja satu ini?! Ah, aku belum beritahu kalian siapa sohee ini, hmm.. dia adik tiriku, appa sangat mencintainya kebanding aku, padahal aku anak kandung appa. Eommaku meninggal disaat ia keguguran adik kandungku, jadi dua-duanya tak terselamatkan. 1 tahun setelah itu appa menikah lagi dan munculah gadis bernama sohee ini, dari kecil hidupnya selalu sakit-sakitan, keluar masuk rumah sakit, dia yeoja yang lemah. Yah, umur kami hanya terpaut 3 tahun, jadi aku sangat sayang padanya, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, dan ketika kami beranjak dewasa, datanglah suatu konflik yang mengharuskanku untuk mengalah. Dia juga mencintai namja yang aku cintai. Jiyong nama namja itu, aku sering membawanya kerumah, jiyong perhatian terhadap sohee, tapi kalian taukan perhatian kepada seorang adik itu seperti apa? Jiyong menyayangi sohee seperti aku menyayangi sohee juga. Tapi dimata sohee rasa sayang jiyong itu berbeda, sohee menganggap jiyong sayang terhadapnya sebagai seseorang yang istimewa bukan sebagai seorang adik. Masih terekam dimemoryku saat sohee menyatakan perasaannya terhadap jiyong.

“Oppa, aku mencintaimu.”

“Aku juga sohee, tapi sebagai seorang adik dan kakak. Aku mencintai unniemu.”

Dan seketika itu juga penyakit sohee kambuh, ah aku juga lupa memberitahu kalian, sohee mengidap sesak nafas dan lemah jantung. Dan kalian tau apa yang sohee katakan setelah dia sadar?

“Buatlah oppa benci terhadapmu unnie, tinggalkan dia aku mohon. Aku mencintainya!”

Dan setelah dia kembali kerumah, dia kembali memohon kepadaku sambil meraung-raung. Ya, dokter sudah bilang pada kami hidup sohee sisa beberapa tahun lagi, belum dipastikan sampai kapan tapi itu cukup membuat appaku dan eommanya terguncang, mereka tak ingin sohee meninggalkan mereka. Aku terdiam melamun, bingung apa yang harus aku lakukan. Aku teringat kembali pada pembicaraanku dengan appa,

“Dara, buatlah adikmu bahagia sebelum dia benar-benar tidak ada. Appa mohon, relakan jiyong untuknya.”

“Appa, aku mencintai jiyong!”

“Aku tau dara, dan kau harus melepaskannya. Kau tak inginkan dihantui rasa bersalah karna sikapmu terhadap adikmu?”

Aku terdiam memikirkan semua omongan appa,

“Bicaralah baik-baik pada jiyong, beri dia kejelasan agar kau juga tenang saat melepaskannya.”

Aku termenung, bagaimana aku harus melakukannya.?? Dan tiba-tiba pintu kamarku terbuka,

“Unnie, kau belum tidur?”

“Ah, sohee. Seharusnya kau sudah tidur, ini sudah malam.”

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu unnie.”

“I-Iya? Apa itu?”

Sohee, berjalan kearahku dan duduk disampingku. Kini kami mengahadap balkon dikamarku.

“Kau sayang padaku kan unnie?”

“Tentu.”

“Kau tak inginkan melihatku menderita?”

“I-iya.”

“Lepaskan jiyong untukku.”

“Tapi…??”

“Aku tau aku egois unnie, tapi aku mohon aku ingin bahagia disampingnya didetik-detik terakhirku nanti. Aku ingin oppa mencintaiku tulus itu saja.”

“Aku akan bicara padanya.”

“Tidak unnie! Dia akan bersikeras menolak jika kau menceritakan yang sebenarnya, kalaupun  dia ingin, pasti dia tidak mencintaiku secara tulus, karena dia masih memikirkanmu unnie. Aku ingin dia lupa semua tentangmu.”

“Kau kira itu mudah sohee? Aku juga mencintainya.”

“Kau lebih mementingkannya dan perasaanmu itu ketimbang aku yang sudah mau mati ini?”

“Jaga ucapanmu sohee!” Aku menatap sohee tajam, tapi sohee tetap tenang dalam bicaranya.

“Kau tidak ingin aku bahagia unnie!?”

“H-ha? Kenapa kau bisa bicara seperti itu? Aku juga sangat menderita saat kau menderita, kau tau? Kau kira aku tak sakit ketika aku melihat jiyong sangat perhatian terhadapmu? Bahkan dia selalu menanyakan keadaanmu, kau kira aku tak sakit diperlakukan seperti itu, sedang aku tau kau mencintainya. Sohee, aku hanya mencoba jadi kakak yang baik untukmu dengan merelakan semuanya. Merelakan perhatian dan kasih sayang appa kepadamu, merelakan semua kepentinganku untukmu, apa itu kurang untukmu?” Aku mulai menangis sekarang.

“Ini yang terakhir unnie, setelah itu aku tak akan meminta apapun lagi.”

Aku berhenti dari tangisku dan menatapnya yang masih tetap tenang.

“Sohee…”

Sohee menatapku dan mulai menangis, dan dia mulai memohon lagi tanpa henti.

Flashback end

“Kau sudah pergi dari sana Dara, kau tidak boleh kembali.”

Bom, sahabat setiaku bahkan dia yang selalu menyemangatiku disaat aku benar-benar tak tau arah kehidupanku setelah aku memutuskan untuk pergi dari Korea, meninggalkan semuanya. Aku ingin pergi jauh dari mereka semua. Aku ingin sendiri, dan disaat itu aku bertemu Bom dan ikut tinggal bersamanya, dia tau tentang semua yang aku alami. Dan sampai sekarang dialah yang selalu menasehatiku tentang kehidupan seperti apa yang harus kujalani.

“Appa yang memintaku Bom.”

“Dan kau menurut begitu saja?”

“………………”

“Kau akan bertemu dengannya lagi, tapi yang ini akan lebih sakit dara.”

“Aku yakin aku bisa.”

“Bukannya aku melarangmu. Kau sudah melewati masa-masa susah itu. Dan kau ingin kembali lagi kesana setelah bersusah payah melewatinya ha?”

“Ini sudah berakhir bom, mereka akan menikah. Aku tak akan mengganggu kehidupan mereka lagi. Aku juga yakin mereka berdua sudah sangat bahagia sekarang.”

Bom hanya menghela nafas mendengar ucapanku.

“Aku akan siap-siap bom, besok aku akan kembali ke Korea.”

“Baiklah Dara.” Aku beranjak ke kamar dan menenangkan pikiranku. Perasaanku kembali kepada masa-masa dimana aku masih bisa bersama jiyong dan itu sangat menyakitkan. Stop Dara! Kau harus bisa menerima kenyataan. Aku memeriksa ponselku dan mendapati satu pesan baru.

Unnie, kau datang kan??? Aku rindu padamu.

Sohee

Aku tersenyum, iya aku datang sohee. Tapi sepertinya tak akan lama, aku tak sanggup melihat wajahnya, aku tak ingin rasa sakit ini makin menjadi saat melihat wajahnya.

_          _          _          _          _          _          _          _          _

“Dara, kabari aku ketika kau telah sampai.” Bom memelukku masih dengan perasaan khawatirnya.

“Hanya dua hari Bom, aku tak akan lama disana.” Aku tersenyum padanya dan beranjak pergi meninggalkannya. Dara kuatkan hatimu. Huft!

_          _          _          _          _          _          _          _          _

SEOUL, OCTOBER 25th 2012

“Yeoboseyo?”

“Ah, Dara. Kau sudah sampai eoh? Appa akan menjemputmu.”

“Oke appa.” Dan sekarang appa akan menjemput dan membawaku kerumah itu. Apakah dia ada disana juga sekarang? Jiyong aku ingin bertemu denganmu. Sudah 2 tahun aku tidak melihatmu. Tetapi, aku juga harus sadar diri. Aku tak ingin mengganggu kehidupan orang lain. Aku terdiam cukup lama.

“Dara?”

“Appa?” aku langsung memeluknya, rindu akan sosok ayah.

“Bagaimana kuliahmu dilondon? Kau tak salah pilih negara untuk melanjutkan sekolahmu kan?”

Aku terkekeh. Ini juga jadi salah satu alasanku, selain menjauh dari jiyong, melanjutkan studyku di London.

“Aku senang tinggal disana, bahkan betah. Hahaha.”

“Hahaha, ayo sekarang kita pulang. Sohee dan eomma sudah menunggumu.”

“Emm.. Bagaimana dengan jiyong?”

“Ah, dia. Dia sedang mengurus gedung yang menjadi tempat resepsi pernikahan mereka.”

“Ah. Itu bagus.” Aku berusaha menahan rasa sakit yang muncul ini lagi.

“Dara, kau baik-baik saja?”

“H-ha? Tentu. He he he.”

_          _          _          _          _          _          _          _

“Unniieeeeeeeee….” Aku mendengar sohee memanggilku dan berlari memelukku. Ah, betapa besarnya dia sekarang. Tingginya bahkan melebihi aku. Cepat sekali dia tumbuh walaupun dengan kondisi fisik yang lemah.

“Bagaimana kabarmu sohee?” Aku mencium pipinya. Rindu akan dirinya.

“Baik unnie, sangat baik. Unnie bagaimana? Wah pasti enak tinggal di London. Kekeke.”

Aku sakit sekarang sohee, melihatmu akan menikahi orang yang aku cintai. Tak perlu kau tanya seharusnya kau sudah tau itu.

“Aku baik sohee, aku kekamar dulu. Ingin istirahat.”

“Ah, unnie tunggulah sebentar. Oppa sedang diperjalanan menuju kesini.”

“Panggil saja nanti. Unnie sungguh lelah.”

Seharusnya kau paham sohee, aku tidak mungkin bertemu dengannya lagi.

_          _          _          _          _          _          _          _

“Dara, kau tidak makan malam?” Eomma (tiriku) masuk kedalam kamarku.

“Tidak. Aku tidak lapar.”

“Aku tau perasaanmu Dara, kau mencoba menghindarinya.”

“Itu lebih baik.”

“Tapi itu bukanlah tindakan yang dewasa.”

“Kau tak mengerti eomma.”

“Aku mengerti, aku mengenal dirimu sudah 22 tahun lamanya. Tidak mungkin aku tak memahami perasaanmu.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Ikutlah makan bersama kami. Aku tau itu akan mengingat kembali masa lalumu bersamanya. Tapi kau harus menerima keadaan dara, aku tau kau kuat.”

“Dara memang dan selalu kuat.” Aku sedikit bercanda, karena kulihat dia terlalu serius sekarang.

“Aigoo, kau sudah menjadi wanita yang sangat cantik sekarang. Aku yakin eommamu pasti sangat bangga.” Aku tersenyum dan langsung memeluk eomma tiriku, bukan mungkin eommaku, dia yang merawatku dari umurku 3 tahun sampai aku benar-benar bisa mengurus diriku sendiri. Dia mengerti perasaanku daridulu sampai sekarang.

“Kau juga eommaku.” Aku langsung mencium pipinya. Aku juga rindu akan sosok eomma dikehidupanku. Sohee pasti sudah banyak mendapatkan kasih sayang dari appa dan eomma.

Aku turun menuju ruang makan bersama eomma, dan kudapati ia juga duduk disana. Disamping sohee sedang bercanda dengannya dan appa. Eomma mencengkram tanganku lembut dan tersenyum berusaha menguatkanku.

“Buatlah sohee bahagia. Aku yakin sohee akan sangat senang jika kau sudah melakukan itu untuknya setelah ia tiada.” Bisik eomma pelan. Aku menghela nafas dan mengangguk.

Aku duduk didepan sohee dan eomma didepan jiyong, aku tak berani menatapnya. Mungkin dia benci terhadapku karna aku dulu benar-benar meninggalkannya, dan munculah sohee di kehidupannya. Soheelah yang menemaninya disaat dirinya benar-benar jatuh didalam keterpurukan karna aku meninggalkannya. Skenario yang benar-benar indah bukan?! Entah, aku juga bingung haruskah aku benci terhadap sohee? Tapi aku tak bisa membencinya, dia adikku dan aku menyayanginya. Aku melamun sampai tiba-tiba sebuah suara mengkagetkanku,

“Dara, kau melamun?” Appa menatapku bingung.

“Ah, tidak. Ha ha ha.”

“Unnie, kau kenapa?

“Aku baik-baik saja, mungkin aku masih mengantuk. Hahaha.”

“Apakah eomma memaksamu bangun? Eomma kau jahat terhadap unnie.”

“Sohee, makanlah. Kau jangan sampai telat makan.”

Aku menatapnya yang sedang memberi perhatiannya terhadap sohee, kau beruntung sohee bisa mendapatkan perhatiannya lagi. Aku menunduk dan mengisi piringku dengan sedikit makanan.

“Ah, unnie makanmu sedikit sekali. Kau terlihat kurus dari sebelumnya.”

“Program diet. Hahaha”

“Bagaimana bisa kau diet sedangkan badanmu harus diisi makanan yang lebih banyak lagi.” Jiyong menatapku dengan wajah mengejek. Dia?? Sepertinya dia tidak merasakan hal yang aku rasakan. Baiklah dara, jiyong sudah melupakanmu. Dan kau harus tau diri akan hal itu.

“Unnie kau dengar apa yang oppa bilang? Kekeke.”

“Ya aku tau. Hahaha.” Aku berusaha tertawa sekarang. Suasana makan malam sepertinya berjalan lancar. Itu baik bukan??

_          _          _          _          _          _          _          _

Ini dia, hari dimana dia akan menikah dengan gadis lain dan gadis itu adalah adikku sendiri. Kau bisa merasakan bagaimana perihnya itu kan? Aku berusaha tegar menerimanya. Aku mencoba tersenyum pada sohee dan jiyong ketika mereka berhasil mengucap janji pernikahan. Apa pernah terbayangkan dibenakmu? Melihat orang yang kau cintai mencium seorang gadis lain? Betapa sakitnya hatiku saat melihatnya. Ingin sekali aku datangi mereka dan menampar pipi mereka bergantian agar mereka bisa merasakan pedihnya hatiku sekarang. Aku hanya terdiam melihatnya tak tertarik dengan acara lempar-lemparan bunga itu. Ini sudah berakhir. Aku berjalan pelan mengikuti eomma dan appa dari belakang. Sekarang saatnya ke tempat resepsi pernikahan jiyong dan sohee. Tak pernah terlintas dipikiranku kalau sohee akan menikah duluan dari aku dan pria yang menjadi pendamping hidupnya adalah seseorang dari masa laluku. Ini benar-benar membuatku pusing sekarang. Aku memejamkan mataku ketika kami telah sampai didalam mobil. Eomma disampingku dan mengelus pelan tanganku.

“Dia sudah bahagia dara.” Aku hanya tersenyum tanpa membuka mataku.

_             _             _             _             _             _             _

Aku kembali kerumah terlebih dahulu. Yang lain masih sibuk ditempat resepsi membersihkan ruangan atau mungkin sekedar berbincang dengan keluarga yang satu sama yang lain. Aku terlalu lelah untuk terus tetap disana. Bukan lelah tapi lebih tepatnya sakit.

Baru saja aku hendak membaringkan diri ponselku tiba-tiba berdering,

“Yeoboseyo?”

“Daraaaa, sohee pingsan.”

“Apaaaaa?????”

Aku langsung menuju kerumah sakit yang appa beritaukan sebelumnya,

“Eomma, bagaimana sohee?”

“Penyakitnya kambuh dara.”

“Tapi bagaimana bisa?” Eomma hanya menangis tak menjawab pertanyaanku. Aku melihat appa dengan wajah khawtirnya, appa dan eomma jiyong dengan wajah sedihnya, dan jiyong… dengan wajah tertekannya. Apa mungkin dia benar-benar tak ingin kehilangan sohee??

Dokter keluar dari ruangan sohee dengan wajah pasrahnya,

“Maafkan aku tuan, nyonya.” Aku menggeleng, tidak mugnkin!!!!! Soheeeee, tidak mungkin secepat ini kau meninggalkan kami semua!!! Soheee!!! Eomma menangis meraung-raung tanpa henti dan kulihat appa berusaha tegar walaupun ada kesedihan dimatanya. Dan jiyong, dia terpaku cukup lama dan tiba-tiba,

“Tidak!!!! Soheee!!! Aku mohon jangan tinggalkan aku!!!!” Aku terkejut dengan teriakan jiyong yang menggema itu. Kau benar-benar mencintainya Ji, dia pasti sangat bahagia. Aku menangis sekarang, menangis karna dua hal yang aku tak bisa terima. Kehilangan adikku dan kehilangan cinta jiyong seutuhnya.

_             _             _             _             _             _

SEOUL, NOVEMBER 9TH 2012

2 minggu setelah kepergian sohee aku ingin kembali ke London, aku tak mau berlama-lama disini, aku tak ingin perasaanku makin menjadi padanya, aku tak ingin membuat sohee kecewa terhadapku karna tak bisa menjaga perasaanku.

“Appa, aku harus kembali ke London.” Appa kaget melihatku sudah menarik koperku kearahnya.

“Kau yakin dara? Tak ingin berlama disini dulu?”

“Masih banyak tugas yang harus diselesaikan appa, eomma aku pergi.” Aku mencium dan memeluk appa. Eomma datang dan aku melakukan hal sama terhadapnya seperti yang aku lakukan terhadap appa. Kalian mungkin bertanya kemana jiyong. Ia kembali kerumahnya, kurasa ia cukup tertekan karena kehilangan sohee, atau mungkin memang belum bisa melupakan aku. Ah dara kau berlebihan!

“Aku pergi.” Aku memasuki taksi yang akan membawaku ke bandara Incheon untuk kembali ke London. Siapa sangka taksi itu juga yang akan membawaku pada takdirku……….

TBC

Aku mohon komennya yah : ( komen kalian sangat berharga loh buat aku ^^

About these ads

29 thoughts on “Feeling the Lose [Chap. 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s